DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 153 : Semua jadi Batal


__ADS_3

Chalvin masih mencegat Nadya dengan berusaha menghadang langkahnya.


Menarik napas panjang sejenak, pria berwajah oriental itu berkata, "Nadya, ok, aku minta maaf. Aku pikir ... kita bisa jalani ini tanpa saling tertarik satu sama lain. Makanya aku gak pernah mendeteksi semua yang kamu rasakan."


"Bukan salah Kakak, kok. Aku yang enggak profesional karena malah terbawa perasaan," ucap Nadya sambil berusaha tertawa meskipun matanya sudah diselimuti embun tebal yang siap menetes, "Bukan salah Kakak juga kalo kakak gak bisa tahu perasaanku selama ini. Aku emang yang berusaha sembunyiin itu dari Kakak. Aku malah takut kalau sampai Kakak tahu, Kakak mungkin gak bakal minta tolong lagi sama aku." lanjutnya lirih bahkan hampir tak terdengar.


Kali ini Chalvin benar-benar tak bisa mencegat kepergian Nadya. Dia terpaku, membasahi bibirnya sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Entah apa yang membuat hatinya kalut dengan keputusan Nadya mengakhiri sandiwara mereka. Apakah karena ia bingung mencari sosok pengganti Nadya yang bisa diajak kerja sama mengelabui Omanya, ataukah merasa bersalah melihat gadis itu menitikkan air mata karenanya.


Dia tak menyangka Nadya seluka itu sejak menjadi kekasih palsunya. Ia semakin tak menyangka karena gadis itu diam-diam menyimpan perasaan padanya. Padahal selama ini ia selalu menceritakan perasaannya terhadap Karen pada gadis itu.


Nadya pergi dengan membawa sepotong hatinya yang terluka. Meski sudah direjam dengan kenyataan hidup yang pahit, ia tak lantas menyalahkan siapapun. Ya, bukan salah siapa-siapa jika dirinya menjadi begini. Meski begitu, sama seperti Chalvin yang memilih mencintai Karen dalam diam tanpa berusaha mengusik kebahagiaan sahabatnya itu, ia pun memilih mencintai pria itu tanpa menuntut balas.


Ya, hal terindah dari cinta bertepuk sebelah tangan adalah orang yang kita cintai tidak akan tersakiti dengan cinta kita. Mirisnya, kita kerap menyiksa diri untuk memilih bertahan mencintainya.


Oma Belle masih mondar-mandir di depan meja kerja kakek Aswono sambil mencari referensi wedding organizer yang cocok untuk kedua cucu mereka.


"Kayaknya kita juga harus berdiskusi dengan keluarga Karen biar mereka merasa dihargai. Untuk Chalvin, kalau lamarannya diterima pasti keluarga pihak perempuan akan adakan pesta lebih dulu. Makanya semua ini dirampungin sama Chalvin dulu, siap gak dia dan pacarnya nikah?" tutur kakek sambil membaca majalah bisnis.


"Ah, betul juga, ya. Kita harus bicarain ini sama nenek dan ayah ibu Karen. Siapa tahu mereka mau nyumbang dana, jadi kita bisa hemat anggaran."


Kakek Aswono lantas mendengus sambil geleng-geleng kepala ketika istrinya mulai mengeluarkan jurus perhitungan. Pintu ruangan mendadak terbuka saat Oma Belle baru saja mengambil ponsel untuk menghubungi nenek Karen. Tanpa masuk, Chalvin berdiri di tiang pintu, menunjukkan raut wajahnya yang bagaikan remasan kertas nasi bungkus.


"Ada dua hal yang aku mau sampaikan ke kakek dan Oma," ucapnya tiba-tiba dengan nada suara yang terdengar suram. "Pertama, aku dan Nadya udah putus. Kedua, aku gak bakal nikah meskipun Oma maksa."


"Hah?" Oma Belle dan Kakek Aswono kompak melongo kemudian saling menatap kaget. Suasana ruangan itu pun mendadak senyap.


