DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 200 : Masih Perlu Usaha!


__ADS_3

Karen baru saja tiba di kediaman Bratajaya sepulang dari kampus. Banyaknya tugas kampus membuat ia berencana menyelesaikannya di rumah. Saat hendak menaiki tangga menuju kamarnya, fokus Karen teralihkan saat mendengar suara Oma Belle di dapur. Tak langsung ke kamar, ia pun menuju dapur untuk sekadar menyapa wanita adikuasa di rumah itu. Namun, langkah Karen terhenti seketika kala melihat Silvia juga berada di sana dan tengah sibuk memasak.


"Coba Oma cicip dulu, pas gak rasanya?" Silvia terlihat tengah menyuapi Oma Belle kuah sup yang baru dimasaknya.


"Hum ... ini enak sekali!" gumam Oma dengan mata melebar, "gak nyangka kamu yang dulu gak tahu apa-apa, sekarang malah pinter masak. Oma benar-benar gak salah pilih calon untuk Chalvin. Udah ayu, jago masak lagi!" puji Oma Belle yang sontak membuat Silvia besar kepala.


"Eh, Karen, dah pulang?" tegur Silvia begitu melihat Karen berdiri tak jauh dari mereka.


"Nah, Karen, sini kamu! Coba kamu cicipi masakan Silvia. Enak-enak loh! Cocok buat kamu yang lagi hamil. Kalo ada waktu, kamu belajar masak sama Silvia. Darren itu suka menu rumahan kayak gini dibanding menu-menu restoran yang sering kamu pesan."


"Ah, Oma, Karen pasti lebih jago masak dari aku." Silvia berlagak merendah sembari mengulum senyum.


"Mana ada! Justru Karen itu gak bisa masak sampai sekarang. Maklum ... Gadis-gadis ibukota kan emang pada gak mau pegang alat dapur. Lebih suka dandanin kukunya. Untung kamu gak gitu!" Oma Belle memberi dua jempol pada Silvia langsung di hadapan Karen.


Perkataan Oma Belle yang terkesan membandingkan dirinya dengan Silvia, membuat Karen berkecil hati. Tak mau suasana hatinya yang senang berubah kelam, ia pun memberi alasan agar segera beranjak dari sana.


"Om, aku mau selesaikan tugas kampus dulu," ucap Karen sambil berbalik.


"Oh, iya, tolong hubungi Darren suruh pulang makan siang di sini!" perintah Oma Belle.


"Mas Darren sibuk, Oma. Gak bakal sempat pulang makan siang," balas Karen.


"Oh, gitu, sayang sekali, padahal nak Silvia udah masak menu segini banyaknya." Oma Belle menyesalkan.


"Tapi aku tadi udah nelepon Darren kok barusan. Dia bilang dikit lagi bakalan pulang kok," sahut Silvia.


"Dia nelepon Darren?" Hati Karen bergumam penuh kedongkolan.


Benar saja, sekitar satu jam kemudian, Darren pulang ke rumah. Ia menghampiri Karen yang sibuk mengetik, seolah tak peduli dengan kepulangannya. Ia melingkarkan sebelah tangannya di leher perempuan itu sambil menunjukkan bawaannya.


"Aku beliin rujak bangkok, nih!"


"Makasih!" kata Karen dengan nada jutek.


Kehadiran Darren malah tak membuat Karen senang. Pasalnya, ini merupakan hal yang jarang dilakukan karena pria itu kerap memilih makan siang di kampus, bahkan di meja kerjanya sendiri. Kekesalannya semakin menjadi karena menganggap suaminya pulang untuk memenuhi permintaan Silvia. Saking kesalnya, suara dari ketikan terdengar nyaring karena jari-jarinya menekan papan tombol laptop dengan sangat kuat. Sudah mendapat kode seperti itu pun tampaknya Darren tak menyadari jika Karen tengah menahan geram.


"Tumben pulang buat makan siang," sindir Karen sambil menatap Darren yang tengah membuka kancing kameja di badannya.


