
Sepanjang perjalanan pulang, Karen bermanja-manja dengan menyandarkan kepalanya di lengan Darren. Ia merasa lega karena akhirnya kakek Aswono dan Oma Belle percaya padanya.
"Kenapa kamu minta aku lepasin mereka tadi?" protes Darren.
"Aku gak mau perpanjang masalah dan aku gak mau ingat kejadian itu lagi. Aku tahu pria yang nyuruh mereka, dia kakak senior yang sering ngejar-ngejar aku. Aku pikir dia cuma pingin narik simpatik doang dan dia gak salah soalnya dia kan juga gak tahu aku dah nikah."
"Mau tahu atau enggak, ngebajak akun terus nyuruh orang buat ganggu kamu, tetap aja itu salah. Buktinya kamu sampai kena seksuall harassment dari mereka gara-gara ulah dia!"
"Tapi, dia juga sempat nolong aku, kok. Makanya aku bisa kabur saat itu juga. Kalau kamu usut mereka, bukannya sama aja kamu ngebongkar pernikahan kita?" jelas Karen yang masih terus bersandar di lengan kokoh Darren.
Darren yang tengah menyetir, terdiam sesaat sambil mengulum bibirnya sendiri. "Kalau gitu ... ayo ungkap pernikahan kita!"
Karen tersentak seketika, bahkan langsung menatap Darren. Ekspresi pria yang tetap fokus menyetir itu cukup menggambarkan keseriusannya.
Darren membalas tatapan kaget karen, sambil mengulang perkataannya. "Ayo ungkap pernikahan kita! Beritahu ke orang-orang kalau kita dah nikah. Dengan begitu, gak ada yang berani dekatin kamu dan aku bisa jaga kamu! Kita juga gak perlu main kucing-kucingan lagi di kampus."
Masih memandang lekat suaminya, kepala Karen malah menggeleng pelan. "Jangan sekarang!"
Mata Darren memicing heran karena di luar dugaan, Karen malah menolak saat ia berniat membongkar status pernikahan mereka.
"Aku ingin memantaskan diri dulu."
__ADS_1
Darren tersenyum simpul, "Memantaskan diri?" Ya, ia tahu betul belakangan ini, kata "Memantaskan Diri" menjadi primadona untuk para pendamba jodoh. Di samping terdengar sakral dan romantis, kalimat itu memiliki makna mengubah diri menjadi lebih baik.
"Aku ingin jadi sosok yang pantas untuk kamu. Biar nanti tiba saatnya pernikahan kita terungkap, orang-orang akan mengatakan kamu enggak salah pilih aku sebagai pendamping," ucap Karen penuh kesungguhan.
Darren menyelipkan jari-jarinya di sela-sela jemari Karen. "Kamu yang seperti ini pun udah pantas jadi pendamping aku. Gak perlu memantaskan diri karena aku juga bukan sosok yang sempurna. Kalaupun ingin berubah, lakukan itu demi dirimu sendiri. Bukan untuk aku atau siapapun. Mengikuti standar orang lain itu sangat melelahkan. Kamu sendiri yang harus menentukan standar kualitas kamu, menurut versi terbaik kamu tentunya."
"Kalau gitu ... tunggu sampai aku ada di versi terbaikku. Jadi, untuk sementara ... biarkan seperti ini," pinta Karen yang tetap menolak usul suaminya.
"Kamu yakin?" tanya Darren dengan pandangan melembut.
Karen mengangguk sambil mengeratkan tautan tangan mereka.
Waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Darren menatap Karen yang kini tertidur lelap di sampingnya. Ia mengambil posisi duduk sambil bersandar di sandaran ranjang, kemudian mengambil ponselnya untuk menghubungi Chalvin.
Chalvin bersandar di terali balkon kamarnya seraya mengembuskan asap rokok. "It's ok. Ini bentuk tanggung jawabku juga, karena kejadian itu pas dia pulang syuting. Yang penting sekarang semuanya baik-baik aja. Anyway, kenapa kalian gak bawa aja mereka ke kantor polisi? Sekaligus usut juga yang ngirimin foto-foto itu!"
"Karen gak mau. Dia bilang, kemungkinan dia kenal sama orang yang dah jebak dia. Mereka sekampus dan udah lama juga ngejar-ngejar dia. Tuh cowok ngejar Karen karena gak tahu kalau Karen dah nikah."
"Kalau gitu ini salah kamu juga, kenapa gak umumkan aja pernikahan kalian. Lagian, kalian nikah baik-baik, kan?"
Darren terdiam seraya kembali mengingat obrolannya dengan Karen di mobil tadi. Di saat yang bersamaan, Chalvin malah teringat saat ia tak sengaja melihat Darren dan Karen yang berciuman di taman rumah. Namun, ingatan yang sedikit mengusik itu segera ia tepis.
__ADS_1
"Terus, gimana Karen sekarang? Dia udah gak sedih lagi, kan?" tanya Chalvin tiba-tiba.
Darren menoleh ke samping, menatap wajah istrinya yang terlelap. "Nih, lagi tidur. Kecapean pasti."
"Apa yang bikin lu suka sama dia?" Pertanyaan itu tiba-tiba terlontar dari mulut Chalvin, meski sebenarnya ia tak tahu kenapa mempertanyakan itu.
"Hah?"
Chalvin segera meralat ucapannya. "Maksud gua, lu sama dia kan cuma dijodohin dan sebelumnya perasaan lu ke Marsha belum selesai, kok bisa lu cepat suka sama dia. Gua jadi penasaran."
Darren tersenyum halus sambil mengusap rambut halus istrinya. "Apa, ya? Aku juga gak tahu. Mungkin karena kami sering bersama. Mencintai seseorang gak perlu pakai alasan, kan?"
Setelah Darren menyudahi telepon, Chalvin pun menyimpan gawainya dan membuang rokok yang telah memendek. Entah kenapa, lagi-lagi ingatannya kembali memunculkan adegan ciuman antara Darren dan Karen. Terngiang-ngiang seperti potongan film yang sengaja diputar berulang-ulang. Sontak, pria itu langsung menggeleng-geleng kepala agar lamunannya segera buyar.
"Apaan sih gua? Masa gua terus terbayang ciuman mereka. Apa jangan-jangan ...." Chalvin melebarkan matanya diikuti detak jantung yang mendadak berhenti, "jangan-jangan ... gua lagi pengen kek gitu?"
Chalvin kembali mengambil gawainya, lalu mengecek kontak telepon yang berisi kumpulan para FWB-nya. "Clara keknya Minggu lalu sudah, sama Yuli baru dua hari yang lalu dia nginap di sini, sama Astrid udah bosen, kalau sama Fero dia lagi stay di Jakarta enggak, ya?" Chalvin menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang lalu mengusap kepalanya. "Aarrggh, kenapa tiba-tiba jadi suntuk gini, sih?"
Di sisi lain, Darren kembali berbaring usai menelepon Chalvin. Ia menatap istrinya yang tidur dalam posisi miring menghadap ke arahnya. Ia pun menggeser tubuhnya secara pelan, seraya mendekatkan wajahnya untuk memberi kecupan singkat di bibir ranum istrinya. Ketika hendak mengecup punggung tangan istrinya, fokusnya justru teralihkan pada jari manis Karen yang polos. Ia menarik laci nakas di samping ranjang, mengambil potongan pita kecil yang tak terpakai, kemudian melilitkan pita itu pada jari manis sebagai acuan pengukur diameter jari.
.
__ADS_1
.
.