DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 46 : Apa yang Terjadi pada Karen?


__ADS_3

Dua jam sebelumnya, Karen menaiki grab menuju salah satu kelab malam terkenal di kawasan Jakarta Selatan. Butuh waktu sekitar empat puluh menit untuk mencapai tempat itu. Begitu tiba dan masuk ke kelab itu, dentuman musik langsung menjamah paksa telinganya, diikuti suasana remang berpadu lampu disko kelap-kelip yang menyakiti matanya. Aroma kuat dari asap rokok pun mulai memenuhi sirkulasi paru-parunya.


Karen mengedarkan pandangan. Tempat itu dipenuhi dengan manusia bermata predator, remaja-remaja gaul, dan juga para pemabuk dan pemuja napsu yang mencari kepuasan satu malam. Perempuan-perempuan cantik berpakaian kurang bahan sedang asyik meliuk-liukkan tubuhnya mereka di atas lantai dansa. Tak peduli meski beberapa lelaki buaya datang mendekat agar bisa bersenggolan dengan gunung kembar mereka. Semua hingar-bingar itu tak bisa dipisahkan dari kehidupan malam yang penuh gemerlap. Jujur, ini pertama kalinya ia mendatangi kelab malam hanya seorang diri.


Berdiri bodoh seperti orang kebingungan, ia mengambil ponsel dan mencoba menghubungi Nadya. Sayangnya, alih-alih fokus menelepon, tubuhnya malah berputar sana-sini bagai gasing ketika orang-orang mabuk yang datang dari arah depan-belakang tak sengaja menabrak tubuhnya.


"Aduh, Nadya mana, sih?"


Karen mengerutkan kening. Bagaimana ia bisa menemukan Nadya di tengah lautan manusia yang sedang menikmati surga dunia?


Karena kesal terus ditabrak orang yang tak dikenal, Karen memilih duduk di meja bartender. Ia kembali mencoba menghubungi Nadya. Sayangnya, entah kenapa sahabatnya itu tak menjawab panggilan teleponnya. Sejenak, perhatian Karen tertuju pada meja paling pojok sebelah kanan yang diduduki seorang perempuan mabuk bersama lima pria yang mengelilinginya. Dalam suasana yang remang, ia bisa melihat lima manusia terkutuk menggerayaangi perempuan mabuk tersebut. Melihatnya saja, sudah membuat ia bergidik seperti menonton film horor. Apalagi jika membayangkan itu terjadi pada dirinya.


"Hai, cewek, lagi sendiri, nih?"


Dua pria datang mendekat, lalu berbasa-basi mengajaknya berkenalan.


Karen tak menghiraukan mereka dan mencoba mengalihkan pandangan sambil mencari-cari sosok Nadya. Namun, salah satu dari pria itu berpindah posisi sehingga menghalangi pandangan Karen.


"Minum, yuk, gua traktir!" tawar pria itu sambil menuang salah satu jenis minuman alkohol dengan merk terkenal. Ia lalu menyodorkan segelas kecil pada Karen.


"Enggak, makasih. Aku gak minum alkohol," tolak Karen halus.


"Coba aja dulu. Udah ke sini masa gak minum," rayu pria itu sambil sedikit memaksa.


"Enggak, enggak," Lagi-lagi Karen menolak dan berusaha beranjak dari sana.


Namun, pria satunya lagi malah menahan lengannya. "Mau ke mana? Ngobrol bareng kita, yuk! Entar kita bayarin meja, deh!"


"Sorry, aku udah janjian sama teman." Karen semakin risi dengan tingkah makhluk tak diundang ini.


Ternyata, mereka masih ngotot mengajak Karen mengobrol dan minum bersama. Terjadi aksi tolak menolak antara mereka sehingga membuat minuman dalam gelas yang dipegang pria itu tumpah mengenai dada Karen.

__ADS_1


"Wah, sorry, gak sengaja," kata pria itu sambil sengaja memegang dada Karen yang basah.


Tindakan tak senonoh itu tentu saja mendapat respon kaget dari Karen. Sontak, lima jari lentik miliknya melayang langsung di pipi pria itu.


"Jangan kurang ajar, ya!" berang Karen.


Tak terima mendapat tamparan darinya, pria itu balas menamparnya.


"Sok jual mahal sih, lu! Bilang aja lu ke sini mau cari mangsa om-om kaya raya, kan?" Pria mendorong Karen hingga punggungnya terbentur sudut meja. Seolah tak puas, mereka mengangkat perempuan itu, lalu merebahkannya di atas meja kosong sambil mencekal kedua tangannya.


Karen berusaha berontak dan meminta tolong. Sayangnya, suaranya tenggelam dengan suara musik dan orang-orang pun masa bodoh dengan keadaan sekitar. Belum lagi, kekuatan yang ia miliki tak sebanding dengan kekuatan dua pria buas itu. Bahkan kaus yang dikenakannya telah terangkat sehingga menampakkan perut mulusnya yang rata. Ketika mereka hendak melakukan s3xual assault padanya, secara tiba-tiba seorang pria menarik bahu salah satu pria itu lalu memukulnya. Ternyata pria tersebut adalah Feril yang datang sebagai pahlawan kemalaman.


