
Ada lebih dari seratus kutipan yang menyarankan kita mengawali pagi dengan segala macam cara. Padahal, untuk mengawali pagi hanya cukup membuka mata yang tertutup.
Di kamar yang tak terlalu besar ini, dua insan itu masih bergelung dalam satu selimut. Kamar itu seperti baru saja diserang badai tornado. Beberapa helai pakaian pria dan wanita berserakan di lantai. Bahkan bantal dan guling pun jatuh terabaikan begitu saja setelah ranjang mereka sempat berubah menjadi arena pertempuran. Biarlah semalam yang penuh dengan gairah, keringat, raungan serta cinta yang tumpah-tumpah menjadi rahasia pasangan suami istri itu. Yang pasti, keduanya mencetak skor yang sama tanpa ada yang tumbang lebih dulu.
Satu jam kemudian, Darren yang baru saja selesai mandi dan bersiap ke kampus, menatap Karen yang masih tertidur lelap. Ia pun teringat dengan percintaan mereka semalam yang begitu hebat dan melelahkan.
Pria itu mendekat, lalu berbisik hangat tepat di telinga istrinya. "Sayang, sudah waktunya bangun!"
Dengan mata yang masih terpejam, Karen malah melenguhkan suara kantuk yang terdengar imut.
"Sayang, bangun, yuk!" Darren sedikit menggoyangkan bahu istrinya.
"Aku gak ada mata kuliah pagi ini," balas Karen yang masih enggan membuka matanya.
"Bukannya kamu ada skedul mata kuliah pagi?"
Mata Karen membeliak seketika. Ia tak menyangka Darren memeriksa skedul hariannya.
Menatap Darren dengan wajah yang sengaja dibuat lesu, Karen pun menjawab, "Aku lemes banget! Gak enak badan juga. Kayak demam, gitu!"
Darren langsung meraba dahi Karen. Sepasang alisnya hampir menyatu karena merasakan suhu tubuh istrinya tampak baik-baik saja. Namun, melihat Karen yang menggigil sambil menaikkan selimut hingga batas hidung, tentu membuatnya khawatir. Untuk lebih memastikan, ia membuka laci nakas samping tepat tidur lalu mengambil termometer.
Karen terkesiap ketika Darren memasukkan ujung termometer itu ke dalam mulutnya. Tak lama kemudian, alat itu mendeteksi suhu badannya saat ini.
"Normal kok!" sahut Darren sambil menunjukkan keterangan suhu yang ada di termometer.
Berpikir sebentar, Karen malah berkata, "Tuh termometer rusak, kali! Soalnya waktu pindah rumah sempat jatuh terus keinjak!"
"Masa, sih?"
Karen memijat-mijat kepalanya sambil menunjukkan ekspresi sakit. Sejenak, ekor matanya mencoba mengintip wajah kebingungan suaminya yang tengah mencoba memperbaiki termometer. Saat pandangan mereka bertemu, Karen lantas kembali memijat dahinya sembari mengeluhkan sakit kepala.
Darren tersenyum tipis, lalu menyentil dahi istrinya dengan lembut. "Pasti ada tugas kuliah kamu yang belom selesai, kan? Makanya kamu beralasan sakit biar gak ke kampus."
"Aku ... benar-benar gak enak badan, nih! Lemes banget, mana kepala pusing! Mau berdiri pun ... kayaknya ... gak bisa. Kamu ... mau ... aku ... pingsan ... di kampus?"
__ADS_1
Setelah berpura-pura menggigil dan sakit kepala, kini perempuan itu malah berbicara terputus-putus dengan napas tersengal-sengal seperti orang sesak napas.
"Ya, sudah kalau gak mau masuk kampus!" ketus Darren sambil menaruh tas kerjanya di kursi.
"Ka–kamu ... sendiri ... ke–kenapa belom ke kampus?" tanya Karen ketika melihat Darren yang mengambil ponselnya lalu tampak mengetik pesan.
"Aku mau ngasih kabar ke anak semester lima buat nunda jam masuk."
