
Di saat para mahasiswa tengah tercengang atas kabar Darren yang telah menikah, Karen malah memilih menyendiri di perpustakaan kampus. Perempuan itu duduk di tempat favoritnya, sambil sibuk memainkan jempol tangan di layar gawai. Ternyata, sedari tadi ia sibuk berperang argumen dengan para netizen yang menghujat kampusnya karena foto yang beredar.
Sebagai orang yang sangat aktif bermedia sosial, ia berusaha meredam komentar netizen yang terus merundung. Dengan menggunakan akun palsu, ia melibas setiap netizen yang berkomentar buruk.
"Pakai akun yang mana lagi, ya? Untung aja aku punya banyak akun. Jadi saat-saat seperti ini sangat berguna."
Baru saja hendak mengganti akun lain, seorang netizen menyebut nama pengguna akun yang dipakainya dan membalas komentarnya. Karen pun langsung membaca balas komentar tersebut.
Netizen 1: "Lo siapa? Dari tadi ngotot banget balas komen satu per satu yang hujat tuh dosen.
Netizen 2: Biasa ... akun fake mah bebas. Paling juga ini buzzer bayaran kampus.
Netizen 3: Jangan-jangan Lo keluarganya dosen mesum itu, ya? Bilangin sama tuh dosen mati aja sana! Kaplingan neraka dah nunggu.
Netizen 4: Dasar go blok! Yang lo belain tuh berbuat asusila di kampus. Jangan belain orang salah!
Membaca komentar-komentar kejam netizen yang menyerangnya, membuat mental Karen jatuh seketika. Padahal, ia hanya ingin membela suaminya.
"Gimana caranya biar aku bisa bantuin Darren? Aku gak mau dia kena masalah," gumamnya dengan wajah yang seakan tak bernyawa.
Sejujurnya, ia ingin sekali menemui Darren di gedung rektorat. Ia ingin mendampingi suaminya yang tengah dipanggil petinggi universitas. Ia juga ingin menjelaskan ke orang-orang tentang kejadian sebenarnya di foto tersebut. Namun, ia takut apa yang dilakukannya akan membuat keadaan semakin runyam. Ucapan Marsha beberapa saat lalu membuatnya mempertimbangkan segala tindakan. Akhirnya, ia pun memilih diam di sini dari pada berbuat sesuatu yang semakin menambah masalah suaminya.
Karen menatap jam digital di ponselnya, sambil menghela napas berat. "Darren masih di sana enggak, ya?" gumamnya kembali dengan guratan wajah yang muram.
"Aku di sini!"
Suara familiar seorang lelaki masuk dengan sopan di telinga Karen. Perempuan itu membulatkan mata seketika dan langsung berdiri. Ia semakin terkejut mendapati Darren duduk tenang sambil membaca buku di bangku andalannya.
__ADS_1
"Ren, kok kamu tahu aku ada di sini?" tanya Karen yang langsung berpindah tempat ke samping tempat duduk Darren.
Menatap Karen dengan pandangan yang lembut, ia pun menjawab, "Insting cintaku yang menuntunku ke sini."
"Terus, gimana tentang kasus foto itu? Kamu enggak ngaku kalau itu kita berdua, kan? Kamu gak dapat sanksi, kan? Kamu ...."
Darren meletakkan tangannya di atas punggung tangan Karen, lalu menggenggamnya dengan hangat. "Semua baik-baik aja."
Sepasang alis Karen menurun ke bawah. "Ta–tapi katanya tadi kamu dipanggil Rektor."
"Iya. Aku emang dipanggil Rektor."
"Terus gimana? Duh ... rektor pasti marah besar ma kamu!" Karen semakin gusar.
Darren menggeleng pelan. "Semua baik-baik aja," ucapnya mengulang kalimat yang sama.
"Jangan khawatir! Ini gak seburuk dugaanmu. Semua akan baik-baik saja!" Suara tenang Darren kembali menyapa pendengaran Karen.
...****************...
Tak butuh menyeberang hari, pihak universitas langsung merilis pernyataan di akun resmi terkait unggahan foto viral yang menuduh dosen mereka melakukan perbuatan mesum di lingkungan kampus. Dalam unggahan tersebut, mereka mengklarifikasi bahwa berita itu tidaklah benar. Mereka juga memberi somasi 2X24 jam pada si penyebar foto. Jika dalam kurun batas waktu yang ditentukan si penyebar tidak bisa memberi bukti lebih atau melakukan klarifikasi permintaan maaf, maka pihak universitas akan mengusut identitas si penyebar dan melaporkannya ke polisi.
Membaca postingan tersebut, Feril lantas bergumam kesal, "Hoki bener nih orang! Udah berbuat mesum, malah dilindungi pihak kampus!"
"Kan gua dah bilang, Ngab. Mesum itu cuma diperuntukkan buat kaum dekil kek kita-kita. Kalau buat orang-orang good looking kata mesum diubah jadi suka sama suka. Ngenes, enggak, sih? Bahasa aja suka pilih kasih," timpal temannya.
"Yah, tapi kan belum tentu juga pak Darren dosen yang dimaksud. Apalagi katanya doi ternyata dah nikah," ucap salah satu dari mereka.
__ADS_1
"Hah? Nikah?!" Feril dan kawan-kawannya serempak terkejut.
"Iya, gua tadi denger langsung dari obrolannya para wakil rektor."
"Ah, paling juga cuma modus buat nutupin nih kasus," cela Feril tak percaya.
"Eh, Cuy, di dalam ruang rapat tuh terdiri dari kumpulan para doktor dan profesor, ya kali mereka gampang dikibulin!" ketus temannya yang bertampang Jamet.
"Terus, kenapa tuh dosen gak ngaku dari awal kalau dah nikah? Mana sejak dia ada di sini, cewek-cewek pandangan teralihkan sama dia lagi! Ini pasti pengalihan isu dari foto itu!" Feril masih saja menyangsikan berita yang mengatakan Darren telah menikah.
"Mungkin dia inspektur kali!" Si gimbal ikut menimpali.
"Hah? Inspektur?" Mereka semua menatap gimbal dengan wajah bingung bercampur keheranan.
"Iya, itu bahasa gaulnya orang yang gak percaya diri," jelasnya kembali.
"Itu mah insecure, Dodol! Gak sekalian lu bilang insinyur!" geram kawan-kawannya.
Rilisan pernyataan resmi dari universitas dengan cepat menjadi bahan berita dan dibagikan kembali oleh akun-akun pencari rupiah lewat bahan gunjingan. Masih banyak netizen yang mendukung si penyebar untuk membongkar kedok dosen mesum itu. Sebagian netizen lagi malah menuntut si penyebar agar membuktikan tuduhannya. Postingan dari akun resmi universitas serta pro-kontra yang terjadi rupanya telah dibaca oleh mahasiswi berkacamata itu. Ia tak menyangka postingan unggahan fitnah itu menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.
Tak tinggal diam, ia bergegas mencari keberadaan Darren.
.
.
.
__ADS_1