
"Tumben kakek nelepon malam-malam," ucap Darren begitu melihat nama pemanggil di layar telepon.
Mendengar gumaman Darren, sendok di tangan Karen sontak terjatuh. Jantungnya mendadak terpompa cepat. Tiba-tiba saja ia gemetar. Pasalnya, ia bisa menduga kakek akan membicarakan soal foto-foto yang dikirim seseorang ke perusahaan.
"Halo, Kek."
"Darren, Kakek tunggu kamu sama istri kamu di rumah sekarang!" perintah kakek memasang intonasi tegas di suaranya. Kakek Aswono langsung menutup telepon setelah meninggalkan kalimat itu.
Dahi Darren membentuk lipatan diikuti alis yang hampir tersambung. Hanya dengan mendengar suara saja, membuatnya tahu ada kemarahan dalam nada tegas yang baru saja terlontar dari mulut kakek Aswono. Ia lalu menatap Karen yang diam menatapnya.
"Ayo, cepat makan! Kita dipanggil kakek ke rumah!" Darren kembali lanjut menyantap masakannya.
"Jangan pergi!" ucap Karen pelan tiba-tiba.
Darren sontak menoleh dengan wajah penuh tanda tanya.
"Kita gak usah pergi ke sana, ya!" Suara perempuan itu semakin lirih dan hampir tenggelam.
Darren kembali meletakkan sendok, kemudian memegang tangan Karen yang mendingin. "Kamu kenapa?"
Karen terdiam. Cukup lama. Hanya menatap Darren dengan mata yang mulai berkabut.
"Kamu kenapa?" ulang Darren lagi seraya meremas hangat punggung tangan Karen.
Karen menggeleng kepala. "Aku cuma enggak mau ke rumah Kakek."
Tawa halus terbit di bibir Darren. "Kita enggak nginap di sana, kok. Udah, pokoknya selesaikan makannya sekarang, biar langsung ke sana terus cepat pulang juga."
Satu jam kemudian, mereka telah menginjakkan kaki di kediaman keluarga Darren. Sepasang suami istri itu duduk di hadapan kakek Aswono dan Oma Belle. Sejak tiba di rumah itu, Karen terus menunduk dan tak berani bertatapan langsung dengan kakek dan Oma Darren. Hanya dengan melihat ekspresi mereka, serasa hawa mencekam langsung memenuhi ruangan.
"Kamu tahu ini siapa?" tanya Oma pada Karen.
Karen menatap foto-foto yang menunjukkan dirinya saat kejadian traumatis semalam. Ia hanya bisa menunduk diam sambil meremas ujung bajunya. Benar yang dikatakan kakek di kantor tadi, ini sungguh memalukan! Terasa ingin menampar pipinya sendiri. Melihat dirinya bersama pria asing dalam pose-pose yang tak mengenakkan, siapa yang tak akan salah sangka?
Karen masih mengunci bibirnya dengan kepala tertunduk dalam. Sekadar mengangkat kepalanya saja tak berani, apalagi bersuara untuk melakukan pembelaan. Rasanya ingin menenggelamkan diri ketika Darren ikut melihat foto-foto tersebut, meski sebenarnya pria itu telah mengetahui cerita yang sebenarnya.
"Karen, Oma lagi nanya! Bukan disuruh mengheningkan cipta!" ketus Oma.
__ADS_1
"I–itu Karen, Oma," jawab Karen dengan suara yang gemetar karena harus menghadapi amarah kakek dan Oma.
"Kamu sadar enggak dengan apa yang udah kamu lakukan?" tanya Oma Belle kembali.
Jari-jari tangan Karen semakin meremas kuat ujung bajunya. Pertanyaan Oma seakan memaksanya mengingat kembali kejadian yang seharusnya ia lupakan.
"Jangan diam melulu, udah kayak Limbad!" tegur Oma Belle yang tak sabar menanti jawaban Karen.
Baru saja Karen hendak membuka mulutnya, sebuah tangan besar dan hangat langsung membungkus punggung tangannya. Bertepatan dengan itu, Darren yang sedari tadi diam, tiba-tiba berkata, "Emangnya apa yang Karen perbuat?"
"Apa kamu gak bisa lihat foto-foto itu!" Oma Belle menunjuk ke atas meja, "Istri keluyuran di tempat begitu! Udah gitu bareng laki-laki lain! Itu sama aja dia gak menghargai kamu sebagai suaminya. Udah termasuk perselingkuhan juga!" ucap Oma Belle dengan kemarahan yang kental.
"Hanya karena sebuah foto yang belum jelas kebenarannya, Oma langsung menilai Karen kayak gitu? Sesuatu yang terlihat oleh mata belum tentu bisa jelaskan apa yang terjadi sebenarnya, kan?" tutur Darren yang mulai pasang badan untuk istrinya.
Pembelaan Darren membuat kakek Aswono yang sedari tadi diam sambil bersedekap, kini berkata, "Memangnya menurut kamu kebenarannya seperti apa? Apa kamu mau bilang foto itu rekayasa atau diedit? Gitu?"
"Maaf, Kakek, Oma. Aku gak perlu jelasin apa-apa dan Karen gak perlu konfirmasi apa pun. Ini masalah internal keluargaku, kakek dan Oma gak perlu campuri. Yang pasti ... aku percaya Karen dan foto-foto itu gak bisa mewakili penilaian terhadap istriku," jawab Darren. Tindakan ini ia lakukan untuk meredam ketakutan dan traumatis yang dirasakan Karen akibat kejadian itu.
