
"Mungkin kita emang gak cocok dari awal. Lagian kita cuma dijodohkan juga! Gak ada yang tahu kita nikah! Gak ada yang tahu aku istri kamu!" ucap Karen dengan nada suara bergelombang. Ia masih bersikeras untuk pergi, tetapi Darren enggan melepaskan genggaman di pergelangan tangannya.
Darren membuka setengah mulutnya, memalingkan wajahnya sejenak sambil memijat pelipis karena hampir kehabisan kata-kata. "Kamu jangan kekanak-kanakan kayak gini, dong! Masa dinasihati dan ditegur aja langsung ngambek. Itu kan demi kebaikan kamu juga."
"Aku emang kekanak-kanakan! Makanya mending kamu cari cewek lain yang lebih dewasa aja. Aku ini banyak kurangnya. Bukan tipe istri ideal. Apalagi aku barusan ...." Karen sambil menggigit lengannya untuk menahan laju air mata. Semakin banyak bersuara, air matanya seakan semakin meronta-ronta keluar.
Kalimat mengambang yang baru saja meloncat dari mulut Karen, mengundang tanda tanya besar dalam diri Darren.
"Cerita sama aku apa yang terjadi sebenarnya! Tanda merah di pipi kamu tuh karena apa?" tanya Darren dengan mata yang masih tertuju di bekas tamparan tersebut.
"Bukan urusan kamu! Aku mau pulang!" Karen menaikkan intonasi suaranya. Ia masih berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan Darren yang menahannya.
"Ini bukan tempat tinggal aku, tapi tempat tinggal kita berdua. Tempat kamu pulang, ya, di sini," tandas Darren.
"Aku gak mau tinggal sama kamu lagi!" tegas Karen dengan nada suara yang lebih tinggi. Ia terus termakan hasutan egonya untuk pergi.
Darren mengangguk-angguk. "Oke. Kalau di antara kita harus ada yang pergi, biar aku aja yang pergi dari sini!"
Darren melepaskan tangannya lalu mendorong koper perempuan itu. Kini, giliran ia yang mengambil koper miliknya lalu mulai mengemas pakaian seperti yang dilakukan Karen sebelumnya. Hal itu tentu membuat Karen terkesiap sekaligus membeku seketika. Bibirnya mendadak urung mengatakan sesuatu. Namun, sorot matanya sedikit menyembulkan kepanikan.
Bukankah seharusnya Darren berusaha mencegahnya, melarangnya, membujuk atau sekadar mengatakan jangan pergi? Kenapa sekarang malah pria itu yang akan pergi? Kenapa jadi seperti ini?
Kekesalannya saat ini, bukan masalah tentang teguran keras yang dilayangkan pria itu. Sungguh! Jika boleh jujur, ada seonggok kekecewaan yang menempati ruang hatinya saat ini. Kecewa karena penilaian jelek suaminya terhadap dirinya. Kecewa karena mulutnya terlalu berat untuk menceritakan apa yang telah dialaminya. Dan juga, kecewa karena tidak bisa menjadi sosok sempurna di mata pria itu. Apalagi dengan adanya kejadian tak mengenakkan yang baru saja dialaminya. Sayangnya, tak semua kata-kata yang tersimpan di hati dapat dikeluarkan dengan begitu mudah.
Darren telah selesai mengemas barang-barangnya dan bersiap pergi. Sejenak, sepasang suami istri itu saling berpandangan dalam lara.
__ADS_1
Darren menarik napas sejenak, lalu mengembuskan secara kasar. "Mungkin sebaiknya kita saling instrospeksi diri. Jaga diri kamu. Aku pergi!"
Darren melangkah sambil menarik koper kecilnya. Ia melewati Karen yang masih membatu. Begitu pria itu keluar dari kamar, suasana mendadak hening. Hanya terdengar suara langkah kaki dan roda koper yang mulai menjauh.
Karen tertunduk. Ia langsung menutup wajah dengan kedua telapak tangannya sambil menangis sejadi-jadinya. Namun, sedetik kemudian ia terhenyak ketika sosok tinggi tegap itu memeluknya dari belakang.
"Kalau kamu nangis kayak gini, gimana bisa aku ninggalin kamu sendirian di sini?" bisik pria itu dengan suara tak berdaya sambil melingkarkan tangannya di tubuh perempuan itu.
Karen terkesiap. Suara isakan tangisnya mendadak mereda, meski air mata tak berhenti meluncur. Ia menatap tangan putih berurat itu, untuk memastikan itu benar-benar Darren.
