
Karyawan pertama yang menyuruh, lantas terburu-buru mengambil seluruh berkas dari tangan Karen.
"Maaf, Pak, kami sudah salah mengira. Soalnya tadi ada info kalau karyawan magang akan masuk hari ini, Pak," ucap karyawan itu dengan raut sungkan.
"Jadi seperti ini kalian memperlakukan karyawan yang baru masuk? Tolong hentikan sikap senioritas di dalam diri kalian!" Darren berucap tegas di hadapan seluruh karyawan. Bukan karena tak suka istrinya diperlakukan seperti itu, tapi ia ingin menghilangkan kebiasaan karyawan lama yang kerap menjajah karyawan baru, bahkan untuk hal-hal yang tidak masuk dalam pekerjaan.
Semua karyawan tertunduk diam. Ya, tidak bisa dipungkiri, senioritas memang selalu terjadi dalam kehidupan masyarakat. Bahkan terjadi di lingkungan akademis seperti bangku sekolah dan perkuliahan. Mirisnya, banyak yang tak menyadari budaya yang mengakar itu diwariskan dari zaman penjajahan yang kemudian dilanggengkan oleh bangsa ini hingga kini.
Darren lalu mengajak Karen ke sebuah ruangan yang menjadi tempat penerimaan tamu distributor.
"Kamu di sini dulu, ya! Aku mau ngenalin kerabat dekat aku, tapi ruangannya ada di lantai atas."
Karen menahan lengan Darren dengan cepat, sehingga membuat pria itu menoleh seketika.
"Maafin aku, ya, udah malu-maluin kamu dan bikin karyawan nyangka aku ini karyawan magang. Habisnya, Oma nyuruh aku berpakaian formal dan sopan, sih. Kamu tahu sendiri kan pakaian aku tuh gaul-gaul," ucap Karen menyandarkan kepalanya di lengan Darren.
Darren mengusap rambut Karen dengan lembut, lalu memegang kedua bahunya sambil memaksa saling berhadapan. "Gak ada yang salah kok sama pakaian kamu hari ini. Untuk acara entar malam kita ke butik aja buat beli pakaian baru."
Sesuai perintah Darren, Karen pun menunggunya di ruangan itu. Sementara itu, Darren menuju divisi pemasaran, tepatnya ke ruang manajer yang menaunginya. Ia mengetuk pintu sejenak, dan langsung menerobos masuk.
Di dalam sana, sesosok dengan wajah dan postur tubuh yang tak kalah dari Darren tersentak, ketika seseorang membuka pintu tanpa izin darinya. Namun, ketika melihat orang itu adalah Darren, ia langsung melebarkan senyum hingga deretan giginya terlihat.
"Darren?"
"Hei, Vin!"
Keduanya saling menghampiri kemudian melakukan homie handshake¹. Ternyata pria itu bernama Chalvin Wijaya yang masih merupakan sepupu Darren karena ayah mereka bersaudara. Ia dipekerjakan di perusahaan ini dengan jabatan sebagai manajer umum. Jika wajah Darren merupakan perpaduan antara Indonesia Belanda, maka Chalvin memiliki wajah khas oriental.
"Tumben lu ke sini, pasti dipaksa sama Oma, ya?" tebak pria itu, "terus, wifey lu mana?" tanyanya sambil mencoba mengintip ke arah pintu yang sedikit terbuka.
(N: Wifey: istri/bini. Ini Inggris slang/gaul diambil dari kata wife. Sama kaya hubby yg diambil dari kata husband)
"Ada di lantai bawah. Mau kenalan, enggak?"
"Boleh. Waktu lu nikah kan gua lagi enggak ada di Indonesia. Pingin tahu gua selera gadis yang dipilihin Oma buat lu," ucap chalvin penasaran.
Mereka lalu masuk ke dalam lift menuju lantai tempat Karen menunggu. Selama berada dalam lift, Chalvin menunjukkan ciri khasnya sebagai warga +62 yang doyan KEPO.
"Eh, gimana kehidupan pernikahan lu? Istri lu cantik, gak? Gimana service-nya di atas ranjang? Mantap, enggak? Atau masih amatiran?"
"Hush, ngapain nanya-nanya hal privasi kayak gitu!" ketus Darren yang tak nyaman dengan pertanyaan sepupunya.
__ADS_1
"Yaelah, pas lu lagi sedih gara-gara ditinggalin pacar, semua diceritain ke gua. Giliran enak-enak, ogah berbagi!" Chalvin menunjukkan raut masam.
"Bite your tongue!" ketus Darren dengan wajah merah padam.
(N:Bite your tongue\=Berisik lu!/Mending lu diam aja)
"Tapi kayaknya lu enjoy dengan pernikahan lu?" tebak Chalvin sambil melirik Darren dari ujung kaki hingga ujung rambut, "Bener, lu kelihatan lebih segar sekarang! Pasti istri yang dipilihkan Oma buat lu itu tipe istri yang keibuan, rajin bangun pagi, dan bisa menghandle semua pekerjaan rumah tangga!"
Tebakan Chalvin membuat Darren menyunggingkan sudut bibirnya. Pasalnya, perempuan yang ia nikahi itu sama sekali tak seperti perkiraan sepupunya. Istrinya bukan tipe perempuan keibuan dan sulit untuk bangun pagi. Bahkan, semua pekerjaan rumah tangga dihandle oleh dirinya sendiri. Meski begitu, sisi manja dari perempuan itulah yang membuatnya merasa menjadi pria yang bisa diandalkan dan selalu dibutuhkan.
Ketika pintu lift terbuka, secara tiba-tiba ponsel Darren berdering. Ternyata itu berasal dari kakek Aswono yang meminta datang ke ruangannya.
