DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 42 : Hadiah Spesial


__ADS_3

Awas ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


.


.


.


Karen bergeming dengan pandangan yang tertancap pada manik legam milik Darren. Kedua tangannya yang mungil, mulai terangkat pelan menyentuh dada bidang suaminya. Jari-jemarinya yang berhias cat kuku bening itu, bergerak lambat ke atas lalu menggantung di leher kokoh pria itu. Tepat di detik yang sama, Bibirnya yang hangat telah menutupi bibir Darren, menekan dengan lembut dan berperasaan. Hanya sebentar, lalu dilepaskan. Ia sedikit menjauhkan wajahnya, agar bisa kembali saling bertatapan dengan suaminya.


Darren sedikit tersentak dengan ciuman dadakan yang baru saja dilakukan Karen. Lebihnya lagi, ia tidak menyadari sejak kapan perempuan itu telah berada di pangkuannya dengan posisi saling berhadapan.


"Happy birthday. Aku bukan anak sastra, jadi enggak bisa merangkai kalimat ucapan yang bagus," ucap Karen dengan kedua tangan yang melingkar di leher pria itu.


Darren tersenyum tipis, lalu berkata, "Makasih, ya?"


Terima kasih. Hanya mengatakan kata singkat itu, sudah membuat hati Karen meluruh. Ia baru menyadari, kata sederhana itu terlalu sering diucapkan pria itu sejak awal mereka menikah. Sepele, tapi memiliki makna bahwa pria itu menghargai sekecil apa pun usaha yang ia lakukan.


Tangan Darren mengulur ke depan, melepaskan satu per satu penjepit dan ikatan di kepala istrinya, sengaja membiarkan rambut indah sebahu itu tergerai bebas. Seutas senyum tulus terurai di bibir mereka masing-masing.


Masih saling bertatapan, Darren mulai mendaratkan kecupan ringan di kening, kelopak mata, hidung hingga bermuara di bibir istrinya yang bagaikan Cherry. Ketika hidung mereka tak sengaja bersinggungan, secara refleks bibir keduanya tertarik lebar.


Tak ada suara, tak ada kata. Hanya ada dua pasang mata yang saling menatap penuh cinta. Bukankah ketika mencintai seseorang, diam pun terasa indah? Sebab, tak ada bahasa yang bisa sanggup mendeskripsikan kebahagiaan dua insan yang tengah mabuk asmara.


Tangan Darren bergerak lambat ke punggung tangan Karen, menggenggamnya dengan penuh kehangatan. Pada saat itu juga, mata Karen terkulai dan menutup sempurna seiring bibir Darren mulai menyusup masuk ke sela bibirnya. Memagut lembut bibir bawah dan atasnya secara bergantian. Bahkan sesekali memberi gigitan kecil hanya untuk menggodanya. Setiap tekanan halus bibir pria itu, membuatnya seakan tersesat pada lembah kehangatan. Aroma napas pria itu terasa menghipnotisnya untuk enggan melepaskan ciuman itu.

__ADS_1


Ciuman itu menjadi semakin memabukkan. Dengan tangan yang masih saling menggenggam dan tubuh yang berhimpitan erat, keduanya enggan melepaskan tautan bibir mereka. Di tengah ciuman mereka yang penuh gairah, Darren merebahkan Karen sambil memandang matanya yang sayu. Bibir pria itu membentuk lengkungan senyum, seiring kedua tangannya mulai meloloskan apa yang dikenakan istrinya. Menjadikan tubuh elok perempuan itu terpampang nyata. Jelas. Tak tertutupi sedikit pun.


Darren menenggelamkan wajahnya di ceruk leher mulus Karen. Suara bernada sensual yang tertahan, mulai keluar dari mulut perempuan itu. Ia semakin tergelincir, ketika suaminya mulai melakukan sentuhan intim ke bagian sensitif tubuhnya. Setiap sentuhan pria itu begitu pelan, tak tergesa-gesa seolah malam ini sangat panjang bagi mereka berdua.


Bibir Darren kembali menemukan bibir Karen, membungkam napasnya yang terengah-engah. Jemari pria itu mulai bergerak pelan ke bawah. Terus ke bawah. Paling bawah. Hingga mencapai bagian tubuh Karen yang paling lembut dan lembab. Sentuhan dan pijatan lembut jari-jarinya di tempat itu, mampu membuat tubuh perempuan itu bergerak tak beraturan. Kepalanya mendongak ke atas, kadang-kadang menggeleng ke kanan-kiri.


"Sekarang giliranku," bisik Karen dengan napas yang memburu.


Ini adalah hari ulang tahun suaminya. Rasanya terlalu biasa jika hanya menyerahkan tubuhnya. Ia ingin memberi service terbaiknya yang tak terlupakan malam ini.


