DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 211 : Mantan Pacar Problematik


__ADS_3

Tanpa ragu, Darren langsung memperkenalkan Karen pada pimpinan tertinggi universitas beserta jajarannya yang hadir.


"Oh, jadi ini istri kamu? Dia mahasiswa kita, kan?"


"Iya, Pak," jawab Darren.


"Pak Darren ini dulunya saya mau jodohkan sama anak saya, loh!" ucap pak rektor pada Karen sambil terkekeh.


Tak hanya pak rektor, para jajaran wakil rektor pun berujar sama. Karen yang canggung hanya bisa tersenyum sambil menguatkan rangkulan tangannya di lengan Darren. Pasalnya, banyak pasang mata yang tertuju padanya saat ini. Meski begitu ia merasa lega mendapat respon positif dari mereka.


Darren terus menggenggam tangan istrinya meski tengah sibuk mengobrol dengan para dosen lainnya. Tak lama kemudian, Marsha mendekat dan menyapa Karen dari arah samping.


"Karen? Enggak nyangka kamu ikut hadir juga!" ucapnya dengan ramah.


"Eh, ada Bu Marsha!" Karen menyapa balik.


Marsha melirik ke arah Darren yang sibuk mengobrol dengan beberapa kaprodi dari berbagai jurusan.


"Karen, ikut aku, yuk! Jangan nempel terus sama suami. Itu bikin lawan bicaranya canggung buat ngobrol lepas," bisik Marsha.


Merasa apa yang dikatakan Marsha benar, Karen pun mengikuti instruksi wanita itu. Ia melepaskan genggaman tangan Darren dan ikut bersama Marsha.


"Darren bakal dilantik jadi kaprodi akuntansi, jadi sebagai istrinya kamu harus lebih pengertian kalo nanti Darren lebih banyak meluangkan waktu mengurus mahasiswanya," ucap Marsha sambil berjalan. Seperti biasa dia bertindak seolah paling tahu segalanya tentang Darren.


Wanita yang pernah menjadi mantan kekasih suaminya itu mengajaknya ke perkumpulan dosen wanita yang masih muda dan cantik-cantik tentunya. Mereka saling mengobrol ringan, membahas soal penelitian dan publikasi jurnal ilmiah. Sementara, Karen hanya bisa terdiam di sisi Marsha. Sesekali matanya menatap ke arah Darren yang juga sibuk mengobrol dengan para dosen. Jelas, tempat ini bukanlah lingkaran pergaulannya.


Setelah sepuluh menit membiarkan Karen berdiri bodoh di sampingnya, Marsha pun memperkenalkan pada dosen-dosen muda.


"Oh, iya, kenalin dulu. Ini Karen, istrinya profesor Darren."


"Istrinya Darren?" Semua terperanjat sambil memusatkan tatapan mereka pada Karen.


Mendapat tatapan dari wanita-wanita muda yang berpendidikan tinggi, tentu membuat Karen gugup dan hanya bisa tersenyum.


"Ia, dia masih mahasiswa . Mahasiswa di kampus kita," ucap Marsha sambil menyentuh lengan Karen.


"Jadi ini mahasiswanya sendiri? Serius?" tanya mereka tak percaya.

__ADS_1


Hubungan romantis antara dosen dan mahasiswa memang bukan hal langka. Namun, mengingat pria yang mereka bicarakan adalah Darren, tentu mereka menganggap pria itu memiliki selera yang cukup tinggi. Apalagi, Darren selama ini terkesan cuek pada mahasiswa perempuan yang mengidolakannya.


"Kaget kan Darren seleranya level mahasiswa?" imbuh Marsha dengan nada meremehkan.


"Gak semua manusia seleranya harus sama, kan? Mungkin Ibu gak suka punya pasangan dari kalangan mahasiswa, tapi suami saya kan beda. Dia gak mandang orang hanya dari pangkat atau statusnya." Karen menangkis serangan passive agresive yang dilayangkan Marsha.


Marsha terdiam dan berlagak memperbaiki poni sampingnya.


"Aku pikir Darren belum nikah loh," sahut salah satu di antara mereka.


"Yah, namanya juga perjodohan. Mana bisa ditolak," ucap Marsha menunjukkan wajah prihatin.


"Benar, Bu. Mana bisa saya nolak pak Darren. Yang ada entar saya nyesel kayak mantannya yang gagal move on," balas Karen menohok.


"Pasti sibuk banget ya tiap hari ngurusin Darren," tanya lainnya.


"Enggak juga kok, Bu. Kami menjalani kehidupan rumah tangga yang santai. Dia selalu support secara mental dan emosional sehingga saya bisa upgrade diri menjadi lebih baik. Saya pun masih bisa kerja freelance," tampik Karen apa adanya.


"Oh, ya? Freelance bidang apa kalo boleh tahu?" tanya mereka yang mulai antusias.


"Saya konten kreator untuk produk kecantikan. Kebetulan udah kerja sama dengan beberapa brand lokal juga." Karen berusaha untuk tak minder pada siapapun dengan menunjukkan value dirinya.


"Tapi konten kreator itu gak bisa disepelekan loh sekarang ini!" imbuh lainnya.


"Makeup kamu bagus banget. Boleh tahu enggak, pake jasa MUA siapa?" Salah satu dari dosen itu bertanya.


"Saya ... cuma makeup sendiri," jawab Karen malu-malu.


