
Mendapati perempuan asing berada di rumahnya bahkan tidur di kamarnya, tentu membuatnya mendidih hingga pembuluh darah tampak tegang di lehernya. Ditambah lagi, adanya video yang baru saja Vera kirimkan, seolah memberikan asumsi yang tidak-tidak, hingga membuatnya mengeluarkan tanduk dan taring secara bersamaan.
Tak butuh berpikir dua kali, ia langsung menyerang gadis itu, menjambak rambutnya dan menyeretnya secara paksa. "Dasar Pecunn! Berani-beraninya kamu nginap di rumahku dan tidur di kamarku pas aku gak ada! Dibayar berapa kamu sama suami aku!"
Gadis itu lantas menjerit-jerit kesakitan dengan kepala yang berayun ke sana-kemari. Ia tampak kesusahan menarik tarikan tangan Karen di rambutnya.
"Lepasin rambut gua, anjriiit!" Gadis itu memekik sambil mencengkram pundak Karen. Namun, ia tak bisa melawan kekuatan orang yang sedang dikuasai amarah. Tak hanya menjambak, Karen bahkan mencakar wajahnya.
Karen mendorongnya dengan kuat hingga membuat gadis itu tersungkur ke lantai. Gadis itu mengusap pipinya yang terdapat garis panjang bekas kuku Karen.
Tak senang mendapat perlakuan kasar dari Karen, gadis itu malah semakin menantangnya. "Kalo gua selingkuhan suami lo emang kenapa? Lo gak pantas jadi istrinya cocoknya jadi preman. Lihat aja gua bakal bikin kalian bercerai!"
Kalimat penuh provokasi itu semakin membuat Karen menggelegak. Tangannya dengan cepat menampar dan kembali mendorong gadis itu, bersiap untuk menghajarnya lebih.
Daren muncul tiba-tiba dan langsung melerai keduanya. Ia mencoba menarik Karen dan mencegat tangannya yang masih berusaha menarik rambut gadis di hadapan mereka.
"Sini lu! Gue bunuh lu!" teriak Karen berusaha melepaskan diri dari tahanan Darren.
"Karen, stop! Apa yang udah kamu lakuin ke dia!" Suara tegas Darren disertai ekspresi marah menghentikan Karen.
Masih dikuasai amarahnya, Karen lantas berkata dengan napas yang tersengal-sengal. "Kamu buru-buru ke sini, nyusul aku cuma karena takut aku apa-apain simpanan kamu ini?"
"Jangan ngomong sembarang kayak gitu! Kenapa kamu nyakitin dia?" Darren membantu gadis itu berdiri selepas tersudut karena diserang Karen habis-habisan.
Mata Karen menyipit dengan dahi yang berkerut, mulutnya pun membentuk huruf O.
"Aku nyakitin dia? Kamu yang nyakitin aku! Kalian nyakitin aku!" teriaknya tak terkendali, "jadi dia alasan kamu tiba-tiba pergi, gak aktifin hp dan pulang larut?" tuduhnya dengan emosi tak terkendali. Ia bahkan masih hendak memukulnya, tapi segera dihadang Darren.
"Karen, kamu jangan kesetanan gini! Kendalikan diri kamu!" Darren memegang pundak Karen mencoba menahannya agar berhenti bertindak anarkis.
Gadis itu berdiri di belakang Darren seakan meminta perlindungan. "Kasih tahu sama dia kalo kamu yang semalam maksa aku buat nginap di sini. Dia datang-datang langsung teriaki aku pecunn dan aniaya aku," keluh gadis itu setengah merengek sambil menunjukkan luka-luka cakaran di tubuhnya.
__ADS_1
Darren menatap dingin istrinya dengan kepala yang menggeleng-geleng pelan. Apalagi tindakan Karen mencerminkan perilaku impulsif.
"Karen, aku gak percaya kamu bisa sadis kayak gini tanpa konfirmasi penjelasan dari aku dulu. Cepat minta maaf sama dia!" ucapnya pelan nyaris berbisik.
Pupil mata Karen melebar seketika. Ia tak habis pikir suaminya malah seakan menyalahkannya dan membela gadis yang sama sekali tak dikenalinya. Lidahnya mendadak kelu dan ia hampir tak bisa bersuara. Ia langsung berbalik dan memilih beranjak tanpa mengeluarkan sepatah kata apa pun.
