DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 128 : Deep Talk


__ADS_3

"Sheila, kenapa kamu gak mau pulang ke rumah?" Kakek memulai obrolan di saat mereka mulai menyantap hidangan.


"Malas aja, Kek. Orang rumah pada bawel," jawab Sheila.


"Bawel gimana?" Kakek mulai mencari tahu, "coba cerita dulu sama kita-kita."


Kali ini Sheila tak menggubris pertanyaan kakek.


"Kakek dengar akhir-akhir ini kamu sering keluyuran malam-malam, terus dah coba-coba minum," lanjut kakek.


"Masih kecil udah kenal alkohol dan dunia malam. Perempuan lagi! Anak gadis itu seharusnya lebih banyak berada di rumah bukan keluyuran! Ckckk." Oma Belle berdecak seraya menggeleng-geleng keheranan.


"Gimana bisa betah di rumah kalo mereka aja jarang pulang. Sekali pulang, bawelnya minta ampun. Gak boleh inilah, gak boleh itulah! Mau main game aja dilarang," keluh Sheila dengan raut kesal.


"Emangnya kamu suka main game?" tanya kakek.


"Bukan suka lagi. Cita-citaku pengen jadi pro player. Aku bahkan diajak masuk di tim esport Indonesia. Tapi gak diijinin sama bokap."


"Wah, jadi kamu jago main game?" Kakek terkejut dan memasang wajah takjub.


Sheila mengangguk. Sempat tak mau mengatakan apa pun, gadis itu mulai mengutarakan kekesalannya selama ini. Ternyata gadis itu hendak menjadi atlet e-sport. Ia juga ingin menjadi youtubers gaming, seperti teman-temannya yang lain. Sayangnya, hal ini tidak didukung oleh orangtuanya. Mereka berpikir anak gadis tak pantas bermain gim seperti anak laki-laki. Saat menceritakan hobi dan prestasinya di dunia gaming, Sheila tak ada bedanya dengan gadis remaja lainnya yang menggebu-gebu.


"Ayah kamu emang bener, kok. Cewek kok hobinya main game!" Oma Belle masih berkomentar dengan nada sinis.


Kakek malah beralih ke Karen. "Karen, kalo kamu gimana? Waktu seusia Sheila gini suka main game, gak?"


Karen menggeleng. "Enggak, Kek."


"Gak suka main atau gak tahu main?"


"Dua-duanya, Kek. Aku lebih suka dunia pemotretan."


"Oh, gitu. Pantes aja kamu bisa jadi model BA produk kita," balas kakek mengangguk-angguk, "berarti gak semua orang punya passion di bidang game. Gimana menurut kamu, Darren?"


Darren mengangguk. "Game sekarang udah jadi sebuah profesi. Masuk kategori olahraga, namanya E-sports. Udah masuk di cabang olahraga Asian games dan PON bahkan skala internasional. Mereka juga disebut atlet dan digaji per bulan dari manajemen mereka. Gajinya tinggi, loh, Kek."


"Kayak anaknya kolega kita tuh. Padahal calonnya cuma main game mulu tiap hari, tapi malah berani-beraninya nikahin anak orang. Eh, ternyata penghasilannya dari main game tinggi, toh! Padahal jaman dulu kan main game itu dianggap selingan hiburan yang gak ada manfaatnya. Dianggap buang-buang waktu. Sekarang malah dijadikan ladang duit, bahkan ada kompetisinya."


"Betul, Kak Darren. Tapi bokap dan nyokap masih kolot. Aku main game gak dikasih, masuk komunitas game online dimarahin, mau jadi youtubers gaming juga gak mau difasilitasi. Padahal kalo aku main game, aku kan bisa ada di rumah terus, tapi malah gak dikasih. Ya, udah, aku keluyuran aja sekalian! Sekalian happy-happy, daripada bosan dilarang mulu."

__ADS_1


"Sekarang gini, gimana kalo Kakek ijinin kamu kembangkan bakat, sekalian kakek fasilitasi semuanya?"


Mata Sheila melebar tak percaya. "Serius, Kek?"


"Tapi sebelumnya kamu bikin kesepakatan dulu dengan kakek."


"Kesepakatan apa? Emang perlu gitu?"


"Yo, jelaslah! Hal yang sering dilakukan orang dewasa dalam mencapai tujuan adalah membuat kesepakatan. Kamu mau jadi dewasa atau masih pengen jadi anak kecil?"


"Jadi dewasalah!"


"Kalo gitu kita bikin kesepakatan. Kakek akan memfasilitasi kamu, tapi sebelumnya kamu harus berubah dulu. Ikuti peraturan dan tata krama di rumah ini selama sebulan. Termasuk patuh dan hormat pada orang-orang yang ada di sini."


Mendengar pernyataan kakek Aswono membuat mata oma belle membeliak. Sehari saja ia tak mau menerima gadis itu, apalagi selama sebulan. Sebaliknya, Sheila langsung menerima tantangan kakek yang dianggap mudah olehnya.


"Oke! Itu gampang, Kek!"


"Masih ada lagi," sambung kakek, "setelah lolos dari tantangan ini, kakek akan memfasilitasi kamu tapi dengan masa percobaan selama sebulan."


"Percobaan apa lagi, sih?"


"Kalo kamu bisa menyeimbangkan antara hobi dan belajarmu, terus ... tidak lagi keluyuran dan dugem, kamu lolos dan bisa miliki fasilitas yang kakek berikan termasuk bergabung di tim e-sports. Kalo tidak, ya ... semua itu akan kakek tarik kembali dan kamu tak kirimin ke asrama putri luar negeri."


