DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 165 : Oma Belle yang Over Protektif


__ADS_3

Hadiah Tuhan tidak selalu dibungkus dengan indah. Kadang dibalut dengan air mata, tapi di dalamnya tetap ada hal luar biasa yang patut disyukuri. Itulah yang disebut berkah. Seperti halnya yang dirasakan oleh Darren dan Karen setelah banyak melewati rintangan di awal pernikahan mereka.


Ketika gelap masih belum sepenuhnya meninggalkan langit dan fajar muncul dengan malu-malu, kakek Aswono dan Oma Belle justru sudah duduk bersantai di halaman pekarangan samping sambil menikmati percikan air dari kolam ikan koi.


"Aku masih belom nyangka, loh, Mas, akhirnya Darren sama Karen punya keturunan! Tadinya aku sudah pupus harapan untuk mereka berdua, makanya aku ngotot buru-buru ngawinin Chalvin."


"Kalo kita sudah belajar ilmu ikhlas dan tetap berbaik sangka atas takdir yang diberikan, Tuhan pasti akan memberikan kita rencana yang lebih baik," tutur kakek.


Di sisi lain, Karen baru saja bangun tepat saat jarum pendek berada di angka enam. Ia menoleh ke samping. Kosong. Tanda kalau suaminya sudah bangun lebih duly. Kepalanya lalu memutar ke arah nakas samping tempat tidur. Rupanya Darren membingkai hasil USG semalam yang kemudian dipajang di atas nakas.


Saat keluar kamar, ia terkejut mendapati beberapa ART yang berkumpul di depan kamar untuk menyambutnya.


"Pagi, Mba Karen, mau sarapan apa, nih?" tanya salah satu ART.


"Sarapan yang ada aja, Bi. Seperti biasa."


"Apa gak ada yang pengen Mba Karen makan biar nanti tak bikinin, Mba," tawar ART itu.


Karen menggeleng kecil. "Gak ada, Bi."


"Mba, Karen, ijin masuk ke kamar mau bersihin kamar dan kamar mandinya," sahut yang lainnya.


"Ya, udah masuk aja!"


"Terus anu ... kata Ibu, sepatu-sepatu mba Karen yang ada haknya harus disimpan dulu. Gak boleh dipakai." ART itu menyampaikan pesan Oma Belle untuk Karen.


Karen menggaruk-garuk kepalanya dengan ekspresi masam sambil bergumam dalam hati. "Oma kok tahu banget aku suka pake high heels?!"


"Iya, Bi. Aku cuma pake sepatu flat aja kok." Baru saja hendak beranjak, seorang ART kembali menahannya.


"Mba Karen jangan turun dulu. Tangganya lagi dibersihkan."


Tindakan para ART yang memperlakukannya secara istimewa membuat Karen merasa aneh. Ini terlalu berlebihan baginya!

__ADS_1


Hingga pada saat berkumpul untuk sarapan pun, Oma Belle juga memperlakukannya tampak berbeda dari biasanya.


"Karen, kamu harus makan yang banyak! Ibu hamil itu makannya untuk dua orang."


"Hah? Mba Karen hamil?" Sheila tercungap.


Bukan hanya Sheila yang terkejut, bahkan Chalvin pun ikut tersentak mendengar kabar kehamilan iparnya itu. Ia hampir tak percaya, jika tak melihat wajah berseri-seri sepasangan suami istri tersebut. Bahkan rona kebahagiaan itu juga ikut terpancar jelas pada Oma dan kakek. Meski begitu, ia berusaha menampilkan mimik yang biasa-biasa saja.


"Selamat, ya, buat kalian!" ucap Chalvin pada Darren dan Karen.


"Berarti aku dah mau jadi tante-tante dong!" kata Sheila sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Nih, banyak makan daging biar anak pertama kamu nanti berjenis kelamin laki-laki," ujar Oma sambil menyodorkan sepiring menu olahan daging.


"Jenis kelamin itu kan ditentukan dari kromosom X dan Y waktu terjadi pembuahan, Oma. Jadi, gak ada hubungannya jenis kelamin janin dengan makanan yang dimakan ibunya. Lagian mau yang lahir laki-laki atau perempuan, sama aja, Oma. Yang penting lahirnya selamat, bayi dan ibunya sehat," jelas Darren. Ya, masih banyak orang yang belum teredukasi jika jenis kelamin anak bukan ditentukan dari makanan yang dikonsumsi wanita hamil, melainkan dari benih yang disemai pria.


