
Lebih baik menjauh daripada merasakan perih. Itulah cara Karen menggoreng ikan untuk pertama kalinya. Wanita hamil itu tengah berdiri dengan jarak satu meter dari kompor. Tangannya yang memegang spatula silikon, tak sampai menyentuh wajan sedang wajahnya terus berpaling dan enggan menghadap ke depan.
Entah jin mana yang merasukinya, hingga ia mendadak gemar belajar memasak. Walaupun belum ada satu pun makanan berhasil dibuatnya. Bersamaan dengan itu, Darren baru saja pulang dari kampus. Sebelum naik ke lantai atas, ia menoleh ke arah dapur di mana istrinya sedang sibuk di depan kompor sambil menjerit-jerit kecil karena terkena letupan minyak. Ia pun menggeleng-geleng kepala sembari menghampiri istrinya.
"Lagi sibuk apa, nih?"
Melihat kedatangan Darren, Karen pun merasa tertolong. "Sayang, ke sini dong! Tolong bantu balikin ikan!"
Darren menyembulkan tawa halus begitu melihat ikan yang digoreng Karen hancur tak keruan. "Kamu goreng ikan atau bikin abon, sih?"
Karen bersembunyi di punggung Darren sembari menyerahkan spatula masak yang dipegangnya. Bukannya mengambil spatula itu, Darren justru memegang tangan Karen dan menuntunnya untuk membalikkan ikan yang bentuknya sudah setengah hancur. Sebelah tangan Karen sengaja ia lingkarkan ke pinggangnya sendiri.
"Kalo kaya gini aman, kan?"
"Tapi tangan aku bisa kena percikan minyak."
"Makanya baliknya hati-hati. Lagian kok tumben banget masak sendiri!"
"Iya, anak kita kan perempuan, katanya kalo ibunya mager anaknya bakal jadi pemalas dan gak bisa ngapa-ngapain."
"Lagi ngomongin diri sendiri, ya?" celetuk Darren dengan tawa yang refleks keluar.
Karen memukul-mukul kesal lengan suaminya. Tanpa kedua orang itu sadari ada sepasang mata yang memantau kemesraan mereka. Orang itu adalah Silvia yang baru saja pulang dari kantor. Wajah wanita itu terlihat berbeda dari saat berangkat ke kantor. Makeup yang dipakainya telah luntur, rambutnya kusam berantakan, dan wajahnya pun tampak kelelahan.
"Eh, Silvia udah pulang kantor, ya?" Oma Belle datang mendekatinya. "Gimana hari pertama jadi sekretarisnya Chalvin? Baik-baik aja, kan?"
Silvia memasang senyum paksa sambil berkata, "Iya, Oma. Baik-baik aja kok."
"Sudah Oma duga. Kamu itu cocok jadi sekretaris Chalvin. Kamu memang serba bisa, ya! Chalvin aja sampai gak ada protes sama Oma! Itu pasti karena dia senang," ucap Oma dengan ekspresi riang.
Silvia kembali memberi tawa palsunya. Oma Belle tak tahu saja kalau Chalvin telah sukses membuatnya naik pitam di hari pertama kerja. Dimulai dari sengaja memintanya menggandakan ribuan berkas, menyuruhnya membeli makan siang dan membagikannya ke tiga divisi sekaligus hingga meninggalkannya saat hendak mengadakan pertemuan di hotel. Namun, mana mungkin ia berani bersungut-sungut pada Oma Belle? Pasalnya, Oma Belle sudah memberinya stempel sebagai calon istri yang penurut, sabar, dan ulet.
Di waktu yang sama dan di tempat berbeda, Nadya terperanjat ketika melihat orangtuanya tiba-tiba datang dan berdiri di hadapannya.
__ADS_1
"Abah? Mamah?" sebut Nadya dengan mata membulat.
"Kenapa kamu gak ngasih tahu Abah sama mamah kalo kamu lagi sakit? Untung uwa kamu kasih tahu tadi pagi. Abah sama mamah langsung datang ke sini!" gerutu mamah Nadya sambil masuk ke ruangan anaknya.
"Aku cuma sakit biasa kok, Mah. Gak usah repot-repot ke sini."
"Gimana kita gak ke sini, kalo kamu belum pernah pulang lagi. Libur semester pun kemarin lebih milih cari kerja sampingan! Mamah dan Abah kangen kamu, atuh!"
Nadya terdiam. Sebenarnya, alasan ia tak pulang ke rumah saat liburan semester, karena ia merasa malu dan bersalah pada orangtuanya atas kekhilafan yang pernah dilakukannya. Ya, hingga saat ini orangtuanya tak tahu menahu kalau dirinya pernah hamil dan keguguran.
"Sebenarnya aku mau pulang Minggu ini," ucapnya pelan.
Abah Nadya menatap sekeliling ruang anaknya. "Kamu tinggal sendiri di sini, kan?"
"Iya, Bah."
"Ingat, jangan pernah ijinin laki-laki masuk di kos-kosan kamu." Abah Nadya mencoba memperingati anaknya. Abah Nadya tipe ayah yang tak banyak bicara, tapi sangat memproteksi anaknya.
