
Di waktu yang sama, sekretaris Chalvin memberitahukan bahwa ruang rapat telah siap dan tinggal menunggu kehadirannya dan juga Oma.
"Oma, ayo kita ke ruang rapat. Mereka dah nungguin kita," ucap Chalvin yang kemudian menoleh ke arah Karen, "Ren, kamu bisa nunggu di sini. Kita gak terlalu lama, kok."
"Ajak aja dia," usul Oma tiba-tiba sambil berdiri, "ayo ikut Oma ke ruang rapat. Kamu kan brand ambassador produk ini. Sekalian kamu bisa belajar dunia perbisnisan. Darren kan gak mau ngurusin perusahaan."
Chalvin tengah mengadakan rapat evaluasi produk bersama perwakilan dari departemen pemasaran dan departemen produksi. Karen pun ikut serta dalam rapat itu.
"Apa ada masukan dari klien kalian terkait lipstik ini? Atau mungkin saran dari kalian untuk produk selanjutnya. Biar menjadi bahan masukan ke depannya," tanya Chalvin.
"Menurut saya kemasan di series lipstik sebelumnya harus diinovasi ke bentuk yang lebih trendy menyesuaikan masa kini." Salah satu perwakilan dari tim pemasaran langsung memberi saran.
"Maksud kamu ... bentuk lipstik series lama itu kuno dan ketinggalan jaman, gitu? Padahal kemasan lipstik ada nuansa batiknya sebagai ciri khas Indonesia!" tandas Oma Belle dengan mata mendelik.
"Bu—bukan begitu." Perwakilan dari tim pemasaran itu mendadak tergugu karena takut membuat Oma Belle tersinggung.
"Ada benarnya kok, Oma," timpal Chalvin, "bentuk produk sangat berpengaruh buat menarik minat konsumen. Kemasan yang terlihat simple dan elegan itu lebih mudah di ingat mereka. Menurut aku, kalau kita mau memproduksi ulang series lama, nuansa batik cukup di bagian penutupnya aja."
"Maksud saya seperti itu, Pak!" sahut perwakilan tim pemasaran tadi.
Karen mengangkat tangan seketika. "Menurut aku, masih jarang lipstik yang mengeluarkan produk khusus untuk kulit sensitif. Selama ini, orang yang memiliki kulit sensitif tidak suka memakai lipstik karena membuat bibir mereka gatal-gatal dan iritasi."
Chalvin mengangguk sambil memetik jarinya. "Kalau begitu, Mungkin ke depannya kita bisa mengeluarkan lipstik khusus untuk kulit sensitif. Adanya iritasi pada pemakaian lipstik biasanya disebabkan oleh kandungan parfum, Paraben dan juga silikon. Jadi, sebisa mungkin kita menghindari kandungan alergen."
Karen kembali melanjutkan. "Terus, untuk penamaan warna-warna di lipstik ini juga susah banget di ingat. Lipstik merk lain juga gitu sih, penamaan warna-warnanya jarang ada konsumen yang ingat. Mereka lebih cenderung ingat nomor kalau mau beli warna yang mereka pakai."
"Kalau itu Oma setuju, nama-namanya ruwet! Udah kayak produk import aja," sahut Oma.
"Oh, kalau di lipstik ini emang nama-namanya pakai bahasa latin dari bunga-bunga yang ada di negara tropis," jelas Chalvin, "kamu sendiri ada saran gak untuk nama-nama penanda warna?"
"Gimana kalau pakai warna-warna couple yang melegenda? Beberapa lipstik di series ini kan ada warnanya yang hampir-hampir mirip, jadi bisa kita bikin kayak couple lipstik gitu. Contohnya gini ...." Karen mengambil dua lipstik yang warnanya hampir sama, lalu menunjukkan kepada mereka semua. "Warna coral dan nude bisa di namakan dengan Romeo and Juliet. Terus untuk warna pink and peach bisa dinamakan Jack and Rose," tuturnya.
"Ah ... saran kamu bisa buat ide perilisan lipstik pas valentine nanti," seru Chalvin sambil mengayun-ayunkan telunjuknya, "gimana menurut kalian?"
__ADS_1
Orang-orang yang ikut rapat, turut mengangguk-angguk setuju atas saran dari Karen.
"Kamu masih punya saran gak untuk produk Belleria ke depannya? Kamu kan termasuk selebgram, pasti kamu tahu dong trend makeup atau skincare belakangan ini. Kita butuh saran dari orang yang update macam kamu." Chalvin semakin antusias untuk memancing Karen mengeluarkan ide-idenya.