Tidak terima dengan jawaban tak memuaskan dari cucunya, Oma Belle pun menoleh ke arah Karen. "Coba Karen yang jelaskan! Oma benar-benar kecewa sama kamu, Karen. Dari sekian perempuan yang Oma seleksi untuk jadi jodohnya Darren, kamu yang terpilih. Oma terkesima dengan kepedulian kamu waktu nolong Oma pingsan di bandara. Tapi kali ini Oma benar-benar tidak bisa tolerir tindakan kamu yang mencoreng keluarga kita!" ucap Oma sambil kembali mengingat pertemuan awalnya dengan Karen.
"Aku pikir kita gak perlu bahas ini!" sahut Darren berdiri seraya menarik tangan Karen yang berada dalam genggamannya. Namun, perempuan itu justru menahannya.
"Kakek, Oma, maafin Karen. Foto itu ... enggak seperti yang terlihat. Karen gak kenal sama mereka. Tiba-tiba aja mereka deketin Karen dan maksa ngobrol. Mereka terus maksa dan narik aku sampai ...." Ucapan Karen terputus, berganti dengan genangan air mata yang meluncur keluar tanpa bisa ditahan lagi.
"Ya, salah kamu sendiri pergi ke tempat kayak gitu!" tandas Oma Belle.
"Itu salah aku yang gak bisa jaga Karen. Seharusnya aku bisa selalu ada di samping dia!" sahut Darren.
"Kamu kan kerja. Bukan salah kamu kalau dia kenapa-kenapa karena ke tempat kayak gitu! Suami banting tulang, kok istri banting harga!" ketus Oma.
Darren mengusap kasar wajahnya. "Oma, Karen tuh ke sana karena dijebak. Ada orang yang pakai akun temannya buat nyuruh Karen ke sana! Oma bilang sendiri Karen punya sifat peduli, kan? Karena dia peduli temannya, makanya dia datang ke tempat itu!" Darren yang awalnya enggan membicarakan permasalahan ini, kita mencoba meluruskan prasangka Oma dan kakeknya.
"Dijebak? Sudah kayak alur sinetron saja! Pakai dijebak-jebak!"
Tampaknya apa pun penjelasan mereka, Karen tetap salah di mata kakek dan Oma.
Di waktu yang sama, terdengar suara keributan di pintu masuk utama. Kakek Aswono, Oma belle, Darren dan Karen kompak menoleh. Mereka terkejut melihat Chalvin datang sambil menyeret paksa dua pemuda asing dengan wajah yang terdapat bekas pukulan. Dua pemuda itu lalu ia dorong ke depan, tepatnya di hadapan mereka berempat.
__ADS_1
"Karen, mereka ini yang udah ganggu kamu semalam, kan?" tanya Chalvin dengan napas yang tersengal-sengal.
Karen yang masih mengenal betul wajah pria yang melecehkan dirinya, lantas berdiri ketakutan dan melangkah mundur. Darren bergerak sigap dengan menarik istrinya masuk ke dalam dekapannya. Memeluk erat serta menyandarkan kepala Karen ke dadanya agar tak melihat mereka.
"Maafkan kami! Kami cuma disuruh buat ganggu tuh cewek, tapi dia malah ngelawan. Jadi kami khilaf, tapi kami enggak sampai ngelakuin macam-macam, kok," sahut salah satu dari pemuda itu dengan wajah yang seakan meminta pengampunan.
"Kalian bilang gak ngelakuin macam-macam? Bahkan sekalipun kalian cuma nyentuh seujung kukunya, gak bakal aku terima!" ucap Darren memasang mata serigala. Ia hendak menghampiri dua pemuda itu, tapi Karen menahannya dengan semakin mengeratkan pelukan.
"Siapa yang suruh kalian ganggu cucu perempuan saya?!" tanya kakek Aswono sambil berdiri.
"Teman kami yang naksir dia, Pak!" jawab mereka cepat, "dia sengaja mancing tuh cewek datang ke sana, terus kita disuruh ganggu."
"Gimana Darren, terserah lu mau bikin nih dua orang kek gimana! Entar gua yang eksekusi!" cetus Chalvin.
Darren menatap Karen yang menggeleng dan enggan memperpanjang masalah. Darren lalu berkata pada Oma dan kakeknya. "Oma dan Kakek udah paham, kan? Kita gak bisa melihat sesuatu dari satu sudut pandang!"
Oma menghampiri Karen seraya meminta maaf atas perkataan yang tidak mengenakkan.
Setelah semua jelas dan kesalahpahaman dapat diluruskan, Darren dan Karen memutuskan pulang. Saat berjalan menuju mobil mereka, Karen teringat kembali dengan pembelaan Darren terhadapnya.
Karen menahan lengan Darren. Ketika pria itu menoleh ke arahnya, ia langsung berjinjit dan mendaratkan kecupan singkat. Ciuman dadakan itu sontak mengejutkan pria dengan tinggi badan 189 cm.
"Makasih, ya, udah bela aku," ucap Karen lirih.
"Kan udah aku bilang, semua akan baik-baik aja." Darren tersenyum seraya membelai pipi istrinya.
Sesaat, dua pasang mata itu saling menatap dalam hening. Bagaikan tertarik magnet, wajah keduanya saling mendekat hingga sama-sama saling memejamkan mata seiring bibir mereka menempel sempurna. Mereka berciuman di bawah temaram lampu taman dengan tangan yang terjalin erat.
Tak jauh di sana, rupanya Chalvin tak sengaja melihat mereka. Pria itu berbalik cepat, lalu memegang dada kirinya.
"Ada apa dengan perasaan gua, ya?" gumamnya bingung sendiri.
.
.
.
__ADS_1