Nadya mengangguk kaku. Tentu saja peringatan abahnya telah dilanggar lebih dulu.
Nadya mulai berpikir, bagaimana reaksi orangtuanya jika tahu ia sedang berpacaran dengan Chalvin? Sejujurnya ia ingin mengatakan kalau ia sedang berpacaran dengan pria dewasa saat itu juga. Sayangnya, ia sendiri tak tahu apakah Chalvin serius menjalani hubungan ini ataukah hanya main-main seperti yang dikatakan ayahnya.
"Tapi, kan, ada dua temannya Nadya yang biasanya sering main ke sini, itu kayaknya gak neko-neko orangnya!" bela mamah Nadya, "pasti mereka berdua yang jagain kamu, kan?"
Mata mamah menoleh ke arah meja kecil di samping ranjang, di mana terdapat obat, minuman mineral hingga menu makan malam yang telah tersedia. Padahal semua itu disediakan oleh Chalvin.
"Oh, iya, ini mamah bawain makanan kesukaan kamu."
Berbeda dengan mamah yang melepas rindu dengan anaknya yang tengah sakit, abah justru sibuk mengecek pintu dan jendela ruangan anaknya. Khawatir jika standar keamanan kos-kosan putrinya itu tidak memadai. Ia menutup pintu dari luar, hanya untuk memastikan tak ada celah apa pun yang membuat pencuri masuk atau lelaki jahat yang akan mengintip anaknya. Ternyata terdapat celah yang cukup besar antara pintu dan pintu sehingga kurang aman baginya.
Di waktu yang sama, Chalvin datang menepati janjinya pagi tadi. Pria yang masih memakai setelan kantor tanpa jas itu, membawa beberapa stok makanan seperti roti, buah-buahan, suplemen, hingga minuman penambah ion. Melihat sosok bapak-bapak tengah berdiri di depan pintu kos Nadya yang tertutup, Chalvin pun buru-buru menghampirinya.
Sedang sibuk memerhatikan pintu kos-kosan putrinya, Abah Nadya lantas menoleh ke samping. Ia bingung karena mendadak ada pria yang berdiri di sampingnya. Sementara, Chalvin pun heran kenapa ada bapak-bapak tua yang berdiri di depan pintu kos-kosan Nadya. Ketika mata mereka saling bertemu, kedua pria itu sama-sama memasang wajah bengong.
__ADS_1
"Permisi, Pak, ada perlu apa, ya, di sini?"
Abah Nadya melihat Chalvin sambil mengerutkan kening. Bukankah seharusnya dia yang menanyakan itu pada Chalvin?
Chalvin memandang kopiah hitam yang terpasang di kepala Abah Nadya. Karena terus diam sambil menatapnya, Chalvin pun tersenyum lebar sambil berkata, "Mau minta sumbangan, ya?"
Ia merogoh saku bermaksud mengambil dompetnya. Namun, Abah Nadya buru-buru berkata dengan nada ketus, "Siapa yang mau minta sumbangan!"
"Loh, terus ngapain berdiri di depan kos-kosan orang?" Kali ini pandangan Chalvin terarah pada tangan Abah yang sedang memegang gagang pintu. Dengan mata melotot, ia berkata, "Jangan bilang ... bapak mau maling, ya?"
Di dalam sana, Nadya yang tengah mengobrol dengan mamah, lantas terkesiap begitu mendengar suara Chalvin. Ia pun buru-buru keluar. Begitu membuka pintu, matanya terbelalak melihat Chalvin memegang tangan abahnya seolah hendak membawanya ke suatu tempat.
"Bapak harus ikut saya ke ketua RT!"
"Kamu siapa narik-narik saya kayak gini?" Ayah Nadya mencoba bertahan saat Chalvin hendak menyeretnya.
"Kak Chalvin!" Suara Nadya menghentikan Chalvin. Ia pun berbalik sambil memandang kekasihnya itu.
"Lihat, nih, ada yang mau coba-coba masuk ke kos kamu. Pasti dia mikir gak ada siapa-siapa di dalam," ucap Chalvin.
Nadya mencoba bersuara, "Itu ...."
Chalvin langsung memotong, "Udah, tenang aja! Kamu masuk aja di dalam, bapak ini biar aku yang urus!"
Sangkaan Chalvin membuat Abah termegap-megap. Dengan raut setengah kesal, abah Nadya langsung bertanya pada anaknya. "Kamu kenal pria ini?"
"Jelas! Saya pacarnya!" sambar Chalvin sambil bersedekap.
"Oh, cuma pacarnya? Saya bapaknya!" tandas pria itu sambil berkacak pinggang.
"Ba–ba–bapaknya Nadya?" ulang Chalvin tergagap sambil menoleh ke arah Nadya, seolah meminta konfirmasi langsung atas pernyataan pria tua tersebut.
Sambil menggigit ujung bibir, Nadya mengangguk kecil. Seketika, mata Chalvin melotot seolah hendak meloncat keluar. Wajahnya mendadak tegang dengan rahang yang mengetat. Bagaimana tidak, ia malah memberi kesan buruk pada orangtua Nadya di perjumpaan pertama mereka.
__ADS_1
"Mampus gua!" gumam Chalvin dalam hati.