DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 52 : Amarah Kakek Aswono


__ADS_3

"Janganlah! Entar kalau dia dipecat jadi Brand Ambassador, kan, kasihan juga! Gua cuma pengen dia putus sama tuh cowok biar gua lebih afdol deketin dia." Feril menolak usulan Farel yang memintanya mengirim foto-foto itu ke perusahaan tempat Chalvin kerja.


"Sok baik, lu!" cela Farel. Saudara Feril ini juga kuliah di universitas yang sama, tapi dengan fakultas dan jurusan yang berbeda.


Di ruangannya, Chalvin tengah bersama sekretaris yang juga merangkap sebagai FWB baginya. Sang sekretaris itu duduk nakal di atas meja, memamerkan stoking barunya yang mirip dengan jaring ikan nelayan.


(FWB singkatan dari friend with benefit. Cuma jadi teman berbagi keringat doank tanpa ikatan, dan tanpa rasa kecuali napsu.)


Sebagai lelaki normal, Chalvin tentu tak bisa menahan godaan ini. Baru saja hendak merayapkan tangannya di kaki sang sekretaris, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu di ruangannya. Untung saja sekretarisnya bergegas turun dari meja, memperbaiki roknya yang sengaja diangkat lebih tinggi, dan kembali bersifat formal. Pasalnya, yang masuk ke ruangannya saat ini adalah Oma Belle.


"Oma? Tumben Oma datang ke sini!"


"Ya, kamu Oma suruh kirimin hasil syuting iklan kemarin, sampai sekarang belum dikirim-kirim juga. Padahal Oma udah penasaran!" ketus Oma sambil duduk di sofa.


Chalvin mengusap wajahnya. "Astaga, aku beneran lupa! Lagian itu belum selesai editing juga. Nih, bentar lagi Karen lanjut syuting iklan yang mau tayang di YouTube," ucapnya sambil melihat jam tangan.


"Gimana menurut kamu, Karen cocok gak jadi Brand Ambassador produk?"


"Cocok. Cocok banget malah! Dia mudah diarahin. Gak canggung gitu. Kayaknya dia emang punya bakat di dunia modelling." Chalvin lalu menunjukkan cuplikan iklan yang belum teredit.


"Cucu mantu Oma memang cantik. Gak salah jadi istri Darren. Oma udah gak sabar pingin cepat-cepat dia hamil anaknya Darren. Pasti bakalan cakep," ucap Oma Belle dengan mata yang berbinar.


"Oma emang pintar cari pasangan buat Darren," puji Chalvin yang juga menatap potongan tayangan iklan di layar laptopnya.


Pandangan Oma lalu tertuju pada sekretaris Chalvin yang terus menempel di belakang Chalvin bagai kuman. Pertanyaan horor langsung keluar dari mulutnya secara tiba-tiba. "Kamu sendiri kapan mau nikah? Kamu kan seumuran sama Darren masa masih betah sendiri."

__ADS_1


"Aku masih betah sendiri. Lagian, menikah itu bukan lomba adu cepat Oma."


"Ingat, cari perempuan yang bener! Cari istri yang sering ke tempat ibadah bukan ke tempat dugem. Apalagi yang menawarkan diri untuk ditiduri," cetus Oma Belle sambil melirik sepintas ke arah sekretaris itu. Tampaknya, Oma Belle sudah mengendus hubungan antara Chalvin dan sekretarisnya itu.


"Iya, Oma. Aduh, aku harus segera cek persiapan syuting iklan, nih, Oma." Chalvin berdiri dan berancang-ancang hendak keluar. Sebenarnya, ini salah satu cara yang ia lakukan untuk menghindari Oma Belle yang akan menceramahinya terkait wanita.


Sejam kemudian, Chalvin menuju kampus Karen untuk menjemputnya. Tampaknya, Chalvin belum membuka kiriman pesan dari akun bodong milik Feril. Itu karena pengaturan di Instagramnya tidak langsung memunculkan pemberitahuan pesan masuk dari akun yang bukan pengikutnya. Selain itu, ia juga hampir tidak pernah memeriksa pesan-pesan yang masuk di akunnya.


Seperti biasa, Feril dan kawan-kawannya yang tergabung dalam ikatan MAPALA alias Mahasiswa Paling Lama tengah nangkring di area depan gedung fakultas ekonomi. Sudah menjadi aktivitas harian mereka nangkring di beberapa tempat, seraya melempar gombalan-gombalan seksis ke setiap cewek yang lewat. Kadang-kadang juga mengusili beberapa cowok yang berpenampilan culun.


Tak seperti kawan-kawannya, Feril malah sibuk mengecek foto-foto yang baru saja dikirimnya. Pasalnya, hingga kini foto-foto itu belum dilihat sama sekali oleh Chalvin.


"Fer, Fer, tuh Karen!" Salah satu temannya menepuk pundaknya dengan cepat seraya mengedikkan dagu ke arah kanan.


