
Tak ayal, Karen langsung memekik kesal. "Itu semua pakaian yang baru aku beli tahu!"
"Hah? Ini buat siapa, sih? Keponakan kamu?" tanya Darren bengong sambil memerhatikan seluruh kostum yang telah berada di lantai, bahkan salah satunya sedang diinjaknya. "Ngapain kamu beli kostum aneh kayak gini?" tanyanya setelah sadar jika itu adalah kostum penggoda.
"Tahu, ah! Bikin kesel aja!" geram Karen sambil turun dari ranjang.
"Eh, eh, bukannya lagi sakit punggung gara-gara jatuh?" Darren mencoba menghentikan istrinya.
"Udah gak lagi, sakitnya udah pindah ke hati!" ketus perempuan itu sambil keluar kamar.
Perempuan dengan potongan rambut sebahu itu duduk di kursi putar. Kedua tangan yang bersedekap dan tampilan wajahnya terlihat kusut dengan bibir mengerucut berkumpul menjadi satu. Melihat Darren yang keluar kamar dan hendak menghampirinya, Karen buru-buru memutar kursinya agar membelakangi pria itu.
Darren memutar balik kursi yang diduduki Karen dengan pelan, sengaja membuat posisi mereka saling berhadapan.
"I'm sorry, my bad." (Maaf, ini salahku)
Masih berang, Karen kembali memutar kursi agar membelakangi suaminya. Sejujurnya, ia kesal karena tak bisa menjalankan rencana sesuai ekspektasinya.
Darren tersenyum tipis. Kali ini, ia tak lagi memutar kursi yang diduduki Karen. Tetap membiarkan istrinya membelakanginya, ia malah menepuk kedua pipi perempuan itu kemudian mengangkat wajahnya ke atas agar mereka bisa saling bertatapan.
"Kamu gak usah pakai-pakai pakaian aneh kayak gitu! Kamu handukan kayak gini aja udah kelihatan seksi dan menggoda di mataku kok," ucap Darren dengan lembut.
"Yang bener?" Karen memajukan bibirnya, tak percaya dengan rayuan suaminya.
"Hum ...." Darren mengangguk.
"Mana buktinya kamu tergoda." Karen sengaja menantang suaminya.
Darren lalu sedikit membungkuk sambil memajukan wajahnya untuk menggapai bibir ranum istrinya. Saat bibir mereka saling bersentuhan lembut, kedua tangan Darren merambat secara perlahan ke pundak Karen, melucuti handuk piyama yang dipakainya hingga sebatas dada. Tak selesai di situ saja, jari-jemari pria itu pun mulai meliuk-liuk bagai kuas kanvas di permukaan kulit Karen yang lembut. Memainkan, menggelitik, dan menekan titik-titik sensitifnya.
__ADS_1
Setiap tindakan intim itu membuat Karen meracau tak jelas sambil menjambak rambut suaminya. Panas menjalar ke seluruh tubuhnya berpadu dengan rasa nikmat yang tak terdefinisikan. Ia mendongak, memejamkan mata sambil menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.
Darren berdiri lalu menggendong Karen layaknya seorang balita. Aksi itu tentu membuat piyama yang digunakan Karen meluncur begitu saja ke lantai. Kaki Karen secara refleks melingkar di pinggang Darren dan ia juga turut mengalungkan tangannya di leher kokoh pria itu. Bibir mereka kembali bersatu, saling memagut lembut, memberi sesapan hangat dan gigitan-gigitan yang menggoda. Semakin lama, semakin liarr tak terkendali. Hingga keduanya sulit bernapas.
Sambil terus menggendong Karen, Darren berjalan menuju meja makan. Tak sabar, lelaki bertubuh proporsional itu langsung merebahkan tubuh istrinya di atas meja makan. Namun, tepat saat itu juga Karen malah menjerit kesakitan.
"Akh, punggungku!" pekik Karen sambil memegang punggungnya.
"Kenapa? Punggung kamu sakit lagi?"
"Iya, sakit banget. Aduh!" Karen kembali meringis seperti sedia kala. "Aw, jangan disentuh! Sakit, tahu!" Ia menepis tangan Darren.
"Enggak, aku mau pijat dulu. Coba kamu telungkup." Darren mencoba membantu istrinya tidur dalam posisi tengkurap di atas meja makan. Ia lalu mengambil minyak zaitun dan mulai memijat lembut punggung Karen. Tentunya disertai suara-suara teriakan kesakitan dari istrinya.
"Oh, iya, besok kita enggak bisa undang keluarga buat makan malam. Soalnya besok malam ada acara launching produk baru di perusahaan kakek. Jadi, kita disuruh ikut hadiri. Terus besok pagi juga kakek pingin kita ke perusahaan."
