DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 167 : Nasihat Nena


__ADS_3

Melihat ekspresi kaget beberapa mahasiswa ditambah wajah kelabakan Karen, membuat Marsha buru-buru menutup mulutnya seolah tengah keceplosan. Namun, ini justru seakan memperjelas kalau lontaran kalimat barusan benar adanya. Mereka sontak mengarahkan pandangan ke perut Karen.


Ya, sangat kebetulan sekali penampilan perempuan itu berbeda dari biasanya. Dia yang sering terlihat fashionable dan cukup seksi kini berpenampilan apa adanya. Namun, alasannya untuk tampil sederhana bukan karena sedang hamil, melainkan karena dia tengah tinggal bersama Oma Belle yang notabene sangat kritis terkait cara berpakaian seorang wanita.


Vera yang berada di samping Karen, lantas pasang badan untuk sahabatnya.


"Bu Marsha ngomong apa, sih?"


"Sorry Karen, kayaknya saya salah dengar, deh!" Dengan santainya, Marsha pun berlalu setelah sukses membuat Karen menjadi pusat perhatian orang-orang.


Vera menarik Karen keluar dari pasang mata yang terus memandangnya. Mereka pergi ke belakang gedung fakultas ekonomi untuk menepi dari keramaian.


"Lo beneran hamil, Ren?"


Karen mengangguk dengan mimik tegang yang masih bertahan di wajahnya.


"Ih, congratulation, Honey!" Vera memeluk Karen hingga membuat tubuhnya sempoyongan. "Akhirnya gua bakal dapat keponakan. Ih, pasti ini bibit super, deh! Kebayang gimana cakep dan pintarnya baby lu nanti."


"Ssttt ... jangan kenceng-kenceng. Entar kedengeran orang!" Karen malah panik.


"Kalian masih mau ngerahasiain pernikahan? Mau sampai kapan? Perut lo itu semakin hari bakalan membesar, loh! Apa lo gak takut dipandang negatif ma orang-orang? Entar dikira MBA, loh!"


"Iya, sih. Cuma aku belum siap aja buat ungkapin pernikahanku sama Darren."


"Apa yang bikin lo gak siap? Suami lo itu dosen terpopuler dan diidolain cewek-cewek," ucap Vera sedikit gemas.


Karen tertunduk sambil menunjukkan wajah bimbang. Yang dikatakan Vera ada benarnya, lambat laun orang-orang akan mengetahui tentang kehamilannya. Sementara status pernikahannya dengan Darren hingga kini masih disembunyikan.


"Oh, iya, Bu Marsha kok bisa tahu lebih dulu kalau lo hamil?" pikir Vera seketika.


Karen pun berpikir serupa, kenapa Marsha bisa mengetahui kehamilannya.


"Oh, iya, lupa. Pak Darren sama Bu Marsha kan dekat banget, ya? Kalo gak salah mereka temenan, kan? Bisa jadi pak Darren ngasih tahu ke Bu marsha," sambung Vera. Maklum saja, ia tidak tahu kalau dosen favorit yang telah menjadi suami sahabatnya itu ternyata pernah berpacaran dengan Marsha.


Apa yang dikatakan Vera sedikit mengusik Karen. Jujur, ia tak suka dengan kedekatan antara suaminya dan Marsha, sampai harus menceritakan kehamilannya pada sang mantan kekasih.


Sementara bagi Marsha sendiri, ucapannya tadi benar-benar spontan keluar dari mulutnya. Meskipun begitu, ia cukup menikmati tatapan sinis yang mengarah pada Karen. Hal ini dilatarbelakangi dengan perasaan iri yang ia miliki karena sang mantan terus terlihat berbahagia bersama pasangannya, sehingga muncul pola pikir egois dan perilaku menjatuhkan serta meremehkan orang. Sebab, ia hanya ingin memastikan tak ada yang boleh lebih baik darinya.


***


Berita tentang kehamilan Karen, disambut tak kalah heboh oleh nenek dan kedua orangtuanya. Karen dan Darren yang datang berkunjung ke kediaman keluarga Karen, lantas mendapat jamuan makan malam. Mami Valen yang benar-benar terkejut atas berita ini, tampak sibuk menelepon para sahabatnya untuk mencari rekomendasi dokter kandungan terbaik.

