DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 116 : Persiapan


__ADS_3

Beberapa hari berlalu, tapi Oma Belle masih sibuk menyusun strategi agar Chalvin mau tinggal bersama mereka. Sebab, berbeda dengan Darren dan Karen yang langsung mematuhi perintahnya, ia yakin Chalvin pasti akan menolak keras.


Chalvin baru saja memasuki ruangannya setelah memimpin rapat dengan divisi penjualan. Beberapa hari ini, ia merasa lega karena Oma Belle tak menghantuinya dengan obrolan soal perjodohan. Tentang pacar bohongan yang akan diperkenalkan pada Oma Belle pun telah ditemukan.


Baru saja bersandar di kursi empuk, sekretarisnya tiba-tiba masuk dan berjalan ala peragawati sambil memasang ekspresi nakal. Tak sungkan, ia langsung duduk di atas meja kerja yang berhadapan langsung dengan Chalvin.


"Belakangan ini kok kamu cuekin aku? Kamu jadi terlalu formal sama aku. Udah gitu kamu dah gak pernah mampir ke apartemenku." Sekretarisnya itu mendesahkan suara dengan manja sambil membungkuk dan memainkan jari-jarinya di dada Chalvin.


Chalvin mengambil tangan sekretaris itu dari dadanya lalu menepisnya dengan lembut. "Kamu tahu sendiri kan aku akhir-akhir ini sibuk. Udah gitu, Oma sekarang tiap hari berkunjung ke kantor. Kalo dia tahu kita punya hubungan lebih dari sekedar pekerjaan, dia bisa lempar kamu ke divisi lain, loh!" ucap Chalvin sambil memutar kursinya membelakangi wanita itu.


Sekretaris bernama Brella itu langsung melingkarkan tangannya di bahu Chalvin sambil berbisik. "Gimana kalo kamu bermalam di apartemenku besok malam? Kan besok malam Minggu, kamu pasti punya waktu."


Chalvin langsung teringat kalau dia akan mengajak Nadya membeli pakaian untuk persiapan bertemu dengan Oma Belle. "Sorry, Brella, aku udah punya janji dengan someone," tolaknya sambil membalikkan kursi untuk saling berhadapan.


Sekretarisnya langsung memasang wajah cemberut. "Janjian dengan pacar baru kamu, ya?"


Chalvin menggeleng. "Cuma kenalan doang."


Bertepatan dengan itu, pintunya mendadak terbuka dan Oma Belle tiba-tiba masuk. Chalvin yang kelabakan, langsung memegang betis sekretarisnya yang menggantung di meja kerjanya.


"Mana kaki kamu yang sakit?" tanya Chalvin sambil berlagak memijat kaki sekretarisnya.


Merasa heran dengan tingkah Chalvin, sekretarisnya pun berbalik. Matanya sontak melebar melihat Oma Belle berdiri. Ia langsung turun dari atas meja dan menunduk sopan sambil memperbaiki rok mininya.


"Chalvin! Sejak kapan kamu beralih profesi jadi tukang pijat?!" Oma Belle tak bisa menahan geram melihat tingkah Chalvin dan sekretaris itu.


"Anu, Oma. Tadi kakinya kesandung meja aku, terus terkilir," ucap Chalvin beralasan, "jangan lupa ke dokter, ya?" ucap Chalvin pada sekretarisnya sambil mengedipkan sebelah mata.


Tak mau mencari masalah, sekretarisnya itu juga segera pamit dan memutuskan keluar dari ruangan.


"Kalo ke dokter sebaiknya yang spesialis kulit. Kali aja itu bukan terkilir tapi kegatelan!" sambar Oma dengan wajah judes. "Kaki terkilir kok masih bisa jalan tegap dengan sepatu high heels," sindirnya lagi sambil melirik sekretaris Chalvin yang melintas di sampingnya.


"Oma kenapa tiba-tiba ke sini?" tanya Chalvin mencoba mengalihkan topik.


"Kamu itu calon wakil direktur. Harus jaga wibawa sama karyawan! Gimana dengan pacar yang kamu omongin tempo hari? Dia jadi ke rumah dan diajak ke pesta bareng, kan?"

__ADS_1


"Tenang aja, Oma. Dia dah siap kok dikenalin sama Oma. Katanya udah gak sabar juga!"


"Ingat, kalo dia gak sesuai dengan kriteria Oma, kamu harus tetap ikut perjodohan dari Oma!"