Masih menunjukkan wajah datar yang begitu muram, Chalvin kembali berkata, "Itu aja yang mau aku sampaikan. Aku mau ke pabrik dulu." Chalvin langsung menutup pintu tanpa mau tahu respon dari Oma maupun kakek yang tampak kaget dengan keputusannya.


"Kamu lihat sendiri, Mas! Anak itu selalu seenaknya saja!" berang Oma Belle sambil menunjuk pintu yang baru saja tertutup.

__ADS_1


"Kayaknya Chalvin lagi patah hati berat," pikir kakek seraya menghela napas, "kita biarkan saja dulu dia tenang. Dia kan udah matang, bukan ABG lagi." Kakek Aswono malah pusing menghadapi Chalvin dan istrinya yang sering berseberangan.


Oma Belle tentu tak tinggal diam. "Gak bisa dibiarin ini! Aku mesti bicara sama pacarnya!"


"Kamu mau ngapain lagi? Gak dengar barusan Chalvin bilang apa?"


"Aku itu khawatir, Mas. Ini cuma akal-akalan Chalvin doang. Gimana kalo dia sengaja mutusin pacarnya gara-gara kita mau adain pesta buat mereka. Atau jangan-jangan dugaanku selama ini bener ...." Kali ini Oma Belle memicing curiga.


"Udahlah gak usah terlalu ikut campur gitu. Gak cuma sekali loh Chalvin bilang belum mau nikah. Laki-laki belum siap berkomitmen dipaksa nikah, apa gak kasihan yang jadi pasangannya nanti? Kalo udah jadi suami tapi gak bisa bertanggung jawab gimana? Gak lihat apa angka perceraian tahun kemarin aja meningkat 53%. Anak muda jaman sekarang banyak yang termakan dongeng, mikir kalo pernikahan itu adalah akhir dari segalanya. Sedangkan orang dewasa kayak Chalvin memilih menikah atas desakan dan tekanan lingkungan. Akhirnya, begitu menjalani pernikahan yang sesungguhnya, pada syok karena tidak sesuai novel percintaan. Lagian, awalnya, kan, saya cuma mau adain pesta buat Darren sama Karen. Kamu yang ngotot minta digabung sama pestanya Chalvin," cerocos kakek Aswono sambil melepas blangkon.


Chalvin berjalan lemah seperti tak memiliki tenaga. Kata-kata yang terlontar dari mulut Nadya masih berkelabat di kepalanya.


Seseorang datang mendekat, lalu berkata padanya, "Pak, tadi ada cewek muda yang nyari Bapak. Katanya dah janjian, dia sampe nyasar ke departemen humas karena nyari ruangan Bapak."


"Oh," sahutnya pendek karena sedari tadi ia sudah kehilangan kata-kata.


***


"Nadya sampai sekarang kok belum balas chat aku, ya? Aku nelepon pun gak tersambung. Aku jadi khawatir sama dia."


"Mungkin lagi sibuk jadi belum sempat balas chat kamu," balas Darren sambil memijat pundak Karen.


"Tapi gak biasanya Nadya kayak gini. Apalagi tadi siang dia benar-benar beda banget!"


Karen teringat kembali perkataan Nadya yang cukup mengusik pikirannya. Yang mana kala itu Nadya sempat berkata kalau Karen sangat beruntung karena meskipun telah bersuami, ia masih bisa mendapatkan perhatian dari pria lain. Sungguh, ia tidak mengerti kenapa Nadya sampai berkata demikian. Dia mulai berpikir kalau Nadya mungkin cemburu karena dirinya terlalu dekat dengan Chalvin.


"Ada masa di mana seseorang yang kita kenal baik mendadak bersikap berbeda dari biasanya. Kita menilai dia berubah, padahal mungkin itu emang karakter asli dia atau bisa jadi sikapnya itu adalah buah dari emosional yang dia pendam saat ini. Apa pun itu, mungkin teman kamu lagi mau menenangkan diri. Stay positive aja dulu!" ucap Darren menanggapi keresahan istrinya.