"Loh ... kok ... gitu!" Karen masih berlagak sakit dengan bernapas pendek-pendek.
"Ayo kita ke Rumah Sakit sekarang!"
Mata Karen terbelalak seketika diikuti ekspresi kaget. "Ke Rumah Sakit?"
"Iya, kamu sakit, kan? Kalau dibiarin entar tambah parah, loh!"
"A ... e ... aku gak kenapa-kenapa kok!"
"Loh, Katanya tadi sakit! Jadi mending kita periksa aja, biar tahu pasti kamu tuh demam, sakit kepala, atau sesak napas!"
Darren tersenyum miring seraya menggeleng-geleng pelan melihat tingkah istrinya yang menggunakan seribu alasan untuk absen ke kampus. Ia mengambil kembali tas kerjanya dan langsung keluar kamar.
Begitu menutup pintu kamar, Darren langsung memicingkan mata sambil bergumam, "Apa aku terlalu bersemangat main semalam sampai dia gak mampu bangun dan kelelahan? Atau ... jangan-jangan ... dia hamil! Perempuan hamil kadang-kadang suka mager, kan?"
Memikirkan hal itu, entah kenapa membuat Darren senang sekaligus khawatir. Senang karena kemungkinan benar Karen tengah mengandung darah dagingnya. Khawatir karena Karen belum siap memiliki anak.
Berbeda dengan yang Darren rasakan saat ini, Karen langsung menyingkap selimut yang menutupi setengah wajahnya setelah memastikan suaminya benar-benar pergi. Jujur, alasannya enggan ke kampus karena pesan teror yang diterimanya kemarin. Ia takut jika ancaman mempermalukan dirinya benar-benar akan terjadi.
Gosip yang beredar belakangan ini saja sudah membuatnya tak bersemangat. Meski begitu, ia tak berniat untuk menceritakan masalah itu pada suaminya. Dia hanya penasaran, siapa yang telah meneror dan memfitnahnya serta apa motif di balik itu semua.
Karen mencoba bangun dan duduk di sisi ranjang sambil mengayun-ayunkan kakinya. "Akhir-akhir ini dia sering manggil aku dengan sebutan sayang. Aku juga pengen manggil dia kayak gitu. Tapi takutnya kebawa sampai ke kampus. Kalau keceplosan manggil sayang di kampus kan bisa kacau nantinya!"
Di kampus, Feril bersama kawan-kawannya masuk ke kelas. Karena sudah mendekati akhir semester, mereka mendadak rajin mengikuti mata kuliah apa pun untuk memenuhi kehadiran yang menjadi syarat mengikuti ujian akhir semester.
Baru saja masuk, ia langsung disapa teman sekelasnya. "Fer, lu dah tahu, belom? Karen anak semester tiga yang pernah lu tembak, ternyata simpanan dosen tuh! Pantes aja lu ditolak! Lu kalah sama dosen tua ternyata!"
__ADS_1
Feril langsung menarik kerah baju cowok itu, memaksanya berdiri. "Sekali lagi ngomong kalo Karen simpanan dosen, gua sikat gigi lu pakai kulit durian!"
Cowok tadi lantas mengatupkan mulutnya rapat-rapat dan tak berani berceloteh lagi.
"Kalau emang bener, gimana? Lu ditolak berkali-kali, loh! Apa coba alasan yang bikin dia nolak seorang Feril sejak lama. Terus, adik gue juga sekelas sama dia, katanya emang akhir-akhir ini nilai tugasnya tinggi-tinggi. Aneh, kan?" sahut salah satu cewek yang menaksir Feril sejak lama.
"Diam lu! Urus muka lu aja sana! Pakein byclin biar keliatan licin!" ketus Feril tak senang. Ia lalu menoleh ke arah gengnya yang mengekor di belakangnya. "Kalian percaya enggak gosip kalau Karen itu simpanan dosen?"
"Ya, kagaklah! Kecuali kalau ada link-nya. No link berarti hoaks. Fix, no debat!"
