
Awasss 🍍🍍🍍.
Ketika bibir Darren mulai bergerak lembut di atas permukaan bibirnya, Karen langsung mendorong pelan tubuh lelaki itu sehingga membuat tautan bibir mereka terlepas. Ia menunduk, seperti masih menolak untuk berintim dengannya.
Darren kembali menangkup wajah istrinya, memandang lekat netra sendu itu. "Lihat aku! Jangan takut! Ini aku, suami kamu," ucapnya meyakinkan dengan lembut.
Wajah Darren kembali maju mendekat. Namun, Karen masih berusaha menahannya. Darren tersenyum kecil, seraya mengambil kedua tangan Karen yang bertopang di dadanya. Sambil menautkan jari-jari mereka, ia kembali melabuhkan bibirnya di bibir Karen yang legit. Memagutnya dengan penuh kelembutan dan berperasaan. Membasahi bibir kering itu dengan isapan-isapan kecil.
Darren sedikit menjauhkan matanya untuk kembali beradu pandang dengan istrinya.
"Pengalaman buruk yang kamu dapat malam ini, bakal aku timpa dengan kenangan manis dan tak terlupakan. Karena itu ... berhenti pikirkan yang lain, selain aku!" pinta Darren seraya mengambil punggung tangan perempuan itu lalu mengecupnya dengan penuh perasaan.
Karen masih seperti patung. Entah lelah seharian atau suaranya habis karena banyak menangis, ia mendadak menjadi sosok yang pendiam meski tetap menggemaskan di mata Darren.
Bibir Darren kembali menyusup masuk ke sela bibir Karen yang sedikit terbuka. Ciuman kali ini lebih bergelora dan sedikit menuntut. Membuat perasaan Karen yang tadinya seperti bongkahan es, kini mencair bagai menemukan matahari di musim dingin.
Perlahan, bibir perempuan itu mulai bergerak membalas ciuman suaminya. Membuat Darren semakin bersemangat dengan menyelipkan sebelah tangannya di leher Karen untuk memperdalam ciuman mereka. Terus memagut habis rasa manis di bibirnya, memberi gigitan-gigitan nakal nan sensual, dan juga tak lupa menjejalkan lidah hangatnya di rongga mulut perempuan itu.
Karen menepuk-nepuk dada Darren, memintanya untuk melepaskan sejenak pertautan bibir mereka. Darren menatap penuh tanda tanya ke arah Karen. Perempuan itu tersenyum malu-malu sambil meremas ujung kerah kaus yang dikenakan suaminya.
"Ren, aku udah gak khawatir lagi," ucap Karen dengan suara yang nyaris berbisik sambil menatap netra legam suaminya. Hanya dengan melihat sorot mata pria itu, ia bisa merasa lebih tenang.
"Semuanya bakal baik-baik aja. Dan kejadian itu gak bakal terulang lagi!" tegas Darren.
Seutas senyum tulus terukir di bibir keduanya. Darren kembali membelai pipi istrinya, seraya memandanginya penuh cinta. Dari pipi, tangan itu turun perlahan menuju bahu mulus bak porselin lalu bergerak ke bawah, membuka kaus yang dipakai perempuan itu. Lekukan tubuh indah istrinya langsung terekspos di depan matanya.
Lengan-lengan kekar pria itu menyusup pada bahu dan belakang lutut Karen, menggendongnya menuju tempat tidur. Bibir Karen yang seperti mengandung zat adiktif, membuatnya tak bosan untuk kembali menerjangnya. Mengecup berulang-ulang, dan memagutnya secara bergantian.
Karen melenguh tatkala bibir lelaki itu meraba masuk ke leher jenjangnya. Mencecapi kulit mulusnya. Mengisap habis segenap permukaan dadanya. Menyapu setiap inci bagian sensitif tubuhnya. Membuat pikirannya terisolasi seketika. Rasa takut dan kekhawatiran yang sempat bersemayam dalam pikirannya seakan terusir paksa.
Bagaimana bisa ia menolak kenikmatan bertumpuk yang diberikan pria itu?
__ADS_1
Darren segera melepas semua pakaiannya, mengikuti Karen yang lebih dulu polos bagaikan bayi yang baru lahir. Ketika kulit mereka saling bersentuhan tanpa penghalang, kehangatan yang keluar dari dalam tubuh masing-masing itu berbaur sehingga menciptakan keinginan untuk segera menyatu dalam satu detak jantung.
Darren mulai memimpin peraduan dengan hati-hati dan selembut mungkin. Karen hanya pasrah, tatkala pria itu masuk ke tubuhnya tanpa henti dan tak membiarkannya mengambil alih. Bukan hanya tubuhnya yang terisi, tapi mata, otak dan pikirannya juga hanya dipenuhi pria itu. Semua perlakuan hangat suaminya malam ini, mencukupkan dirinya untuk tak mengingat apa pun.
