
Chalvin turun ke lantai bawah setelah mengumpulkan barang-barang yang tertinggal di kamar sebelumnya. Saat menuruni anak tangga, dahinya mengernyit begitu melihat tak ada Nadya dalam perbincangan di ruang keluarga.
"Nadya mana, ya?" tanyanya.
"Tadi diajak Oma ke sebelah!" Silvia menunjuk arah perginya Oma dan Nadya.
Chalvin lantas segera menuju pekarangan samping sesuai yang diinfokan Silvia. Baru beberapa langkah menuju jalan setapak, ia terhenyak ketika Silvia tiba-tiba saja berada di samping dan langsung merangkul tangannya.
"Ngapain sih lu ngikutin gua?" omel Chalvin seraya melepas tangan Silvia dari pergelangan tangannya.
"Aku pengen jalan-jalan keliling rumah sekalian mengenang masa kecil. Udah kangen banget sama rumah ini!"
"Ya, udah, jalan sendiri sana!"
"Kalo aku tersesat gimana? Halaman rumah Oma, kan, luas banget! Mana aku udah rada-rada lupa!"
"Elu punya suara, kan? Kalo tersesat atau lupa arah tinggal teriak aja. Seisi rumah bakal datang!" Setelah berkata, Chalvin langsung meninggalkan Silvia.
Di sisi lain, Oma Belle datang dari arah berlawanan dan melihat Chalvin yang baru saja meninggalkan Silvia.
"Nak, Silvia, kok ada di sini?" tanya Oma.
"Itu Oma ... tadi mau ngikut Chalvin sekalian pengen jalan-jalan sekitar halaman samping, tapi malah dijudesin sama dia. Emang gak berubah, ya, tuh orang!" keluh Silvia.
"Tunggu sini! Biar tak panggilin!"
"Ett, Oma gak usah! Lagian dia mau nyariin pacarnya juga. Aku juga gak mau ganggu! Oh, iya, Oma bukannya tadi sama pacarnya, ya?"
Oma Belle lantas menipiskan bibir seraya mendengus. "Itu bukan pacarnya. Cuma akal-akalan dia doang biar gak kelihatan jomlo di usia matang."
"Masa, sih, Oma?" Mata Silvia membulat tak percaya.
"Iya! Chalvin itu gak pernah benar-benar pacaran! Dia bawa cewek ke rumah kalo cuma ada wacana perjodohan!" Tak ada argumen bantahan apa pun dari Nadya saat berbicara empat mata tadi, membuat Oma Belle benar-benar berpikir Chalvin masih mengelabuinya untuk menghindari perjodohan.
"Oma udah hafal banget, ya, triknya!"
"Jelas! Oma itu gak bisa ditipu! Kalian berdua itu serasi banget, loh! Kenapa gak coba deketin dia!" Oma Belle mulai bekerja sebagai nek Jomblang.
"Chalvin itu orangnya terlalu blak-blakan, Oma. Takutnya ... dia terang-terangan bilang gak suka sama aku."
"Makanya kamu harus belajar ngambil hatinya! Oh, iya, kamu mau menetap di Jakarta, kan? Gimana kalo tinggal di sini aja dulu untuk sementara."
"Emang boleh, Oma?"
"Boleh dong! Kamu belum ketemu sama Darren juga, kan? Istrinya cantik dan masih muda, loh!"
Sementara itu, Nadya masih berada dalam rumah kaca, tempat koleksi aneka tanaman hias. Ia berdiri diam mematung dengan pandangan kosong ke satu objek. Otaknya memutar kembali semua perkataan Oma Belle beberapa menit lalu. Benarkah seperti itu? Benarkah tujuan Chalvin membawanya ke sini untuk menggagalkan wacana perjodohan? Apa itu berarti segala ucapan manis yang dikatakan Chalvin semalam hanya agar dia kembali membantunya?
Sungguh bodoh! Harusnya ia sadar kalau pria itu hanya datang padanya karena butuh bantuan. Bahkan Oma Belle lebih bisa membaca trik yang dilakukan Chalvin.
Pintu berderit pelan tapi tak disadari oleh Nadya yang semakin larut dalam pikirannya sendiri. Chalvin memasuki ruangan dengan berjalan lambat-lambat, sengaja tak bersuara hanya untuk mengejutkan gadis yang baru dipacarinya itu.
Nadya tersentak kaget saat Chalvin memegang pundaknya dari arah belakang.
