DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 125 : Karen Masih Ngambek?


__ADS_3

Masih berada di kos, Nadya menggeleng-geleng heran melihat berbagai makanan yang dipesan Karen. Baru saja hendak ikut makan, lagi-lagi kurir datang membawakan pesanan sahabatnya itu.


"Kamu pesan makanan lagi?"


"Iya. Tolong bayarin lagi, ya!" jawab Karen sambil mengunyah. Ia tampak kelaparan selepas mengeluarkan banyak air mata.


"Kar, kamu yakin bakal habisin semua makanan ini?" tanya Nadya sambil meletakkan makanan siap saji yang baru datang.


"Ini balas dendam, tahu! Seminggu lebih aku gak boleh makan ini itu gara-gara abis sakit. Sekarang aku mau makan semuanya tanpa ada yang larang. Ini enak banget, cobain!" Karen menyodorkan sekotak pastel aneka isi.


"Ih, ngeri banget patah hati malah doyan makan. Gak takut melar apa!"


"Ya, tinggal diet lagi. Apa susahnya! Oh, iya, uang kamu yang aku pakai totalin aja, ya!"


"Gak usah, Kar. Anggap aja ini traktiran."


"Jangan dong! Apalagi banyak gini, hampir sejuta keknya."


"Sudah, gak papa ...." Nadya masih menolak saat Karen hendak mengganti uangnya.


Karen menyipitkan sebelah mata sembari mengacungkan jari telunjuk ke arah Nadya. "Ciee ... dah jadi sultan, nih, ye! Eh, eh, cerita dong gimana kamu bisa sampai jadian sama Chalvin?" tanya Karen yang langsung duduk merapat ke samping Nadya.


Nadya mendadak bungkam hingga tak tahu harus berkata apa saat Karen terus mendesaknya. Padahal, hubungannya dengan Chalvin hanya untuk hari itu saja.


Di tempat terpisah, Darren kembali menghubungi mami Valen untuk menanyakan keberadaan Karen. Sayangnya, pertanyaan itu justru menimbulkan kecurigaan ibu mertuanya. Mami Valen lantas menebak kalau sepasang suami istri itu sedang bertengkar. Untungnya, mami Valen cukup bijak untuk tak mencampuri kehidupan rumah tangga anaknya.


"Darren, sebagai orangtua kalian, mami cuma berpesan, rumah tangga itu gak cuma perlu cinta, tapi juga keterbukaan, pemahaman dan pengertian," ucap mami. Karena Karen tak datang untuk curhat padanya, ia yakin masalah yang mereka hadapi masih bisa diselesaikan sendiri.


"Iya, Mi."


Ya, Karen memang memilih tak datang mengadu pada mami valen. Sebab, ia tak ingin isu perselingkuhan Darren membuat orangtuanya terlanjur marah besar pada suaminya hingga mungkin semakin memperkeruh keadaan.


Di kantor perusahaan Belleria kosmetik, Chalvin yang baru saja tiba langsung dihampiri kepala bidang Humas. Orang itu menginfokan padanya tentang karyawan magang yang baru saja direkrut. Chalvin pun langsung menghampiri karyawan yang dimaksud untuk sekadar menyapanya.


"Kamu karyawan baru sini, ya?" tanya Chalvin pada seorang pemuda yang tengah menggandakan berkas di mesin fotokopi kantor.


"Iya, Pak!" sahut pemuda itu dengan cepat.


"Nama kamu siapa?"


"Farel Prasetyo, Pak."


Ternyata, pemuda yang menjadi karyawan magang itu adalah kakak kandung Feril yang juga mantan pacar Nadya.


"Selamat bergabung, ya!" Chalvin menyambutnya dengan ramah.


Di saat yang bersamaan, Oma Belle menelepon dan meminta menemaninya makan siang. Sialnya, Oma Belle juga memintanya mengajak Nadya. Tentu saja Chalvin keberatan, apalagi Oma mengatakan akan membahas soal lamaran.

__ADS_1


"Oma, kayaknya Nadya gak bisa ikut soalnya—"


"Kenapa gak bisa? Apa jangan-jangan kamu ini emang gak serius sama dia. Kalo gitu mending ikut perjodohan Oma aja."


"Oke-oke, aku tanyain Nadya dulu."


Chalvin mendenguskan napas kasar. Lagi-lagi wanita lanjut usia itu memberi perintah yang bersifat otoriter. Mau tak mau, ia harus kembali meminta Nadya menjadi pacar palsunya, daripada membuat Oma curiga atas hubungan mereka."


Nadya membaca chat dari Chalvin yang meminta tolong padanya untuk kembali menjadi pacar bohongan. Jujur, ia sangat senang bisa kembali bertemu pria itu. Sayangnya, momen ini tidak tepat karena ia tak bisa meninggalkan Karen sendiri di kosnya.


Ekspresi bimbang Nadya saat ini rupanya terbaca oleh Karen. "Kamu kenapa?"


"Ini ... Kak Chalvin ngajakin aku makan siang. Katanya Oma yang minta."


"Ya, udah pergi aja nanti."


"Terus, kamu gimana?"


"Aku tetap di sini, gak mau pulang."


"Kalo suami kamu cariin gimana?"


"Gak mungkinlah! Kan dia udah punya yang lain." Saat mengatakan itu, hati Karen serasa tertusuk jarum. Sejujurnya, ia berharap suaminya datang mencarinya dan dapat menemukannya di sini. Namun, di saat yang bersamaan juga teringat dengan perkataan Darren saat mereka berada di menara petronas.


"Aku gak ke mana-mana! Kamu yang ninggalin aku tanpa sebab. Aku pikir, aku perlu tetap di sini supaya kamu tahu aku masih bertahan meskipun kamu memutuskan pergi."


