DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
bab 178 : Ucapan Terima Kasih


__ADS_3

Nadya kembali ke coffee shop-nya dengan suasana hati yang tak baik karena kejadian di kelas tadi. Di saat yang bersamaan, matanya terarah pada segelas kopi yang seharusnya diberikan sebagai bonus orderan untuk perusahaan Belleria yang memesan pagi tadi. Sialnya, ia terlalu terburu-buru hingga lupa menyisipkan dalam pesanan.


Hingga kini, ia masih bingung cara mengucapkan terima kasih pada Chalvin karena telah membantu promosikan merek kopinya pada para karyawan. Terbukti, beberapa karyawan Belleria, mulai ada yang datang langsung untuk memesan secara pribadi.


Saat malam tiba, Chalvin baru saja keluar dari gedung perusahaan menuju mobil pribadi. Wajah kelelahan nan lesu tercetak jelas. Ia memalingkan kepala ke kiri dan kanan hanya untuk merenggangkan otot-otot di sekitar leher. Karena sekarang dia telah kembali tinggal di apartemennya, maka rutinitas pulang terasa sangat membosankan. Entah kenapa, tiba-tiba saja terlintas di benaknya untuk bersantai sejenak sambil menyeruput kopi sebelum pulang ke apartemennya. Dari banyaknya kedai kopi favoritnya, yang terpikirkan saat ini justru hanyalah coffee shop milik Nadya.


Begitu masuk ke mobil, ia mengambil ponsel bermaksud menghubungi Nadya untuk bertanya apakah coffee shop-nya masih buka atau tidak. Baru hendak menekan perintah panggilan, jarinya malah urung sejenak.


"Kalo aku pergi sendiri, terlalu kentara gak, ya?" pikirnya sambil menyandarkan ponsel di dagu.


Bagaimanapun, ia tak ingin kehadirannya membuat Nadya berpikir kalau dirinya tengah berusaha mendekati gadis itu kembali. Chalvin lalu menghubungi Darren dan berencana mengajak sepupunya itu nongkrong di sana. Sayangnya, Darren menolak halus ajakan tersebut karena telah pulang ke rumah dan sedang tidak ingin ke mana-mana.


Chalvin menghembuskan napas kasar usai menelepon Darren. Ia pun mulai menyetir dan memutuskan pulang ke apartemen saja. Tak berselang lama kemudian, ponselnya mendadak berdering. Ia sedikit kelabakan melihat nama Nadya di layar pemanggil.


"Halo ...."


Nadya yang masih berada di coffee shop-nya, lantas mengulum bibirnya sendiri begitu mendengar suara lelaki yang sempat menjadi pujaan hatinya.


"Halo ...." Tak ada suara apa pun, membuat Chalvin mengulang sapaannya.


"Halo, Kak. Kak Chalvin udah selesai kerja?"


"Iya, nih, baru mau pulang! Ada apa, nih?"


"Enggak, sih. Dari tadi mau nelpon tapi takut gangguin Kakak kerja."


"Oh, ya? Emangnya kenapa?"


Nadya terdiam sejenak. Sebenarnya, ia hanya ingin mengucapkan terima kasih karena selalu mengorder kopinya dalam jumlah yang banyak. Namun, hanya untuk berucap seperti itu rasanya sulit dan bingung untuk memulainya.


"Halo?"


Suara Chalvin dari sambungan telepon membuatnya terkejut.


"Ya, Kak, aku cuma mau bilang ...." Di waktu yang sama, seekor kecoak besar tiba-tiba berjalan ke arahnya dan hampir merambat ke kakinya.


"Aaaaaggtth!" Teriak Nadya sambil naik ke kursi.


Mendengar jeritan histeris Nadya, Chalvin pun ikut terkejut.


"Nad, ada apa? Kamu kenapa?"


Tak ada balasan apa pun, membuat Chalvin berpikiran sesuatu yang buruk tengah terjadi pada gadis itu. Apalagi, Nadya terus-terusan menjerit ketakutan. Ia yang memang melintasi jalan searah kedai gadis itu, lantas menaikkan kecepatan berkendara menuju ke sana.

__ADS_1


Sesampainya di sana, Chalvin tertegun bengong melihat Nadya berdiri di atas kursi sofa sambil memegang gagang sapu. Nadya pun turut terkejut melihat kehadiran Chalvin.


"Kamu ngapain berdiri sambil pegang gagang sapu, dah kayak nenek sihir mau star terbang aja!"


Dengan menampangkan wajah geli bercampur jijik, Nadya menunjuk ke arah lantai.


"Yaelah, gua pikir ada perampok yang datang! Cuma kecoak doang ternyata!" Chalvin menengadahkan kepala seraya mendengus dan tertawa mengejek.


"Kak Chalvin awas kecoak!" teriak Nadya.


