
Tak butuh waktu lama untuk Darren dan Karen pulang ke rumah keluarga besar Bratajaya. Sebab, Karen semakin mengeluhkan tak enak badan ditambah perasaan mual ketika mencoba dessert kesukaannya. Darren menuntun istrinya yang masih tak sehat itu, untuk segera beristirahat di kamar.
"Lanjut istirahat, ya!" Darren membantu Karen berbaring di tempat tidur. Saat hendak beranjak, Karen malah menahan tangannya.
"Kamu mau ke mana?"
"Nih, aku mau taruh dessert yang gak kamu habisin di kulkas! Habis itu mau lanjut nulis."
"Temani aku! Kita bobo bareng aja!" pinta Karen dengan manja sambil menepuk tempat tidur.
"Hum ... gak tahu apa masih siang gini! Emangnya sejak kapan kamu lihat aku tidur siang?"
"Please ... aku mau istirahat ditemani kamu," rengeknya berulang-ulang sambil menunjukkan wajah memelas sebagai jurus andalannya untuk membuat Darren tak tega padanya.
Darren menipiskan bibir sembari menghela napas secara perlahan. "Ok, aku ambil laptop di ruang kerja dulu."
Sudah sekitar setengah jam, Darren duduk di sisi ranjang sambil memangku laptop. Waktu benar-benar berharga baginya sehingga bukan hal aneh jika bisa melakukan dua aktivitas sekaligus, seperti menemani istrinya sekaligus menyelesaikan pekerjaan. Jari-jarinya yang sibuk bergerak lincah di atas papan tombol, terpaksa harus terhenti ketika kepala pria itu menoleh sejenak ke belakang.
"Kalo kamu nempel kek cicak gini ... gimana aku bisa ngetik," protes Darren ketika Karen menyandarkan kepala ke punggungnya sembari memeluk dengan erat mirip seperti sedang berboncengan.
Karen malah semakin mempererat pelukannya. Kini kakinya juga ikut melingkar di pinggul pria itu hingga sulit untuk bergerak. Bahkan, entah sengaja atau tidak, ujung tumitnya malah menyenggol rudal Darren yang sedang tenang dalam persembunyiannya.
"Sayang, mulai, deh, mancing-mancing! Laptop aku bisa jatuh ketendang kaki kamu, nih!"
Bukannya segera melepaskan diri, kepala Karen malah semakin terasa berat hingga membuat tubuh Darren tampak membungkuk. Menyadari istrinya telah terlelap, ia pun membiarkan posisi mereka tetap seperti itu. Sejujurnya, ia mengkhawatirkan kondisi istrinya beberapa hari terakhir. Perempuan itu sering mengeluh pusing, tapi selalu beralasan hanya karena terlambat makan dan terlalu sibuk. Entah kenapa ia pun merasa sungkan mengajak istrinya kontrol ke dokter karena tak ingin membuatnya tersinggung seperti waktu itu.
Darren pergi ke dapur untuk menyimpan beberapa potong dessert yang tak termakan oleh istrinya. Darren melihat ART-nya tengah sibuk menyalin jamu ke beberapa botol.
"Bi, ini ada dessert yang belum kemakan, kalo mau ambil aja, ya?" tawar Darren.
"Iya, Mas Darren, makasih."
"Itu apaan?" tanya Darren melihat cairan yang dimasukkan ke dalam botol.
"Ini jamu-jamu yang disiapin ibu buat istri Mas Darren. Katanya sebentar lagi Mas Darren dan Mba Karen mau pindah dari sini. Jadi kamu disuruh bikinin stok jamu."
"Oma bilang gitu?" tanya Darren tak percaya.
__ADS_1
"Iya, Mas Darren. Ibu sendiri malah yang turun tangan langsung ngebuatinnya."
Senyum tipis menyembul di bibir pria itu. Ini seolah menjadi jawaban kalau Oma Belle telah mengizinkan mereka pindah rumah. Padahal mereka baru saja memikirkan cara untuk membujuk wanita tua itu.
Tak terasa langit telah menggelap sebagai tanda kehadiran malam. Seperti biasa, keluarga Bratajaya berkumpul di meja makan menyantap hidangan makan malam. Darren turun dari tangga dengan sendirinya lalu duduk berhadapan dengan Oma Belle.
"Loh, Ren, Karen mana?"
"Lagi istirahat, Oma. Dari siang pulang kantor tadi gak enak badan. Gak nafsu makan juga."