"Ngapain kamu di sini? Banyak nyamuk tahu!" Chalvin langsung merangkul Nadya dan membawanya keluar.
Chalvin dan Nadya kembali memasuki ruang keluarga. Mereka berdua kemudian pamit pergi lebih dulu.
__ADS_1
"Oma, Kakek, Om, Tante, kita pulang duluan, ya? Biasa ... mau malam mingguan!" kata Chalvin dengan santai.
Telah berada dalam mobil, Chalvin memandang Nadya yang sedari tadi bergeming dengan wajah tenggelam.
"Kita mau nge-date di mana, nih? Ada rekomendasi tempat yang asyik, gak? Aku terserah kamu aja!" tanya Chalvin sambil menyetir.
"Aku mau pulang aja!" pinta Nadya.
"Loh, kok?" Chalvin menatap bingung ke arahnya, "Ini baru jam sembilan loh!" Ia menunjuk arloji di pergelangan tangannya.
"Tapi aku mau pulang!" Nadya bersikukuh.
Menganggap Nadya mungkin kelelahan, Chalvin pun memutar balik mobil menuju ke arah tempat tinggalnya. Sesekali, pria itu melirik kekasihnya yang terus membisu, seolah keheningan adalah sahabat baiknya saat ini.
"Kamu kenapa? Capek?" tanya Chalvin dengan sebelah tangan yang membelai rambut Nadya.
Nadya melengos. Memilih memandang jalanan lewat jendela mobil. Air mukanya saat ini cukup menjelaskan kegundahan dan kekecewaan yang tak bisa disampaikan oleh mulut. Sayangnya, Chalvin tak dapat membaca suasana hatinya. Salah satu hal yang membuatnya selama ini enggan berkomitmen dan lebih suka menjalani hubungan tanpa status, karena ia enggan menebak-nebak sikap wanita yang penuh misteri seperti saat ini.
"Kamu kenapa, sih? Kok diam mulu dari tadi? Kalo ada yang gak disuka ngomong, dong!" tanya Chalvin.
Nadya masih tak berkata apa pun. Bahkan untuk sekadar menoleh ke arahnya.
"Aku cuma pengen ngasih tahu ke kamu. Cewek yang moody-an¹, needy², clingy³ and full demand⁴ rata-rata gak bakal betah jalani hubungan ma aku. Soalnya aku tuh gak bisa kasih full waktu ke pasangan. Ada kalanya aku butuh space sendiri, entah itu untuk pekerjaan, aktivitas lain atau waktu istirahat aku. Bukannya aku minta dingertiin, aku cuma gak yakin cewek dengan sifat kayak gitu bisa tahan sama aku. Dan rata-rata mereka emang gak tahan. So, kalo kamu pengen hubungan kita awet, sebisa mungkin hindari sifat-sifat itu. Begitu juga aku, aku bakal hindari sifat dan sikap yang gak kamu suka," tutur Chalvin secara terbuka dan terang-terangan.
"Emangnya kita benar-benar menjalin hubungan, ya?" Kalimat dingin nan datar keluar dari mulut Nadya.
"Maksud kamu apa?" tanya Chalvin sesaat, kemudian tersenyum, "kamu cemburu, ya, aku dekat sama Silvia?" terka pria itu, "atau ... ada sesuatu yang Oma omongin sama kamu?" Chalvin memicing curiga.
Di saat bersamaan, mobil berhenti tepat di depan gang kos-kosan. Nadya langsung membuka sabuk pengaman tanpa berkata apa pun. Namun, saat hendak membuka mobil, Chalvin malah menahan pergelangan tangannya.
"Gak ada yang salah kok. Aku aja yang terlalu kepedean nganggap Kak Chalvin beneran serius mau jalani hubungan ma aku." Suara Nadya bergelombang menahan pahit.
"Jadi kamu anggap aku gak serius sama kamu?"
"Maaf Kak Chalvin, tapi aku gak mau lanjutin hubungan ini. Jadi, mulai sekarang lebih baik kita gak usah saling mengusik lagi!" Nadya melepas tangan Chalvin lalu bergegas keluar dari mobil.
"Nad ... Nadya!" Chalvin menyusul Nadya yang keluar terburu-buru. Pria itu menarik lengan Nadya dengan cepat lalu membawanya dalam pelukan.
Nadya berusaha melepaskan pelukan Chalvin. Namun, itu sulit karena semakin ia berontak, semakin kuat pula dekapan tangan pria itu di tubuhnya.
