
Pembukaan perdana coffee shop yang dikelola Nadya, rupanya cukup sukses dan berhasil menarik konsumen. Terlihat beberapa anak muda yang tengah memenuhi meja sambil menyeruput kopi di tempat kecil bernuansa vintage itu. Ini semua berkat bantuan Karen dan Vera yang turut melakukan promosi di kalangan mahasiswa.
Nadya yang sibuk meladeni pesanan bersama dua barista lainnya, tampak sesekali menoleh ke arah pintu masuk. Rupanya, ia tengah menanti kedatangan Chalvin. Padahal, semalam ia sudah mengirim pesan untuk sekadar mengingatkan kembali agar datang ke pembukaan coffee shop-nya. Namun hingga siang ini, pria berwajah oriental itu belum juga muncul.
"Eh, aku tinggal, ya! Aku mau masuk kuliah dulu," ucap Nadya pada dua barista sambil melepas apron di badannya.
Baru saja keluar, Nadya terkesiap saat sebuah mobil pikap berhenti tepat di depan coffee shop-nya. Supir mobil tersebut lalu menurunkan sebuah papan bunga ucapan selamat dan sukses yang begitu besar. Di papan bunga tersebut tertulis nama Chalvin sebagai pengirim.
"Ini ada kiriman. Tolong tanda tangan sebagai bukti terima," pinta si supir.
Nadya mengambil pulpen dari tangan si supir lalu menandatangani tanda terima. Ia yang sempat terbengong, tiba-tiba mendapatkan telepon langsung dari Chalvin.
"Halo," sapa Nadya yang tampak buru-buru menerima panggilan telepon.
"Halo, Nad. Sorry banget hari ini aku sibuk, nih. Gak sempat ke tempatmu. Sore ini juga mau berangkat ke Bandung, lagi ada pertemuan besok di sana."
"Ya, gak papa, Kak. Kan gak harus maksa juga ke sini. Oh, iya, makasih atas kiriman papan bunganya.
Setelah selesai menelepon, Chalvin yang baru saja keluar dari ruangannya, spontan mengedarkan pandangan ke tempat para staf yang sibuk bekerja. Melihat salah satu dari mereka tampak menenggak air mineral dengan begitu haus, lantas membuat otaknya membersit sebuah ide.
"Kamu haus, gak? Mau aku beliin kopi?" tanya Chalvin menoleh ke arah sekretarisnya.
"Serius, nih?" Sekretarisnya balik bertanya karena tak biasanya Chalvin tampak perhatian padanya.
"Iya." Chalvin mengangguk. "Kira-kira mereka semua doyan es kopi, enggak, ya?"
"Maulah kalo ditraktir sama Bos!"
***
Di siang yang terik, Karen dan beberapa mahasiswa lainnya telah berada di kelas untuk siap-siap menerima mata kuliah berikutnya. Tak lama kemudian, terdengar suara berisik dari luar kelas diikuti masuknya Feril dan kawan-kawan. Ternyata, Feril dan para Mahdi mengulang mata kuliah tersebut sehingga membuatnya berada satu kelas dengan Karen yang merupakan adik tingkatnya. Sialnya, dosen yang mengisi mata kuliah sekarang untuk semester ini adalah Darren.
Begitu memasuki kelas, mata Feril langsung terang benderang melihat Karen yang duduk di barisan tengah. Ia pun bergegas menyingkirkan beberapa mahasiswa yang duduk di sekitar Karen.
"Minggir ... minggir ... minggir ...."
Bukan hal aneh lagi jika Feril dan anak buahnya selalu bersikap premanisme. Setelah berhasil mengusir mahasiswa yang berada di sebelah Karen, ia langsung mengambil posisi tempat itu. Melihat pria itu duduk di sampingnya, membuat Karen sedikit risi. Hanya saja dia tidak punya pilihan untuk berpindah tempat.
"Hai, Karen! Tadi aku udah ke coffee shop sebelah loh, tapi kamu gak ada jadi aku balik lagi," tegur Feril sambil merapatkan bangkunya untuk lebih dekat dengan perempuan itu .
"Jelaslah, kita kan bukan barista di sana! Lagian lu nyari kopi apa nyari Karen?" sambar Vera yang berada di sisi kiri Karen.
Di waktu yang sama, Darren masuk dengan membawa sejuta pesona. Meskipun kabar pernikahan rahasianya telah berembus di kalangan mahasiswa, tetapi tak membuat popularitasnya menurun sebagai dosen favorit di kalangan para hawa. Justru sebagian mahasiswa menganggap itu hanya sekadar kabar burung yang sengaja diembuskan untuk menutupi skandalnya semester lalu. Nyatanya, hingga kini tak ada satu pun mahasiswa yang mengaku menjalin hubungan dengannya apalagi mengaku menjadi istrinya.
__ADS_1
Kedekatan antara Feril dan Karen menjadi pemandangan pertama yang tersorot oleh Darren saat berada di depan kelas. Apalagi posisi duduk mereka memang tepat berada di tengah ruangan, segaris lurus dengan meja Darren.
Seperti biasa, mahasiswa tampak antusias untuk menerima materi dari pria bertubuh proporsional itu. Tak terkecuali Karen sendiri yang begitu semringah melihat kehadiran suaminya. Ia refleks mengelus pelan perut sambil memandang ke depan. Rupanya, pergerakan tangan perempuan itu terlihat oleh Feril yang berada di sebelahnya.