__ADS_1


Berbeda dengan keluarga Darren yang masih konservatif, keluarga Karen justru memiliki pemikiran yang lebih maju dan modern. Nenek Puspa yang memimpin makan malam tersebut, lantas memberi nasihat pada sepasang suami istri itu.


"Darren, Nena tahu kamu pasti dah tahu kewajiban orangtua dalam mengurus anak. Nena cuma mau berpesan satu hal, mengurus anak itu bukan hanya tugas utama seorang ibu, tapi juga seorang ayah. Istilah kasarnya anak itu dibuat kalian berdua, begitu lahir ... ya sudah seharusnya diurusi bersama. Bukan hanya diurusi satu orang saja. Kesalahan yang ada di sekitar kita adalah masih banyak yang berpikir kalau anak adalah tugas dan tanggung jawab penuh seorang ibu, sehingga banyak pria yang ogah-ogahan megang dan urus anaknya."


"Iya, Nena."


"Benar sekali. Indonesia menjadi fatherless country ketiga di dunia. Ini karena banyak pria yang tidak berperan sebagai ayah yang benar. Banyak anak-anak dan remaja yang kehilangan sosok ayah mereka meski ayahnya masih hidup. Entah karena si ayah ini terlalu sibuk kerja, entah karena si ayah tidak tahu berkomunikasi dan sibuk dengan dunianya sendiri meski sedang berada di rumah atau karena efek perceraian dan si ayah melepas tanggung jawab begitu saja. Makanya mami itu paling benci sama tipe pria yang cuma tahu buang benih tapi gak bisa menjalankan peran sebagai seorang ayah. Kamu jangan seperti itu, ya," sambung mami Valen dengan gayanya yang selalu terang-terangan.


(Fatherless country : negara tanpa ayah)


"Iya, Mi. Aku juga pernah ada di posisi sebagai anak yang kehilangan figur seorang ayah karena ayahku termasuk tipe pria workaholic. Maka dari itu, aku bakal berusaha sebisa mungkin untuk tidak menjadi ayah yang seperti itu sehingga anakku juga tidak akan mengalami hal yang sama seperti aku waktu itu," jawab Darren sambil menggenggam tangan Karen.


Nena lalu beralih ke Karen. "Dan untuk Karen ... menjadi ibu itu tidak mudah. Apalagi menjadi ibu di usia muda. Hamil dan melahirkan itu hanya sebuah awalan saja. Setelah anak itu lahir, perjuangan panjang seorang ibu pun dimulai. Jam tidurmu akan menjadi sedikit, pekerjaan rumah tangga seolah tak ada habisnya, dan bahkan kamu bakal melupakan perawatan tubuh demi mengasuh. Nena harap kamu bisa mempersiapkan mental mulai dari sekarang."


"Iya, Nena."


Bagi Karen, kehamilannya merupakan berkat besar dari Tuhan. Sejak mengandung buah cinta dari suaminya, semua orang tampak begitu peduli dan perhatian padanya. Ia benar-benar diratukan oleh suaminya dan juga orang-orang sekitar.


***


Satu hari terlewati. Feril dan kawan-kawan kembali berkumpul di universitas dan nongkrong di tempat biasa. Tak seperti kawan-kawannya yang tengah membicarakan hal tak berfaedah, Feril justru sibuk mengepul asap rokok.


"Ogah!"


"Lah, kenapa?"


"Udah males duluan! Paling disuruh datang besok lagi."


"Ya, elah, gua pikir lu serius mau berubah! Gitu aja lu nyerah!" ketus teman-temannya.


"Ya, udah, kalian aja yang datangi dia. Gua mah ogah!"


"Justru kita pengen lihat elu dulu."


"Kampret, jadi gua kelinci percobaan gitu?"


"Bukan gitu, Bray. Lo itu ketua kita, role mode kita juga. Apa yang lo pilih, pasti kita ikut. Lo milih buat berubah, kita pun akan ikut berubah. Tapi kalo lo nyerah duluan, kita pun kehilangan semangat buat berubah," tutur Jamet sambil menyandarkan bahunya di pundak Feril.


