
Masih berada di atas gedung fakultas, Feril dan Marsha rupanya tak luput dari pandangan geng Mahdi saat ini. Mereka memantau apa yang tengah dilakukan keduanya. Pasalnya, mereka benar-benar menyangka hubungan Feril dan Marsha lebih dari sekadar mahasiswa dan dosen.
"Enak banget ya si Feril dah punya gebetan. Beda sama gua, terakhir putus aja sama tali pusar," celetuk Gimbal sembari mengintip dari tangga.
"Sebenarnya elu bisa punya cewek, tapi masalahnya cewek yang gak mau sama elo!" balas temannya menohok.
"Cepat juga, ya, si Feril move on dari Karen," timbrung kawannya.
"Ya, iyalah. Ibukota aja udah mau pindah, masa perkara hati gak bisa pindah!" balas Jamet dengan posisi kedua tangan di lutut.
"Benar-benar, dah, kita dah ketipu. Selama ini dia kan diam seperti kena virus, ternyata bergerak mencari dengan serius," sambung Gimbal.
"So sweet banget Bu Marsha!" seru Jamet.
"Emang lagi ngapain mereka?" tanya kawan-kawannya penasaran.
Karena berdiri paling depan di antara kawan lainnya, membuat ia bisa leluasa melihat Feril dan Marsha dibanding teman-temannya yang berada di belakangnya. Sayangnya, ia pun tak tahu apa yang sedang keduanya lakukan di sana.
"Kayaknya Bu Marsha lagi ngajarin Feril dengan telaten," duga Jamet.
Marsha yang sedari tadi menunggu kedatangan Feril, langsung mengerjakan tugas-tugas Feril.
"Wah, makasih banget, Miss! Dah dikerjakan langsung. Padahal tadinya cuma minta diajarin doang!" kata pria itu berbasa-basi. Nyatanya ia memang mengharapkan tugas itu dikerjakan langsung oleh Marsha.
Ia lantas memosisikan duduk berhadapan dengan Marsha yang sibuk mengerjakan tugasnya. Dengan memangku sebelah kaki, pria itu justru sibuk bermain gim. Namun, sesekali matanya mengintip Marsha dari atas ponselnya.
"Miss kenapa? Kok mukanya kusut gitu? Lagi mikirin cicilan, ya?" tanyanya seraya menatap mimik dingin tanpa senyum yang terpasang di wajah Marsha.
"Bukan urusan kamu!" ketus Marsha sambil mengerjakan hitung-hitungan.
Ya, hari ini suasana perempuan itu memang sedang buruk. Ia masih terbawa kesal dengan kejadian semalam, di mana ia justru tersisihkan di saat hendak menjatuhkan mental Karen. Ia masih tak terima karena Darren kini memilih mengekspos status pernikahan. Padahal, selama ini ia cukup menikmati saat para mahasiswa kerap menjodoh-jodohkan dirinya dan Darren. Lebihnya lagi, saat ia berjalan menuju tempat ini, banyak mahasiswa yang membahas tentang pernikahan Darren dan identitas istrinya yang telah terkuak.
"Lihat ini! Untuk makalah kamu hitung sendiri datanya, aku dah kasih contoh! Jangan lupa, seperti biasa ... untuk tugas makalah atau uraian, kamu improve dengan kata-kata kamu sendiri. Saya hanya menulis intinya aja. Kamu harus tetap menjelaskan lebih lanjut!" perintah Marsha seraya menjelaskan beberapa tugas.
"Sipp!" Feril menunjukkan ibu jempolnya.
Usai bertemu dengan Marsha, Feril yang baru saja keluar turun dari rooftop langsung dikerumuni anggota Mahdi. Mereka menyerbunya dengan pertanyaan terkait tentang kedekatannya dengan Marsha.
"Ril, lu sama Bu Marsha beneran?"
"Gimana ceritanya Bu Marsha bisa deket sama Lo?"
__ADS_1
Masih seperti biasa, Feril tak memberi jawaban yang pasti. Ia sepertinya membiarkan mereka berpikir kalau dirinya memiliki hubungan romantis dengan Marsha. Kesalahpahaman kawan-kawannya, justru membuat Feril besar kepala dan berbangga diri.
"Ngapain Kepo-in gua? Mending kalian cari cewek sana, biar gak jadi JONATAN, jomblo na'as, karatan lagi," cibir Feril.
"Sorry, ye ... kita ini KEJORA tahu, kelompok jomblo ceria," tampik gimbal.
"Kita bukannya jomblo, Ril. Cuma lagi ngijinin jodoh kita berpetualang ke hati yang lain dulu."
"Beberapa orang ada yang kisah cintanya emang kek jalan tol. Mulus gitu .... Kalo kita mah kek jalan pelosok yang gak tersentuh infrastruktur."
Kawan-kawan Feril membela diri dari cibiran pria itu. Padahal, kawan-kawannya itu tak tahu saja jika Feril juga senasib dengan mereka.
"Heleh ... ngeles aja lo pada!"
"Ajarin kita, Ril, cara dapat gebetan kek Bu Marsha," pinta salah satu dari mereka.