Para dosen itu sontak bertanya-tanya pada Karen tentang produk kecantikan. Sementara, Marsha hanya bisa diam sambil menahan kesal. Bermaksud membuat Karen minder, justru dirinya yang kini tersisihkan dari obrolan. Bagaimana bisa seorang mahasiswa biasa malah menjadi pusat perhatian kawan-kawannya yang berstatus dosen?


Darren menghampiri Karen yang masih mengobrol dengan dosen-dosen muda. "Sayang, aku cariin dari tadi. Ternyata ada di sini!"


"Darren, aku kaget loh kamu nikah! Pinter juga, ya, kamu nyari yang masih muda!" ucap teman sesama dosen dari fakultas lain.


Darren tak sungkan merangkul istrinya dengan mesra di hadapan teman-teman dosen. Ia juga memberitahu bahwa istrinya tengah mengandung. Akhirnya mereka tak perlu menyembunyikan status pernikahan lagi. Di balik kelegaan yang mereka rasakan saat ini, ada Marsha yang merasa panas dan terbakar karena sulit menerima fakta bahwa mantan kekasihnya kini lebih bahagia bersama orang lain.


Di kediaman Bratajaya, Oma Belle bersungut-sungut karena kejadian pagi tadi di apartemen Chalvin. Seperti biasa, ia meluapkan kekesalannya pada kakek Aswono. Tampaknya, ia masih bersikeras tak akan membiarkan Chalvin berhubungan dengan Nadya.

__ADS_1


"Anak muda jaman sekarang cita-citanya pengen kayak Cinderella yang dapatin pangeran. Kalo Cinderella copotin sepatu, mereka tak sungkan copotin baju buat dapatin lelaki kaya raya."


"Kamu ini ngomong apa, sih? Belum waktunya tidur udah ngedongengin aku!"


"Sapa yang ngedongeng, Mas? Saya itu lagi cerita tentang Chalvin. Masa tadi pagi saya ke apartemennya, ada tuh cewek? Bisa ditebak, kan, mereka ngapain?"


"Cewek siapa?"


"Itu temannya Karen yang diakui sebagai pacarnya. Aku yakin dia pasti sering nginap di apartemen Chalvin!"


"Ya, sudah nikahin aja mereka berdua kalo gitu, biar ceweknya tinggal selamanya di situ, gak perlu capek-capek nginap," ucap kakek santai dengan senyum gelitik khasnya.


Mata Oma Belle terbelalak seketika. "Apa? Nikahin? Kamu ini gimana toh, Mas? Masa mau nikahin Chalvin sama cewek penggoda kayak gitu? Entah sudah berapa pria yang digodanya!"


"Huss ... gak boleh suudzon!"


"Suudzon gimana kalo saya lihat sendiri tuh cewek baru keluar dari apartemen Chalvin sepagi itu?" Suara Oma semakin melengking.


"Gimana kalo kebalik, justru Chalvin yang godain dia dan maksa bawa ke apartemen!"


"Sekalipun kayak gitu, wanita yang punya harga diri gak akan mau dibawa ke apartemen laki-laki! Aku dah tahu seluk beluk kehidupan dia sebelum sama Chalvin. Gak pantes buat Chalvin pokoknya! Udah bener, Silvia yang jadi pasangannya!"


"Jangan lupakan juga seluk beluk Chalvin sebelumnya. Kata orang, jodoh itu cerminan diri loh! Kamu boleh gak setuju dengan hubungan mereka, tapi jangan mengukur manusia hanya dari masa lalunya. Gimana kalo suatu saat nanti ada orangtua dari anak yang keberatan juga sama masa lalunya Chalvin?" ucap kakek Aswono.


"Chalvin kan bakal kita jodohin sama Silvia. Orangtuanya juga sudah setuju."


"Tapi Chalvin-nya gimana? Apa dia setuju?"


"Dia harus setuju!" tekan Oma Belle. Wanita tua itu terdiam sejenak sembari memikirkan cara mendekatkan Chalvin dengan Silvia. Mungkinkah ia harus meminta pria itu untuk kembali tinggal di rumah ini?


Hari masih berjalan seperti biasa. Sehari setelah kejadian Nadya dipergoki Oma Belle, Chalvin tak bisa lagi menghubunginya. Pria itu menyadari Oma Belle pasti telah melontarkan kata-kata yang tak mengenakkan pada kekasihnya itu.


Bahkan ketika pria itu memutuskan mendatangi di coffee shop, Nadya juga tak ada di sana. Para karyawan mengatakan gadis itu tak muncul sejak pagi. Bukankah ini aneh?


Tak menyerah Chalvin pun memutuskan mendatangi kos-kosan Nadya. Begitu tiba di sana, jajaran kos-kosan itu terlihat sepi di mana setiap pintu tertutup seperti tak ada penghuni. Pria itu mencoba mengetuk pintu kamar Nadya. Sayangnya, tak ada balasan sama sekali. Saat mencoba memutar gagang pintu, ia menyadari terkunci dari dalam. Artinya, Nadya memang ada di dalam sana.


"Nad, ini aku! Tolong buka pintunya!" teriak Chalvin sambil kembali mengetuk pintu.

__ADS_1


Masih tak ada balasan, Chalvin mencoba mengintip dari kaca jendela yang gordennya tak tertutup rapat. Mata pria itu terbelalak seketika begitu melihat ke dalam.


__ADS_2