
Gadis berkacamata itu datang menemui Darren di ruang penelitian. Waktu kedatangannya sangat tepat karena dosen idolanya itu juga ternyata berada di sana.
"Apa benar Profesor sudah nikah?" tanya gadis itu seolah hendak mengonfirmasi langsung kebenaran berita itu pada Darren.
"Iya," jawab Darren datar.
"Siapa istri Profesor?"
"Saya rasa kamu sudah tahu jawabannya."
"Jadi Karen istri Bapak?" tanyanya kembali dengan raut wajah menegang.
Tak menjawab, Darren malah berkata, "Sekarang kamu tahu kan kenapa saya gak suka kamu sebarin fitnah tentang dia." Darren mengingatkan kembali ulahnya yang telah menyebar gosip kalau Karen adalah simpanan salah satu dosen di ekonomi. "Karen bukan simpanan, tapi dia yang utama dan tidak ada yang lain selain dia."
Gadis itu segera membuang muka dengan ekspresi suram. "Itu benar kok. Aku beneran lihat dia dekat banget sama dosen lain, bukan cuma Profesor aja. Dia gak pantas jadi pasangan Profesor!" tampiknya membela diri.
Darren tersenyum tipis seraya menggeleng-geleng kepala. "Berhentilah menjelek-jelekkan orang untuk menaikkan mutumu! Saya baru sadar, kamu manipulatif. Selama ini enggak ada dosen penguji yang mempersulit kamu, kan? Kamu selalu datang mengeluh dan menangis ke saya biar saya simpatik," ucapnya membongkar kedok mahasiswa bimbingannya selama ini.
"Ya, emang benar. Semua aku lakuin demi Profesor! Karena aku suka sama Bapak! Aku pengen Bapak memusatkan perhatian buat aku."
"Kamu tahu, enggak, kenapa banyak yang enggan berbuat baik? Karena orang-orang seperti kamu yang bikin mereka sungkan baik ke sesama. Mereka takut kebaikan mereka dimanfaatkan. Jaman sekarang sulit membedakan yang memang butuh bantuan atau sekedar modus," ucap Darren menohok, "saya pikir, kamu hanya kesepian dan butuh teman yang bisa mendengar keluh kesahmu. Tapi, maaf ... saya sudah tidak lagi menjadi dosen pembimbingmu," lanjutnya secara tegas.
"Asal Bapak tahu, aku juga enggak mau viralin foto itu kalau Bapak gak nantang. Aku akui, aku terbawa emosi sesaat." Pada saat ini, ada sedikit penyesalan dalam dirinya karena bertindak tanpa berpikir panjang.
"Saya tidak takut dengan bukti apa pun yang kamu miliki untuk menjatuhkan saya dan Karen karena kami memang terikat pernikahan. Tindakan kamu bukan cuma merugikan saya, tapi juga merusak reputasi kampus. Kamu bisa lihat sendiri, kan, gimana kampus ini begitu disorot netizen gara-gara fitnah yang kamu tebarkan ke akun-akun gosip?"
Dengan bibir yang bergetar, gadis itu bertanya, "apa benar soal somasi yang diberi pihak kampus?"
"Ya. Kamu bisa lihat sendiri pernyataan yang dibuat pihak kampus." Darren mengangguk.
Mengambil napas dalam-dalam, gadis itu tertunduk seraya menitikkan air mata. "Saya minta maaf sudah bertindak gegabah. Saya hanya terbawa emosi. Saya tidak bermaksud menciptakan masalah buat Bapak. Jangan laporkan saya, Prof. Saya janji enggak akan ngusik Karen dan profesor lagi."
Maaf, tapi permasalahan itu antara kamu dan pihak universitas. Tidak ada sangkut-pautnya dengan saya, apalagi dengan Karen. Jadi, silakan memenuhi opsi kedua dengan melakukan klarifikasi untuk memulihkan nama baik kampus! Kamu cuma punya pilihan itu."
"Kalau aku klarifikasi, entar orang-orang bakal balik nge-bully aku, Prof. Aku juga bisa dikeluarin dari kampus ini. Tolong maafin saya!" Gadis berkaca mata itu kini memelas pada Darren.
Darren mengembuskan napas berat. "Saat kamu menyebarkan fitnah, apa kamu pernah mikir risiko yang mungkin akan kami hadapi gara-gara ulah kamu?" tanya Darren sesaat.
__ADS_1
Perempuan itu tampak kehabisan kata-kata. "Ta–tapi ...."
"Pembicaraan ini sudah selesai, silakan keluar!" Darren mengarahkan tangannya ke pintu.
Dari perpustakaan, Karen menuju fakultas ekonomi bersiap menerima kelas berikutnya. Ia bertemu dengan Nadya dan Vera yang baru saja keluar dari gedung rektorat. Kedua temannya itu bercerita bahwa dosen-dosen telah mengetahui kalau Darren telah menikah. Bahkan kabar itu langsung santer di kalangan mahasiswa.
"Semua mahasiswa pada penasaran sama sosok yang jadi istri pak Darren, tahu enggak! Kayaknya pak Darren sengaja belum spill buat ngelindungin kamu biar orang-orang gak nyalahin kamu gara-gara kasus foto itu," jelas Nadya.
"Uuuhh ... pak Darren gentleman banget! Dengan ngaku dah nikah, dia bukan cuma meredam tuduhan miring foto itu, tapi kek mendeklarasi kalau dia tuh dah milik seseorang," sambung Vera.
Karen tersipu mendengar penuturan kedua sahabatnya. Di sisi lain, ia juga lega karena orang-orang belum tahu tentang dirinya.