"Eh, aku ke ruangan kakek dulu, ya! Cuma bentar doang, kok!" Darren kembali masuk ke dalam lift.
Chalvin hanya memasang wajah bengong karena Darren tak mengatakan di mana istrinya berada. Terlanjur berada di lantai ini, Chalvin pun memilih untuk menyapa para karyawan. Meski menjabat sebagai manajer di perusahaan, pria berkulit putih itu sering berbaur dengan karyawan kecil untuk melakukan misi terselubung, yaitu mencari teman tidur. Kelebihan yang ia miliki adalah mempunyai mata teropong yang bisa menelisik perempuan-perempuan cantik yang mudah dirayu.
Chalvin menyerahkan kartu nama pada karyawan perempuan yang berhasil dijeratnya. "Jangan lupa, hubungi aku malam nanti!" ucapnya sambil mengedipkan mata.
Ia lalu pergi dan kembali bersikap formal pada karyawan-karyawan yang menegurnya. Saat melewati ruangan bersekat kaca, mata teropongnya terarah pada sosok perempuan berpakaian hitam putih yang tengah tertidur lelap di sofa dalam posisi duduk.
Bermaksud hendak menegur sosok yang dianggapnya sebagai karyawan baru, Chalvin justru terkesima saat melihat wajah lelap itu dari dekat. Jiwa buayanya langsung meronta-ronta di dalam sana. Tanpa ia tahu, perempuan itu adalah istri Darren yang akan diperkenalkan padanya.
"Kok gua baru tahu ada karyawan yang masih muda plus cantik kayak gini?" gumam Chalvin sambil memperbaiki dasinya.
Karen mengerjap dan sosok pria asing yang memasuki pandangannya langsung mengejutkan dirinya. Sontak, ia pun menjerit sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Aahhgtt, ngapain kamu ada di ruangan ini? Mau bertindak kurang ajar, ya?" teriak Karen.
Mata Chalvin langsung melotot tajam. "Enggak kenal siapa saya?" tanyanya sambil berkacak pinggang.
"Enggak! Emang penting?" sambar Karen.
Mata Chalvin semakin melotot mendapat respon galak dari perempuan untuk pertama kalinya.
Gila, nih, cewek, galaknya udah ngelebihin emak-emak yang labrak pelakor! Udah gitu gak ada sopan-sopannya lagi, mentang-mentang gua lagi gak pake jas keren.
"Makanya datang ke sini tuh buat kerja bukan buat molor!" Kali ini Chalvin tak mau kalah dengan menunjukkan sisi dirinya sebagai manajer perusahaan.
"Siapa juga yang mau kerja!" tandas Karen lagi. Dia sudah kesal dengan kehadiran pria itu secara tiba-tiba. Kini semakin kesal karena kembali disangka sebagai karyawan.
Di tengah adu mulut mereka, tiba-tiba Darren dan Oma Belle masuk ke ruangan itu.
__ADS_1
"Eh, udah saling kenalan?" tanya Darren sambil menunjuk keduanya.
Karen dan Chalvin lantas saling memandang dalam kebisuan.
"Ja–jangan bilang dia istri lu." Chalvin menunjuk ke arah Karen dengan raut wajah yang seperti habis menelan biji kedondong.
Karen yang baru saja berdiri, langsung teringat dengan perkataan Darren beberapa saat lalu yang mengatakan hendak memperkenalkan seseorang padanya.
Karen lalu menunjuk ke arah Chalvin dengan mata yang membeliak. "Jangan-jangan ...."
Di saat Karen dan Chalvin saling bertatap-tatapan dalam suasana yang kaget, Oma Belle malah melintas dan menghalangi pandangan mereka.
"Kalian semua, bantuin oma dulu. Kita bakal ganti model produk. Pokoknya produk lipstik terbaru kita harus bisa mengalahkan produk lipstik merek Nyebellin Nyuyork, yang penjualannya nomor satu di Indonesia! Ayo, bantu Oma cari model yang cocok mewakili produk kita," ucap Oma Belle sambil menunjukkan beberapa model rekomendasi.
"Jangan yang ini! Dia tuh sekuter," tunjuk Karen pada salah satu model.
"Hah? Sekuter?" Oma mengernyit.
"Iya, Selebritis kurang terkenal maksudnya, jelas Karen.
"Kalau gitu gimana yang ini aja!" tunjuk Oma pada salah satu foto selebritis berwajah khas Indonesia.
"Jangan itu juga, Oma. Dia orangnya problematik! Takutnya bakal banyak hatters." Sebagai kaum rebahan, Karen tentu sangat mengikuti perkembangan para selebritis maupun selebgram di negara ini.
"Yang ini gimana?" tanya Oma meminta pendapat Karen lagi.
"Setahuku dia terikat kontrak dengan beberapa brand kosmetik juga," balas Karen.
"Terus yang mana dong?" tanya Oma bingung.
"Kenapa gak kamu aja?" sahut Chalvin pada Karen secara tiba-tiba.
Semua terkejut, tak terkecuali Karen sendiri.
.
.
.
catatan kaki 🦶🦶
__ADS_1
homie handshake¹ istilah salam keakraban yang awalnya banyak dipakai orang-orang kulit hitam. yaitu dengan cara saling menautkan telapak tangan masing-masing, mirip seperti posisi adu panco.
Ada yang nungguin nih novel gak sih 🤣. jangan lupa like dan komen. yang baru baca, baca maraton, baca estafet jangan pelit2 kasih dukungan juga, terus jempolnya jangan lupa tancepin di tiap chapter. biar nih novel bisa tayang sampai tamat 😉