"Kak Chalvin lepasin! Ini di jalanan kompleks Entar orang-orang pada lihat." Suara panik Nadya terdengar. Matanya bahkan bergerak khawatir mengamati sekeliling tempat.
"Enggak! Sebelum kamu jelasin ke aku kenapa kamu gak mau lanjutin hubungan ini!"
"Karena ... pada dasarnya Kak Chalvin manfaatin perasaan aku. Kak Chalvin cuma gunain aku jadi pacar Kakak supaya Oma Belle berhenti ngejodohin Kakak," ucap Nadya dengan suara serak.
"Apa kamu mandang aku selicik itu?" Chalvin menangkup wajah Nadya seraya menancapkan pandangan pada netra legamnya.
"Hanya Kakak sendiri yang tahu jawaban sebenarnya!"
"Jadi kamu meragukan aku?"
"Siapapun yang ada di posisi aku saat ini pasti akan seperti itu!"
"Oke, gimana caranya supaya kamu yakin kalo kali ini aku emang benar-benar serius sama kamu?"
"Serius? Bukannya gak ada kamus serius dalam percintaan Kak Chalvin? Bahkan meski aku tahu seperti itu, aku tetap senang ketika Kakak ngajak aku berpacaran. Bahkan meski aku tahu konsep relationship bagi Kakak itu hanya sebatas pengisi waktu, aku tetap mau coba jalanin. Sesuka itu aku sama kamu, Kak." Suara Nadya nyaris hilang di penghujung kalimat. Ia menarik napas dalam-dalam lalu berkata, "Stop bodohi aku! Aku gak mau termakan kata-kata manis Kakak lagi!"
__ADS_1
Perkataan Nadya sedikit benar, karena hingga kini Chalvin pun belum memiliki rencana untuk menikah. Memiliki hubungan yang pasti adalah kemajuan terbesarnya saat ini. Mengingat sebelum-sebelumnya ia hanya bergonta-ganti pasangan tanpa ada status yang jelas.
Setelah berkata, Nadya melepaskan tangan Chalvin lalu berlari masuk ke gang kecil yang menjadi akses masuk kos-kosannya. Chalvin yang tak sempat menahan Nadya lagi, kali ini hanya bisa mendengkus seraya mengusap wajahnya dengan kasar.
"Baru juga belajar setia, udah gini aja ujiannya!" gumam Chalvin dengan raut masam.
***
Tak terasa, pagi datang setelah malam telah membungkus dengan sendirinya. Karen dan Darren kembali ke kediaman Bratajaya setelah sebelumnya bermalam di rumah mami Vallen.
"Oma, ini ada titipan dari nenek aku. Katanya salam buat Oma!" Karen memberikan paper bag berisi kue kesukaan Oma Belle.
Oma Belle menerima pemberian nenek Karen dengan suka cita. "Duh, nenek kamu itu udah mau pergi aja masih repot ngasih-ngasih ke Oma."
"Darren!" Suara wanita tiba-tiba terdengar dari lantai atas.
Darren dan Karen kompak mendongak. Bertepatan dengan itu, Silvia yang ternyata tinggal di kediaman Bratajaya kini buru-buru menuruni anak tangga.
.
.
.
Jejak kaki
Moody : orang yang suasana hatinya gampang berubah. Bentar-bentar senang, bentar-bentar kesal, bentar-bentar ngambek.
Needy : terlalu bergantung sama pasangan. Dikit-dikit chatting, maunya nempel mulu sama pasangan, pengen selalu ditemani sampai pasangan gak punya waktu untuk sekadar "me time".
Clingy : 11 12 sama needy. Dikit-dikit nanya, kamu di mana dengan siapa, semalam berbuat apa (baca jangan pakai nada)
Full demand : terlalu banyak menuntut. Menggantungkan kebahagiaan pada pasangan, seolah-olah pasangan wajib membahagiakannya. Padahal kebahagiaan itu tanggung jawab diri sendiri. Pasangan, anak, maupun orang lain tak bertanggung jawab atas kebahagiaan kita.
So, gays ini istilah-istilah gaul untuk mengungkapkan beberapa hal yang tidak disukai pria maupun wanita terhadap pasangannya. Sama kek Chalvin yang menghindari berpacaran dengan orang yang memiliki sifat di atas. Dan beberapa pria lainnya juga.
Kamu sendiri gimana? Apa termasuk dalam tipe di atas? Atau termasuk orang yang gak suka tipe di atas?
__ADS_1