DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 111 : Menara Petronas


__ADS_3

Tak terasa dua hari telah berlalu pasca pengobatan HIFU. Setelah memutuskan tak ke mana-mana, kini Karen dan Darren mengatur jadwal kencan mereka. Karen yang bersemangat, telah mempersiapkan diri lebih cepat dari biasanya. Meski sering ke luar negeri, tetapi menginjakkan kaki ke negara yang masih serumpun dengan indonesia itu merupakan pertama kali baginya. Ia memakai jaket pink yang merupakan hadiah pernikahan dari mami Valen.


Menatap bayangnya dalam cermin yang setara dengan tinggi badannya, pandangannya pun teralihkan. Ia berbalik cepat, lalu tersenyum geli melihat suaminya yang biasa tampil maskulin kini memakai jaket yang sama seperti dirinya.


"Serius, nih, pak Darren pakai jaket couple warna pink?" ejeknya sambil tertawa.


"Kalo perempuan boleh pakai hitam dan cokelat, kenapa laki-laki gak boleh pakai pink? Warna gak ada gendernya, kan?" balas pria itu dengan santai. Dia lalu memasang topi sport putih di kepalanya. Penampilannya yang kasual, menjadikan dirinya terlihat lebih muda seperti seusia dua puluh lima tahun.


Mereka pun meninggalkan hotel menuju ke salah satu ikon kota Kuala Lumpur yaitu menara Petronas. Sesampainya di sana, mereka berkunjung ke galeri seni Petronas, melihat hal-hal yang berkaitan dengan minyak bumi serta singgah ke pagelaran musik klasik.


Lanjut ke lantai berikutnya tepatnya di lantai 41, mereka rela mengikuti antrian panjang demi memasuki sky bridge. Sebuah jembatan kaca yang menjadi penghubung menara kembar ini. Jumlah pengunjung yang dibatasi membuat orang-orang kerap kehabisan tiket, untungnya pasangan suami istri itu telah memesan secara online dari hari pertama di negara itu.


Ya, tentu saja rasanya kurang jika ke Malaysia tapi tak mengabadikan foto di menara kembar yang pernah menjadi gedung pencakar langit tertinggi di dunia itu. Apalagi di malam hari menara ikonik itu semakin terlihat megah dengan lampu-lampu yang berpendar. Merasa kesulitan mengambil foto dengan latar belakang menara yang ful, Karen pun meminta bantuin wisatawan lokal yang ada di sekitar situ.


"Permisi, bisa tolong bantu ambilkan foto kami berdua?" tanya Karen secara santun.


Wisatawan perempuan itu mengangguk-angguk. "Boleh-boleh ...."


Karen memberikan ponselnya, kemudian segera mengambil posisi di samping Darren sambil merangkulnya mesra dengan kepala yang bersandar di lengan pria itu. Pose berikutnya, ia mengarahkan Darren agar saling menautkan kedua tangan mereka membentuk simbol cinta. Ada juga pose Darren menggendongnya di atas punggung. Semua foto yang diambil, berlatar belakang menara kembar dengan hiasan lampu-lampu cantik yang menyinarinya.


Puas berfoto dengan berbagai macam gaya, Karen pun mengucapkan terima kasih pada wanita itu. Bukannya segera pergi, wanita itu malah mendekati Darren.


"Boleh saya nak ambil foto bersama-sama?" tanya wanita itu sambil menatap penuh pada Darren.

__ADS_1


"Boleh ... boleh!" sahut Karen. Ia langsung mengatur ponselnya dalam mode kamera depan agar bisa mengambil foto bertiga.


"Maksud saya ... berdua je'," jelas wanita itu sambil menunjuk dirinya dan Darren. Ia bahkan telah berada di samping Darren sambil bergaya.


Wajah memberengut Karen spontan terlihat. Bukan hanya sekali, perempuan itu bahkan berfoto dengan Darren berkali-kali. Sementara dirinya seakan bertukar posisi dengan wanita itu sebagai tukang foto.


"Muka awak handsome sangat. Nampak Macam artis luar," ungkap wanita muda itu penuh kekaguman selepas foto bersama.


