DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
bab 113 : Friendnivora!


__ADS_3

Kutipan dari orang tak bijak mengatakan, "Tidak perlu takut pasanganmu selingkuh, kalau pasangan saja kamu tak punya". Contohnya seperti Chalvin ini. Ia lebih takut ketahuan tak memiliki pacar seperti yang diutarakannya tempo hari pada Oma Belle.


Chalvin yang terkena senjata makan tuan, tengah pusing tujuh keliling karena harus mencari perempuan yang bisa diajak ke pesta untuk berkenalan dengan Oma Belle. Sebenarnya bukan hal sulit baginya mencari perempuan yang bisa diajak kencan. Pasalnya, perempuan yang hendak diperkenalkan pada Oma, harus sesuai dengan apa yang dikatakan dirinya waktu itu.


Sedang makan bersama dengan salah satu karyawan perusahaan yang dekat dengannya, ia pun berencana menjadikan gadis itu pacar sementara. Paling tidak, ia berharap itu bisa membuatnya lolos dari perjodohan.


"Nanti kamu kalo aku ajak kenalan sama Oma jangan pakai pakaian seksi kayak gini, ya? Terus, jaga sikap di depan Oma aku, kalo bisa cara ngomong kamu lebih diperhalus lagi kayak putri-putri keraton gitu dan ada aksen Jawa gitu." Chalvin sudah mewanti-wanti terlebih dahulu agar karyawan yang akan diperkenalkan sebagai pacarnya itu tidak melakukan kesalahan.


"Aduh, Pak, saya ini asli Batak. Mana bisa bertutur kata lemah lembut ala Putri Keraton. Lagian, saya juga takut kalo berhadapan dengan ibu Belleria. Apalagi kalo sampai ketahuan bohongi dia. Gak berani saya, Pak!" tolak gadis itu.


Di luar dugaan, gadis itu malah menolak permintaan Chalvin. Hal itu tentu membuat dirinya semakin pusing. Apalagi hanya tersisa empat hari lagi. Mana mungkin ia mengajak salah satu dari kumpulan FWB-nya.


Saat hendak mengecek para gadis kenalannya di instagram, tiba-tiba postingan Karen muncul di layar utama beranda akunnya. Postingan yang baru rilis beberapa menit itu, menampilkan foto-fotonya di depan gedung Petronas. Salah satu dari unggahan tersebut, terdapat foto Karen bersama Darren. Lucunya, wajah Darren sengaja ditempelkan stiker agar tidak diketahui teman-temannya.


"Freak banget sih nih pasangan! Sampai sekarang belum mau go public juga," gumam Chalvin tertawa kecil. Melihat pasangan itu menikmati liburan mereka pasca pengobatan, ia pun turut senang. Namun, di satu sisi ada perasaan lain yang juga muncul dalam dirinya.


Chalvin iseng membaca komentar-komentar yang menanyakan sosok pria bersama Karen. Di antara sejumlah komentar, ia malah fokus dengan salah satu akun yang memasang profil dengan wajah tak asing baginya.


Nadya002: ciee yang lagi jalan-jalan. Semoga langgeng terus, ya!


Chalvin segera membuka akun dengan nama Nadya002. Sudut-sudut bibirnya tertarik lebar seiring otaknya membersitkan sebuah ide cemerlang. Tanpa pikir panjang, ia langsung menekan tombol follow di akun milik sahabat dekat Karen itu.


Melihat foto profil orang yang baru saja mengikutinya, Nadya lantas mengernyitkan dahi. "Ini bukannya sepupu pak Darren?"


Mengetahui akunnya baru saja diikuti oleh Chalvin, Nadya lantas tak percaya begitu saja. Ia membuka akun yang memiliki pengikut puluhan ribu itu, lalu menggulir halaman akun tersebut untuk melihat seluruh unggahannya.


"Hah, ini beneran tuh cowok!" gumamnya dengan mata yang melebar.


Tentu saja ia kaget bercampur senang karena diikuti oleh pria sekeren Chalvin. Apalagi sejak awal dia sudah sangat tertarik dengan sepupu Darren itu. Hanya saja, ia cukup tahu diri untuk hanya sekadar mengidolakannya.


"Kok nih cewek gak follow balik gua, ya!" Chalvin memberengut kesal sekaligus merasa penasaran, "apa lagi gak online? Perasaan komennya di postingan Karen baru beberapa menit yang lalu."


Tiba-tiba Instagramnya memberi notifikasi jika akun Nadya telah balik mengikutinya. Tak tunggu lama, ia langsung menyapa gadis itu lewat pesan pribadi.


Chalvin Wijaya: hy ... masih ingat gue, gak?


Nadya002: Ingatlah, Kak. Sepupunya pak Darren, kan.


ChalvinWijaya: Yup. Btw, lagi ngapain nih? Bisa ketemuan, gak?

__ADS_1


Nadya tentu terkejut cowok sekelas Chalvin mengajaknya bertemu secara tiba-tiba. Sayangnya, kondisinya saat ini sedang tak memungkinkan untuk bertemu. Libur semesternya ia gunakan untuk bekerja demi bisa meringankan orangtuanya membayar uang semester kuliah.