"Intinya kalo mau cari pacar spek ibu dosen, lu lu pada harus lakukan 3B. Bersabar, berusaha, dan bercermin!" kata Feril sambil berkacak sebelah pinggang.
Pria itu kemudian pergi meninggalkan kawan-kawannya untuk mengantar tugas. Ia hanya bisa menahan tawa melihat teman-temannya yang tampak percaya jika ia sedang menjalin hubungan dengan Marsha.
"Pura-pura punya cewek ternyata gampang, ya? Yang susah cuma pura-pura punya duit doang!" gumam Feril dalam hati sembari senyam-senyum tak jelas.
Feril tersenyum miring sembari menoleh kembali ke arah Marsha yang telah berlalu di hadapannya. Bertepatan dengan itu, terdengar beberapa mahasiswi yang bergosip.
"Eh, kata anak jurusan hubungan internasional, semalam Pak Darren bawa istrinya loh. Tau enggak siapa istrinya?"
"Siapa?"
"Karen anak semester empat."
"Serius? Kirain pak Darren selama ini pacaran sama Bu Marsha. Kan mereka dekat banget."
"Kayaknya Bu Marsha-nya aja yang terlalu ganjen dan mepet mulu sama pak Darren."
Mendengar pembicaraan para mahasiswi itu, Feril pun kini mengetahui hal yang membuat Marsha memberengut kesal.
***
Berbeda dengan banyak mahasiswa yang mulai pulang setelah seharian berada di kampus, Nadya justru terkapar lemah tak berdaya di atas tempat tidurnya. Wajahnya pucat, bibirnya kering kerontang. Jika Chalvin tak segera datang, mungkin keadaannya akan lebih memburuk.
Pintu kosnya berderit pelan. Chalvin datang kembali setelah membelikan obat yang diresepkan dokter. Ia duduk di sisi tempat tidur sembari membuka kotak berisi makanan dan beberapa buah-buahan yang baru saja dibelinya.
__ADS_1
"Makan dulu sebelum minum obat. Aku beliin bubur sama ayam tim." Chalvin membantu Nadya duduk dan bersandar.
Nadya menatap gamang ke arah Chalvin. "Kak Chalvin kenapa gak pulang aja?"
Tak menghiraukan pertanyaan Nadya, Chalvin malah mengarahkan sesendok bubur ke mulut gadis itu. Nadya justru menggeleng seraya menunduk. Bertepatan dengan itu, ponsel Chalvin mendadak berdering. Namun, pria itu lebih memilih mengabaikannya.
"Buka mulut!" perintah pria itu.
Mulut Nadya tetap terkatup rapat. Sementara ponsel Chalvin masih terus berderu. Chalvin menarik kembali sendok yang diarahkan ke Nadya.
"Kalo gak mau disuap pakai sendok, aku ganti suap pakai mulut aku!" ucap Chalvin dengan sebelah mata yang menyipit.
Rupanya, ancaman Chalvin cukup ampuh karena Nadya langsung membuka mulutnya dan bersedia menerima suapan demi suapan.
Di sisi lain, Oma Belle yang sudah bersiap untuk pergi ke pesta, tengah mondar-mandir dengan ponsel yang menempel di telinganya. Ia mulai geram karena chalvin tak kunjung menerima panggilannya. Meski sudah menyandera mobil, tetap saja tak membuat Chalvin datang atau sekadar menghubunginya.
"Ke mana, sih, ini anak? Di kantor juga gak ada! Jangan-jangan ngurung diri di apartemen sama tuh cewek!" Oma Belle mulai meledak-ledak.
Silvia hanya duduk anggun sembari memperbaiki tatanan rambutnya. Baginya, tak peduli Chalvin datang atau tidak yang terpenting dia bisa menghadiri pesta pernikahan kalangan konglomerat Jakarta untuk keperluan instastory-nya.
Karen mendekati Oma Belle yang terus menggerutu. "Loh, Oma kok belum pergi?" tanyanya.
"Ini gara-gara nungguin Chalvin!" cetus Oma Belle sambil mengipas wajahnya sendiri. Ia mendadak teringat jika Karen berteman baik dengan Nadya.
"Karen, kasih tahu sama teman kamu itu, gak usah deketin Chalvin lagi. Kamu tahu sendiri, kan, Silvia ini calonnya Chalvin!"
Karen mengernyit bingung. "Maksud Oma ... Nadya?"
"Siapa lagi?" sergah oma dengan suara melengking.
Karen tak mengerti kenapa tiba-tiba Oma Belle tampak begitu kesal dengan Nadya. Apalagi Oma Belle tak pernah setantrum ini.
Silvia mendekati Oma Belle sambil merangkul tangannya. "Udah dong, Oma. Karen kan sahabatan sama Nadya. Tentu dia lebih bela Nadya. Mungkin tuh cewek pengen kayak Karen yang nikah muda, cuma caranya aja yang salah."
Oma kembali menoleh pada Karen yang bengong. "Kamu gak usah temenan sama dia. Dia tuh perempuan gak beres!" Amarah Oma Belle terasa begitu kental dari setiap penekanan kata yang ia berikan.
Karen yang bersahabat baik dengan Nadya tentu tak terima dengan tuduhan Oma Belle.
.
.
__ADS_1