Ucapan Darren, tentu mengejutkan Karen. Pasalnya, ia hampir lupa jika besok adalah hari ulang tahun suaminya.
"Iyalah, kamu kan istriku."
Ucapan Darren membuat Karen merona seketika. Sebab, ia akan diperkenalkan sebagai istri pria itu secara resmi di perusahaan.
...----------------...
Keesokan harinya, Karen tampak sibuk memilih pakaian yang akan ia gunakan ke perusahaan. Pasalnya, pagi-pagi sekali Oma Belle telah mengingatkan padanya untuk berpakaian yang sopan dan formal agar bisa mencerminkan identitas keluarga mereka. Pusing memilih, akhirnya ia memakai celana panjang kain berwarna hitam yang dipadu dengan kameja lengan panjang berwarna putih.
Sebelum pergi, Karen sempat menengok kamar yang telah didekornya dengan sangat romantis. Rencananya, ia akan memberi kejutan pada suaminya sepulang pesta launching produk malam nanti.
Karen lalu mengendarai kendaraannya sendiri menuju perusahaan. Sebab, Darren masih harus menyelesaikan jadwal mengajar pagi. Mereka memutuskan untuk bertemu di perusahaan saja.
__ADS_1
Karen melangkah ragu-ragu karena ini pertama kalinya ia menginjakkan kaki di perusahaan keluarga suaminya. Perusahaan dengan nama PT. Bratajaya itu bergerak di bidang kosmetika dengan memakai nama "Belleria" sebagai merek dagang mereka yang tentu saja diambil dari nama asli Oma Belle. Belleria menjadi salah satu produk kecantikan lokal dengan penjualan tertinggi di Indonesia. Produk mereka juga sering berinovasi dengan menyesuaikan tren makeup yang berubah setiap tahun.
Karen yang masih bengong, mencoba bertanya pada satpam. Untungnya, satpam telah diberitahu Oma Belle terlebih dahulu, sehingga langsung mengarahkan Karen ke lantai enam untuk menunggu di ruang tunggu. Istri Darren itu lalu menaiki lift menuju lantai enam. Sesampainya di sana, pemandangan karyawan yang tengah sibuk di depan komputer begitu terlihat jelas.
Karen menahan salah satu karyawan yang melintas di hadapannya. "Eh, a ... kamu tahu ...."
Karyawan itu melihat Karen dari atas ke bawah lalu berkata, "Mba, karyawan yang baru magang di sini, kan? Tolong fotokopi berkas ini, ya!" Karyawan itu lalu menyerahkan sejumlah dokumen padanya.
Baru saja Karen hendak menjelaskan, karyawan lainnya turut menghampiri sambil memberi sebuah flashdisk. "Aku juga minta tolong print brosur yang ada dalam file, ya!" pinta karyawan itu sambil memasukkan flashdisk ke dalam saku kameja Karen.
Bukan hanya dua orang itu, para karyawan lain pun turut menyerbunya untuk meminta tolong karena menyangka Karen adalah seorang karyawan magang yang baru dipekerjakan. Wajar saja, ini karena ia memakai pakaian hitam putih yang identik dengan karyawan magang.
Karen mengembuskan napas kasar, sambil menatap kesal tumpukan dokumen yang dipegangnya. Bagaimana tidak, setiap hendak mengatakan kalau dia bukanlah karyawan magang, mereka sudah lebih dulu memerintahnya seenak jidat. Bahkan ada yang memintanya untuk membeli es kopi di gerai depan perusahaan mereka.
Apa boleh buat, hari spesial suaminya, menjadi hari buruk untuk dirinya. Ia berbalik sambil membawa setumpuk berkas dengan tinggi yang mencapai hidungnya. Namun, seseorang tiba-tiba memutar badannya dan langsung merangkulnya dengan hangat.
Karen yang menengadah, sontak terkejut saat seseorang yang merangkulnya itu adalah Darren.
"Sorry, aku lambat datang," ucap Darren sambil mengecup lembut rambut istrinya di hadapan seluruh karyawan. Pandangannya lalu mengarah pada tumpukan berkas yang dipegang Karen. "Loh, kok kamu bawa-bawa ginian? Siapa yang suruh?"
Pada detik itu juga, ruangan itu menghening seketika. Semua karyawan menatap kaget ke arah Karen begitu mengetahui dia adalah istri dari cucu direktur utama mereka.
.
.
.
UDAH DIREVISI, YA. BAB YANG AGAK PANAS DI SETIAP NOVELKU HANYA TAYANG TENGAH MALAM SAMPAI PAGI BUTA. SETELAH ITU AKAN DIREVISI.
__ADS_1
jangan lupa like dan komen ya.