"Untuk skincare, menurut aku sudah saatnya Belleria mengeluarkan produk khusus pria. Soalnya, semakin ke sini mulai banyak pria yang memerhatikan penampilannya. Mungkin, Belleria bisa mengeluarkan pelembab khusus pria yang ber-SPF tinggi karena mereka lebih banyak kegiatan outdoor dan sering berkontak langsung dengan terik matahari."
Karen melirik malu-malu kepada seluruh karyawan yang menyetujui sarannya. Ia merasa senang karena bisa merasakan suasana ruang rapat dan ikut berpartisipasi. Padahal ia hanya mengeluarkan apa yang terbesit di otaknya.
Chalvin memangku dagunya sambil memusatkan seluruh pandangannya ke arah Karen. Entah kenapa, sudut bibirnya tak berhenti mengembang selama mendengar perempuan itu berbicara. Ada rasa yang menguar lebih dari sekadar kekaguman. Bahkan ketika Karen telah diam pun, ia masih belum memalingkan matanya.
Rupanya, Oma Belle sedari tadi memerhatikan Chalvin yang terus menatap istri Darren dengan tatapan berbinar. Mata Oma Belle memicing curiga sambil terus memantau Chalvin. Ia mulai merasa ada yang tak beres dengan tatapan sepupu Darren itu.
"Chalvin!" panggil Oma Belle.
Chalvin tak menyahut. Hanya terus memandang Karen.
"Chalvin!" ulang Oma Belle sekali lagi.
"Chalviiin!" teriak Oma Belle.
Chalvin terhenyak dari lamunannya. "Ya, Oma! Kenapa? Udah sampai di mana tadi rapatnya?" tanyanya sambil mengedarkan pandangan.
***
Rapat telah selesai, Chalvin mengantar Karen pulang. Sementara, Oma Belle masuk ke ruangan presiden direktur. Ia menceritakan pada suaminya tentang saran-saran yang Karen utarakan selama berada di ruang rapat.
"Mas, tadi aku lihat Chalvin terus-terusan mandangin Karen. Aneh banget!" lapor Oma Belle secara tiba-tiba.
"Ya, apa salahnya? Kan kamu sendiri bilang kalau Karen aktif selama rapat berlangsung."
"Ya, jelas salah kalau mandangnya sambil senyam-senyum kayak orang lagi kasmaran gitu?" tandas Oma Belle. "Aduh ... aku kok punya firasat aneh gini. Jangan sampai dia naksir istri sepupunya. Harus segera diantisipasi!"
"Kayak gak kenal Chalvin aja! Dia kan emang suka lihat yang bening-bening. Mumpung cuma Karen yang bening di situ, kan? Mana mungkin dia betah lihat yang kisut," cetus kakek Aswono sambil memperbaiki posisi blangkon di kepalanya.
__ADS_1
"Nyindir kamu, Mas?" Oma belle merasa tersinggung dengan kalimat terakhir yang diucapkan kakek Aswono.
Kakek Aswono cepat-cepat meralat ucapannya. "Gak nyindir ... cuma omongin fakta."
"Fakta kalau saya sudah kisut, gitu?" Oma Belle mulai menampakkan wajah judesnya.
"Bukan! Fakta kalau Chalvin suka lihat yang bening-bening."
"Jadi kamu mau bilang saya sudah enggak bening lagi gitu?"
"Lah ... yang ngomong kan kamu sendiri. Saya gak pernah bilang gitu," tekan kakek Aswono dengan aksen Jawa yang cukup kental, "tenang aja ... kamu tetap bening di mataku," godanya setelah melihat raut merengut istrinya.
Oma Belle tersipu malu mendapat gombalan dari suaminya. "Ah ... yang bener!" ucapnya sambil duduk miring membelakangi suaminya."
"Iya ... masa saya bohong. Makanya kamu harus bersyukur punya suami yang penglihatannya mulai burem."
Wajah Oma Belle seakan hendak jatuh. "Jadi kamu lihat aku bening karena punya masalah dengan penglihatan, gitu?"
"Udah ... udah ... jangan dibikin ribet kayak undang-undang negara! Gak selesai-selesai nih kalau pembahasannya tentang yang bening-bening."
"Pokoknya aku harus cepat-cepat cari jodohnya Chalvin, biar dia juga gak main terus sama sembarang perempuan. Kalau gak salah Bu Marry punya satu anak gadis yang katanya belum pernah pacaran. Cocok kayaknya buat Chalvin." Oma Belle mengambil ponselnya lalu menelepon temannya.
"Ya, kalau kamu cariin dia perempuan yang masih gadis, kasihan, loh!" protes kakek Aswono.
"Kenapa kasihan? Kan dipilihkan yang terbaik untuk dia!"
"Bukan kasihan sama Chalvin-nya, tapi kasihan sama perempuannya, dijodohin sama Buaya!"
.
.
.
__ADS_1