
Di dalam ruang rapat yang tertutup, Darren disidang oleh para petinggi universitas dan jajaran dekan fakultas. Rektor menunjukkan hasil tangkapan layar yang memuat berita tentang perbuatan mesum salah satu dosen di universitas mereka.
"Apa benar foto ini diambil di ruang penelitian yang Bapak kelola?" tanya rektor secara baik-baik.
"Benar," jawab Darren seadanya.
"Apakah foto kaki laki-laki dan perempuan yang diambil dari bawah meja ini adalah foto Bapak dan mahasiswa Bapak?" Pertanyaan yang dilontarkan lambat-lambat itu kembali keluar dari mulut rektor.
"Benar," jawab Darren kembali.
Para dosen yang masuk dalam struktur jabatan di universitas tersebut lantas bereaksi. Beberapa di antara mereka tak sungkan melempar kecaman padanya.
"Berani sekali Anda melakukan tindakan tak senonoh di lingkungan kampus!"
"Anda tidak pantas disebut pendidik apalagi guru besar!"
"Jangan biarkan dia ada di kampus kita!"
"Anda memanfaatkan mahasiswa yang tergila-gila pada Anda!"
Rektor mengangkat tangan ke atas, meminta dosen-dosen lain agar lebih tenang. Sambil menatap dalam mata Darren, ia kembali bertanya, "Bisakah Pak Darren menjelaskan arti dari foto ini?"
Berdiri tegap dengan pandangan lurus, ia mengaku jika berita yang beredar adalah dirinya, tetapi untuk keterangan dalam unggahan foto tersebut tidak benar. Dengan kata lain, ia membenarkan tentang foto seorang mahasiswi yang berada di kolong meja kerjanya, tetapi menolak berita yang mengabarkan bahwa dirinya berbuat mesum dengan mahasiswi itu.
"Foto itu tidak seperti yang dipersepsikan kebanyakan orang." Darren masih pelit untuk menjelaskan kebenaran yang sebenarnya.
"Profesor Darren, ini bukan hanya masalah kamu saja, tapi juga masalah universitas. Ini menyangkut kepercayaan masyarakat tentang dosen-dosen yang ada di sini! Bisa Bapak jelaskan kronologi yang ada di foto itu? Kenapa mahasiswi bisa ada di posisi seperti itu dan apa yang dia lakukan?" tanya rektor dengan raut serius.
__ADS_1
Dengan tenang, Darren pun berkata, "Dia datang menemui saya lalu bersembunyi di kolong meja ketika mendengar suara pintu terbuka."
Para dosen saling memandang dengan dahi yang berkerut setelah mendapatkan sepotong penjelasan dari Darren.
Wakil rektor II menyahut, "Kenapa bersembunyi? Memangnya kalian sedang berbuat apa saat itu? Kalau enggak berbuat sesuatu, ya, gak perlu bersembunyi, kan? Justru bersembunyi itu makin mengundang rasa curiga. Kenapa dia sembunyi ketika ada orang masuk?"
"Bukan masalah apa yang kami perbuat di dalam sana, tapi status yang mengikat kami membuat dia buru-buru bersembunyi agar tidak dicurigai mahasiswa lain. Dia hanya takut ada yang mengetahui hubungan kami."
"Oh, jadi mahasiswa itu pacar pak Darren?" tanya rektor diiringi pemandangan dosen-dosen lainnya yang saling berbisik kecil.
Darren menggeleng. Ia menipiskan bibirnya, lalu menjawab, "Bukan pacar, tapi ... dia istri saya."
Rektor dan semua yang di ruangan itu terkejut dengan mata terbelalak.
"Bu–bukannya profesor Darren masih single waktu masuk di kampus ini?" tanya wakil rektor II.
"Bagaimana kami bisa percaya sama omongan situ?" selidik salah satu dosen dengan nada sinis.
"Kalau Bapak dan Ibu tidak percaya, bisa lihat keterangan di KTP saya." Darren mengambil dompet dalam saku celananya lalu menunjukkan KTP barunya yang telah berubah status menjadi sudah menikah. Ia juga mengambil smartphone-nya lalu menunjukkan foto pernikahan mereka.
"Terus kenapa tidak bilang ke kita-kita kalau pak Darren sudah menikah?" Pak Budi luhur yang ada di ruangan itu langsung menimpal.
"Mohon maaf Bapak, Ibu sekalian. Ini memang salah saya. Sayalah yang meminta pada pasangan saya untuk menutupi status pernikahan kami."
"Kenapa begitu?" Pernikahan kok disembunyikan," tanya para dosen heran.