"Iya, sih." Karen mencebikkan bibir. "Hum ... gak terasa bentar lagi masuk kampus. Ih, jadi gak sabar. Kangen juga sama teman-teman kampus." Karen mendadak terdengar bersemangat.

__ADS_1


"Kangen teman-teman kampus atau kangen sama cowok yang ngejar-ngejar kamu itu?" Nada sewot berbau cemburu tiba-tiba keluar dari mulut Darren.


Karen mengernyit sejenak. "Siapa sih maksudnya?" Matanya sontak membesar begitu teringat Feril dengan tingkahnya yang suka mengusik.


"Ciee ... cemburu, nih, ye .... Anda merasa tersaingi mahasiswa Anda sendiri, ya?" cela Karen dengan gaya formal tapi mengejek.


Darren mengatur ekspresi wajahnya agar terlihat biasa saja. "Siapa cemburu? Aku cuma kasihan aja, kamu didekati cowok kek gitu!"


"Idih masih denial juga kalo cemburu!" Karen mengulas senyum hangat sambil kembali berkata, "Actually, yang paling kurindukan dari kampus itu saat kamu ngajarin aku di perpustakaan secara sembunyi-sembunyi. Serius, aku kangen banget momen itu. Kamu masih mau ngajarin aku lagi, kan?"


Darren turut tersenyum mengingat masa-masa cinta mereka tumbuh dan bermekaran.


"Lihat ke sini!" pinta Darren sambil melingkarkan tangannya di pinggang istrinya.


"Kenapa?" tanya Karen sambil menolehkan kepala ke belakang.


Bertepatan dengan itu, ciuman hangat nan singkat mendarat di bibirnya.


"Terlalu cepat, ih. Ada siaran ulang, gak?" pinta Karen dengan gayanya yang manja.


Darren mendekatkan wajahnya secara perlahan. Karen mulai memejamkan mata dan sedikit mengangkat dagunya, seolah siap menyambut bibir penuh suaminya. Tepat saat matanya menutup sempurna, Darren malah menempelkan busa ke dagu perempuan itu sehingga membuatnya tampak memiliki berewok.


Tindakan iseng suaminya membuat Karen kesal sekaligus gemas. Dia pun membalas perlakuan Darren dengan menempelkan busa ke setiap sisi dadanya sehingga terlihat seperti memakai bikini. Seperti itulah pasangan beda usia itu merajut keintiman mereka.


Selepas mandi bersama, Karen dan Darren turun ke lantai bawah. Seperti biasa, keluarga Bratajaya menerapkan aturan disiplin dan terjadwal untuk segala aktivitas yang ada di rumah, termasuk jadwal makan malam yang tak pernah bergeser. Semua keluarga telah berkumpul di meja makan, kecuali Chalvin yang memang belum pulang.


"Kakek, Oma ... aku dan Karen udah diskusi soal rencana pesta pernikahan kami yang mau diadain sama kakek dan Oma," ucap Darren membuka obrolan, "kami juga punya wedding dream impian yang sesuai dengan keinginan kami sendiri. Untuk itu, kami sepakat ingin mengadakan pesta pernikahan dengan uang kami sendiri, tanpa bantuan kakek dan Oma. Tapi, untuk mewujudkan itu semua, tentu gak bisa secepatnya. Aku harap kakek, Oma, serta lainnya sabar menunggu undangan dari kami."


"Kalian ini sok-sok mandiri!" ketus Oma dengan wajah cemberut. Bagaimana tidak cemberut, keinginannya untuk mengadakan pesta mewah besar-besaran gagal total karena penolakan cucu-cucunya.

__ADS_1


"Selain itu, kami juga mau ngasih tahu ... hari minggu aku dan Karen mau balik ke rumah kami soalnya Karen udah mau masuk kampus."


__ADS_2