
Ternyata yang baru saja tiba di atap gedung tersebut adalah rombongan Mahdi. Mereka datang untuk mencari Feril. Sayangnya, mereka tak mendapati seseorang di puncak gedung tersebut. Tentu saja karena Feril dan Marsha sudah lebih dulu bersembunyi di balik pilar.
"Lah ... kok kagak ada Feril? Kirain dia di sini. Kan sejak galau gara-gara Karen dia jadi lebih sering bertapa di sini!" cerocos Gimbal dengan tampang bengongnya.
Beberapa anggota lain yang baru saja tiba di atap gedung tersebut turut memendarkan mata mereka. Sementara itu, Feril dan Marsha yang bersembunyi di balik tembok, berusaha mengintip mereka. Posisi mereka saat ini berdiri berhimpitan di mana Feril berada di belakang Marsha.
"Terus ke mana dia?" tanya salah satu kawanan Mahdi.
"Kagak tahu dah! Cabut yuk!" ajak kawanan lainnya sambil berbalik.
Mendengar itu, Feril dan Marsha pun kompak menghembuskan napas lega.
"Eh ... eh ... tunggu! Bukannya itu laptopnya Feril, ya?" Jamet menunjuk sebuah laptop yang berada di atas kursi lipat.
Kawan-kawannya yang telah menuruni anak tangga, lantas kembali naik. Mereka bahkan menghampiri kursi yang tadinya diduduki Feril. Hal ini tentu saja membuat kedua orang itu sedikit kalang kabut. Pasalnya, pilar tempat mereka bersembunyi itu ada di samping kursi. Bodohnya lagi, Feril meninggalkan laptop dan tasnya di sana.
Marsha kemudian menengok ke arah Feril. "Kamu gimana, sih? Kata kamu tempat ini aman dan gak ada yang bakalan lihat kita di sini! Tapi kok teman-teman kamu malah ke sini?" gerutu wanita itu dengan wajah kesal.
"Sstt ...." Feril meletakkan tangan di bibirnya sendiri sembari mencoba mengintip temannya.
Tak mau terlihat kawan-kawannya, Feril lantas menarik Marsha agar mundur. Jika tadinya mereka bersembunyi di balik pilar yang bersampingan dengan para Mahdi, kini mereka mengubah posisi berada di belakangnya. Saat bergeser sedikit demi sedikit, hak sepatu Marsha yang runcing tak sengaja menginjak kedua kaki Feril hingga membuat matanya melotot seketika karena kesakitan. Meski begitu, ia memilih menahan rintihan yang hendak meloncat dari mulutnya.
"Lah iya, bener ini laptopnya Feril. Masih nyala pula! Terus orangnya ke mana, dah?" tanya salah satu dari mereka.
"Jangan-jangan dia loncat dan bunuh diri!" sahut Gimbal dengan panik sambil mencoba menengok ke bawah.
"Ekstrem banget pikiran Lo!" Jamet menarik rambut Gimbal.
"Kebelet pipis kali, terus ke toilet deh!" kata teman lainnya.
"Nah, ini lebih masuk akal! Udah, kita tungguin aja dia di sini!" kata Jamet sambil berkacak pinggang.
Marsha membulatkan mata seketika. Jangan bilang, dia harus lebih lama bersembunyi seperti ini! Ya, bukannya segera pergi, para Mahdi itu malah nongkrong di tepian pembatas atap sembari melihat para mahasiswi yang berlalu lalang di bawah.
Di sisi lain, Karen dan Vera tengah nongkrong bersama di kafe Nadya. Pada dua sahabatnya itu, Karen mengaku kesal karena Silvia tampak menaruh perhatian lebih ke suaminya. Bahkan itu dilakukan terang-terangan di hadapannya langsung.
__ADS_1
"Wah, gak bisa dibiarin, tuh! Itu namanya Oma kamu melihara calon pelakor! Kalo gua jadi elu, mending suruh Pak Darren balik ke rumah kalian. Tinggal bareng sama keluarga suami aja banyak bikin perselisihan dan kesalahpahaman, apalagi tinggal bareng sama orang yang gak dikenal," kata Vera.
"Iya, aku juga pengen kayak gitu. Tapi pasti oma gak bakalan kasih ijin buat pulang. Apalagi aku hamil gini. Oma makin protektif," balas Karen dengan wajah dilema.
Nadya meletakkan dua gelas ice coffe pesanan Karen dan Vera, kemudian ikut duduk bersama mereka. "Oma kelihatannya suka banget, ya, sama Silvia," cetusnya.
"Tuh cewek emang pandai menarik hati Oma! Caper banget, tahu, enggak! Sok-sok rajin nyiapin bekal makan siang buat Darren sama Chalvin! Uda gitu oma jadi sering ngebandingin aku sama dia."
"Itu sama kek cari penyakit di hubungan kalian. Dari teori perselingkuhan yang aku pelajari, pria cenderung suka mencari sesuatu hal yang gak ada sama pasangannya tapi ditemukan sama orang lain. Jadi misalnya elu punya 70% keistimewaan sebagai pasangannya. Ketika dia melihat 30% yang tidak ada di kamu, tapi justru dia temukan pada wanita lain terutama circle terdekatnya, di titik ini orang terdekat bisa berubah menjadi orang ketiga! Makanya jangan heran kalo rata-rata selingkuhan gak lebih cantik atau hebat dari istri sah, karena pada umumnya mereka cuma untuk memenuhi beberapa persen yang gak dimiliki oleh istri sah. Seperti sifatnya yang menyenangkan atau teknik goyangan ranjangnya yang ganas mungkin!" Vera menanggapi curhatan Karen dengan serius.
