DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 75 : Giliran Darren


__ADS_3

Darren kembali menarik tangan Karen sambil tetap menggenggamnya. Kaki perempuan itu tak bergerak, justru tengah berusaha melepaskan tautan tangan mereka dengan mata yang berkeliling penuh kewaspadaan. Takut ada yang melihat kebersamaan mereka.


"Ren, aku belum siap kalau pernikahan kita diketahui banyak orang." Karen menggeleng-gelengkan kepala.


"Kenapa? Bukannya cepat atau lambat juga hubungan kita bakal ketahuan?"


"Iya ... tapi enggak sekarang. Kan aku udah bilang, aku pengen jadi sosok yang pantas buat kamu."


"Kamu yang sekarang, udah terbaik bagi aku," balas Darren dengan tatapan meyakinkan.


Karen menggeleng lagi. "Tapi aku masih belum siap. Jangan sekarang, ya? Please ...." Karen malah memelas.


Tampaknya, pendapat Marsha kemarin serupa dengan pemikiran Karen saat ini. Isu yang merebak selama beberapa hari ini sudah sangat membuatnya stress. Apalagi kalau orang-orang melihat kedekatannya dengan Darren. Ia bahkan tak bisa membayangkan hujatan dan cemoohan seperti apa yang akan kembali diterimanya.


"Terus, mau nunggu kapan? Nunggu kita kepergok orang-orang lagi bermesraan di kampus?" Darren kembali teringat mahasiswa bimbingannya yang selalu memantaunya diam-diam hingga berani membuat fitnah terhadap Karen.


"Selama ini gak ada yang tahu kok tentang pernikahan kita selain ibu Marsha, Nadya dan Vera. Toh aku selalu jaga jarak kok."


Tatapan Darren tertuju pada jari-jari tangan Karen. "Cincin kamu mana? Kenapa gak pernah kamu pakai?"


"Cincinnya aku simpan. Itu barang pemberian kamu yang pertama dan spesial banget buat aku. Lagian, kalau aku pakai entar mengundang curiga teman-teman sekelas."


"Makanya mulai sekarang biarin aja mereka tahu kalau kamu istri aku. Kita gak usah ngumpet-ngumpet lagi kayak dulu."


"Kamu aneh, deh! Bukannya dulu kamu yang wanti-wanti aku biar gak ember soal pernikahan kita." Karen mendadak bingung dengan sikap protektif Darren kali ini.


"Emang benar aku yang lebih dulu bikin aturan itu. Tapi, ternyata aku sadar gak bisa terlalu lama sembunyiin pernikahan ini. Aku gak bisa nahan diri untuk bersikap seolah-olah kamu cuma mahasiswa aku kalau lagi di kampus, gak bisa biarin kamu dinaksir dan digoda pria lain, dan gak bisa terima kamu diomongin yang enggak-enggak." Saat mengatakan sederet kalimat ini, ada perasaan bersalah yang membayang di wajah tampannya.

__ADS_1


Karen hanya mampu memandang netra legam suaminya. Entah kenapa, ia menyukai kata-kata bernada penuh kekhawatiran itu.


Melihat Karen yang hanya menatapnya dalam geming, Darren pun menyelipkan telapak tangannya di sisi wajah perempuan itu.


"Jangan khawatir, semua bakalan baik-baik aja! Gak ada yang boleh ganggu kamu lagi!" Senyum hangat terulas dari bibir pria itu. Ia semakin mengeratkan tautan jari-jemari mereka, lalu mengajak Karen berjalan bersama menuju gedung fakultas.


Kenapa Darren tiba-tiba kayak gini, ya? Apa dia udah tahu tentang gosip yang beredar di kampus?


Karen menatap punggung Darren sambil terus berjalan mengikuti langkahnya. Senyum tipis terbit di bibirnya saat menatap tangan mereka yang dalam satu genggaman. Momen yang dulunya sangat ia impikan, akhirnya terwujud juga. Ia dan Darren bisa jalan bersama di lingkungan kampus.


Mereka bukan selebritis yang butuh konferensi pers untuk mengumumkan status pernikahan pada orang-orang. Hanya dengan cara sederhana inilah, Darren seolah menunjukkan kalau dia telah termiliki.