Nadya002: Aku lagi kerja, Kak.


ChalvinWijaya: kerja di mana?


Nadya: kerja di salah satu outlet cemilan yang ada di mall, Kak. Nih, lagi istirahat bentar doang.


ChalvinWijaya: Oh, gitu, trus selesainya kapan?


Nadya: entar sore, jam lima gitu.


ChalvinWijaya: Aku boleh jemput kamu, gak, pulang kerja nanti?


Membaca pesan Chalvin yang menawarkan menjemputnya, Nadya pun kembali terperanjat.


"Kok dia tiba-tiba mau jemput aku? Apa dia lagi pengen pedekate ma aku?" pikir Nadya sesaat sambil senyam-senyum tak keruan.


Lama tak membalas chat-nya, Chalvin kembali mengirim pesan.


ChalvinWijaya: Oh, ya, boleh minta nomor WA kamu, gak?


Nadya002: ada apa, nih, kak? Kok tiba-tiba mau jemput?


ChalvinWijaya: entar aja aku cerita pas ketemu.


Sore yang ditunggu-tunggu tiba. Chalvin menuju mall tempat Nadya bekerja. Begitu tiba, mereka langsung bertemu karena Nadya sudah menunggunya di pintu masuk mall. Wajah dengan senyum penuh pesona itu langsung menyapa pandangan Nadya.


"Kamu dah mau langsung pulang?" tanya Chalvin sesaat.


Nadya terlihat bingung menjawab.


"Gimana kalo kita nongkrong di sana aja?" Chalvin menunjuk kedai kopi yang terkenal mahal dan bergengsi. Tanpa menunggu persetujuan Nadya, ia langsung menuju ke tempat itu dengan langkah cepat.


Sempat terbengong beberapa saat, Nadya pun segera menyusul Chalvin. Jujur, ia sangat senang bisa kembali bertemu dengannya. Meskipun ia tahu, pria itu mungkin mengajaknya bertemu untuk membahas soal Karen.


Siapa sangka, Feril dan kawan-kawannya baru saja memasuki mall yang sama. Meski libur panjang, tak membuat mereka libur nongkrong. Ya, mall ini memang terkenal tempat nongkrong favorit para mahasiswa karena barang-barang dan makanannya masih terjangkau di kantong mereka.


"Tumben, Ril, lu ngajakin kita ngemall pas lagi liburan."

__ADS_1


"Bete gua di rumah. Diomelin terus sama emak gua gara-gara gua ngulang semester. Pake dibanding-bandingin sama Farel. Berasa emak gua pilih kasih, lebih sayang Farel dari pada gua."


"Sabar, Ril. Keknya lu anak yang lahir dari insiden kondomm bocor atau lupa minum pil KB," sahut salah satu kawannya.


"Maksud lo, gua anak gak diinginkan, gitu?" Feril semakin kesal mendengar omongan sahabatnya.


"Ett, slow, Man! Mending lu traktir kita kopi setabrak. Biar gua bisa pamer minum kopi mahal di Instagram gua!"


"Betul, gua dukung. Sebelum kita pada mau pulang kampung, mending lu traktir kita dulu," timpal si gimbal penuh semangat.


"Ogah!" tolak Feril mentah-mentah.


"Telur dadar telur omelet, baru sadar elu pelit!" ketus gimbal sambil mengibas rambutnya ke belakang.


"Lagian lu pada enggak tahu diri. Minta traktir yang mahal-mahal. Lu pikir bokap gua yang punya bank Indonesia!" balas Feril.


"Eh, eh, itu bukannya temannya Karen? Mantan pacar abang lo!" Salah satu kawan Feril menghentikan langkah mereka sembari menunjuk ke arah Nadya.


Feril dan lainnya langsung menoleh.


"Wuih, tuh cowok kan pacarnya Karen! Kok malah jalan sama Nadya." Feril terkejut begitu melihat Chalvin dan Nadya jalan bersama.


"Gua mencium bau-bau perselingkuhan!" Jamet malah lebih dulu curiga.


Penasaran, Feril dan kawan-kawannya pun membuntuti keduanya. Chalvin dan Nadya terlihat memasuki kedai setabrak dan mengambil tempat duduk paling pojok.


"Nah, ketangkap basah kalian berdua!" Feril dan kawan-kawannya muncul tiba-tiba dan menghadang keduanya.


"Dasar friendnivora, pemakan teman! Tanaman makan pagar! Pacar teman lu sendiri lu embat!" serang Feril tiba-tiba mengeluarkan seluruh hardikannya pada Nadya.


"Pantes aja Farel udah gak sama nih cewek. Gak beres, sih!" sambung teman Feril sambil menunjuk ke arah Nadya.


Ucapan Feril dan kawan-kawannya, membuat Chalvin yang tak mengerti apa-apa, lantas menoleh ke arah Nadya dengan tatapan penuh pertanyaan.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2