DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 95 : Secangkir Teh


__ADS_3

Karen langsung mengusap jejak-jejak linangan air mata. Sementara, Chalvin berbalik cepat, mencoba menutupi Karen yang tengah menangis agar terhindar dari kecurigaan.


"Oma nyuruh aku ke sini, eh ... dia malah pulang!"


"Ia, nih, aku baru aja antar pulang Oma!" kata Darren.


Sempat melirik kaku ke arah Karen, Chalvin lalu berkata, "Iya, gila! Oma masa mau ngenalin aku sama cewek model ondel-ondel."


Chalvin berjalan maju menghampiri Darren, lalu mengajak pria itu keluar rumah. Kesempatan ini digunakan Karen untuk kembali ke kamar dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


Dua puluh menit setelahnya, Darren masuk ke kamar sambil membawa teh hangat untuknya. Kalau dipikir-pikir, pria itu selalu membuatkan secangkir teh untuknya ketika ia mengeluh sakit. Karena secangkir teh yang dibuat oleh tangan tulus itulah, benih-benih cinta mulai bersemai di hatinya kala itu.


Baru saja hendak membangunkan Karen, tiba-tiba ponsel pria itu berdering. Melihat nama pemanggil telepon itu adalah mertuanya, ia pun buru-buru menjawabnya.


"Halo, Mi ...."


Mengetahui yang menelepon adalah maminya, Karen lantas menahan napas sambil mencoba menajamkan pendengaran.


"Darren, Karen ada sama kamu, enggak? Soalnya tadi dia nelepon tiba-tiba terputus, terus pas mami nelepon balik malah gak dijawab-jawab.


"Iya, Mi. Karen lagi bareng aku di rumah. Mungkin dia tadi lagi istirahat soalnya hari ini dia kurang enak badan," ucap Darren sambil memasukkan termometer di mulut Karen.


"Apa? Karen, my sweetie pie, sakit?" Suara mami Vallen yang nyaring, seakan menusuk gendang telinga Darren.


"Iya, Mi. Ini tadi badannya demam, tapi sekarang dah turun," balas Darren membaca suhu tubuh Karen saat ini.


"Kalau gitu Mami ke sana sekarang, ya? Kamu pasti sibuk banget."


Karen memegang pergelangan tangan Darren seraya menggeleng cepat, memintanya agar tak mengiyakan.


Sambil melirik Karen, Darren pun berkata, "Gak usah, Mi! Karen istri aku, jadi sudah kewajiban aku buat jagain dia."


"Ya, sudah kalo gitu. Mami serahkan sama kamu. Tapi, kalo ada apa-apa, tolong kasih tahu, ya!" Mami Valen mengakhiri telepon.


Karen lalu meneguk teh hangat buatan Darren. Ia selalu menyukai teh buatan suaminya. Aroma yang segar dan khas membuat suasana hatinya lebih tenang. Rasanya pun pas tak terlalu manis seperti janji. Secangkir teh ini seakan membuatnya menyadari bahwa diri sendirilah yang menakar kadar kebahagiaan dan kesedihan dalam hidup. Seperti takaran gula pada teh yang tergantung keinginan sang penikmatnya.

__ADS_1


"Kamu sering banget bikinin aku teh, tapi aku enggak pernah bahkan baru sekali bikinin kamu kopi. Aku suka lihat pasangan suami istri yang ngabisin sore mereka buat minum teh bareng di pekarangan rumah," ucap Karen tersenyum sambil memegang cangkir dengan kedua tangannya.


Darren tersenyum simpul, lalu menarik cangkir teh yang dipegang Karen ke mulutnya kemudian ikut menyesap teh tersebut. "Secangkir berdua lebih baik daripada memegang gelas masing-masing, tapi tak habis."


Senyum lebar Karen mengembang. Pembicaraan sederhana itu, seakan memberi pasokan kekuatan dalam dirinya sehingga rasa ingin segera pulih pun berkobar dalam dirinya. Seorang Lady First asal Amerika pernah berkata, "A woman is like a tea bag, you never know how strong it is until it's in hot water" yang artinya: seorang wanita itu seperti teh celup. Anda tidak pernah tahu seberapa kuat teh tersebut hingga ada di dalam air panas. Mungkin, saat ini Karen mencoba menjadi teh celup. Entahlah ....


...----------------...


Hari baru menyambut Karen yang telah pulih. Ia berdiri di depan gedung fakultas ekonomi, memalingkan wajahnya ke arah matahari yang bersinar lembut keperakan. Membiarkan matahari mengulurkan sinarnya untuk menyentuh kulit wajahnya yang merona. Ya, hari ini ia siap berjuang menaklukkan soal UAS, meski kemarin sempat absen dan harus mengikuti ujian susulan.


Setelah selesai, ia bersama kedua sahabatnya berencana nongkrong di kafe. Namun, tiba-tiba sebuah mobil yang dikenalinya, berhenti tepat di hadapan mereka. Saat pintu mobil terbuka, sesosok wanita anggun nan berkelas menyapanya dengan heboh.


"Mami! Ngapain ke sini?" Karen terkejut karena ibunya tiba-tiba berada di area kampus.