"Lapar, Kar? Sama ... gua juga! Soalnya belom makan seharian. Gimana kalo habis ini kita makan bareng?" ajak Feril yang salah menafsirkan elusan Karen di perutnya.
Karen menatapnya dengan sedikit canggung. "Duh, maaf nih, Kak. Habis ini, aku harus buru-buru pulang."
"Ya ... sayang banget!" Feril menunjukkan ekspresi kecewa alih-alih memaksa seperti biasa.
Darren mulai membuka mata kuliah dengan mengucapkan salam. Beberapa gadis tampak menanyakan kabarnya. Bahkan ada yang tak sungkan untuk melemparkan gombalan pada pria tampan itu.
"By the way, dia jadi dosen PA gua yang sekarang. Lo gak kayak cewek-cewek lainnya yang ngidolain dia, kan?" bisik Feril dengan kursi yang sengaja didempetkan ke kursi Karen.
Mata Karen membulat seketika. "Pak Darren dosen PA Kak Feril?"
"Yoi. Sebenarnya gua malas pindah-pindah dosen PA, tapi ya ... gak papa juga sih, itung-itung nambahin mahasiswa bimbingannya!" Feril lagi-lagi berlagak di hadapan Karen.
Karen hanya menatap malas ke arahnya dengan mulut yang terkunci rapat. Sejujurnya, ia tidak betah berada di samping Feril. Selain karena terus merisaknya, aroma parfum menyengat yang dipakai pria itu juga sangat mengganggu penciumannya.
Materi perkuliahan telah dimulai. Namun, tampaknya pria itu sedikit terusik dengan pemandangan di depan matanya. Bagaimana tidak, Feril terus mendekati istrinya dan mengajaknya ngobrol di sela-sela penjelasan materi.
"Menurut Bapak, apa yang kurang dari kita sehingga tertinggal dari negara lain?" Salah satu mahasiswa tiba-tiba melempar pertanyaan.
"selain itu, Indonesia krisis mentalitas. Banyak dari kita yang masih memiliki fixed mindset¹, hanya sedikit yang punya growth mindset¹ sehingga banyak yang memilih untuk hidup seperti air mengalir seolah pasrah dengan apa yang terjadi ke depan. Kita perlu usaha juga untuk mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan. Kita harus punya self-determinasi³ agar bisa berkembang dan punya motivasi yang jelas. Dengan begitu, kita tidak akan mudah terpengaruh atau suka ikut-ikutan dengan apa yang dilakukan orang lain. Kalo kita gak punya growth mindset dan self-determinasi, ya kesuksesan pun akan tertunda," jelas Darren sambil mengedarkan pandangannya.
"Sebenarnya kunci sukses tiap-tiap orang itu berbeda, Pak. Cuma kalo saya sendiri, lupa naruhnya di mana. Makanya gak sukses-sukses," celetuk si Gimbal yang kemudian diikuti gelak tawa seisi kelas.
"Heleh, dosen sekarang terlalu banyak jualan ludah! Mau ngomong mindset, miniset, gendset juga gak ngaruh dengan nasib kita ke depan. Ya, gak, Kar?" ucap Feril menanggapi motivasi yang diberikan Darren.
"Ehem ...." Sebuah dehaman keras meloncat keluar dari mulut Darren.
Feril menoleh ke samping dan terkejut mendapati Darren yang telah berdiri di sisi kanannya.
"Eh, Profesor, ngapain di sini? Cepat amat pindahnya?" Cengiran paksa tersemat di bibir Feril.
"Dilarang mengganggu sesama mahasiswa selama pelajaran berlangsung!" Nada tegas keluar dari mulut Darren sambil menatap istrinya yang tampak tak nyaman.
"Saya gak ganggu, Prof. Orang lagi ngobrol berdua kok!"
"Dilarang ngobrol dalam kelas!"
"Kita tuh lagi berdiskusi tentang materi yang Profesor sampaikan. Ya, gak, Ren?" Feril menoleh ke arah Karen.
__ADS_1
"Dilarang ada diskusi saat materi berlangsung!" tangkas Darren kembali.
Buset, nih, dosen!
"Coba kamu ulang materi terakhir yang saya jabarkan!"
Feril kelabakan seketikan. "Eee ... ee ... Profesor ngomong apa, ya, tadi? Maaf saya ini BUDI, Prof! Alias budek dikit, hehe ...."
"Oh?! Kalo gitu kamu pindah ke barisan depan sekarang!"
"Lah, kok disuruh pindah?"
"Agak budek, kan?" Darren memulangkan alasan Feril tadi sambil menginstruksikan untuk segera pindah.
Senyum masam tercetak jelas di bibir. "Singkat, padat, menjengkelkan!" gumam Feril dengan gigi yang menggertak.
.
.
.
Catatan kaki 🦶🦶
Fixed mindset: pola pikir yang percaya bahwa kecerdasan atau bakat yang dimiliki sifatnya akan tetap dan tidak akan berubah.
Growth mindset : pola pikir yang percaya bahwa apa pun kemampuan dan bakat dari kecil hanyalah permulaan sehingga kita perlu bekerja keras dan berdedikasi agar bakat dan keterampilan yang dimiliki terus berkembang.
self determinasi: motivasi dari dalam diri sendiri untuk melakukan tindakan tujuan yang diinginkan kita sendiri
__ADS_1