DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 137 : Darren Bersikap Aneh?


__ADS_3

Sebenarnya Chalvin hanya ingin mengambil ponsel serep miliknya yang sempat dititipkan di tas Karen saat berada di ruang karaoke. Apesnya, baru saja hendak mengetuk pintu, lagi-lagi suara kemesraan pasangan itu menembus telinganya. Chalvin menurunkan tangannya yang mengepal, lalu berbalik pergi. Dari bawah sana, ternyata Oma Belle tengah memantaunya.


Darren menggendong Karen menuju kamar mandi yang berada di kamar mereka. Ia mendudukkan Karen ke dalam bathtub. Pria itu berlutut di pinggiran bathtub sambil menyingkap rambut Karen yang telah memanjang ke samping. Ia mulai membuka resleting baju, kemudian melepaskan seluruh pakaian yang melekat di tubuh istrinya. Keduanya mulai berendam bersama dan saling menggosokkan punggung mereka.


Selesai mandi bersama, pasutri itu memakai bathrobe putih ke tubuh mereka masing-masing. Darren memegang kedua bahu Karen, lalu mengarahkannya berjalan seperti robot hingga berhenti tepat di depan meja rias. Ia lalu mendudukkan istrinya di sana, kemudian mulai mengambil hair dryer dan mengeringkan rambut Karen.


Karen tersenyum mendapat perlakuan manis dari suaminya sejak tadi. Padahal sebelum pindah ke rumah Oma Belle, ia sempat berpikir mungkin sulit bagi mereka untuk berintim seperti ini.


"Kamu masih mau ke perusahaan lagi?" tanya Darren di sela-sela kesibukannya pada rambut Karen.


"Iya, besok pagi mau bikin syuting iklan untuk YouTube. Oh, iya, ide iklannya dari aku, loh!" ungkap Karen sambil menatap suaminya dari pantulan cermin besar di hadapannya.


"Ya, udah, kalo gitu besok pagi aku antarin ke perusahaan. Kita pergi bareng aja pas aku mau ke kampus."


"Gak usah, aku mau pergi bareng Chalvin aja," tolak Karen.


"Biar aku aja yang antar!"


"Gak usah. Lagian kamu kan perginya pagi-pagi banget. Sementara aku agak siangan."


"Ya, udah, kalo gitu aku ke kampus agak siangan juga biar bisa berangkat bareng."


"Yah, jangan dong! Masa gara-gara mau nganterin aku ke perusahaan kamu mau pergi siangan juga."


"Ya, gak papa. Lagian aku di kampus buat bikin penelitian pribadi."


"Udah ... kamu ke kampus seperti biasa. Aku biar nebeng sama Chalvin aja. Toh juga biasanya aku ke sana sendiri doang."


Sikap Karen yang bebal terhadap dirinya membuat Darren menyeringai. Apalagi istrinya masih kekeh menolak diantar dan lebih memilih pergi bersama Chalvin.


"Ya, udah kalo gitu! Kamu pergi aja sama Chalvin!" Darren langsung meletakkan hair dryer di atas meja. "Tuh lanjutin sendiri keringin rambutnya!"

__ADS_1


"Ih, kok ngambek!"


Karen berbalik menatap Darren yang tiba-tiba terlihat berbeda dari biasanya. Ia merasa ada yang aneh dengan sikap Darren malam ini. Ada sedikit emosi dari nada bicara pria itu. Di usia pernikahan mereka yang belum genap setahun, suaminya memang selalu menjadi figur suami yang baik dan romantis. Tapi dia baru tahu kalau suaminya pun bisa merajuk seperti ini. Padahal, ia hanya berusaha membuat dirinya terlihat sebagai sosok istri yang mandiri, pengertian dan tidak merepotkan suami.


Namun, sepertinya Darren tak berpikir begitu. Pria itu justru merasa istrinya seperti tak membutuhkannya. Sebagai suami, kadangkala ia juga ingin istrinya bergantung padanya. Bukan seperti ini!


Dengan bibir yang terlihat cemberut, Karen mengambil hair dryer dan hendak lanjut mengeringkan rambutnya yang masih basah. Namun, baru saja menekan tombol "On" dan mengangkat mesin pengering rambut tersebut, tiba-tiba Darren kembali menghampirinya, menggenggam tangannya yang memegang hair dryer. Sebelah tangan pria itu menarik dagu Karen ke atas. Di waktu yang sama, bibirnya yang langsung meraup bibir istrinya dengan lumaatan agresif dan menuntut.


Darren mematikan hair dryer yang masih berada dalam genggaman Karen, lalu memandang lekat Karen yang tampak kaget. Jempol tangannya mengusap bibir perempuan itu.


"Besok pergi bareng aku, ya?" pinta Darren dengan wajah memelas.


Karen menatap mata Darren yang melembut. Ketika ia hendak bersuara, pria itu malah meletakkan jari telunjuk di antara kedua bibirnya.


"Gak ada opsi buat nolak!" ucap Darren dengan suara berbisik.


Karen mengangguk mengiyakan.