"Kok akhir-akhir ini sering sakit? Oma perhatikan, tiap pulang dari perusahaan, pasti sakit. Ngurung diri di kamar. Kalo gitu mending stop aja jadi model ambassador, toh kita masih punya banyak model. Biar dia juga bisa fokus dengan statusnya sebagai seorang istri. Gak kasihan apa suami makan tanpa ditemani istri dengan alasan sakit, tapi begitu besoknya kok bisa semangat masuk kantor," ketus Oma Belle dengan nada yang terdengar kurang menyenangkan. Tampaknya, ia hilang respek pada cucu menantunya itu selepas menerima telepon dari mata-mata di kantor.
"Itu namanya jiwa kerjanya lagi menggebu-gebu," bela kakek Aswono.
Darren malah menanggapi ucapan Oma Belle dengan santai tanpa merasa ada yang aneh. "Aku juga dah bilang sama dia buat istirahat. Apalagi udah mau masuk kampus."
"Jadi mahasiswa Minggu depan udah pada masuk semester baru, ya?" tanya kakek Aswono.
"Iya, Kek. Makanya mulai sibuk lagi."
"Kalo dah tamat sekolah, Sheila gak mau kuliah, ah! Mau fokus nge-game aja!" celetuk Sheila yang tiba-tiba ikut menyambung obrolan mereka.
"Tapi kuliah itu gak menjamin kita bakal sukses, Kek. Buktinya banyak sarjana yang nganggur, kan!" tampik Sheila.
Kakek malah menggeleng-geleng berirama. "Ini, nih, anak muda jaman sekarang terlalu terbuai omongan motivator jaman now yang selalu bilang untuk sukses gak perlu sekolah tinggi-tinggi. Silakan tekuni passion kamu, tapi jangan juga meninggalkan dunia pendidikan."
"Ya, benar, kan, Kek? Sekarang tuh orang gak perlu kuliah juga bisa sukses. Bisa dapat duit banyak!"
"Sukses itu enggak selalu diukur dengan materi. Menyerap ilmu sebanyak-banyaknya lalu mengimplementasikan ke kehidupan lalu diturunkan ke anak nanti, itu juga termasuk sukses!" kata kakek Aswono.
Darren mengangguk menyetujui. "Kuliah bukan menjamin kehidupan kamu ke depan bakal sukses, bukan menjamin nantinya dapat karir yang cemerlang, atau punya nasib baik di masa depan, tapi kuliah bisa memperluas peluang untuk meraih itu semua. Aku selalu bilang sama mahasiswa aku, orang-orang yang gak kuliah itu, tapi bisa sukses itu mereka punya privilege dari orangtua mereka, seperti warisan atau modal duit yang banyak untuk bangun usaha. Tapi untuk yang gak punya itu, setidaknya pendidikan bisa membuat latar belakang kita menjadi bagus."
(Privilege: Hak istimewa)
"Tapi Steve Jobs aja yang dari latar belakang orang biasa dan gak lulus kuliah, tapi bisa jadi salah satu orang terkaya di dunia. Bisa jadi CEO juga!" cetus Sheila.
"Sekarang kita realistis aja, posisi CEO di dunia ini, lebih banyak diraih orang yang minim pendidikan atau yang berpendidikan tinggi? Simpelnya ada berapa banyak orang-orang yang latar belakang dan keberhasilannya sama kayak Steve Jobs?" tanya Darren.
__ADS_1
Sheila hanya mendelikkan mata.
"Orang-orang cuma melihat Steve Jobs dari gak lulus kuliahnya, tapi gak bisa berpikir realistis untuk dirinya sendiri. Steve Jobs dan Marck Zuckerberg kan putus kuliah karena sibuk kembangin bisnis mereka," sambung kakek Aswono.
"Kalo gitu, Sheila tanya balik ke Kak Darren berapa banyak sarjana yang malah jadi pengangguran?" tanya Sheila tak mau kalah, "Hayo ... Kak Darren capek-capek ngajar cuma buat cetak banyak pengangguran, loh! Uppss ...." Sheila malah menampilkan gaya meledek.
"Tentu banyak. Tapi lihat dulu masalahnya. Sarjana yang jadi pengangguran ada banyak faktor. Kesediaan lapangan kerja terbatas sehingga dia kalah bersaing dengan para sarjana lainnya. Bisa juga itu karena dia tidak punya jiwa entrepreneur¹ sehingga mentalnya hanya terbentuk sebagai pekerja bukan pencipta lapangan kerja. Makanya Kak Darren bilang kuliah itu bukan menjamin kita bisa sukses, tapi bisa memperbesar kemungkinan. Dari daftar orang terkaya di dunia, ada 32% yang diisi orang-orang gak lulus sekolah, tapi 68% sisanya adalah orang-orang dengan pendidikan tinggi. Itulah yang disebut dengan pendidikan tinggi kita bisa memperluas peluang. Yang Kak Darren kasih tahu ini data loh, bukan cuma berdasarkan pikiran. Berbicara tanpa data yang akurat sama aja kayak berkhayal," jelas Darren.