"Saat memberi syarat itu, saya hanya memikirkan diri sendiri. Saya belum siap menyandang gelar suami dari mahasiswa sendiri. Saya takut orang-orang akan menilai tidak profesional karena menikahi mahasiswa yang saya ajar. Saya takut lupa memosisikan diri sebagai dosen ketika bertemu dengannya di lingkungan kampus." Darren menjeda kalimatnya sebentar, hanya untuk menarik napas perlahan, kemudian kembali berkata, "Tapi ... saya tidak menyadari, keegoisan ini berimbas pada pasangan saya. Saya lupa memikirkan perasaaan pasangan yang melihat para mahasiswa selalu berusaha mendekat dan mencari perhatian pada saya. Saya lupa memikirkan dia bisa saja disukai atau diganggu pria di luar sana. Saya lupa memikirkan fitnah yang menyerang kami berdua akibat ketidaktahuan orang-orang. Saya juga tidak cukup tangkas untuk mengantisipasi kesalahpahaman seperti ini akan terjadi. Saya sungguh meminta maaf karena telah mempermalukan universitas dengan adanya pemberitaan ini."
__ADS_1
Pada saat itu juga, hening mendadak merayapi ruangan itu. Para dosen dan jajaran petinggi universitas hanya saling memandang.
"Meskipun dia Istri pak Darren, tidak seharusnya mendatangi ruang penelitian jika tak berkepentingan. Bukan apa, tidak ada yang tahu kan hal semacam ini terjadi," ketus dosen wanita yang sudah tua.
"Istri saya itu ... masih sangat muda. Pikiran dan tindakan yang diambilnya sangat simple, dia juga ceroboh, dan kadang-kadang mudah menyerah. Tapi justru itu yang membuat saya tidak bisa berpaling pandangan darinya, tidak bisa mengabaikannya, dan tidak bisa menahan diri untuk tidak bertemu dia. Dia tak bersalah. Sayalah yang memintanya datang ke ruang penelitian saat itu. Saya juga selalu memintanya bertemu diam-diam." Darren melakukan pembelaan untuk istrinya agar tak disalahkan. Padahal sejak awal, Karen yang sering diam-diam datang ke ruangan itu meskipun ia sudah sering memperingatinya.
Beberapa dosen malah mewajarkan karena mereka pasangan pengantin baru.
"Kalau begitu bisakah pak Darren meminta istri Bapak mengklarifikasi kejadian yang sebenarnya tentang berita tersebut? Berita ini sudah terlanjur viral, sebagian postingan sudah berhasil kami take down, tapi itu tidak bisa menghilangkan persepsi negatif pikiran orang-orang yang terlanjur melihatnya. Netizen selalu menelan mentah-mentah berita yang beredar tanpa mencari tahu kebenarannya. Mereka tidak akan mudah percaya begitu saja dengan klarifikasi yang diberikan pihak universitas. Dan apabila berita itu ternyata tidak seperti dugaan awal, mereka akan menganggap kita merekayasa," tutur rektor.
Darren tertegun penuh pertimbangan. "Maaf, sebagai seorang suami saya tidak mengizinkan istri saya diekspos untuk memberi penjelasan ke publik. Ini cara saya melindunginya agar tidak disalahkan mahasiswa lainnya. Dia belum ingin diekspos sebagai istri saya di kampus ini, apalagi jika harus muncul di media sosial untuk memberi klarifikasi," tolaknya.
"Pernyataan yang dibuat pihak lelaki untuk berita seperti ini tidak pernah dipercayai publik," ucap rektor disertai embusan napas berat.
"Saya juga tidak akan melakukan klarifikasi apa pun di sosial media!" tegas Darren.
Rektor dan para dosen terperanjat seketika. Mereka tak mengerti dengan sikap Darren.
"Dalam kasus ini, saya dan pasangan saya korban fitnah dan pelanggaran ITE. Kenapa kita selalu memaksa korban fitnahan untuk membantah tuduhan yang terarah padanya? Kenapa tidak mencari pelakunya dan memaksanya membuktikan tuduhan itu? Di Indonesia perlindungan privasi masih sangat lemah. Orang-orang dengan mudahnya mengekspos dan memviralkan seseorang demi kepuasan dan keuntungan yang mereka dapatkan. Lagipula, foto itu hanya menunjukkan dua kaki pria dan wanita dalam satu meja. Bukankah bukti atas narasi dalam berita yang beredar itu masih lemah?"
"Terus, apa solusi yang Bapak tawarkan atas kesalahpahaman akibat pernikahan rahasia Bapak!" sambar salah satu dosen.
Darren menoleh ke arah dosen tersebut, menyunggingkan senyum tipis lalu berkata, "Memancing pelaku untuk mengklarifikasi sendiri berita yang sudah dia viralkan."
.
.
__ADS_1
.