(N: s3xual assault adalah serangan seksual)


Terlepas dari dua pria itu, Karen memanfaatkan momen tersebut dengan langsung kabur menerobos kerumunan banyak orang. Sementara, Feril yang tengah berkelahi dengan kedua pria itu lantas terhenti seketika saat salah satu dari mereka berteriak.


"Tuh, cewek kabur!"


Feril menoleh. Benar saja, Karen sudah menghilang dari pandangannya. Sontak, ia langsung memukul kepala mereka dengan kesal.


"Lah, kok kita disalahin? Salah lu sendiri kenapa pake sok-sok berantem sama kita. Sempat ninju gua lagi. Mana tadi kena gampar dari tuh cewek. Sakit tahu!" ringis pria itu sambil memegang pipinya.


"Kan biar kelihatan keren kek di film-film! Sudah gua mau kejar dia dulu," ucap Feril sambil berlari menyusul Karen.


Usut punya usut, ternyata ini semua adalah skenario Feril yang gagal total. Alur cerita yang sebenarnya adalah dua pria itu ditugaskan mengganggu Karen agar dia bisa tampil sebagai pahlawan dan melanjutkan rencana berikutnya. Sayangnya, ibarat kata pepatah "Sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya capek juga", rencana awalnya pun tak berjalan mulus. Terbukti, target malah melarikan diri.


Karen berjalan dengan tubuh yang gemetar melewati koridor untuk menemukan pintu keluar kelab tersebut. Riuh suara musik yang memperbudak orang-orang di lantai dansa, ditambah insiden yang sempat dialaminya, membuat ia tak menyadari jika ponselnya terus berdering sedari tadi.


Ia berhasil menemukan pintu keluar dan terburu-buru pergi dari tempat itu dengan membawa rasa trauma. Saking takutnya, ia sampai berjalan beberapa meter menjauhi gedung hiburan malam itu. Saat hendak memesan grab, ia tersentak melihat panggilan telepon yang berasal dari Darren. Ketika hendak menelepon balik, tangan perempuan itu mendadak kaku seketika. Ia takut mengatakan dirinya baru saja pulang dari kelab malam, apalagi jika harus menceritakan pelecehan yang baru saja dialaminya.


Tiba-tiba layar ponselnya memunculkan nama Nadya sebagai pemanggil. Karen langsung menjawab telepon temannya.

__ADS_1


"Kar, kenapa nelepon-nelepon malam-malam gini? Maaf tadi hp-ku lagi dicas," ucap Nadya yang menelepon balik ketika mengetahui Karen sempat meneleponnya berkali-kali.


"Kamu lagi di mana? Aku tadi udah ke kelab yang kamu spill, tapi aku malah ...." Ucapan Karen terhenti begitu saja saat mengingat kekerasan dan pelecehan yang baru saja dialaminya.


"Hah? Siapa yang nyuruh kamu ke kelab. Orang aku lagi maskeran di rumah!"


Karen tersentak seketika. "Bukannya kamu DM aku?"


(N: DM kepanjangan dari direct message: pesan langsung)


"DM? Gak tuh!"


"Jangan-jangan ada yang ngebajak akun kamu! Soalnya tadi yang DM aku pake akun kamu terus suruh ketemu di kelab." Karen bicara dengan nada tergesa-gesa dan hampir menangis.


"Masa, sih?" Nadya kaget bercampur tak percaya.


Di dalam kelab, Feril kembali pada teman-temannya setelah gagal mengejar Karen.


"Anjeeerr! Tuh cewek ilang!" pekik Feril sambil mencopot headband dari kepalanya.


"Anda belum beruntung, Ngab!" ucap teman-temannya.


Farel datang mendekat sambil menunjukkan sesuatu di layar ponselnya. "Tenang aja, yang tadi itu gua dah sempat foto, kok. Ini bisa kita gunakan biar dia putus sama pacarnya itu!"


Feril tersenyum miring melihat foto Karen yang tengah diapit dua pria sambil disodorkan alkohol. Terdapat pula fotonya yang tengah terlentang di atas meja, bersama seorang pria yang berada di atasnya. Pose-pose itu tentu akan membuat orang-orang salah paham jika melihatnya.


Karen akhirnya tiba di apartemen. Saat berbalik selepas menutup pintu utama, ia terhenyak melihat Darren berdiri tak jauh darinya dengan tatapan tajam. Bau alkohol yang menempel di bajunya, serta rambut yang sedikit acak-acakan membuat Darren mengira perempuan yang dinikahinya itu habis bermabuk-mabukan.


"Bagus, ya! Habis syuting bukannya langsung pulang, malah asyik ngedugem!" ucap Darren bernada sarkastik dengan ekspresi amarah yang tercetak jelas di wajahnya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2