"Karen siapa yang kalian maksud?"
Feril dan kawan-kawannya sontak berbalik. Mereka terkejut melihat Darren yang telah berada di ruang kelas dan sempat mendengar percakapan mereka.
.
.
.
catatan author ✍️✍️✍️
ini tanggapan gua untuk beberapa komentator menarik yang gua rangkum sejak lama.
Guys, dosen enggak ngurusin hal-hal privasi mahasiswa, ya. Gak seperti guru juga yang harus mengetahui keadaan siswanya dan apa yang menimpa siswanya. Jadi, wajar kalau Darren gak tahu soal isu yang menimpa istrinya karena isu itu hanya beredar di kalangan mahasiswa. Lagian, ruang lingkup universitas itu luas ya. Satu Fakultas aja ada beberapa jurusan.
Terus, kenapa banyak pembaca yang baru baca di bab2 awal tuh kaya kaget, heran dan kecewa pas tahu Karen dan Darren dah "ina-inu". Padahal, cerita novel ini dibuka saat Karen dan Darren udah dua bulan menjalani kehidupan rumah tangga. Ada yang salah kalau mereka dah berhubungan meski dijodohkan? Darren pria dewasa, lama tinggal di LN. Karen anak muda ibukota, kita tahulah gak mungkin polos banget ala gadis kembang desa. Bukannya malah aneh kalau dua bulan belom gituan. Kecuali si Darren doyannya ma terong juga 🤣. Gua kurang ngerti, apakah syarat novel tema seperti ini, malam pertamanya harus diundur sampai berbulan-bulan, atau bertahun-tahun gitu. Apakah momen unboxing itu sesuatu yang paling dinanti oleh reader? Soalnya gua gak pernah baca novel online dengan tema perjodohan seperti ini.
Di real life, gua punya teman yang menikah dengan cara taaruf yang benar-benar sesuai syariah. Dan satu bulan kemudian, istrinya itu langsung hamil loh. Gak ada drama-drama nunda, kan?
Terus, tentang Karen yang gak bisa masak. Why? Dia anak orang kaya masih muda, manja, dan sekali lagi tinggal di ibukota. Perempuan gak bisa masak untuk era sekarang, bukan sesuatu yang perlu dijudge. Memasak itu skill, ya. Bukan sebuah kewajiban satu gender aja. Jadi, kalian harus bisa membuka pikiran kalau ada perempuan yang emang gak bisa masak dan ada laki2 yang jago masak. Kalau novel-novel gua, rata-rata cowok-cowoknya yang jago masak dan itu sesuai dengan karakter mereka yang mandiri. Dan gua sengaja bikin kek gitu untuk menghindari pemikiran toxic masculinity.
Terus, satu hal lagi yang paling menggelitik. Setiap ada adegan Darren menunjukkan sikap bertanggung jawab sebagai seorang suami, pasti akan ada yang berceletuk "cuma di novel aja ada suami/laki-laki kaya gini". Ini gua soroti di setiap komentar novel, Kenapa kalian selalu menganggap laki-laki baik hati, sabar, setia dll itu hanya ada di dunia fiktif? Apakah kalian selama ini hanya bertemu dengan pria yang sifatnya buruk dan tak bertanggung jawab? Padahal populasi pria di dunia ini menduduki setengah dari jumlah penduduk bumi, tentunya dengan sifat dan karakter yang berbeda-beda. So, jangan memandang sesuatu dari apa yang ada di sekelilingmu aja, karena dunia itu luas. Aku selalu bilang ke readers aku, dunia gak sesempit pikiranmu. Aku juga akan selalu mengajak kalian melihat kehidupan dari perspektif lain.
Ok, sekian kumur2 aku. Buat yang belom tahu, aku emang suka ngoceh kek gini. Bacanya jangan pake mode ngegas, karena gua nulis dengan santai 🤣. jangan lupa beri dukungan dengan cara like, komen, dan bagi poin.
__ADS_1