
Kata orang, obat patah hati paling mujarab adalah jatuh cinta lagi. Tak mudah memang melupakan rasa yang sudah berdiam lama di hati. Boleh jadi, patah hati yang dirasakan adalah jalan untuk menemukan tambatan hati yang baru. Sedang menuju kantor perusahaan, Chalvin malah tak sengaja melihat Nadya yang tengah mengangkat tempat duduk di teras coffee shop-nya.
Ya, memang lokasi perusahaan yang searah dengan universitas tempat Darren bekerja yang otomatis juga melewati kedai kopi itu. Terus melihat Nadya dari spion mobilnya, Chalvin pun memutuskan putar balik dan singgah ke coffee shop gadis itu.
Sementara, Nadya masih terlihat sibuk mengatur banner promosi untuk pembukaan kedai kopinya besok.
"Boleh pesan espresso satu, enggak?"
"Maaf, kami belum bu—" Kata yang diucapkan Nadya terpotong, tepat saat dirinya berbalik. "Kak Chalvin!"
"Boleh, kan, aku curi star duluan jadi langganan tempat ini?" ucap pria itu sambil menarik kursi dengan santai.
Nadya mengangguk kecil walaupun sedikit bingung. Ya, sepagi ini Chalvin sudah datang ke tempatnya dan memesan kopi. Untuk orang dengan jabatan penting di perusahaan, seharusnya pria itu tak punya waktu luang, bukan?
Benar saja, hanya berselang semenit sejak duduk di tempat itu, panggilan telepon terus berdatangan. Entah apa yang membuat pria itu enggan menjawab dan memilih mengabaikan. Tak butuh waktu lama, minuman panas yang dihasilkan dari biji kopi Robusta itu telah disajikan di hadapannya.
"Thanks, ya."
"Oh, iya, gimana kabarnya Oma?" tanya Nadya.
"Ya, seperti biasa. Tiap hari dia sibuk kek panitia acara." Chalvin terkekeh.
"Tapi Oma sehat, kan?"
"Sehat kok. Aku yakin dia bakal lebih sehat untuk ke depannya. Soalnya dia lagi bahagia banget, tuh!"
"Oh, ya? Kenapa kalau boleh tahu?"
Chalvin terdiam seketika. Wajah murungnya terlintas. "Nanti kamu juga bakalan tahu," ucapnya dengan senyum yang terulas ringan.
"Kak Chalvin baik-baik aja, kan?" Nadya bertanya setelah menyadari ekspresi hampa pria itu.
Mendapat tatapan perhatian dari Nadya membuat Chalvin mendadak salah tingkah. Ia menyilangkan kakinya seraya menggulung lengan kamejanya.
"Of course!" tampiknya berusaha menyembunyikan kegalauan.
Nadya pun beranjak sambil membawa nampan. Baru selangkah, tangannya langsung dicegat Chalvin.
"Bisa temani aku duduk di sini?" pinta Chalvin sambil terus memegang pergelangan tangan Nadya.
Nadya mengangguk kecil dan memutuskan duduk di samping Chalvin.
***
__ADS_1
Di kampus, Feril kembali menghadap Darren untuk meminta kepastian tentang pergantian dosen PA.
"Gimana, Prof, mau jadi dosen PA saya, kan?" tanya Feril tanpa basa-basi.
Darren menghentikan aktivitasnya sejenak hanya untuk menatap Feril lamat-lamat. "Saya gak terima anak didik yang gak punya niat belajar sungguh-sungguh."
"Saya beneran sungguh-sungguh kali ini, Prof. Makanya saya pilih profesor biar bisa bimbing saya nanti."
"Terus, apa target kamu ke depan?"
"Maksud, Bapak?" Feril malah menggaruk-garuk kepala.
"Kamu mau bergelut di bidang apa setelah selesai kuliah?
"Saya cinta damai, Prof. Gak suka gelut!" ucapnya dengan lantang.
Darren menghela napas sesaat. "Setiap orang pasti punya planning untuk masa depan, kan? Planning kamu setelah lulus dari sini mau ngapain? Kamu pengen jadi apa? Ingin kerja di mana? Kalau mau buka usaha, usaha seperti apa? Setidaknya itu bisa bikin kamu termotivasi untuk menyelesaikan kuliah."
"Belum kepikiran sih, Prof. Yang pasti saya gak mau jadi PNS, Prof!"
"Loh, kenapa gak mau jadi PNS? Kan bagus mengabdi pada negara dan masyarakat."
"Bukan PNS yang itu, Pak. PNS yang dimaksud saya itu Pengangguran Non Stop. Saya udah gak mau kek gitu lagi."