"Karen, mami tadi dari rumah kamu. Tapi gak ada orang. Mami telepon Darren, dia bilang kamu dah masuk kampus. Jadi, ya, udah mami ke sini aja sekalian mau ngajakin kamu makan siang. Dah lama kan kita gak makan siang bareng."


Karen menoleh ke arah Nadya dan Vera. Tentu saja ia merasa tak enak karena telah janjian ke kafe bersama-sama.


"Ya, udah, Kar, pulang sama sama mami kamu aja. Nongkrongnya bisa kapan-kapan," bisik Nadya.


"Enggak usah, deh, Tante. Kita mau langsung pulang aja," tolak Nadya sambil menyengir.


"Iya, Tan. Kita mesti belajar untuk ujian besok," imbuh Vera.


Karen dan mami Valen meluncur ke restoran favorit mereka. Sepanjang jalan, pikiran Karen berkecamuk bagai benang kusut. Ia masih mempertimbangkan apakah akan menceritakan pada mami Valen tentang diagnosa dokter. Sebab, biar bagaimanapun ia tak ingin membuat orangtuanya panik dan khawatir.


"Abis makan kita ke salon, ya! Mami mau treatment, nih. Kamu juga harus perawatan biar makin glowing. Apalagi mata kamu itu dah cekung banget. Udah nikah dan punya suami bukan berarti berhenti merawat diri. Banyak perempuan yang enggak bisa menghargai dirinya sendiri, menganggap gak perlu perawatan ... toh udah laku! Padahal merawat diri itu bentuk dari rasa bersyukur dan penghargaan atas diri sendiri. Ada perempuan yang baru sadar buat perbaiki dirinya setelah bercerai atau ditinggalkan suaminya, berharap suaminya akan nyesel karena udah campakkin dia. Tapi, menurut mami, it's too late. Telat! Laki-laki kalo udah bercerai apalagi punya pasangan baru, dia gak peduli lagi mau seberapa cantiknya kita!" celoteh mami Valen panjang lebar.


"Mami ... kita pulang ke rumah aja, yuk! Karen mau makan siang di rumah. Udah kangen dengan masakan bibi kita." pinta Karen pelan.


Mami Vallen yang menyetir lantas terkesiap. "Beneran kamu mau makan siang di rumah?"


Karen mengangguk. Mami Valen harus memutar arah mobil. Sesampainya di rumah, mami Valen langsung meminta ART mereka untuk menyiapkan makan siang. Ia lalu mengajak Karen masuk ke kamar untuk memilih tas-tas yang baru dibelinya.


Karen duduk di tepi ranjang. Ia masih bimbang dan kalut sampai tak fokus mendengar celotehan mami Valen selama berada di Paris. Beberapa kali ia terlihat menarik napas sekaligus mengembusnya, demi menetralkan perasaan yang tak keruan.

__ADS_1


"Mami ... ada yang mau Karen omongin," ucap Karen pelan.


Ekspresi Karen yang terlihat suram, membuat mami Valen langsung duduk di samping anaknya. "Kamu kenapa? Dari tadi murung teru! Ada masalah sama Darren? Apa dia selingkuh?"


Karen menggeleng.


"Atau ada masalah sama Omanya? Dia pasti masih maksa-maksa kamu minum ramuan!"


Karen kembali menggeleng. "Ini bukan soal darren atau oma Belle. Ini tentang Karen sendiri. Ini masalah aku, Mi."


"Apa?! Jangan-jangan kamu ... selingkuh, ya? Kamu kepincut sama cowok seumuran kamu, kan?" Mami Valen malah menduga yang tidak-tidak.


"Enggak mungkin Mami!" Menelan ludah dan mengatur napas sesaat, Karen pun mulai menceritakan apa yang dipendamnya selama hampir dua Minggu. Bibirnya gemetar ketika memaksakan diri bersuara. Air matanya luruh tanpa bisa ditahan. Ia bisa menyembunyikan masalah ini pada Darren, tapi tidak untuk ibunya.


Mata mami Valen berkaca-kaca seketika. Untuk beberapa saat, bibirnya terkunci dan lidahnya seakan kelu. Jantungnya seolah mendadak berdenyut tanpa bisa dijelaskan.


"Karen Sayang, kita ke rumah sakit sekarang, ya! Kita lakukan tes lengkap. Dokter bisa saja salah! Anak mami jarang sakit selama ini, pasti ada yang salah," ucap mami Valen yang langsung berdiri sambil menarik lengan Karen. Ada kepanikan di setiap kata yang meloncat dari mulutnya. "Kamu udah cerita ini sama Darren?" tanya mami Valen sesaat.


Karen menggeleng lemah.


Mami Valen kembali duduk di sisi kanan Karen. "Gimana bisa kamu sembunyiin ini sama suami kamu?"


"Aku takut ...."


Mami Valen mengernyitkan dahi. "Kamu harus cerita ini sama Darren. Biar bagaimanapun dia suami kamu. Sudah selayaknya dia mengetahui luar dalam tentang kamu dan mau menerima di segala kondisi, begitupun sebaliknya. Kalo kamu gak mau cerita, mami yang bakal datangi dia ngasih tahu langsung!"


.


.


Jejak kaki🦶🦶



Sosial butterfly adalah sebutan bagi orang-orang yang pandai berinteraksi, mudah akrab dan menunjukkan sikap ramahnya pada siapapun.

__ADS_1



__ADS_2