Mendapat pujian seperti itu tampaknya sudah terlalu sering bagi Darren sehingga enggan membuatnya melayang. Namun, siapa sangka justru Karen yang kesal saat suaminya dipuji wanita lain tepat di hadapannya.


"Dasar sok ngartis!" ketus Karen begitu wanita bersurai panjang itu pergi meninggalkan mereka.


"Siapa yang sok ngartis?" Darren menoleh sambil tersenyum miring. "Cemburu, ya?" Ia malah menggodanya.


"Ih, siapa yang cemburu!" tampiknya sambil berbalik dan berjalan membelakangi Darren.


"Ih, apaan, sih!" Karen menepis kesal tangan Darren yang mencoba memegang tangannya.


"Kok jadi marah?"


"Enggak, aku gak marah!" tampik Karen dengan mata melotot.


"Ngomong gak marah, tapi nadanya marah!"

__ADS_1


Sikap kekanak-kanakannya yang mudah merajuk tanpa alasan jelas kembali kumat. Dan lagi-lagi, dia berharap Darren bisa menjadi cenayang yang menafsir kekesalannya. Ia berjalan cepat, meninggalkan Darren yang mencoba membujuknya. Hingga selang beberapa meter berjalan, Karen menyadari sudah tak mendengar lagi suara Darren yang usil memanggilnya. Ia segera berbalik dan matanya sontak membesar. Tak ada lagi Darren yang gencar mengikutinya. Tak ayal, kepanikan tergurat di wajahnya.


Matanya menyapu ke seluruh penjuru tempat itu, mencari-cari keberadaan pria yang berpakaian sama dengannya. Karena ini malam Minggu, keadaan taman sekitar menara Petronas sangat ramai pengunjung. Hal ini menyulitkan dia melihat keberadaan Darren yang terpisah dengannya. Ia pun mencoba berbalik dan berlari ke tempat mereka sebelumnya. Sayangnya, tetap tak menemukan suaminya.


Ia buru-buru mengambil ponsel, mencoba untuk menghubungi Darren. Anehnya, panggilannya tak ke ponsel pria itu. Entah karena sinyal yang lemah, atau mungkin Darren juga sedang melakukan panggilan secara bersamaan. Matanya menatap jauh ke seberang kolam sambil terus menempelkan ponselnya.


"Darren, kamu di mana?" gumam Karen dengan wajah panik dan pucat.


Saat memutuskan untuk mencari ke seberang sana, seseorang menariknya hingga kepalanya tersandar di dada pria itu. Aroma tubuh yang begitu familiar langsung memenuhi rongga penciumannya. Ia lantas segera menaikkan wajahnya.


"Darren? Kamu ke mana aja? Aku takut banget kamu ninggalin aku di sini," ucap Karen dengan suara yang gemetar. Padahal Travelling ke luar negeri sudah pernah ia lakukan seorang diri.


"Aku gak ke mana-mana! Kamu yang ninggalin aku tanpa sebab. Aku pikir, aku perlu tetap di sini supaya kamu tahu aku masih bertahan meskipun kamu memutuskan pergi."


Karen tertunduk dengan bibir yang terkatup rapat. Kekesalannya kini berpindah pada dirinya sendiri yang masih belum bisa menghilangkan tingkah kekanak-kanakannya. Darren memegang kedua bahu istrinya sambil sedikit membungkuk.


"Ayo kita pulang," ajaknya sambil menarik lembut tangan perempuan itu.


Darren dan Karen memutuskan pulang ke hotel sebelum malam semakin larut. Mereka sama-sama merebahkan tubuh yang lelah karena berkeliling seharian. Tepat itu juga, pemandangan hujan lebat yang baru saja menyapa kota Kuala Lumpur terlihat dari dinding kaca kamar mereka. Untung saja mereka telah sampai di hotel.


Sejenak, keduanya sama-sama menoleh dengan binar kebahagiaan terpancar jelas di wajah mereka masing-masing. Pada titik ini, jarak di antara mereka sangat dekat hingga mata keduanya saling beradu. Mereka mendadak senyap dan membisu. Tampaknya, pasutri itu menyadari sudah cukup lama mereka tak membuat penyatuan. Namun, apakah bisa mereka melakukannya sekarang?


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2