Karen mengusap air matanya lalu berkata dengan memelas. "Please ... jangan bilang ke Chalvin dan Oma kalo aku lagi di kos kamu! Aku masih mau tenangin diri."


***


Siang yang terik, Nadya berdiri di depan gang sambil menunggu jemputan Chalvin. Tiba-tiba ponselnya berdering dan terlihat nomor Chalvin yang melakukan panggilan.


"Halo, Nad, kayaknya aku gak bisa jemput kamu soalnya aku lagi nungguin orang juga sekarang. Kamu bisa datang ke kantor aku, gak? Biar searah juga pas mau jemput Oma gak mutar-mutar."


"Iya, Kak, bisa kok. Aku pesan grab dulu kalo gitu."


Sekitar empat puluh menit kemudian, Nadya tiba di kantor perusahaan Belleria kosmetik. Beberapa karyawan terlihat keluar dari gedung untuk menggunakan jam makan siang mereka. Ia yang kebingungan, memberanikan diri melangkah masuk ke dalam gedung.


"Ada yang bisa kami bantu?" Seorang satpam tiba-tiba datang menghampirinya.


"Aa ... saya mau ketemu ...."


"Nadya!" panggil seseorang.


Nadya berbalik. Matanya melebar seketika melihat Farel datang menghampirinya.


"Eh, ternyata bener ini elo!" celetuk pria itu mendekat, "Dah lama ya kita gak ketemu. Ngapain lo di sini?" tanya kakak kandung Feril itu dengan gaya sok keren.

__ADS_1


Tak mau berurusan lagi dengan mantan pacarnya, Nadya segera beranjak pergi dengan langkah yang tergesa-gesa. Sayangnya, Farel malah menyusulnya dan langsung menahan lengannya.


"Lepasin!"


"Sombong banget sih lo sama gue! Apa gak ingat yang udah kita lakuin waktu pacaran. Masih ingat rasanya, gak?" ucap Farel seraya menunjukkan raut mesum.


"Sayang ...."


Farel dan Nadya kompak menoleh ke arah pintu masuk gedung perusahaan. Terlihat sosok Chalvin yang berjalan penuh kharisma ke arah mereka. Farel langsung melepaskan genggaman tangannya di lengan Nadya saat melihat kehadiran manajer umum perusahaan itu.


Matanya terbelalak ketika Chalvin langsung merangkul Nadya sambil berkata, "Udah lama ya nungguin aku? Maaf, ya? Yuk kita makan siang bareng!"


Seakan tak pedulikan sosok Farel yang berada di hadapan mereka, Chalvin langsung mengajak Nadya masuk ke mobilnya yang telah disediakan di depan gedung.


"Serius nih modelan kek dia jalan sama cucu direktur?" Mata Farel tak berkedip hingga beberapa saat.


Di dalam mobil, Nadya hanya mampu menunduk tanpa berani melihat ke arah Chalvin. Tangannya hanya mampu meremas ujung baju. Di sisi lain, ia tampak syok mengetahui mantan pacarnya bekerja di perusahaan itu. Sebaliknya, Chalvin tampak biasa saja meski ia sempat mendengar ucapan Farel pada Nadya, dan bisa menebak jika pria itu adalah mantan kekasihnya.


"Kamu belum pakai seatbelt-nya," kata Chalvin sambil melihat ke arah Nadya.


Tampaknya, Nadya tak mendengar perkataannya sehingga Chalvin berinisiatif memasangkan. Ketika ia hendak mendekat, secara spontan Nadya menyampingkan tubuhnya seolah hendak menjauh darinya.


Chalvin tersenyum tipis lalu berkata kembali, "Pasang seatbelt-nya!"


Nadya mengangguk dan bergegas memasang sabuk pengaman. Saking gugupnya, ia sampai kesulitan mengunci sabuk pengaman yang dipakainya.


Chalvin menggeleng pelan. Saat hendak membantunya, secara tak sengaja ia malah menggenggam tangan Nadya yang juga berada di slot kunci. Sayangnya, itu tak berlangsung lama ketika ponsel pria itu berdering.


Tangan Chalvin berpindah mengambil ponselnya yang terus melantunkan nada dering. Dahinya mengernyit ketika yang meneleponnya adalah Darren.


"Vin, aku boleh minta alamatnya pacar kamu, enggak?" tanya Darren cepat saat telepon tersambung


"Emangnya kenapa?" tanya Chalvin mengernyit.


"Karen lagi ngambek sama aku. Ponselnya dimatiin dari tadi, udah gitu gak pulang ke rumah. Karen sama pacar kamu kan bestie-an. Kali aja dia lagi di tempat pacar kamu. Aku khawatir banget, apalagi Karen tuh habis sakit!" ucap Darren dengan nada cemas.


Chalvin melirik ke arah Nadya, lalu mematikan fitur suara telepon sejenak. "Darren minta alamat kamu, mau kasih enggak?" tanya Chalvin.


"Karen gak ada di sana!" ucap Nadya cepat.


"Bahkan aku belum nanya soal itu, tapi kamu dah kasih jawaban!" Chalvin menyunggingkan senyum tipis. Ia lalu berbicara kembali pada Darren. "Ini aku lagi bareng Nadya. Katanya sih Karen gak ada di sana. Tapi kalo kamu penasaran, coba cek langsung, kali aja emang ngumpet di sana!" ucap Chalvin sambil melirik ke arah Nadya yang sontak menahan napas.


Darren tampak tak sabar masuk ke mobil begitu mendapat kiriman lokasi kos yang ditempati Nadya. Baru saja menghidupkan mesin, ponselnya mendadak berderu. Mengira itu panggilan dari Karen, ternyata tertulis nama Sheila di layar ponsel.


.


.

__ADS_1


__ADS_2