Satu jam kemudian, Darren menatap Karen yang telah tertidur pulas dalam kungkungannya. Percintaan mereka tidak memakan waktu lama seperti biasanya. Namun, cukup mengembalikan rasa aman, kenyamanan, ketenangan, dan tentu saja melarutkan emosi yang sempat meledak-ledak di antara keduanya.
Darren mengambil ponsel, lalu menghubungi Chalvin. Kepada sepupunya itu, Darren menceritakan tentang apa yang dialami Karen. Sontak, Chalvin pun merasa bersalah karena membiarkan Karen pulang sendiri.
"Sorry banget, Bray. Ini semua salah gua. Kenapa juga gua biarin dia pergi."
"Aku khawatir kalau kejadian ini bakal terulang lagi. Apalagi Karen tuh termasuk gegabah orangnya. Aku juga sadar gak bisa selalu stay di samping dia," ucap Darren sambil mempererat dekapannya pada Karen yang tengah terlelap.
"Pokoknya gua jamin kejadian kayak gitu gak bakal terulang. Pulang syuting besok, dia langsung gua antar. Kalaupun dia mau singgah, bakal gua temani. Gua siap jadi bodyguard-nya," ucap Chalvin penuh keseriusan.
"Wah aku jadi ngerepotin kamu, nih!"
"No hassle, Bray! Kan model ambassador tanggung jawab gua."
(N: No hassle sinonim kata no problem)
...----------------...
Tak terasa, malam yang kelam telah menutup dengan sendirinya. Iris Karen perlahan berkedip ketika cahaya matahari menerobos kamarnya. Saat kesadarannya telah penuh, ia segera menoleh ke samping. Kosong. Darren sudah tidak ada.
Namun, sesaat kemudian tercium aroma mentega yang menyeruak masuk ke indra penciumannya. Ia pun langsung beranjak dari tempat tidur menuju dapur. Keluar dari kamar, Karen dapat melihat suaminya tengah sibuk membuat sarapan. Pandangannya teralihkan pada setumpuk buku-buku tebal yang tampak baru dibeli. Ia mengambil satu dari beberapa buku itu, lalu teringat dengan pertengkaran mereka semalam.
Meski sempat memarahinya karena nilai UTS yang anjlok, tapi ia tak menyangka Darren akan sepeduli itu padanya dengan membelikan buku-buku penunjang perkuliahan.
Karen mendekati Darren yang tengah memasak omelet, kemudian sengaja menggelitik pinggang pria itu dengan ujung jari telunjuknya. Darren bergidik geli dan segera menoleh. Wajah Karen yang polos tanpa riasan makeup menguasai pandangannya saat ini.
"Aku mau belajar lebih giat!" ucap Karen.
__ADS_1
"Ya ... Baguslah!" balas Darren sambil membalikkan omeletnya.
Karen kembali menggelitik pinggang Darren, memaksanya agar kembali menoleh. Benar saja, pria itu menoleh kembali.
"Kalau aku belajar giat terus raih IP tinggi di setiap mata kuliah kamu mau ngasih apa ke aku?"
"Kasih selamat," ucap Darren singkat.
"Hah? Masa cuma ngasih selamat? Gak ada hadiah spesial apa?"
"Mahasiswa tugasnya emang belajar, kan?"
"Ya, kan biar aku lebih termotivasi, kasih apa gitu. Anak-anak aja biasa dijanjiin orangtuanya ini itu kalau raih prestasi." Karen menunjukkan wajah cemberut.
"Kamu anak kecil, bukan? Soalnya aku gak mau nikah sama anak kecil, entar disangka pedofiil," ketus Darren sambil membawa telur omeletnya menuju meja makan.
Karen lantas menyeringai kesal mendengar respon suaminya. "Gak bisa bedain apa anak kecil sama orang dewasa? Pakai acara nanya!" ketusnya. Melihat Darren yang hanya membuat satu omelet, ia pun kembali berkata, "Eh, telur aku mana? Kok itu cuma satu?"
"Buat sendiri, sana! Udah bukan anak kecil, kan?" tandas Darren sambil berlalu.
"Ih, nyebelin banget!"
.
.
.
jejak kaki
__ADS_1
phising: bentuk penipuan yang bertujuan mendapatkan informasi data seperti password akun SNS, password ATM dan kartu kredit, atau menyamar sebagai seseorang terpercaya melalui pesan singkat atau telepon. ini dah pernah aku jelasin lebih rinci di novel AR ya. Seperti yang sering dilakukan Rai dkk, Ders.