Karen memberanikan diri menatap penuh wajah suaminya yang memiliki tampilan figur sebagai pria dewasa dan berwibawa. Ia mengulurkan tangannya ke depan, meraba setiap detail lekuk wajah suaminya yang begitu sempurna di matanya. Jari-jarinya yang lentik itu turun ke bawah, bergerak bagai kuas kanvas dan mulai menjelajahi pahatan tubuh polos Darren. Dengan bibirnya yang seksi, ia mencecap otot-otot pria tampan itu. Menandai setiap pori kulitnya, membuat tanda pengesahan hak milik seutuhnya. Hingga menyentuh titik pusat keintiman lelaki itu.


Atmosfer ruangan itu berubah menjadi memanas seketika, hingga membuat suhu keduanya meningkat pesat. Ada gejolak yang berkibar di dalam sana yang membuat mereka tenggelam dalam pusaran yang makin menuntut lebih untuk segera dibebaskan.


Dengan sedikit tak sabar, tangan Darren meraih alat kontraasepsi yang terletak di nakas samping tempat tidur. Namun, ia mengernyit ketika Karen menahan tangannya. Perempuan itu menggeleng pelan, saat Darren menatapnya penuh tanda tanya.


Di bawah cahaya lampu tidur yang temaram, keduanya kembali membuat penyatuan. Menciptakan setiap detik dan menit yang bergelora. Membuat malam seakan menjadi milik mereka. Menjadikan momen ini dalam sebuah ingatan yang manis. Menyenangkan. Menggairahkan. Bermandi peluh.


Di ruang kamar yang tak terlalu besar ini, ada suara raungan perempuan yang sulit dikendalikan beradu dengan napas berat pria. Darren merobohkan tubuhnya tepat di samping Karen. Mata mereka kembali bersirobok dengan memancarkan rona kebahagiaan usai saling meraih kepuasan bersama.


Selepas percintaan melelahkan yang mereka lakukan berulang-ulang, keduanya berbaring terlentang sambil melakukan pillow talkยน.


"Ren, kamu pingin punya anak, enggak?" tanya Karen secara tiba-tiba.


Darren menoleh sambil melempar tatapan heran. "Kok tiba-tiba nanyain itu?"

__ADS_1


"Ya, pingin tahu aja. Selama ini kan aku yang enggak mau punya anak dan kamu cuma turuti keinginan aku. Tapi, aku jadi penasaran apa kamu pingin punya anak dalam pernikahan atau enggak."


Darren tersenyum lalu menyelipkan lengannya di sela leher Karen. "Anak itu pemberian Tuhan, kalau dikasih ... aku enggak bakal nolak karena kesempatan menjadi orangtua itu enggak bisa dimiliki semua orang."


"Ih, padahal punya anak itu ngerepotin, tahu! Kata orang-orang kalau punya anak perempuan, takut dia dihamilin atau dirusak. Kalau punya anak laki-laki, takut dia nakal, ikut tawuran, atau ngehamilin anak orang. Aduh ... aku gak bisa bayangin! Ribet, deh!" Karen masih teguh pendirian untuk tak memiliki anak dalam pernikahan.


"Gimana kalau pola pikir kita dulu yang diperbaiki. Tanamkan mindset dulu, kalau anak laki-laki itu bukan perusak, dan anak perempuan bukan barang yang gampang dirusak. Kita juga harus mempunyai pemahaman setiap anak itu masih dibentuk menjadi manusia yang baik. Kalau udah paham konsep itu, tinggal mengubah diri kita agar bisa menjadi calon orangtua yang baik karena orangtua adalah role model bagi anak. Itu pun kalau kamu ada keinginan punya anak," ucap Darren sambil menarik selimut bersiap untuk melepas lelahnya hari ini.


Karen yang tengah berada dalam kungkungan pria itu, hanya bisa tertegun sambil menatap Darren yang telah terpejam lebih dulu.


.


.


.


catatan kaki ๐Ÿฆถ๐Ÿฆถ๐Ÿฆถ



pillow talk: percakapan yang dilakukan di atas ranjang sebelum menjelang tidur, biasanya dilakukan untuk membangun komunikasi, kedekatan emosional dan bisa saling terbuka sehingga kita makin mengenal pasangan kita. Biasanya ini dilakukan setelah bercinta, gays.



Kalian sering melakukan pillow talk dengan pasangan, enggak? Kalau jarang, mulai sekarang lakukanlah sesering mungkin! selain pillow talk dengan pasangan, ada juga pillow talk dengan anak.

__ADS_1


Sorry, seharusnya ini tayang di jam hantu, tapi gw ketiduran semalam. Perlu direvisi gak sih, ini? ๐Ÿคฃ


jangan lupa like + komen + kasih gift poin juga boleh banget.


__ADS_2