Feril menatap jauh. Ia terkesiap melihat Karen yang baru saja masuk di mobil Chalvin. Merasa apa yang baru saja dilakukannya hanya sia-sia, ia pun mendadak teringat dengan saran dari saudaranya—Farel. Kini, foto-foto itu bukan hanya dikirim ke akun Chalvin, tapi juga ke perusahaan PT. Bratajaya melalui surat elektronik. Tak tanggung-tanggung, ia juga mengirim foto-foto itu di akun official produk Belleria.


"Gak papa. Kamu udah gak diizinkan bawa mobil, kan? So, mulai sekarang aku yang bakal antar jemput kamu. Itu udah jadi kesepakatan aku sama Darren."


"Thanks a bunch! Aku senang banget bisa jadi bagian dari Brand Ambassador produk ini. Iklan aku bakal tayang di televisi juga, kan?" tanya Karen antusias.


(N : Thanks a bunch: makasih banyak)


"Yup. Bakal tayang di semua stasiun televisi. So, kamu udah jadi bintang iklan sekarang. Gak cuma ngendors produk-produk murah. Surely, ini bisa jadi pancingan buat kamu sendiri. Kalau branding kamu bagus, biasanya produk lain juga bakal ikut lirik kamu buat jadi ambassador mereka." balas Chalvin. Ekor matanya menangkap ekspresi senang yang terlihat jelas di wajah Karen. Entah kenapa, seutas senyum turut hadir di bibirnya.


Syuting iklan kembali berlangsung. Jika iklan kemarin mengusung gaya remaja untuk promosi koleksi warna-warna lipstik yang nude dan fresh, hari ini Karen tampil dengan gaya elegan sesuai warna-warna menyala yang juga dihadirkan dalam lipstik tersebut.

__ADS_1


Tiba-tiba sekretaris kakek Aswono datang dan meminta untuk menghentikan proses syuting yang tengah berlangsung. Hal itu membuat Karen bingung sekaligus bertanya-tanya. Pasalnya, perintah ini datang langsung dari presiden direktur—kakek Aswono. Pria perwakilan kakek Aswono itu juga tampak menghampiri Chalvin dan membicarakan sesuatu yang membuat wajah pria itu mendadak menggelap.


"Syuting break!" teriak sutradara yang langsung membubarkan diri bersama kru dan tim eksekutor.


Karen melihat Chalvin yang keluar bersama pria tadi dengan langkah yang tergesa-gesa. Tak bisa menahan rasa penasarannya, ia pun mencoba mengikuti mereka untuk mengetahui apa yang terjadi. Chalvin memasuki lift menuju lantai ruang kakek Aswono. Karen segera menyusulnya dengan menggunakan lift di sebelahnya. Sayangnya, lift di sebelah tak kunjung terbuka.


Di dalam ruang presiden direktur, Chalvin mempertanyakan kenapa tiba-tiba kakek Aswono hendak mengganti Karen sebagai Brand Ambassador produk lipstik mereka. Kakek Aswono lalu menunjukkan foto-foto yang baru saja dikirim ke seluruh kontak email perusahaan ini.


Mata Chalvin melebar melihat kumpulan foto Karen di tempat yang terlihat seperti kelab malam. Dalam foto-foto itu, terdapat berbagai pose yang menggiring pikiran negatif tentangnya, seperti pose dia diapit dua pria asing yang wajahnya tak terlihat. Ada juga foto yang menunjukkan salah satu dari pria itu memeluknya, hingga foto perempuan itu terbaring di atas meja dengan baju yang terangkat sebatas dada.


"Ini memalukan! Bukan cuma malu-maluin perusahaan, tapi juga mencoreng keluarga kita! Seorang istri malah mabuk-mabukan dengan pria lain di kelab malam. Apa dia tidak sadar, dia itu sudah bersuami? Kamu cari model baru buat gantiin dia! Kamu tahu sendiri, kan, perusahaan ini konsisten memakai model-model yang track record-nya bagus. Gak neko-neko kayak gini!" berang kakek Aswono dengan suara yang meledak-ledak.


Chalvin langsung teringat dengan apa yang diceritakan Darren semalam tentang pelecehan yang dialami Karen. "Positif thinking aja dulu! Kita kan gak tahu apa yang terjadi di balik foto itu. Bisa saja yang kita lihat tidak sama dengan yang sebenarnya. Mending tanya baik-baik dulu sama Karen." Chalvin mencoba membela Karen dari amarah kakek Aswono. Sejujurnya, dia ingin menjelaskan apa yang terjadi sesuai dengan yang diceritakan Darren. Namun, ia tak ingin mendahului Karen maupun Darren karena kasus pelecehan seperti ini cukup sensitif untuk diutarakan.


"Positif thinking, positif thinking! Apanya yang positif thinking? Yang ada saya bisa positif sinting! Punya cucu mantu kok tidak bisa menjaga harkat dan martabatnya," timpal kakek Aswono geram.


"Mana Karen?" tanya Oma Belle dengan mimik wajah kecewa berat.


"Masih di sana, Oma," jawab Chalvin yang mendadak pusing karena kakek Aswono memerintahkan dia mencari model baru.


"Suruh Darren pulangkan saja istrinya ke rumah orangtuanya. Mumpung belum hamil juga, kan! Darren bisa dapat perempuan yang baik-baik, gak tukang dugem dan main sama laki-laki lain," perintah kakek Aswono.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2