"Tenangkan diri kamu dulu!" Darren mencoba menyentuh tangan Karen, tapi langsung ditepis kasar. "Karen, kamu mau ke mana? Dengerin aku dulu!" Darren mencoba menahannya dan meminta agar dia tak salah paham.
"Aku kecewa sama kamu!" teriak Karen dengan bibir yang gemetar karena menahan tangis.
"Karen!" Darren memegang pergelangan tangan Karen. Saat hendak mengejar istrinya, tangannya malah ditahan oleh gadis muda biang keributan mereka.
"Kak Darren masih mau ngejar dia di saat dia udah giniin aku?"
Darren menatapnya sesaat. "Apa kamu gak bilang kalo kamu adik aku?"
Gadis itu mengangkat bahunya. "Emang penting? Toh kita cuma saudara tiri, kan? Paling juga dia enggak bakal anggap aku kek keluarga Kak Darren yang lain."
Gadis itu menyengir. "Soalnya AC di kamar sebelah kurang dingin."
"Kamu tahu enggak kalo kayak gitu kamu gak sopan!"
"Salah sendiri bawa aku ke sini!" ketus gadis itu sambil bersedekap.
"Terus, aku mau biarin kamu tidur di rumah pacar kamu, gitu? Kamu gak mau pulang ke rumah semalam dan teriak minta-minta diturunin dari mobil. Terus, aku ajak ke rumah kakek, kamu juga gak mau. Pas aku tawarin rumah ini, baru kamu sepakat nginap di sini, kan?"
"Iya, sekarang aku nyesel bermalam di sini. Pagi-pagi dah kena amukan singa. Aku gak terima loh diperlakukan istri kamu kayak tadi. Suruh dia minta maaf sama aku!" ringisnya kesal seraya mengangkat sebelah kaki ke atas meja sofa.
Darren malah menarik tangan gadis yang ternyata adalah adik tirinya. "Mending aku antarin kamu pulang ke rumah sekarang!"
"Gak mau!" Gadis itu menepis tangan Darren dengan kasar.
__ADS_1
"Kalo gitu aku telepon supir di rumah kamu buat suruh jemput ke sini!" Darren bersiap mengambil ponsel, tapi malah ditahan gadis itu.
"Aku gak mau pulang, please .... Kalo Kak Darren mau pulangin aku, mending aku keluar dari sini dan tinggal sama teman!"
Darren menghela napas. "Mama kamu nelepon aku semalam, dia nangis dan khawatir karena kamu kabur dari rumah gak pulang-pulang udah dua hari."
"Itu karena ayah kamu kerjanya ngomelin aku tiap malam! Dia tuh keras banget sama aku!"
"Gimana ayah gak keras sama kamu, kalo tiap malam kamu kerjanya keluyuran sampai larut terus pulang dalam keadaan mabuk. Kata mama kamu, kamu juga pacaran sama pria dewasa. Ingat, kamu tuh masih sekolah, perjalanan kamu masih panjang!"
Gadis bernama Sheila itu menutup rapat kupingnya. "Ih, sebel. Gak di rumah, gak di sini semua ceramahin gue!"
Di kediaman Bratajaya, kakek dan Oma bersiap untuk sarapan. Namun, pandangan mereka tertuju di dua bangku kosong yang seharusnya ditempati Darren dan Karen.
"Bi, tolong panggilin Darren sama Karen!" perintah Oma Belle sambil menatap ke lantai atas.
Di saat bersamaan, Darren baru saja datang dengan langkah tergesa-gesa. "Oma, Karen mana?"
"Loh, kok tanya sama Oma? Emangnya Karen semalaman tidur sama Oma!"
Darren terkesiap dan langsung berlari menuju kamar mereka. Ternyata Karen tak pulang ke rumah kakek. Ponselnya pun dimatikan setelah insiden di rumah mereka tadi.
Darren lantas mencoba menghubungi mami Valen. "Pagi, Mi ... mau nanya, Mi, Karen ada di sana, enggak?"
"Gak ada. Emangnya kenapa? Apa Karen mau ke sini?" Mami Valen malah balik bertanya.
Jawaban mami Valen semakin membuat Darren cemas. "Ah, lagi di jalan kali, ya?" pikir Darren dengan nada kebingungan.
Tidak berada di rumah mami Valen, lantas, ke mana Karen saat ini?
.
__ADS_1
.