"Lo pikir cuma lo doank yang sering diomelin Bo-Nyok, kita juga sama. Kita juga sering disepelekan keluarga, dianggap beban juga," imbuh temannya yang lain.


Setelah mendengar penuturan kawan-kawannya, Feril pun menuju ke ruang dosen. Pria itu malah mondar-mandir tak jelas di depan pintu. Setelah hati dan pikirannya berkecamuk dalam kebimbangan, ia pun memantapkan diri untuk kembali menemui Darren.

__ADS_1


"Pagi, Prof."


"Ngapain kamu ke sini?"


Feril terkejut mendengar pertanyaan Darren yang seolah lupa dengan permohonannya di hari-hari sebelumnya.


"Yah, Prof, masa lupa! Kemarin kan Bapak yang nyuruh saya datang lagi buat konfirmasi kalau Bapak setuju jadi dosen PA saya."


"Jadi kamu tetap mau saya jadi dosen PA kamu?"


"Iyalah, Prof. Buat apa saya datang ke sini sampai tiga kali."


"Kamu tahu, enggak, kenapa saya suruh kamu datang ke sini sampai tiga kali?"


"Enggak tahu, Prof."


"Manusia cenderung berubah-ubah pikiran dalam mengambil sebuah keputusan. Seseorang bisa saja membuat sebuah rencana A karena kondisi tertentu, tapi bisa berubah dalam tempo yang singkat. Saya beri kamu waktu tiga hari, untuk melihat apa keputusan dan tekad kamu bisa konsisten pada keputusan yang kamu ambil. Apakah kamu masih gigih untuk temui saya atau menyerah gitu aja."


"Dan Bapak bisa lihat sendiri, kan, saya datang kembali untuk yang ketiga kalinya."


"Oke, gimana? Kamu dah punya target dan planning, belum?"


"Sudah, Prof! Pokoknya saya mau Profesor bantu dan bimbing saya dalam menyelesaikan mata kuliah hingga selesai. Paling enggak, cewek yang selama ini saya suka bisa tertarik dan suka sama saya kalo saya berubah, Pak!"


Jawaban Feril membuat Darren terkesiap. Sebab, ia tahu perempuan yang dimaksud mahasiswanya itu adalah istrinya sendiri.


.


.


.


catatan author ✍️✍️


Tentang Indonesia adalah negara fatherless ketiga itu benar ya. Dan isu ini sempat terangkat di beberapa komunitas diskusi besar Indonesia. Fatherless bukan tentang ayah yg meninggal dunia ya. Tapi tentang ketika seorang ayah ada, tapi gak berfungsi sebagai seorang ayah yang seharusnya. Aku sendiri dulu salah satu anak dari korban fatherless ini, jadi aku sama sekali gak menampik kalo dikatakan peran ayah di Indonesia termasuk buruk.


So, sudah saatnya kita mengubah pandangan kalau peran ayah itu tak sekadar pencari nafkah semata, tapi juga terlibat dalam pengasuhan. Untuk yang belum nikah, sebaiknya lebih selektif memilih pasangannya. Biar bisa mewujudkan/membentuk keluarga kecil yang berkualitas.


Oh, iya, sikap Marsha ke Karen selama ini, kalo dalam dunia psikologi masuk dalam istilah crab mentality atau mental kepiting. Kenapa disebut seperti itu, karena orang-orang yg punya mental seperti ini cenderung melakukan segala cara agar dia lebih unggul dari orang lain. Dia gak senang lihat orang lebih sukses atau lebih bahagia dari dia. Dan orang-orang kek gini cenderung menarik orang lain ke jurang yang dia hadapi. Simpelnya dia punya mindset kek gini. "Kalo gua susah, Lo juga harus susah, kalo gua gak bahagia, lu juga gak boleh bahagia."


Apakah kalian pernah menemukan orang-orang seperti ini? Atau apakah kalian termasuk orang-orang seperti ini?

__ADS_1


__ADS_2