Darren memutar tubuh istrinya dengan lembut, lalu kembali merengkuh tubuh langsing itu. Ia menyandarkan kepala Karen di dada bidangnya, kemudian mengelus lembut rambut yang tergerai acak-acakan.
"Maafin aku. Maafin aku udah nyakitin kamu lewat kata-kataku," ucap Darren terdengar serak.
Detik itu juga, tangis Karen kembali pecah. Ia mencengkram kuat punggung suaminya seraya mengingat satu hari melelahkan yang telah dilaluinya. Dimulai dari omongan para mahasiswa yang membuatnya tak percaya diri, nilai-nilai tugasnya yang ketahuan suaminya, hingga kejadian traumatis yang menimpanya beberapa saat lalu.
Darren menangkup wajah Karen dengan kedua tangannya, kemudian memandang lekat manik perempuan itu. "Apa yang udah terjadi sama kamu? Gak mungkin kamu nangis kayak gini kalau enggak kenapa-kenapa!"
Karen menjatuhkan pandangannya ke bawah, menolak bertatapan dengan Darren. Ia menggeleng dan hanya terus tersedu di dalam dekapan suaminya.
Masih memeluk wanitanya, Darren kembali bertanya, "Apa kamu gak mau cerita ma aku?"
Karen kembali menggeleng. "Ini buruk banget. Aku ... aku ... hampir diperkosaa. Semua gara-gara salahku yang kemakan jebakan! Aku gak mau ke sana lagi!"
Darren terperangah seketika. Ia langsung mempererat pelukannya seraya mencium dalam-dalam kepala istrinya.
__ADS_1
"Maafin aku ... maaf," ucap Daren dengan nada yang terdengar lirih, "maaf ... aku gagal lindungi kamu. Maaf aku enggak cukup buat mengerti apa yang udah menimpa kamu," ucapnya dengan mata yang berkabut dan gigi yang menggertak karena menahan amarah pada orang yang telah berani menyentuh istrinya. Tentu ada kemarahan yang menguar dalam dirinya. Namun, dibanding mengekspos amarahnya, ia memilih untuk menenangkan Karen terlebih dahulu.
Darren mempererat pelukannya, seraya membiarkan Karen meluapkan segala emosinya. Kehangatan tubuhnya yang berpindah pada perempuan itu, mampu meredakan tangisan. Ternyata, rumah tangga itu bukan tempat mencari kalah dan menang. Bukan soal siapa yang harus minta maaf lebih dulu. Menikah itu tentang berani mengalah. Melawan ego, untuk memenangkan komitmen. Itulah yang baru saja mereka dapatkan dari pertengkaran ini.
Setelah cukup tenang, Karen pun menceritakan kronologi kedatangannya ke tempat dunia gelap malam tersebut. Hingga kejadian naas yang membuatnya mendapatkan pengalaman buruk nan traumatis untuk pertama kalinya.
"Kamu masih ingat ciri-ciri mereka, enggak? Kita buat laporan di kepolisian, ya?"
Karen menggeleng untuk kesekian kalinya sambil tetap memeluk suaminya. "Aku takut. Aku takut kalau ada yang tahu aku habis dilecehkan. Aku cuma pingin berada di samping kamu sekarang."
Darren mengangguk, memahami guncangan yang sedang dialami istrinya. "Kalau gitu tatap aku!" pinta Darren dengan suara yang lembut.
Karen menaikkan pandangannya dengan ragu-ragu. Wajah tampan suaminya berpadu pandangan yang meneduhkan langsung mengisi penglihatannya. Dua pasang mata itu bersirobok penuh cinta, meski bercampur kepahitan.
Darren mengelus pipi Karen yang bertanda merah, menghapus air matanya, kemudian menyelipkan juntaian anak rambut yang menutup muka istrinya. Ketika hendak mendekatkan wajahnya secara perlahan, Karen spontan melengos dengan ekspresi takut yang tergurat di wajahnya.
"Lihat aku!" pinta Darren kembali.
Karen menatap ragu suaminya. Tangan kekar pria itu membungkus tangan mungilnya.
"Aku bakal bikin kamu lupa sama kejadian tadi," ucap Darren menatap lamat mata cantik yang terbingkai genangan air mata itu. Ia menarik lembut dagu istrinya, kemudian menyelipkan bibir hangatnya di sana.
Selanjutnya ....
.
__ADS_1
.
.