
Oma Belle masih terus memberi wejangan, tak peduli meskipun Karen sudah gelisah dan mengalami keram kaki. Jika seperti ini, Karen menyesal karena tak membiarkan Darren ikut dengannya. Sebab, hanya Darren yang dapat menghentikan cerocosan Oma Belle.
"Kamu sudah paham, kan, sekarang tentang tugas dan tanggung jawab seorang istri?"
"Makasih atas nasihat baiknya, Oma. Makasih juga sampai detik ini Oma selalu support aku untuk terus jadi istri yang baik buat Mas Darren. Makasih juga karena dari sekian banyak perempuan yang hampir mendekati sempurna di luar sana, Oma malah milih aku buat jadi pasangan mas Darren. Oma gak usah khawatir, aku bakalan terus belajar jadi istri yang baik dan menantu yang ideal di keluarga ini."
Mendengar penuturan Karen, Oma Belle yang tadinya menggebu-gebu kini malah melembut. "Kamu udah mulai dewasa sekarang."
"Enggak, Oma. Karen masih sering kekanak-kanakan, tapi Karen akan berusaha belajar bersikap dewasa."
"Ya, sudah kalo gitu kamu boleh pergi. Istirahat sana!"
Napas Karen berembus lega, seakan baru merasakan keluar dari kungkungan penjara. Ketika berdiri pun ia sempat limbung karena terlalu lama duduk. Baru berjalan setengah langkah, suara Oma kembali menggaung dan menghentikan kakinya.
"Karen, masih ada yang kelupaan pengen Oma sampaikan ke kamu!"
Seperti sedang memakan jeruk asam, begitulah ekspresi Karen saat ini begitu Oma kembali berseru. Ia berbalik pelan, kembali berhadapan dengan Oma Belle.
"Ini tentang Chalvin dan Nadya. Kamu, kan, berteman baik sama Nadya. Ya ... bantulah mereka buat berbaikan. Oma sih gak tahu gimana sifat asli Nadya itu, gimana bibir bebet dan bobotnya. Tapi, dibanding dengan semua wanita yang pernah diperkenalkan Chalvin ke rumah ini, dia masih jauh lebih baik. Apalagi kamu sama dia temenan, kan? Itu yang bikin Oma semakin yakin, dia cocok untuk Chalvin. Dalam kehidupan berumah tangga itu, bukan cuma ada pergesekan antara menantu dan mertua atau menantu sama ipar, tapi juga sesama anak mantu. Oma gak pengen istri Chalvin nanti malah hasad dan iri sama kamu, atau sebaliknya sehingga gampang cekcok," ucap Oma Belle dengan rautnya yang resah.
Dibalik sikapnya yang pemaksa dan selalu ikut campur masalah anak cucunya, perempuan tua itu selalu berpikir jauh ke depan, bahkan sampai permasalahan sekecil apa pun.
Karen terdiam sebentar, lalu mengangguk, "Iya, Oma ...."
Setelah mendengar nasihat Oma Belle selama sejam penuh, Karen akhirnya keluar dari ruangan yang sempat membelenggunya itu. Ia berjalan terburu-buru, serasa sudah tak sabar untuk kembali ke kamar dan melanjutkan aktivitas panas yang sempat tertunda. Begitu masuk kamar, ia melihat Darren tengah duduk bersandar di ranjang dengan kaki yang selonjoran. Namun, bukan bersantai melainkan sibuk mengetik dengan laptop yang dipangku di atas paha.
Seolah mengabaikan apa yang dikerjakan suaminya, Karen langsung mengambil laptop dari atas paha Darren dan meletakkannya di atas kasur. Ia duduk di atas pangkuan Darren menggantikan laptop yang sempat menjadi pusat perhatian pria itu.
"Sayang, jangan ganggu aku dulu! Aku lagi dapat tugas dadakan dari dekan, nih!" ujar Darren sambil hendak kembali mengambil laptopnya.
Karen malah bergeser semakin maju dengan mengalungkan tangannya di leher Darren. "Bukannya tadi kamu bilang mau lanjut?"
"Lanjut apa?" tanya Darren berlagak lupa.
__ADS_1
"Ih, bikin kesel! Apa perlu dipancing lagi?"
Darren menahan tawa. "Ya, habisnya kamu lama, sih! Udah dari tadi juga nunggunya!"
"Oma kamu, tuh, yang nyandera aku!"
"Aku selesaikan ini dulu. Kalo udah, kita mesra-mesraan lagi.
Karen bersikap patuh dan langsung turun dari pangkuan suaminya. Kini gantian kepalanya yang berguling di bawah lutut pria itu. Entah kenapa, akhir-akhir ini ia ingin terus menempel di tubuh suaminya.
Darren kembali mengetik laporan yang akan dikirimkan ke Pak Budi. Sekitar lima belas menit kemudian, Darren telah menyelesaikan laporannya. Baru saja menutup laptopnya, ia malah tertegun melihat istrinya telah tertidur pulas berbantalkan betisnya.
Darren mengangkat kepala Karen dengan hati-hati, lalu memperbaiki posisi tidurnya agar sejajar dengannya. Pria itu juga menyelimutinya sebatas dada.
Karen terbangun dari lelapnya karena merasakan tenggorokannya kering. Sialnya, tak ada air minum yang tersedia di samping nakas untuk membasuh dahaganya. Tatapannya mengarah ke samping, melihat suaminya yang juga telah tertidur.