"Kan, udah gak ada mata kuliah yang diisi. Lagi gak buat penelitian juga. Ngapain masih bertahan di kampus," jawab Darren dengan santai.

__ADS_1


"Gak ada mata kuliah lagi?" tanya Karen mengernyit.


"Iya, beberapa hari yang lalu pas insiden kepala aku luka kan aku ngadain makeup class."


(Makeup class: kelas pengganti)


Mata Karen berbinar cerah seketika. "Jadi kamu pulang bukan karena mau makan siang doang, kan?"


"Ya, kalo cuma makan siang doang ngapain pulang. Karena udah gak ada yang dikerja di kampus makanya aku pulang. Lagian aku juga dah ditraktir makan siang sama pak Ahmad."


Karen langsung menggantungkan tubuhnya di leher Darren. Tak siap menangkap tubuh Karen yang meloncat ke badannya, Darren malah terhuyung ke belakang hingga keduanya sama-sama terjatuh di atas ranjang.


"Kamu ini main nubruk aja. Gimana kalo perut kamu kenapa-kenapa!"


Darren mengelus perut Karen dengan cemas. Namun, Karen langsung menarik lengan Darren ke sisinya hingga kepala pria itu ikut tertarik mendekat. Karen mengangkat kepalanya lalu mendaratkan kecupan ringan di bibir suaminya. Darren membalasnya dengan memberi kecupan bertubi-tubi di seluruh wajah Karen hingga membuatnya memekik manja.


Aksi Darren terhenti ketika terdengar suara ketukan pintu. Ia lantas beranjak dari tempat tidur untuk membuka pintu. Karen tersentak melihat Silvia berada di depan pintu.


"Darren, makan, yuk! Tuh dah ditungguin Oma di bawah!" ajaknya sambil tersenyum.


***


Dari tempat pameran, Chalvin mendatangi coffee shop tempat Nadya bekerja. Kafe yang menyediakan kopi sebagai menu utamanya itu tampak ramai karena memasuki jam nongkrong mahasiswa. Begitu masuk, para pengunjung yang notabene adalah mahasiswi muda lantas menoleh ke arahnya. Ya, berwajah tampan dengan pakaian khas taipan pada umumnya, wanita mana yang tak tergiur?


"Kamu kenapa blokir aku? Kamu gak bisa gitu aja akhiri hubungan kita!"


Suara Chalvin yang begitu nyaring, membuat Nadya terkesiap sekaligus tak nyaman karena beberapa pasang mata langsung menoleh ke arahnya.


"Kak Chalvin, bisa gak, gak usah usik aku lagi?" bisik Nadya dengan nada sedikit memohon.


"Gak bisa!" tandas Chalvin.


"Jangan seenaknya kayak gini!"


"Kamu aja seenaknya cut off aku!"


(Cut off dalam English Jaksel: memutuskan hubungan)


Nadya menghela napas seraya memandang Chalvin penuh kekesalan. Ia pun membawa Chalvin menepi dengan keluar dari kafe lewat pintu samping.

__ADS_1


"Aku punya teman sebaya. Aku bakal kasih nomor ponselnya ke Kakak. Mungkin dia mau jadi pacar bohongan Kakak. Yang jelas, aku udah gak mau berurusan dengan Kakak!"


Mata Chalvin membulat seketika. "Jadi kamu masih mikir aku cuma jadiin kamu pacar bohongan?"


Nadya bergeming dan hanya melengos.


"Kamu gak percaya sama aku?" tanya Chalvin sambil tetap memandang Nadya yang enggan menatapnya.


"Justru aku sangat percaya sama Kak Chalvin. Aku percaya-percaya aja waktu Kakak ngajak ngedate, berpikir Kakak benar-benar membuka hati untuk aku."


"Kalo kamu beneran percaya sama aku, seharusnya kamu gak bakal goyah kek gini hanya karena terpengaruh dengan pikiran negatif kamu sendiri tentang aku!"