"Ih, udah, deh! Mau Kak Darren ngomong sampai berbusa juga pokoknya bagi Sheila kuliah itu gak penting!" tekan Sheila masih dengan keyakinannya.
"Sheila, Kalau ada seseorang menyampaikan pendapat, masukan maupun nasihat yang bersifat kebenaran, ya ... diterima aja dulu. Entah mau kamu terapkan di kehidupan kamu atau enggak, itu bakal jadi pilihan kamu sendiri. Jangan menolak sesuatu yang bersifat benar hanya karena gak sesuai mindset, harapan atau bahkan kondisi kita saat ini. Yang bikin orang Indonesia gak maju kan gitu, asal ada nasihat baik atau ilmu baru, langsung ditolak dengan alasan gak sesuai atau gak suka digurui," tutur kakek Aswono.
"Kamu itu terlalu banyak nyerocos. Tiru dong adonan donat, cuma diam tapi bisa berkembang! Menuntut ilmu itu gak ada batasnya. Orang-orang di luar sana orangtuanya banting tulang buat sekolahin anak-anaknya, kamu yang dari keluarga mampu malah ogah-ogahan," sambung Oma Belle ikut kesal.
Setelah selesai makan sambil diiringi perdebatan berisi, masing-masing dari mereka mulai beranjak meninggalkan meja. Oma Belle menghampiri Darren yang hendak menaiki tangga.
"Darren, Oma mau bicara sama kamu."
.
.
.
Catatan kaki 🦶🦶
Entrepreneur: seseorang yang menciptakan bisnis atau usaha dengan risiko siap menghadapi ketidakpastian seperti untung dan rugi. Bahasa familiarmya 'wirausaha'
Catatan author ✍️✍️
Teman2, bab ini tidak bermaksud menyinggung teman-teman yang mungkin tidak kuliah atau tidak lulus kuliah. Bab ini hanya sekadar pengingat untuk sebagian orangtua atau anak muda yang mulai banyak berpikir kalau kuliah itu gak penting, gak guna, cuma habisin biaya, ilmunya gak kepakai kalo kerja nanti dll. Ini di luar alasan ekonomi, ya....
Tahu gak Steve Jobs? Dia pendiri brand Apple (tahulah kan produk Apple apa aja di antaranya iPhone). Dia lahir dari orangtua miskin. Dia selalu dijadikan sebagai role mode untuk sosok yang dari keluarga biasa aja, gak lulus kuliah tapi bisa sukses besar. Terbukti brand Apple menjadi brand teknologi yang sangat maju ya. Dia di DO dari universitas karena merasa kuliah itu cuma habisin biaya ortunya aja. Meski begitu, ada satu mata kuliah yg dia senangi yaitu tipografi.
__ADS_1
Ok, lanjut,, jadi dia tekun mempelajari ilmu tipografi meskipun gak tau apa manfaatnya untuk dia sendiri. 10 tahun kemudian, dia sukses mendirikan perusahaan Apple meskipun tanpa gelar universitas. Menjadi bukti kalau sukses tidak perlu dengan gelar atau sekolah tinggilah istilahnya. Dia mengeluarkan produk komputer pertama dengan menggunakan tipografi yang bermacam-macam. Artinya apa ... ilmu yang dulunya dia pelajari tetap gak sia-sia, kan? Tipografi yang dulunya dia gak tahu apa manfaat untuk di kehidupannya ternyata bisa dijadikan inovasi dalam produknya. Btw, Steve Jobs ini dikenal dengan karakter yg gampang berubah pikiran dan mudah emosi.
Makanya kenapa di novel GA, Ren gua kuliahin di akhir ending. Karena meskipun Ren memiliki IQ tinggi, tapi dia gak punya pola pikir yang baik. Oh, iya, ini novel gua yang judulnya "Gomen, aishiteru" silakan klik profil gua kalo tertarik baca. Novel ini pernah jadi novel favorit 2021 dan sering direkomendasikan para author tanpa sepengetahuan gua. Gpp kan promo novel sendiri, soalnya admin di sini jarang promoin novel gua 😂🤧