"Sayang ...." Karen mencoba membangunkan suaminya. Namun, melihat beberapa kertas yang berserakan di samping tubuh pria itu, membuatnya urung untuk mengganggu suaminya yang pasti sudah sangat kelelahan.
Ia pun terpaksa bangun untuk mengambil air minum di dapur. Ia beringsut pelan keluar kamar, lalu menutup pintu secara perlahan agar tak membangunkan suaminya. Baru saja berbalik, ia malah terhenyak ketika bertemu mata dengan Chalvin yang baru saja pulang kantor.
"Hai, Vin! Dah ... pulang, ya?" Karen mengangkat tangannya, mencoba biasa-biasa saja dengan menyapa pria itu.
"Hum ...." Chalvin mengangguk, lalu menunjuk pintu kamarnya, "aku masuk dulu!"
"Oh, silakan!" Karen menggeser tubuhnya dengan bersandar di pintu kamarnya untuk membuka jalan agar pria itu bisa lewat.
Entah kenapa mereka mendadak formal begini. Tak lagi sama seperti dulu. Semua ini gara-gara pernyataan perasaan yang tak sengaja terucap. Bahkan, hingga saat sarapan pun, baik Karen maupun Chalvin sama-sama saling menghindar untuk berkontak mata.
***
Perkuliahan yang akan segera aktif, membuat kampus kembali terisi oleh mahasiswa yang tengah mengisi KRS (Kartu Rencana Studi) mereka. Hal ini berlaku juga pada Karen dan kedua sahabatnya. Mereka memilih mengisi KRS di coffee shop baru yang dikelola Nadya. Ya, rencananya kedai kopi yang letaknya dekat dengan kampus mereka itu, akan dibuka bertepatan dengan hari masuknya perkuliahan baru.
"Kamu undang siapa aja pas launching nanti, Nad?" tanya Karen.
__ADS_1
"Ya, paling teman-teman sekelas kita doang."
"Kamu gak undang Chalvin?" tanya Karen lagi.
Nadya tertegun sesaat, lalu berkata, "Emangnya dia mau datang? Sibuk gitu!"
"Ya, dicoba aja dulu. kalian kan gak putus dalam arti sungguhan. So, kenapa gak coba berteman aja? Chalvin itu aslinya asyik, loh! Friendly juga!" bujuk Karen. Atas permintaan Karen berusaha membuat Chalvin dan Nadya bersatu. Meskipun saat ini hubungannya dan Chalvin malah renggang dan menjadi asing satu sama lain.
Nadya mengambil ponselnya, hendak mengetik pesan yang akan dikirimkan ke Chalvin. Sesuai saran Karen, ia mencoba mengundang pria itu untuk datang di acara pembukaan coffee shop pamannya. Namun, ketika hendak mengirim chat tersebut, ia malah ragu. Walau bagaimanapun ia masih menyukai pria itu dan sedang dalam proses untuk melepaskannya.
"Eh, Nad, gue punya ide buat nama-nama menu di kafe lo." Vera malah menyenggol tangan Nadya, sehingga chat yang sempat ingin dihapusnya itu tersebut langsung terkirim ke kontak Chalvin.
"Mending menu-menu yang ada di kafe lo diganti pakai bahasa Inggris semua aja, biar harganya bisa lo naikin jadi lebih mahal."
"Loh, emang ngaruh, ya, harga menu yang dikasih nama pake bahasa Inggris?"
"Jelaslah! Harga Es teh umumnya tiga ribuan, tapi kalo ice tea bisa lima belas ribuan. Padahal sama aja kan cuma beda nama. Gitu juga dengan harga sebiji telor dadar umumnya tiga ribu sampai lima ribu, coba kalo dikasih nama omelet ... harganya bisa sampai dua puluh lima ribu."
"Iya, kalo kata Darren itu termasuk brand image. Itu semacam hal yang bikin barang jualan kita terlihat berkelas dan bergengsi sehingga menjadi mahal. Jadi bukan cuma namanya aja yang dibikin berkelas, tapi tampilannya juga harus mendukung," sambung Karen menjelaskan.
"Bener juga, ya? Terus, menu apa nih kira-kira yang cocok gua bikin ala Inggris?"
"Ya ... ayam geprek lu tulis aja jadi chicken smackdown. Yakin, deh, biar harganya lima puluh rebo seperti juga gak bakal ada yang komplain!"
"Yee ... itu sih gak gua jual!"
"Pisang goreng keknya cocok, deh jadiin menu. Kan terpilih jadi dessert terenak di dunia versi tasteAtlas," sahut Karen menimpal.
"Oh, iya, pisang goreng bisa lu ganti dengan nama fried bananas, terus pake toping keju dan karamel," sambung Vera.
"Eh, eh, aku mau pergi dulu, ya? Darren ngajak aku makan siang, entar balik sini lagi." Karen tiba-tiba berdiri sambil menenteng tasnya.
"Ren, lo kok kelihatan lebih berisi?" Vera membersit tiba-tiba seraya memerhatikan kawannya secara saksama.
__ADS_1
"Masa, sih?" tanya Karen dengan nada panik. Pasalnya, ia sangat memerhatikan penampilannya selama ini.