"Loh, kok disuruh datang besok lagi?"
"Kamu mau kepastian, kan?"
Feril mengangguk cepat.
"Besok kepastiannya."
Feril keluar dari ruang dosen dengan membawa wajah kusutnya. Kawan-kawannya yang setia menunggu di depan pintu ruangan, sontak langsung mengerumuninya.
"Gimana? Pak Darren mau jadi dosen PA, lu?"
"Boro-boro! Gua malah disuruh datang lagi besok!" gerutu Feril kesel.
"Nah, gini, nih! Yang gua gak demen sama para dosen. Jual mahal karena merasa dibutuhkan!" cetus Jamet yang ikut kesal.
"Keknya ini penolakan secara halus, deh! Lu cuma disuruh datang besok-besok mulu, kan, tanpa kepastian. Itu tandanya dia gak niat, terima elu, Bro!" ujar salah satu kawan mereka.
"Betul juga, tuh!" Yang lain ikut membenarkan.
__ADS_1
"Tahu, ah! Bikin stress aja! Kalian yang rekomendasiin pak Darren sebagai dosen PA terbaik yang gak pilih kasih, mana buktinya?Kalo besok masih diundur terus, gua nyerah aja. Belum apa-apa aja dah diribetin gini. Gimana kalo dah skripsi nanti. Lama-lama bisa positif gila gua.
"Baguslah! Setidaknya masih ada hal positif dari lo, Cuy!" timpal si Gimbal.
"Omongan lo patut diacungi golok! Bikin naik darah mulu!" sergah Feril dengan wajah menahan geram.
Di dalam ruangan, Darren tengah sibuk melakukan penelusuran internet terkait seputar kehamilan. Sejak mengetahui kehamilan istrinya, pria itu mendadak aktif berselancar dan mengikuti sejumlah forum parenting dan aplikasi konsultasi dokter secara online. Ia bahkan telah mencari referensi nama-nama anak seakan tak sabar menantikan kehadiran anaknya ke dunia.
"Lagi ngapain, sih? Kok serius banget!" tegur Marsha tiba-tiba.
"Gak, gak ngapa-ngapain kok."
"Hari ini kamu beda banget." Marsha memerhatikan wajah Darren secara saksama.
Pak Budi Luhur tiba-tiba datang dan menyapa semua dosen yang hadir di ruangan itu.
"Bapak-bapak, Ibu-ibu, bagaimana ... sudah siap menghadapi tahun ajaran baru?" tanyanya pada para dosen.
Ia menghimbau dosen-dosen di fakultasnya untuk lebih berkomitmen dalam memberikan pengajaran yang terbaik pada mahasiswa.
"Saya perhatikan di antara semua dosen yang hadir, Pak Darren yang paling semangat hari ini. Lihat tuh, wajahnya berseri-seri gitu. Udah gitu, dari tadi senyam-senyum melulu," goda pak Budi Luhur dengan mata yang mengarah pada Darren.
"Paling juga habis dapat jatah pagi dari istri," celetuk salah satu dosen dengan nada bercanda.
"Loh, kan, istrinya Pak Darren masih mahasiswi kita juga, Pak!" sahut lainnya.
"Oh, iya, saya hampir lupa kalo pak Darren udah nikah. Gimana kabar istrinya, sehat, kan? Waktu itu sempat sakit, kan, sampai Pak Darren minta cuti."
"Iya, Pak. Syukur udah sembuh total. Malahan sekarang lagi hamil."
Di waktu yang sama, Marsha yang duduk bersebelahan dengan meja kerja Darren, tak sengaja malah menangkap hasil selancar Darren di internet. Dari meja kerjanya ia bisa melihat pria itu tengah membuka situs rekomendasi nama-nama anak. Sontak, matanya pun melebar diikuti wajah yang terperanjat. Ia seakan menemukan jawaban atas rona bahagia yang terpancar dari wajah pria itu.
Marsha keluar dari ruang dosen usai pak Budi luhur selesai memberi himbauan. Di waktu yang sama, ia melihat Karen tengah berdiri di papan pengumuman bersama dengan para mahasiswa lainnya. Ia lantas mendekat dan mencoba menyapa istri dari mantan kekasihnya itu.
"Karen, kamu masih kuliah juga? Kirain ambil cuti. Lagi hamil, kan?" ucapnya dengan mata yang tertuju pada perut Karen.
Kalimat yang baru saja dilontarkan Marsha lantas mengejutkan para mahasiswa yang ada di sana. Semua mata spontan mengarah pada Karen.
.
.
.
__ADS_1