DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 131 : Percintaan Panas


__ADS_3

...WARNING! ADEGAN 🍍🍍🍍...


...YANG TIDAK SUKA SILAKAN SKIP!...


Menurut motivator yang tak bisa memotivasi dirinya, kesalahan pasangan tidak akan terlihat jika kita selalu menutup mata. Tidak perlu terus mengungkit masalah lama, karena masih ada masalah baru yang perlu diungkit.


Setelah kesalahpahaman telah teratasi tanpa lika-liku ala telenovela, Karen dan Darren pun kembali bermesraan. Mereka sangat tahu menggunakan fungsi ranjang dengan baik selain untuk tidur. Ya, bagi pasangan suami istri, ranjang adalah tempat terhangat dan ternyaman di muka bumi. Seakan setiap masalah dapat terselesaikan dengan mudah di tempat ini.


Sedang bergelut dalam selimut sambil saling menggelitik, tiba-tiba Darren berbisik mesra di telinga Karen. "Sayang, bukannya kita dah terlalu lama nunda kikuk-kikuknya?"


"Gak ada kikuk-kikuk, salah sendiri semalam pulang telat. Mana aku dah bersiap-siap, begadang nungguin, eh pas bangun tahu-tahu kamu udah pulang tanpa ngapa-ngapain," gerutu Karen dengan wajah memberengut. Ya, soal kebutuhan biologis, mereka memang sangat terbuka.


"Aku gak tega bangunin kamu. Makanya gantinya malam ini aja, ya?"


Karen terdiam dan mengatup rapat bibirnya. Ia malah menyingkap selimut yang menutupi mereka, kemudian berbalik tengkurap sambil menenggelamkan wajahnya di atas bantal saat Darren hendak mendekat. Sedetik kemudian, ia terhenyak saat lelaki yang menikahinya itu menindihnya. Menyibakkan rambutnya yang menutupi leher, lalu membuat kecupan ringan berulang kali.


Karen tak bisa menahan geli saat bibir Darren bergesekkan dengan daun telinganya. Bahkan sengaja meniupkan uap panas yang membuatnya semakin meremang. Tangan pria itu juga melorotkan tali piyama hingga punggungnya yang mulus langsung terekspos.


Karen dapat merasakan napas Darren berhembus hangat di leher jenjangnya. Lidah pria itu bahkan mulai menari lincah dan turun mencecapi bahunya yang mulus. Lidah panas pria itu mulai merayap di punggungnya. Menyusuri dengan sangat pelan. Meliuk-liuk bagai kuas. Seolah kulitnya adalah sebuah kanvas bersih. Bibir dan gigi pria itu tampak bekerja sama melepas pengait bra yang masih membungkus dada Karen. Tak butuh kerja keras, ia berhasil menyingkap penutup dua bukit yang menjadi tujuan wisata matanya malam ini.

__ADS_1


Darren memutar tubuh Karen dengan lembut hingga posisi mereka saling berhadapan. Senyumnya mengembang melihat wajah ayu istrinya yang bersemu kemerahan. Seolah tak mau melewatkan sedetik waktu, Darren langsung menerjang bibir Karen dan melahapnya dengan gerakan lembut.


Karen menyambut ciuman Darren dengan membuka sedikit bibirnya. Memberi akses lidah pria itu untuk masuk menjelajahi mulutnya. Mereka saling memagut, menyesap, dan mencicipi satu sama lain. Ciuman itu diakhiri dengan gigitan sensual Darren yang membuat bibir bawah Karen tertarik sedikit.


Tangan Darren tidak menganggur begitu saja. Bahkan sejak tadi bergerak aktif di dada Karen. Puas bermain di dada, jemari dan lidahnya turun menjejaki setiap inci kulit Karen. Terus bergerak ke bawah, mencoba menelusuri kelembutan yang tersembunyi di balik segitiga mini.


Karen meracau tak jelas. Hasratnya semakin tak terbendung. Ia tak bisa menguasai setiap lenguhan yang keluar bebas dari mulutnya meski sadar itu terdengar terlalu erotiss.


Karen memejamkan mata. Merasakan seluruh sensasi kenikmatan yang mengalir di dalam dirinya. Napasnya seakan tertelan. Tubuhnya terasa lumpuh. Sesuatu dalam menuntut untuk segera dibebaskan, tapi Darren malah berhenti saat gelombang gairahnya telah siap membuncah.