"Ya, memang harus gitu. Segala sesuatu yang kita impikan, tidaklah mudah untuk dicapai. Ada perjuangan dan pengorbanan untuk meraihnya."


"Oke, deh! Tapi beneran kan, Kek, aku boleh jadi youtubers gaming? Nanti Kakek yang harus jelasin ke mama dan papa, ya?"


"Bagian itu jadi urusannya kakek. Ada satu hal yang harus kamu ingat, kamu hidup tidak hanya membawa nama kamu, tapi juga nama keluarga besar. Kalau kamu melakukan kesalahan, yang duluan disoroti orang-orang itu ibu dan ayah kamu. Bukan kamu! Gimana mereka mendidik kamu sampai bisa jadi seperti itu. Begitulah orang-orang menilai. Kakek sendiri, tidak akan mentolerir setiap kesalahan fatal yang dilakukan anggota keluarga Bratajaya. Apalagi jika itu mencoreng nama baik keluarga yang telah dijaga turun temurun."


Kali ini Sheila hanya diam.


"Ya, sudah. Karena kamu sudah sepakat, tantangan dimulai detik ini juga. Kamu harus berkelakuan baik ke siapapun yang ada di sini. setelah ini, kamu cuci semua piring kotor yang ada di sini," perintah kakek.


"Hah?" Sheila ternganga.


"Nanti dibantu sama kakak iparmu, Karen."


Saat namanya ikut disebut Kakek, Karen tak kalah terbelalak. Kedua perempuan itu saling beradu pandang dengan sinis. Keduanya pun terpaksa harus meninggalkan meja makan sambil membawa piring kotor ke dapur untuk dicuci.

__ADS_1


Oma Belle yang sudah menahan geram, lantas komplain ke suaminya terkait Sheila yang akan menetap di rumah itu selama sebulan.


Menatap istrinya yang sedang mengomel, kakek Aswono berkata dengan santai. "Lihat, anak itu hanya butuh didengarkan, didukung minat dan bakatnya. Seringkali orangtua hanya ingin didengarkan dan dituruti anak, tapi tidak mau mendengarkan anak."


"Maksud kamu anak kayak dia itu harus dituruti semua kemauannya, gitu?"


"Tidak seperti itu! Itulah kenapa pagi tadi kubilang ajak dia diskusi, buat kesepakatan bersama. Apabila melanggar, dia akan tahu konsekuensinya seperti apa."


"Halah, paling juga nanti berubah supaya keinginannya terpenuhi."


"Makanya aku kasih tantangan selama sebulan dan masa percobaan selama dua bulan. Jadi meskipun awalnya mungkin dia terpaksa berperilaku baik dan menjaga sikap, seiring waktu dia akan terbiasa seperti itu," balasnya.


"Mendidik anak itu harus menyesuaikan jaman mereka. Kita tidak bisa memakai cara saat kita mendidik Barack atau Darren. Gak bisa, gak bisa gitu! Mereka sudah sangat berbeda jaman dengan anak ini. Anak jaman dulu dipelototin aja udah diam, nunduk, gak berani nyahut. Anak jaman sekarang, dimarahin malah balik nantang kita mereka. Kita atur kehidupannya, mereka malah menganggap sedang dijajah sehingga timbullah pemberontakan dalam diri mereka," jelas kakek Aswono.


"Tapi dia bukan darah daging kita. Ngapain sih repot ngurusin cucu tiri."


"Kita ini keluarganya, loh! Kenapa seseorang harus disisihkan di dalam keluarga hanya karena dia menyandang status tiri? Apalagi kita udah tahu anak ini lagi kehilangan arah dan hampir tersesat. Sekarang, apa kita harus membiarkan dia semakin terjerumus seperti itu?"


Oma Belle menolak menanggapi. Hanya memasang wajah penuh kekesalan.


Kakek aswono menggeser tubuhnya agar bisa bersenggolan tangan dengan oma Belle.


"Jangan senggol-senggol!" ketus oma Belle sambil menarik tangannya.


"Dek, udahlah, turunkan ego! Kan sudah kubilang, anak tidak membawa kesalahan orangtua. Dia bukan rival kamu. Lagian, kamu kan pinter ngandangin buaya, sekarang tantangan kamu lebih gampang. Cuma ngurusin merpati yang lupa jalan pulang."


"Males aku ngurusin burung!" ketus oma masih membuang muka.


"Masa? Tapi burung yang ini kamu masih suka urus, toh?" goda kakek Aswono dengan tawa menggelitik.


Darren yang masih ikut duduk di sana, lantas hanya bisa tersenyum melihat oma Belle yang keras dan Kakek yang santai dan sabar. Pandangan Kakek lalu beralih padanya.


"Darren, kalo nanti kamu sudah punya anak, jangan lupa luangkan waktumu untuk mereka. Dengarkan cerita mereka, aktivitasnya, kesukaannya, termasuk masalah-masalah apa yang sedang dia hadapi saat tidak bersama kita. Jangan sampai anak lebih suka curhat ke orang lain, yo kalo orang yang dicurhati bisa kasih motivasi dan nasihat yang baik, gimana kalo mereka malah mendoktrin dia dengan pikiran-pikiran yang rusak?"


"Iya, Kek," ucap Darren.


Di saat yang sama, Chalvin baru saja datang sambil membawa koper.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2