"Tapi kan lebih bagus kalau anak pertama itu laki-laki. Apalagi janin yang dikandung Karen itu calon pewaris Bratajaya," tampik Oma Belle.


Memang ada banyak keluarga terpandang di negara-negara Asia yang masih menganut budaya patriarki. Sejak zaman kerajaan hingga era modern, istri dituntut untuk memberikan keturunan berjenis kelamin laki-laki dibanding perempuan. Apalagi tipe keluarga seperti Oma Belle yang membutuhkan garis pewaris untuk melanggengkan bisnis turun temurun mereka.


"Darren, Karen, kalian calon orangtua sekarang. Kalo pekerjaan dan profesi ada masa di mana kita bisa berhenti atau menunggu pensiun, tapi menjadi orangtua merupakan peran yang dilakukan seumur hidup dan gak akan bisa kita lepaskan begitu saja. Dengan berstatus sebagai orangtua, kita akan tahu arti ketakutan dan kesabaran yang sesungguhnya. Maka dari itu, persiapkan mental dan tenaga kalian." Kakek mulai memberi nasihat pada Darren dan Karen.


"Iya, Kek. Oh, iya, rencananya kami pulang kampus langsung berkunjung ke rumah orangtua Karen. Udah lama gak main ke sana sekaligus mau ngasih tahu langsung ke mereka," kata Darren sambil mengelap mulutnya.


"Nah, iya, itu bagus," kata kakek.


"Kalian mau nginap di sana?" tanya Oma.


"Enggak, Oma. Paling pulang malam," balas Karen.


Oma Belle langsung beranjak dari meja makan dan berjalan terburu-buru ke suatu tempat. Tak lama kemudian, wanita tua itu balik lagi dengan membawa beberapa benda tajam.


"Nih, kamu harus bawa ini!" Oma Belle memberikan Karen sebuah gunting kecil, jarum, hingga paku. Wanita tua itu bahkan menyematkan sebuah peniti di pakaian cucu mantunya.

__ADS_1


"Ngapain bawa barang-barang kayak gini, Oma?" tanya Karen mengernyit heran.


"Ini penangkal biar ibu hamil terjauhkan dari gangguan makhluk halus. Kalian kan nanti pulangnya kemalaman. Siapa tahu ada makhluk halus yang nempel, karena bau ibu hamil itu harum bagi mereka."


"Itu cuma mitos, Oma. Gak logis!" ketus Darren dengan kepala yang bergeleng-geleng.


"Lagian bawa-bawa paku kek gini, emangnya Mba kuntil apa. Gak sekalian bawa palu juga biar ngetukang gitu!" timpal Sheila sambil menahan tawa.


"Oh, iya, kalo di sana nanti kamu jangan sembarang makan. Terutama makan cumi."


"Cumi itu proteinnya tinggi, mengandung vitamin dan mineral. Kenapa gak boleh dikomsumsi ibu hamil?" tanya Darren.


"Gak boleh, nanti anak kamu bakal sering lemes! Dah gitu bikin kulit anak jadi kayak tinta cumi!"


"Itu cuma mitos, Oma. Cuma mitos. Gak ada penelitian yang membuktikan itu semua. Yang gak boleh dimakan itu kalo mentah. Cumi mentah, ikan mentah, daging mentah," balas Darren.


"Mitos ... mites ... mitos ... mites .... Kalian ini, dikasih tahu orangtua kok malah ngeyel. Dikit-dikit ngomong gak ada dalam penelitian," sambar Oma menggerutu.


"Segala sesuatu, kan, butuh dibuktikan kebenarannya biar gak jadi hal yang menyesatkan."


"Oma ini lebih duluan hidup dari kalian, lebih duluan beranak juga!"


"Udah, Darren ... iya-iyain aja Oma kamu," bisik kakek Aswono.


Darren dan Karen tentu tak bisa melawan Oma Belle yang merupakan bagian dari ras terkuat di muka bumi ini. Apalagi jika dia sudah mengeluarkan kalimat skakmat andalannya "lebih duluan hidup".


Semua yang mendengar berita tentang kehamilan Karen tampak begitu suka cita, menandakan jika kebahagiaan itu dapat menular. Namun, berbeda dengan Chalvin yang sedari tadi memilih diam meskipun sempat terkejut. Ia pun bingung menempatkan situasi perasaannya saat ini. Jika dibilang patah hati, tidak juga. Sebab, sedari awal ia hanya sebatas menyukai tanpa berharap memiliki.


.


.


mitos kehamilan apa yang ada di daerah kalian gays 😀

__ADS_1


__ADS_2