
Karen kembali ke apartemen dengan membawa hati yang gundah gulana. Rupanya, perkataan Oma Belle sedikit mengusik hatinya. Sampai-sampai ia membayangkan suaminya menikah lagi gara-gara ia tak mau memberinya keturunan. Saking menghayati imajinasinya yang tidak-tidak, Karen tak menyadari kehadiran mami Valen yang telah lama menunggu di depan pintu apartemennya.
"Karen, My sweety pie!" sapa mami Valen dengan gayanya yang khas.
Karen masih mematung di depan pintu, seolah mami Valen adalah makhluk astral yang tak dilihatnya.
"Karen, Karen Honey ...." Mami Valen mengibas-ngibas sebelah tangannya untuk membuyarkan lamunan anaknya.
Bukannya sadar, Karen malah semakin tenggelam dalam lamunan horornya. "Gimana kalau Darren benar-benar nikah sama cewek lain terus ninggalin aku?"
"Apa?" Mami Valen yang mendengar lontaran asal anaknya, lantas terbelalak. "Memangnya Darren mau nikah sama siapa?" tanya mami Valen penasaran.
"Ya, sama cewek yang mau kasih dia banyak keturunan!" sambung Karen sambil menatap kosong ke depan.
"Ini tidak bisa dibiarkan!" Mami Valen merebut tas Karen, lalu mengambil ponsel anaknya untuk menghubungi anak mantunya.
Sikap spontan mami Valen akhirnya membuat Karen yang sempat terjerambab ke dunia khayalnya lantas tersadar. "Mami? Sejak kapan mami di sini?" tanyanya bengong.
"Ssstttt ...." Mami Valent yang tengah menelepon, malah menyuruh anaknya diam.
"Eh, mami kok pake hp-ku?"
"Halo, Darren. Ini maminya Karen. Mami benar-benar enggak nyangka ternyata kamu itu buaya. Baru juga nikah sama Karen, udah mau nikah lagi! Jangan mentang-mentang anak saya masih muda terus kami punya utang Budi ke keluarga kamu, lantas kamu seenaknya permainkan anak saya, ya!" cerocos mami Valen dengan sengit.
Darren yang menerima telepon itu, lantas hanya mengernyit bingung menerima emosi mertuanya yang meletup-letup.
"Tunggu, Mi. Ini ada apa, ya?"
"Pake nanya lagi! Kan udah jelas apa yang saya omongin!"
Omongan mami Valen terputus ketika Karen merebut ponselnya dan segera memutus telepon.
"Duh, mami apa-apaan, sih?"
"Hei, mami itu belain kamu! Kamu sendiri kan yang barusan bilang kalau Darren akan menikah sama perempuan yang bisa kasih dia keturunan."
"Iya, tapi ... tapi itu ....."
__ADS_1
"Tapi apa?"
"Tapi itu cuma khayalan aku doang," ucap Karen malu-malu dengan suara nyaris berbisik.
Seketika, mata mami Valen membeliak. "Ya, Ampun! Cuma ngayal doang?"
Karen mengangguk cepat.
"Kok bisa profesional gitu khayalnya. Terus bakal terealisasi, enggak?"
"Ya, jangan didoain, dong, Mi!" tandas Karen cepat.
Tak lama kemudian, Darren menelepon balik ke nomor Karen. Ia menanyakan maksud dari omongan mami Valen barusan.
"Gak papa kok. Mami aku yang salah tanggap. Maaf, ya ...." ucap Karen malu-malu sambil melirik ke arah mami Valen.
Di sisi lain, Oma Belle yang baru saja pulang dari kafe, ternyata mengadukan obrolan antara dirinya dengan cucu menantu mereka.
"Anak-anak muda jaman sekarang, gaya-gayaan ngomongin dunia yang over populasi. Buang sampah aja masih sembarangan, sok-sokan mau jadi pemerhati bumi," ketus Oma bernada sewot.
Bukannya menanggapi, kakek Aswono malah asyik mengobrol dengan burung Kakatua berjenis putih kesayangannya yang diberi nama Darling. Hal itu tentu membuat Oma semakin kesal, karena merasa diabaikan. Apalagi kakek Aswono terus memanggil-manggil si Darling tanpa melirik ke arahnya.
"Ya, dengar! Tapi mau gimana lagi, cucu kita sendiri sudah ngomong kalau dia tidak subur," ucap kakek Aswono mengingat perkataan Darren tempo hari.
"Itu cuma akal-akalan Darren aja biar kita enggak nagih cucu lagi!"
Wajah kakek Aswono berubah menjadi serius seketika. Ia membuka blangkon, memamerkan kepalanya yang glowing sambil berkata, "Aku curiga kalau cucu kita belum jatuh cinta sama istrinya sendiri. Soalnya Darren kan tipe setia, jangan-jangan dia masih berharap kembali sama mantan pacarnya. Makanya tidak mau punya anak dari istrinya."