"Pulangnya aku jemput juga!" pinta Darren kembali.


"Sssttt ... masih gak ada opsi buat nolak!" ucap Darren dengan sudut bibir yang tertarik kecil.


Karen kembali mengangguk patuh seperti anak kecil.


"Bagus!" Darren menarik lembut kepala Karen ke wajahnya, lalu mengecup rambutnya dengan lembut. Ia memutar kursi rias yang diduduki Karen agar menghadap ke arahnya lalu berjongkok untuk membuat pandangan mereka lurus.


"Mulai sekarang, jangan pergi berduaan dengan laki-laki lain selain aku, oke?"


Karen mengangguk saru. Ia mulai berpikir apakah Darren sedang cemburu pada Chalvin?


Di saat ia tengah tertegun, Darren mendekatkan kembali wajahnya dan langsung mematuk bibirnya dengan gerakan kilat. Hanya sebentar, bibir mereka terlepas kembali. Tapi hidung mereka masih bersinggungan dengan napas yang saling berbaur dan mata yang bersirobok.

__ADS_1


Kali ini mata Karen refleks terpejam saat Darren kembali menyatukan bibir mereka, meraup dengan penuh perasaan dan memagutnya dengan gerakan lembut.


Tiba-tiba pintu kamar itu terketuk sehingga ciuman mereka terlepas. Ternyata itu hanya salah satu ART mereka yang memberi tahukan kalau Oma Belle memanggil Karen.


Karen segera memakai pakaian kemudian turun untuk menemui Oma Belle. Darren menggulung kabel hair dryer lalu menyimpannya ke dalam laci meja rias. Saat berbalik, ia tak sengaja menjatuhkan tas Karen yang membuat seluruh isinya berhamburan jatuh ke lantai.


Pandangan Darren langsung tertuju pada ponsel yang terlempar di atas karpet bulu. Sebelah mata pria itu memicing karena tak pernah melihat ponsel itu sebelumnya. Apalagi dari tampilan ponsel tersebut, sepertinya bukan milik Karen. Ia berjongkok untuk mengambil ponsel tersebut, kemudian menyalakan layarnya. Pupil matanya sontak melebar melihat wajah Chalvin yang terpasang sebagai wallpaper.


Di kamar sebelah, Chalvin menelentangkan tubuh di atas ranjang dengan kaki yang masih bergelantungan. Matanya menatap langit-langit kamar seiring pikirannya kembali melayang ke beberapa waktu lalu saat berada di sebuah restoran dan tempat karoke. Ya, setengah dari hari ini memang mereka habiskan untuk bersenang-senang bersama tim dan kru lainnya.


Wajah Karen yang tersenyum dan tertawa mengisi pikirannya saat ini. Entah kenapa ia teringat dengan keceriaan Karen saat sedang bernyanyi, berinteraksi dan bercerita dengan para karyawan, hingga mengajaknya ikut berjoget ria.


"Ah, keknya gua dah gila! Gua benar-benar dah gila! Butuh psikolog keknya!" Chalvin berkali-kali membenturkan jidatnya di atas kasur. Tak cukup begitu saja, ia kini menyembunyikan kepalanya ke dalam bantal, lalu berbalik dan menindih wajahnya dengan bantal. Berusaha menghilangkan bayang-bayang Karen dalam benaknya.


Chalvin terdiam sejenak ketika seseorang mengetuk pintu kamarnya. Ia segera berdiri dan membuka pintu. Berpikir kalau itu Karen yang akan mengembalikan barangnya, ternyata yang berdiri di hadapannya saat ini adalah Darren.


.


.


.


catatan author ✍️✍️


For teman-teman pecinta karya Yu Aotian yang belum tahu. Story pendek tentang Kei Ayano telah rilis ya. Bercerita tentang jurnalis perang yang ditugaskan di Timur tengah dan tak sengaja bertemu wanita di sana. Berikut blurb-nya.




__ADS_1


Seperti yang pernah kubilang, Kei Ayano adalah karakter favoritku di NN. Dan kisah Kei ini sebenarnya udah gua tulis selama dua bulan, cicil-cicil gitu. Kalo gua mau update langsung sampai tamat bisa sih. Cuma belum gua edit, belum gua ganti diksi dan kalimatnya, belum ada EYD dan PUEBI. Waktu gua nulis emang nulis doang kek nulis status biar idenya gak buru2 ilang di kepala. Terus yang kedua, kalo langsung di update tamat, ntar kalian cuma baca doang lagi tanpa ninggalin jejak. Sementara gua tuh kalo nulis suka baca respon readers dan itu biasa jadi target gua untuk lanjutin atau gak. Sama kek waktu gua nulis novel ini kan gua pasang target dulu di 20 chapter awal.


Kisah ini bakal menyentuh, ya. Buat kalian yang belum pernah baca NN, belum pernah baca karya gua yang asli bukan hasil dikte editor, boleh langsung dicoba baca ini. Ini gak kayak NN yg mungkin gak bisa dinikmati semua kalangan karena penuh aksi, misteri, adu otak dan strategi.


__ADS_2