"Tenang aja, Oma. Yang ini pasti sesuai dengan selera Oma. Sopan, sederhana, lembut, dan anggunly. Beda dengan mantan-mantan aku sebelumnya."


"Gimana dengan latar belakang keluarganya?"


"Kan udah aku bilang kalo dia tuh masih ada keturunan keraton. Bibit bebet dan bobotnya jelas!"


"Kaya, enggak?" tanya Oma kembali.


Chalvin sontak menipiskan bibirnya. "Oma matre amat!"


"Justru ini cara Oma ingin lindungi kamu!.


"Ya, elah, Oma ... emangnya aku penghuni suaka margasatwa yang perlu dilindungi?"


"Jaman sekarang banyak perempuan matre yang pingin kaya instan dengan mencari pria mapan yang bisa memenuhi kebutuhan mereka. Jangan sampai dia dekati kamu cuma karena harta doang! Lagian menikah itu bukan hanya menyatukan dua insan dan dua keluarga, tapi juga menyatukan dua kekayaan." Oma Belle mulai mengeluarkan wejangan yang dibalut dengan jurus perhitungan.


"Oh, iya, pulang nanti langsung kemasin barang kamu, ya!"


"Kemas barang? Emang mau ke mana? Temani kakek perjalanan bisnis, ya?" tebak Chalvin yang tampak senang.


"Bukan. Tapi, mulai hari ini kamu harus pindah ke rumah Oma!"


"Apa?! Gak salah nih Oma?"


"Ya, gak salah! Yang salah kalo Oma suruh kamu tinggal di rumah pacar kamu."


Chalvin menepuk jidatnya. Tentu saja ia menolak habis-habisan perintah Oma Belle kali ini. Pasalnya, itu akan mengekang kebebasannya. Tinggal bersama Oma Belle, bagai hidup berdampingan dengan CCTV yang siap mengawasinya 24 jam!


...****************...


Masih berada di Kuala Lumpur, Karen dan Darren memanfaatkan waktu liburan mereka yang tersisa sehari itu untuk menikmati kuliner khas di central market. Di tempat itu, terdapat banyak makanan lokal dan barang-barang kesenian yang dijajakan. Mereka juga membelanjakan oleh-oleh untuk dibawa pulang nanti.

__ADS_1


"Aku mau coba yang itu!" Karen menunjuk salah satu jajanan yang banyak antriannya.


"Gak boleh! Kamu ingat kan apa kata dokter? Gak boleh sembarangan makan. Jajanan di luar itu belum tentu sehat."


"Terus, ngapain kita ke sini kalo gak icip-icip! Aku kan penasaran seperti apa rasanya kuliner yang ada di sini. Masa seminggu cuma makan makanan hotel dan catering sehat," ketus Karen memberengut.


"Ya ... kamu kan yang maksa pengen ke pusat kuliner sini. Kalo aku sih pengennya istirahat di hotel doang. Ya, udah, kalo kamu maksa. Aku pesan, ya! Tapi kamu gak usah makan, aku aja yang makan. Entar aku jelasin gimana rasanya."


"Hah? Gimana ceritanya?" Karen termegap-megap.


"Kan kamu cuma penasaran doang kan sama rasanya."


Darren memesan salah satu jajanan yang ada di sini untuk dirinya sendiri. Karen menelan ludah melihat suaminya mulai menyantap jajanan yang diinginkannya.


"Enak. Asin, gurih, tapi lumayan berminyak. Gak cocok buat kamu," jelas pria itu sambil mengunyah makanan yang baru dipesan.


Wajah Karen kusut bagaikan uang kertas yang lama tersimpan dalam saku. Tak lama kemudian, ponselnya berdering. Ia merogoh tasnya dan langsung menerima panggilan telepon yang ternyata berasal dari Nadya.


"Halo, Nad."


"Kar, gimana keadaan kamu sekarang? Operasinya lancar?"


"Aku dah baikan kok. Bukan operasi sih, cuma semacam terapi yang pakai high teknologi gitu."


"Senang banget dengarnya, Kar! Terus, kamu kapan pulang?"


"Besok pagi. Kamu masih di Jakarta, kan?" tanya Karen balik.


"Iya, masih." Nadya tertegun seketika. Sebab, ia juga akan bertemu dengan Oma Belle besok. Dan jujur, entah kenapa dia mulai merasa gugup.


"Apa aku perlu kasih tahu Karen soal Kak Chalvin yang ngajak aku jadi pacar bohongan?" pikirnya sesaat.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2