DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 83 : Insting Oma Belle


__ADS_3

Sepulang dari kencan tragis, Chalvin malah mengajak Darren untuk bersantai di kedai kopi global terkenal yang harganya membuat dompet menjerit. Karena jarang bertemu, Darren pun menerima ajakan sepupunya itu. Setelah selesai mengisi kelas terakhir, ia segera menuju ke sana.


Tiba di tempat itu, ia langsung menghampiri Chalvin yang mengambil posisi paling ujung dekat jendela.


"Kamu kenapa? Kok muka kusut gitu," sapa Darren sambil duduk di hadapan Chalvin.


"Gua habis dirampok!"


"Hah? Dirampok?"


Masih membawa rasa kesalnya, Chalvin kembali berkata, "Ini gara-gara Oma pengen jodohin gue kayak lo. Dia maksa gue buat jalan sama cewek yang katanya gak pernah pacaran. Gak dekat sama laki-laki juga."


"Terus?" tanya Darren penasaran.


"Ternyata doi buchi! Gak doyan laki, doyannya sama cewek juga. Minta di-refund sama Yang Mahakuasa kali, ya," geram Chalvin dengan nada suara meledak-ledak.


"Serius?" tanya Darren sambil menahan tawa.


"Dan lebih sialnya lagi, duit gua habis hampir 1 M buat bayarin belanjaan dia. Dikira gua ternak duit apa?!"


Darren tertawa terpingkal-pingkal mendengar pengalaman buruk yang baru saja dialami sepupunya itu. "Udah ... anggap aja sedekah. Lagian, ada angin apa nih tiba-tiba mau nurut Oma ikut perjodohan?"


Napas Chalvin berembus kasar. "Lu kayak gak tahu Oma aja. Kalau udah ngebujuk bin maksa ... sales panci, agen asuransi, sama downline MLM pun kalah sama dia. Terpaksa gua iyain aja dari pada dengar dia ngomel mulu."


Darren semakin tak bisa menahan tawanya. Namun, ia juga membenarkan apa yang dikatakan Chalvin tentang sifat Oma yang pemaksa.


"True ... true .... Jadi, kamu manggil aku ke sini cuma buat numpahin unek-unek?"


"Iya! Lo sih enak. Dijodohin langsung klik di hati. Begitu nikah, sama-sama bisa saling jatuh cinta. Nah, gua?"


"Gak juga. Justru pertama kali aku sama Oma datang ke rumah Karen buat kenalan, dia malah kabur. Kedua kalinya juga gitu, dia berasalan tidur di rumah teman. Terus, dia sengaja ngirim foto yang wajahnya dijelek-jelekin gitu. Giginya dihitamin semua, terus wajahnya dibikin berjerawat, terus ada tompel di bawah dagu. Tapi aku tahu itu cuma efek makeup."


"Terus lo kirim balik foto lo enggak?"

__ADS_1


"Enggak, toh dia gak minta. Aku malah bilang sama Oma ... udahlah orangnya gak mau dijodohin sama aku. Tapi Oma sama neneknya Karen tetap ngotot pengen nikahin kita. Jadi ketemunya pas di pernikahan dan itu bikin kita sama-sama suprised. Ternyata dia mahasiswa aku dan aku dosennya," kenang Darren ketika mengingat awal perjodohannya dengan Karen.


"Udah kek ta'aruf-an aja kalian."


"Tapi serius."


"Oma jodohin lu kan karena lu terus-terusan patah hati ditinggal Marsha. Katanya dia takut lu gak bakal doyan cewek lagi."


"Iya, ya? Oma selalu ambil tindakan yang memaksa kalau dia mengkhawatirkan sesuatu. Jadi, kira-kira apa yang bikin Oma tiba-tiba desak kamu nikah?"


"Who knows." Chalvin mengangkat bahunya.


(Who knows: siapa yang tahu/entahlah)


***


Apa yang dialami Chalvin, rupanya telah sampai di telinga Oma Belle. Namun, bukannya merasa bersalah, wanita keturunan Belanda itu makin semangat mencarikan jodoh untuk Chalvin.