Karen menatap Darren seolah hendak melayangkan protes. Tatapannya malah dibalas senyum ringan yang terbit di sudut bibir pria itu.


"Sstt ... tahan suaramu. Rumah oma gak kedap suara," ucap pria itu sambil meletakkan jari telunjuk di bibirnya.


Karen menggigit bibirnya saat tubuh suaminya mulai memohon masuk untuk menjadi satu dengannya. Pria itu bersikap hati-hati saat hendak membuat penyatuan. Walau bagaimanapun kekhawatiran masih melingkupinya. Sebab, ini pertama kali mereka melakukan aktivitas ranjang setelah Karen selesai melewati prosedur pengobatan.


Karen mulai menikmati setiap gerakan tubuh Darren di tubuhnya dengan mata terpejam. Ia berusaha menyesuaikan ritme yang dimainkan suaminya.


"Sayang, open your eyes!" Suara lembut Darren mengalir di pendengarannya.

__ADS_1


Kelopak mata Karen mengerjap perlahan. Pandangannya langsung menangkap wajah tampan Darren. Ia bisa melihat kilatan napsu yang berkobar di iris hitam suaminya itu. Tangannya menggapai wajah Darren yang bermandi peluh. Jari-jarinya mulai menjelajah. Menyentuh sepasang alis suaminya yang terbetuk rapi. Membelai bulu mata yang terpejam, seolah sedang menghitung setiap helaiannya, meluncurkan jari lentiknya di hidung Darren yang seperti perosotan.


Darren menangkap pergelangan tangan Karen saat mencoba menyentuh bibirnya. Ia meletakkan punggung tangan istrinya di bibirnya. Sekadar mengecup ringan. Namun, dilakukannya berulang-ulang.


Senyum merekah terulas di bibir tipis Karen. Saat awal menikah dengan pria itu, ia pernah bertekad ingin menjadi seperti yang suaminya inginkan. Dia ingin memenuhi seluruh apa yang Darren inginkan darinya. Sesederhana harapan banyak wanita yang ingin selalu menyenangkan hati pasangannya. Seiring berjalannya waktu, ia menyadari bahwa dicintai karena menjadi diri sendiri itu lebih membahagiakan.


Darren mulai mempercepat tempo gerakannya. Kali ini lebih dalam, sedikit kasar dan liar. Napas mereka yang saling bertabrakan, memacu hasrat kian bergelora. Punggung Karen bergetar dan membungkuk seperti busur. Rambutnya yang panjang berayun-ayun mengikuti gerakan tubuh mereka. Tangannya mencengkram erat pundak suaminya.


Karen semakin sulit mengontrol diri. Darren benar-benar gila! Lebih tepatnya, Darren telah membuatnya gila. Kesadarannya telah rontok. Ia tenggelam semakin dalam pada kenikmatan. Bahkan tak peduli lagi dengan suara erangann yang memenuhi seluruh kamar mereka. Ia terombang-ambing oleh sensasi yang kian meruncing. Hingga akhirnya semua meledak dari dalam dirinya dan membuat tubuhnya ambruk ke pelukan Darren. Beberapa menit kemudian, Darren menyusulnya dan melepaskan dirinya dari dalam tubuh Karen.


Sungguh sangat melelahkan. Ada banyak drama yang membuat hari ini terlihat lebih panjang dari hari biasanya. Namun, semua telah lenyap ditutupi dengan percintaan manis mereka malam ini.


Sialnya, percintaan panas itu telah menimbulkan efek samping bagi penghuni kamar sebelah. Ya, lenguhan dan peraduan napas yang mereka hasilkan rupanya sayup-sayup terdengar oleh Chalvin.


Chalvin membeku tanpa ekspresi. Ia mencoba berbaring dan menyelimuti seluruh tubuhnya hingga ke ujung kepala. Tak cukup semenit, ia kembali menyibakkan selimut. Tubuhnya berbalik ke kiri dan kanan. Kepalanya dimasukkan ke dalam bantal. Ia sungguh tak menyukai suasana ini! Di mana hatinya jadi gusar tak keruan. Ia merasakan sesuatu dalam dirinya seperti terbakar. Keadaan ini semakin benci karena ia tak tahu penyebabnya.


.


.

__ADS_1


.


...UDAH GUA PANGKAS SEKITAR LIMA PARAGRAF, YAK! ...


__ADS_2