Karen merenungi peringatan Vera. Mungkinkah benar seperti itu?
"Oh, iya, kamu sama Chalvin sendiri gimana?" tanya Karen dengan pandangan ke arah Nadya.
Ingatan Nadya terkilas kembali tentang bagaimana Oma Belle begitu kukuh menjodohkan Chalvin dengan wanita yang sedang mereka ghibahi itu. Di satu sisi, ia juga sulit melepaskan perasaannya terhadap Chalvin. Ia bahkan masih mencoba membuka diri dan membiarkan Chalvin membuktikan keseriusan ucapannya semalam. Meskipun hubungan mereka tentu tak akan berjalan mulus.
Di waktu yang sama, Nadya mendapat telepon dari Chalvin. Berpikir pria itu akan segera menjemputnya untuk mengajaknya makan siang, Nadya pun buru-buru menerima panggilan telepon itu.
"Halo, Nad, sorry, aku mesti cancel makan siang kita hari ini soalnya ...."
"Gak papa kok!" potong Nadya dengan cepat. Secara spontan, ia teringat perkataan Karen tadi kalau Silvia telah membawakan bekal makan siang untuk pria itu.
Sementara itu, di saat Feril dan Masha masih berada dalam persembunyian mereka, para Mahdi justru asyik mengobrol sembari melihat mahasiswi yang berlalu lalang.
"Sekarang gua tahu kenapa akhir-akhir ini Feril lebih suka nongkrong di sini! Bisa lihat adik kelas yang cantik, Cuy!" kata Gimbal kegirangan.
"Ngeliat doang tapi kagak bisa dimiliki juga buat apa!" cerocos kawannya.
"Tapi setidaknya kita tahu ... kita tuh jomlo bukan gak laku tapi karena komposisi manusia di kampus ini kagak seimbang," tampik Gimbal.
"Maksud Lo di kampus kita kebanyakan cowok dari pada cewek gitu?" tanya kawan-kawannya.
"Bukan! Maksud gua di kampus kita kebanyakan kelompok orang good looking dan good rekening, sehingga spesias kek kita gini langsung tereliminasi di babak pedekate."
"Apa bedanya dengan gak laku, Bro!"
__ADS_1
"Beda. Bahasanya lebih diperhalus dikit."
"Betul juga kata elo. Sekarang itu jamannya istilah lu punya duit, lu punya kuasa. Lu gak punya duit, lu puasa," imbuh Jamet.
Marsha tampak tak sabar untuk segera pergi tapi tanpa ketahuan oleh kawan-kawan Feril. Ia pun meminta pria itu untuk mengusir kawan-kawannya.
"Mendingan kamu keluar terus ajak mereka pergi dari sini!" perintah Marsha tanpa berbalik ke arah Feril yang berada di belakangnya.
"Kalo saya keluar, otomatis Miss juga bakal ketahuan dong! Karena teman-teman saya pasti bakal curiga dan datang ke sini!" Feril berkata ssmbil meringis karena menahan tekanan hak sepatu Marsha di jari-jari kakinya.
Marsha bergeming tapi tak bisa menahan geram. Ia menghentakkan kakinya dengan kesal. Sialnya, itu malah mendatangkan kesakitan ganda di kaki Feril.
"Ugght!" Feril melenguh kecil dengan mata terpejam dan mulut berkumpul menjadi satu. Di saat yang sama, marsha menoleh ke arahnya.
Melihat Feril yang memejamkan mata dengan bibir mengerucut ke depan layaknya orang yang hendak mencium, marsha pun terhenyak dan langsung mendorong Feril menjauh darinya.
"Mau ngapain kamu! Jangan ambil kesempatan kamu, ya! !"
Dikatakan seperti itu membuat Feril tak terima "Lah ... siapa juga yang ngambil kesempatan!"
"Terus yang tadi itu apa?" Marsha mulai mengeluarkan tanduknya karena mengira Feril bertindak tak sopan padanya.
"Yang tadi mana?" Feril justru tak paham dengan tuduhan yang dilayangkan Marsha. Ya, karena pada dasarnya ia tak melakukan apa pun selain berekspresi dengan rasa sakitnya.
"Halah ... ngaku kamu!"
Feril dan Marsha malah saling adu mulut. Namun, itu tak berlangsung lama ketika menyadari satu hal. Keduanya pun kompak menoleh ke samping. Tepat di hadapan keduanya saat ini, para rombongan mahdi berdiri seraya melihat ke arah mereka. Persembunyian keduanya malah terbongkar dengan sendirinya.
Marsha menahan ludah sejenak, mencoba bersikap santai di hadapan para kawanan Feril. "Ini ... bukan seperti yang kalian pikirkan!" ucapnya terbata-bata.
Feril malah merapat di sisi Marsha. Sambil tersenyum ia berkata, "Ini seperti yang kalian pikirkan kok!"
Marsha langsung menoleh ke arahnya dengan mata yang berapi. Sementara para rombongan Mahdi hanya bisa melongo tanpa berkata apa pun. Ini karena mereka terlalu terkejut melihat kebersamaan Feril dan Marsya.
.
__ADS_1
.
.