"Hah? Oma masih pengen jodohin aku?" Suara kaget Chalvin memekik telinga Oma Belle.


"Iya dong! Yang tadi itu ambil hikmahnya aja. Dunia emang semakin aneh. Tenang ... Oma bakalan kenalkan ke kamu perempuan tulen."


Chalvin mengembuskan napas kasar seraya menyeringai. "Aku juga mau request gadis yang punya level kesabaran kek di FTV azab, Oma. Biar kalau aku selingkuh, dia bisa welcome."


"Kalau kamu request calon istri kayak gitu, harus ambil sepaket sama sianida," tandas Oma dengan suara geram.


Kakek Aswono lantas menggeleng-geleng kepala melihat Oma Belle yang bersungut-sungut setelah selesai menelepon Chalvin.


"Udah ... kalau orang kayak gitu dipaksa nikah, entar malah gak bisa tanggung jawab ke keluarganya. Kasihan perempuannya," ujar kakek Aswono dengan pemikiran yang bijak.


"Justru nikah itu bikin dia belajar untuk tanggung jawab. Apalagi dia bukan anak kecil. Udah dewasa, usia pun matang!" tandas Oma Belle dengan sengit.


"Nah, kamu sendiri tahu kan dia bukan anak kecil lagi. Terus kenapa pake dibantu cariin jodoh? Kalau usianya dah matang biarkan dia cari jodoh sendiri."

__ADS_1


"Kamu toh Mas cuma ngulang kata-kata itu melulu. Waktu pas aku mau jodohin Darren juga kata-katamu kayak gitu. Pokoknya Chalvin harus segera nikah biar gak main-main perempuan lagi." Suara penuh ultimatum keluar dari mulut Oma Belle.


Kakek Aswono kembali menggeleng-geleng kepala seraya berdecak. "Setua ini aku baru sadar, kalau kamu itu cocoknya kerja di biro jodoh."


Sejujurnya, salah satu alasan yang membuat Oma Belle menginginkan Chalvin segera menikah, karena khawatir Chalvin mungkin menaruh perasaan pada Karen. Insting wanita tua itu terlalu tajam, hanya dengan melihat tingkah Chalvin di ruang rapat tadi, ia sudah bisa merasakan sesuatu yang tak beres.


Waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Darren baru saja tiba di kediamannya. Saat membuka pintu, pandangan pria itu langsung tertuju pada Karen yang tengah sibuk mengambil foto produk yang memakai jasa endorse-nya.


Karen terhenyak ketika sebuah tangan kekar melingkar di pinggangnya. Ia menoleh, menatap wajah tampan Darren yang tengah bersandar di bahunya. Sebelah tangan pria itu terangkat, menunjukkan segelas cup kopi yang ia beli di kedai kopi tadi.


"Makacih ... Pak Dosa!"


Karen mengambil cepat kopi dingin itu, lalu segera menyeruput seperti orang kehausan. Ia berbalik sehingga posisinya berhadapan langsung dengan Darren.


"Eh, eh, kamu dah tahu belom kalau yang nyebarin gosip tentang foto kita itu dah klarifikasi?"


"Oh, ya?" Darren bersikap seolah tak tahu-menahu.


Karen menunjukkan video klarifikasi permintaan maaf dari seorang gadis yang mengaku menyebarkan foto dan berita tentang dosen mesum di kampus mereka. Dari video tersebut, terlihat gadis itu memakai masker sehingga wajahnya tak terekspos jelas.


"Sayang banget mukanya gak kelihatan. Coba aja kalau aku tahu siapa orang ini, bakalan aku datangi buat lemparin telur busuk!"


Darren malah mengeratkan pelukan sehingga membuat tubuh Karen semakin merapat ke sisinya. "Jangan buang-buang tenaga buat orang yang dah berbuat jahat sama kita! Mending kita buang tenaga di atas ranjang," godanya.


Mendengar kalimat bernada intim itu, justru membuat Karen teringat kalau ia belum datang bulan.


.


.


.


Ngantuk banget gays, baru nyampe dari luar kota. kalau ada kata berulang, tipo, or kalimat rancu, spill aja....

__ADS_1


__ADS_2