Nadya menepuk pundak Karen sambil berkata, "Udah, gak usah dipikirin lagi! Biarin pak Darren yang beresin semuanya."
Ponsel Karen mendadak berdering. Saat melihat layar panggilan, nama Chalvin tercantum sebagai pemanggil.
"Kar, kamu lagi di mana? Sibuk enggak?"
"Lagi di kampus, masih ada kelas."
"Kira-kira selesai jam berapa?"
"Okelah. Aku jemput, ya. Oma suruh kamu ke perusahaan sekarang," tutur Chalvin.
Jantung Karen mendadak berdegup kencang. Dalam hatinya bertanya-tanya kenapa Oma Belle tiba-tiba menyuruhnya datang ke perusahaan. Mungkinkah ada hubungannya dengan gosip yang menerpa Darren?
***
Sesuai yang disepakati, Chalvin menjemput Karen dan membawanya ke perusahaan kosmetik Belleria. Ternyata, kakek dan Oma kembali memintanya menjadi bintang iklan terbaru untuk produk lipstik yang sama. Lipstik Belleria keluaran terbaru yang menjadikan Karen sebagai Brand Ambassador, rupanya laris di pasaran dan dapat diterima masyarakat. Bahkan sejumlah beauty vlogger memberi ulasan positif.
"Gak salah emang Chalvin usulin kamu jadi brand ambassador. Terbukti, setelah model BA-nya diganti sama kamu, lipstik Belleria di series ini mencetak penjualan tertinggi! Kamu emang pembawa hoki!" cetus Oma Belle dengan senyum semringah. Ia bahkan sampai mencubit gemas pipi cucu mantunya.
Chalvin yang tengah bersandar di dinding, ikut senang karena Oma Belle terlihat sangat menyayangi istri sepupunya itu.
"Ah, enggak juga gara-gara Karen, Oma. Produk lipstik yang series ini emang bagus, kok. Lebih awet dan waterproof. Jadi, kalau produknya laris ya itu karena kualitas produknya yang diakui konsumen, bukan karena Karen yang jadi modelnya," balas Karen.
"Gak usah down to earth gitu!" sambung Chalvin tiba-tiba, "aku sering lihat Karen promosiin lipstik kita di Instagramnya loh, Oma. Dia juga rajin live buat review-in produk kita. Padahal kita enggak minta dia ngelakuin kek gitu."
__ADS_1
(Down to earth: merendah)
Laporan Chalvin semakin membuat Oma Belle respek pada Karen.
"Kamu boleh minta hadiah apa aja sama Oma. Anggap saja ini bonus buat kamu," ucap Oma dengan penuh antusias.
"Beneran apa aja, Oma?" Karen membulatkan matanya.
Oma Belle mengangguk sambil tersenyum hingga matanya menyipit. "Asal jangan yang terlalu mahal. Ingat, kita tidak boleh menghambur-hamburkan uang!"
Bahu Karen mengendur seketika. "Hadeh ... bilang aja pelit!" batinnya berucap.
"Permintaanku gak muluk-muluk kok, Oma. Cukup Oma gak lagi desak aku sama Darren buat cepat-cepat punya anak!"
Permintaan Karen sukses melenyapkan senyum semringah di wajah Oma Belle. Mata wanita tua itu membeliak tajam, bagaikan ekspresi mertua-mertua di sinetron azab. Sementara, Chalvin hanya bisa menahan tawa sambil menutup mulutnya.
"Itu sih permintaan pengen dikeluarin dari daftar keluarga Bratajaya! Yang namanya keturunan itu harus disegerakan, bukan ditunda-tunda," ketus Oma dengan urat leher yang mendadak bermunculan.
"Ih, Oma tadi katanya boleh minta apa aja sebagai bonus!" Karen memajukan bibir bawahnya.
"Gak! Penawaran bonus Oma tarik kembali! Gak ada bonus-bonusan lagi!"
.
.
.
catatan author ✍️✍️
Ada beberapa karakter yang emang gak aku namain, ya, seperti gadis berkacamata. karena perannya tidak tetap di novel ini. Jadi, aku pikir lebih baik menyebutkan ciri fisik untuk peran yang tidak tetap atau yang gak penting, daripada berikan nama ke peran tersebut. Biar gak bikin kalian pusing hafalin nama karakter.
Aku juga belajar dari yang sudah-sudah. Ada beberapa karakter yang muncul, tapi ternyata cuma numpang lewat. Seperti pemeran Claudia dan pemeran Chalvin. Peran Chalvin sebenarnya hanya muncul saat perayaan ulang tahun Darren. Tapi, sama aku, Chalvin tetap ada menggantikan pemeran pengawal yang seharusnya ada di novel ini. Aku merasa freaky aja, adain karakter pengawal Karen.
Sebenarnya mulai dari bab 31, aku udah gak ikutin brainstorming yang dikasih editor. Cuma ambil garis-garis besar cerita aja. Ada banyak alur yang aku skip dan ganti dengan alur sendiri. Kalian bisa rasa sendiri kan, semakin ke sini cerita romance dan konfliknya udah Yu Aotian banget, wkwk.
Btw, ini belum masuk di badai yang sempat aku singgung, ya. jadi ini masih konflik-konflik kecil yang mewarnai rumah tangga Karen dan Darren. seperti yang kubilang sebelumnya, konflik yang ada di novel ini, dibuat bukan untuk mendramatisir cerita atau membuat greget pembaca, tapi untuk menunjukkan problem solving yang mereka ambil.
__ADS_1
Sekian kumur-kumur aku. kalau kamu suka novel ini dan tidak ingin putus di tengah jalan, bantu saya rekomendasikan novel ini ke orang-orang. Jangan lupa juga untuk dukungan like dan komeng.