Di waktu yang sama, ponsel Chalvin mendadak berderu. Ia mengecek panggilan tersebut. Nama Oma Belle tercantum di layar gawai. Ia pun meminta Nadya menunggunya sejenak untuk menerima telepon Oma Belle.


"Halo Oma ...."


"Chalvin, kamu makan siang di rumah, ya! Nih, Silvia udah repot-repot masak yang banyak buat keluarga kita."


"Aku lagi ...."


"Gak ada alasan!" Oma Belle bahkan tak memberi kesempatan Chalvin untuk menolak. "Kata sekretarismu, kamu lagi gak sibuk. Pokoknya Oma tunggu sekarang juga!" titahnya lagi.


Telepon langsung terputus begitu saja. Rupanya apa yang Oma Belle katakan sempat terdengar oleh Nadya.


"Kak Chalvin maaf, aku masih harus sibuk kerja!" Nadya berbalik, hendak kembali masuk ke kafe. Namun, ia mendadak terdiam lalu menoleh kembali pada Chalvin yang masih di belakangnya. "Jodoh yang Oma siapin kayaknya sangat pas buat Kakak. Kenapa gak coba jalani aja dulu," ucapnya yang kemudian berlalu.


.


.


.


Catatan author ✍️✍️✍️


Udah tembus 200 chapter gays 🤣🤣. Bosan, gak? Kalo kalian bosan, gimana aku yang nulis 🤕😆 karena jujurly mulai dari chapter 130 aku kehilangan minat buat lanjutin cerita ini. Aku bahkan udah 3 kali ajuin novel ini buat ditamatin aja, tapi ditolak editor. Jadi, bukan aku yang mau manjang-manjangin, ya.


Pertama-tama aku mau apresiasi diriku sendiri karena mampu menantang diri membuat novel yg temanya gak banget buat aku sendiri hingga nembus 200 chapter dengan isi bab rata-rata 1200-1800 kata. Ini prestasi aku gays 🤣 karena sebelumnya novelku belum ada yg nembus 200 bab, walaupun semua novelku sebenarnya bisa nembus 200 bab karena per babnya panjang2.


Mohon sorry banget juga. Belum bisa up rutin, aku bukan penulis murni. Nulis bukan pekerjaanku dan bukan juga tempatku mencari nafkah. Mengusahakan melanjutkan tulisan ini dengan menyisipkan isu sosial yg terjadi di masyarakat adalah caraku membuat karya ini sedikit bernilai. Karena aku selalu punya pesan yang pingin aku sampaikan ke readers aku setiap nulis novel. Kalo yang udah baca novel-novel aku lainnya pasti tahu, ya, karakter tulisanku.

__ADS_1


Terus, gua pernah bilang ya, kalo di chapter 100-an, cerita akan berkembang ke karakter pendukung. Dan itu sedang terjadi saat ini di mana cerita tak hanya berfokus pada Karen dan Darren saja, tapi juga orang-orang di sekeliling mereka. Aku pikir novel ini masih ringan, gak ada yang pure antagonis semua pemeran punya dua sisi baik dan buruk. Siapa coba yang antagonis, Marsha? Kagak, dia cuma kek sifat para mantan kebanyakan yang Denial. Farel? Dia rese doang. Gak ada kan karakter yang sampai ngeracunin tokoh utama, ngefitnah tokoh utama, atau karakter perempuan yg rela dihamilin suami orang kek komik2 Cina yang gua translet. konflik2 yang ada juga gak bikin kalian mau banting hape, iya, kan?


Terima kasih untuk kalian yang bertahan sampai sejauh ini. Setia hingga bab 200 ini di tengah update yg gak menentu. Rajin ngasih gift, klik iklan, dan ngasih komen. Buat yang baru baca tulisan aku di novel ini, yang belum pernah ninggalin komentar satupun di 200 bab ini, boleh ya say hello dikit di bab ini. Biar gua kenal jugalah sama readers baru 😎👍


__ADS_2