Melihat kecoak yang berjalan cepat ke arahnya, Chalvin sontak naik ke atas meja sambil berteriak panik. Ia berbalik, menoleh ke arah Nadya yang juga berdiri di belakangnya.


"Cepat usir kecoaknya!" perintah pria itu.


"Loh, kok aku?"


"Yah, kan kamu yang punya tempat ini!"


"Kak Chalvin sendiri, kenapa takut kecoak? Bukannya tadi ngeledekin aku?"


"Siapa yang takut? Aku cuma kaget aja karena kamu tiba-tiba teriak," elak Chalvin.


"Ya, udah kalo gitu Kak Chalvin aja!" Nadya menyodorkan gagang sapu.


"Itu dia!" sahut Nadya.


"Hus! hus!" dengus Chalvin.


"Kok diusir doang? Emang kucing?" protes Nadya.


"Emang seharusnya diapain?"


"Ya ... dipukul kek atau sekalian diinjak!"


"Gak boleh tahu. Di dalam tubuh kecoak itu penuh dengan bakteri dan parasit, kalo diinjak ususnya bisa keciprat dan mengeluarkan bau feromon. Feromon itu yang nantinya mengundang kecoak lain untuk datang ke sini. Bukannya hilang jadi makin tambah banyak, kan?"


"Ih, Kak Chalvin terlalu banyak ngomong. Kecoaknya dah hilang, tuh!"


Chalvin menoleh ke depan, lalu bernapas lega. "Syukur deh kalo dah pergi!"


"Kok syukur! Kalo balik lagi gimana?"


"Ya, makanya harus dicegah dong kedatangannya! Jangan sampai ada makanan dan minuman berceceran di meja atau di lantai. Besok suruh karyawan kamu bersih-bersih kalo abis kerja," ucap Chalvin. Sesaat, matanya turun ke bawah, melihat tangan Nadya yang berpegangan kuat di lengannya.

__ADS_1


Sempat bingung dengan arah tatapan Chalvin, Nadya lantas melepas tangannya dengan cepat.


"Sorry!"


Keduanya sama-sama terdiam, kikuk dan rikuh sambil saling membuang pandangan.


"Oh, iya, kamu tadi kenapa nelepon aku?" tanya Chalvin mencoba menepis rasa canggung di antara mereka.


Nadya tertunduk tiba-tiba sambil berkata, "Aku cuma mau bilang makasih atas orderannya tadi pagi."


"Orderan apa?" Mata Chalvin memicing, seolah tak mengerti apa-apa.


"Aku tahu kok selama ini kak Chalvin yang borong pesanan kopi di sini."


"Kayaknya kamu salah ngira, deh!" tampil Chalvin yang kini menggaruk-garuk rambut belakangnya.


"Walau kak Chalvin gak mau ngaku, aku udah tahu semuanya kok sejak datang ke kantor kak Chalvin. Sebagai ucapan rasa terima kasih aku, apa aku boleh traktir kak Chalvin sekarang? Terserah kak Chalvin mau di tempat mana aja, asal yang masih terjangkau." Nadya menyengir kecil.


"Aku gak mau ditraktir! Kalo boleh minta, aku mau kamu masakin nasi telor ceplok sekarang. Tiba-tiba aja aku pengen makan masakan rumah sederhana. Mungkin efek aku dah balik apartemen kali, ya?"


Nadya menatap Chalvin dengan wajah bingung.


"Kenapa? Gak bisa, ya?" tanya Chalvin.


"Bukannya gitu. Tapi di sini gak ada nasi sama telur. Udah gitu, gak ada wajan juga cuma ada cetakan pemanggang sama air fryer."


"Ya, udah. Gimana kalo kamu buatnya di apartemen aku?"


"Hah?" Nadya bereaksi kaget.


Chalvin sedikit membungkuk, sambil memajukan wajahnya ke arah Nadya hingga membuat kepala gadis itu mundur ke belakang.


"Mau di apartemen aku atau di kos kamu?" tanyanya penuh harap.


Nadya semakin melebarkan mata. Baik ke apartemen pria itu atau pun ke kos-kosannya sendiri sudah menjadi pilihan sulit baginya. Ia tak pernah mengunjungi apartemen seorang pria, apalagi pria dewasa seperti Chalvin yang tak memiliki hubungan apa pun dengannya. Namun, memilih untuk membawa Chalvin ke kos-kosannya semalam ini juga adalah pilihan yang tidak tepat. Takutnya akan menimbulkan salah paham tetangga kos-kosan yang melihatnya. Apalagi untuk pria dengan status kelas atas seperti Chalvin.


Melihat Nadya yang lama terdiam tanpa ada jawaban, Chalvin pun berbalik sambil berkata, "Ya, udah lupain aja!"


"Ke apartemennya kak Chalvin aja!" ucap Nadya dengan cepat.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2