Dugaan kakek Aswono tentu beralasan kuat. Pasalnya, saat perjodohan itu tengah direncanakan, Darren sempat menolak mentah-mentah dan memohon agar dibatalkan.
"Seharusnya dulu kamu carikan dia jodoh yang sepadan. Minimal mirip-mirip sama mantan pacarnya dulu. Jangan yang masih mahasiswa," lanjut kakek Aswono.
"Aku pilihkan yang masih muda untuk Darren biar istrinya mudah dibimbing, bisa nurut sama dia. Lagian Karen itu kan cucu dari mitra kerja kita juga," ucap Oma Belle yang tak mau disalahkan. Tampaknya, Oma Belle pun termakan dengan ilmu cocoklogi suaminya.
...----------------...
Langit yang gelap, menjadi tanda pergantian waktu. Karen baru saja menerima paket online shop yang dipesannya siang tadi. Karen yang tak sabar, langsung membuka paket berisi pakaian yang memanjakan mata dan fantasi liarr para lelaki. Seperti kostum pramugari, kostum perawat, kostum pelayan hingga kostum atlet olahraga dalam versi yang super minim dan seksi.
__ADS_1
"Biarpun tidak merencanakan anak dalam hubungan pernikahan, tapi kalau suami bisa terpuaskan, bukannya mereka juga bakal sulit melepaskan kita?" gumam Karen sambil menyengir.
Ya, hari ini dia berencana menggoda suaminya dengan pakaian-pakaian laknat itu, lalu memberi layanan terbaik di atas ranjang. Ia bahkan mencoba salah satunya, yaitu sebuah kostum pelayan yang super seksi. Tak hanya itu, ia juga mempraktekkan cara menyambut kedatangan suaminya dengan gaya yang sensual dan nakal.
Sibuk mencoba kostum fantasi, Karen baru menyadari jarum pendek hampir angka delapan. Artinya, sebentar lagi suaminya akan pulang, karena setahunya mata kuliah terakhir yang diisi Darren dimulai pukul enam sore hingga pukul delapan malam. Ia pun segera mandi untuk merealisasikan rencananya malam ini, yaitu membuat Darren klepek-klepek hingga tak berdaya di atas ranjang.
Benar saja, sepuluh menit kemudian Darren pulang ke apartemen sambil membawakan makan malam mereka seperti biasa. Matanya berkeliling, melihat seisi ruangan yang senyap.
"Karen! Karen!" panggil Darren dengan lembut.
Karen yang mendengar panggilan suaminya, lantas terburu-buru membilas tubuhnya yang masih dipenuhi busa sabun.
"Duh, kenapa dia datang cepat banget, sih! Mana aku belum persiapin semuanya lagi! Bisa gagal deh rencana menaklukkan dia!" omel Karen sambil memakai handuk piyama.
Sementara, Darren yang terus memanggil-manggil nama Karen, langsung membuka pintu kamar mereka. Bertepatan dengan itu, Karen turut keluar dari kamar mandi. Sisa-sisa sabun yang masih menempel di kakinya, membuat Karen malah terpeleset tepat di hadapan suaminya.
"Aaauuu!" jerit Karen kesakitan.
Darren yang terkejut, langsung menolong istrinya yang jatuh dalam posisi terbaring di lantai. Ia menggendong perempuan itu, lalu membaringkan di atas ranjang.
"Aduh, punggungku sakit banget, kayak gak bisa digerakin!" keluh Karen sambil meringis.
"Coba kamu tengkurap, biar aku pijat." Darren menaikkan lengan panjang bajunya, hingga menyentuh siku tangan, lalu membantu Karen berbaring dalam posisi telungkup.
"Aw, badan aku sakit semua!" Karen masih meringis kesakitan, bahkan berteriak kencang ketika Darren menyentuh salah satu bagian dari tubuhnya.
"Tunggu, aku cari minyak pijat dulu!" Darren beranjak dari tempat tidur untuk mencari minyak pijat. Namun, matanya teralihkan pada lantai basah tempat istrinya terjatuh barusan. Takut kejadian itu terulang, ia langsung mengambil asal-asalan beberapa pakaian yang terletak di atas kursi kerjanya, untuk dipakai menyerap air yang ada di sekitar lantai itu.
Karen yang masih mengeluh kesakitan, lantas menoleh ke arah Darren yang sibuk mengelap lantai. Namun, matanya terbelalak hebat saat melihat Darren menggunakan kostum-kostum seksinya itu sebagai kain pel.
"Itu kostum punyaku kenapa malah dipakai ngepel lantai? Dipikir kanebo apa?" teriak Karen dengan berang.
Darren yang tersentak mendengar amukan istrinya, lantas mengangkat salah satu kostum super mini itu. "Ini masih kamu pakai? Aku kira udah enggak, soalnya kayak ukurannya anak kecil," ucapnya tanpa rasa bersalah.
.
.
__ADS_1
.
maaf baru up, soalnya ada tugas di luar kota. jangan lupa like dan komen ya