Menyadari mereka telah berada di lingkungan kampus yang terdapat banyak mahasiswa berlalu lalang, Karen pun buru-buru mengambil buku dalam tasnya untuk menutupi wajahnya. Entah kenapa, rasa tidak percaya dirinya muncul. Walau bagaimanapun, ia masih belum siap mengekspos pernikahan mereka.


Rupanya, pasangan itu menarik banyak pasang mata yang melihat ke arah mereka. Beberapa mahasiswa langsung kaget melihat Darren menggandeng seorang gadis yang tampak sebaya dengan mereka. Berbagai reaksi pun muncul, mulai dari penasaran, cemburu, hingga ekspresi yang tidak bisa ditebak.


"Apa kamu gak lihat kita dapat serangan pandangan dari banyak orang?" jawab Karen dengan mata yang bergerak liar.


Ternyata pasangan suami istri itu juga tak luput dari pengamatan Feril dan rombongan MAHDI yang memang sering nongkrong di depan gedung fakultas.


"Eh, eh, tuh profesor lagi jalan sama siapa?" tanya si rambut gimbal.


"Wuih, co cwit juga tuh dosen. Pacaran sama anak kampus, di depan umum pula," sahut temannya yang lain.


"Kok gue kayak kenal tuh cewek, ya?" pikir Feril sambil melihat sosok perempuan berambut sebahu yang menutup wajahnya dengan buku.


Merasa risih dengan tatapan orang-orang yang tertuju padanya, Karen pun meminta Darren untuk melepaskan genggaman tangannya. Ia berasalan akan segera masuk kelas.

__ADS_1


"Kuliah yang bener. Bentar lagi UAS, kan?" Darren menepuk lembut rambut depan Karen.


Karen mengangguk, lalu berbalik cepat dengan langkah terburu-buru tanpa menurunkan buku yang menutupi wajahnya. Ia menyimpan kembali bukunya ke dalam tas, kemudian melangkah penuh percaya diri masuk ke kelas. Tampaknya, isu skandal tentang dirinya telah mereda. Tak ada lagi tatapan sinis yang terarah padanya.


Malahan teman-teman sekelasnya itu tengah sibuk membicarakan gosip sedang memanas tentang isu perbuatan mesum yang dilakukan salah satu dosen mereka di lingkungan kampus. Ia merasa bersyukur dengan adanya gosip baru itu berhasil menggeser berita miring tentangnya.


Mengambil tempat duduk di bagian pertengahan, mata Karen sibuk menoleh ke sana-kemari. "Kok Nadya dan Vera gak ada, ya? Nadya apa belum pulih?"


Duduk selama sepuluh menit sembari menunggu kedatangan dosen, tiba-tiba Nadya dan Vera menghampiri Karen dengan memasang raut panik.


"Kar, Kar, kamu dah lihat berita, belum?" tanya keduanya.


"Berita apa?"


"Heboh banget tahu, enggak!" balas Vera.


"Ini trending di kampus!" sambung Nadya.


Wajah Karen yang ceria mendadak cemas seketika. Takut jika yang dimaksud adalah berita buruk tentang dirinya lagi.


Vera mengambil ponselnya lalu menunjukkan isi berita yang diambil di salah akun gosip instagram. Seketika, mata Karen terbelalak lebar membaca judul besar isi berita: "Oknum dosen di Universitas Jakarta, berbuat mesum dengan mahasiswinya di lingkungan kampus."


Karen makin terkejut karena mengenal foto yang dilampirkan di akun gosip tersebut. Foto itu mirip dengan meja kerja Darren di ruangan penelitian. Semakin meyakinkan ketika foto itu menunjukkan sebuah penampakan kaki seorang perempuan di kolong meja. Dari sepatu yang dipakai perempuan itu, membuatnya sadar jika itu adalah dirinya.


"Katanya dosen yang dimaksud itu pak Darren. Apa cewek yang ada di kolong mejanya itu elu?" tanya Vera penuh kekhawatiran.


Karen mengangguk. "Iya. Ta–tapi ... ini bukan seburuk yang ditulis. Aku cuma sembunyi karena waktu itu ... mahasiswanya tiba-tiba datang."

__ADS_1


"Pokoknya ini gawat banget! Pak Darren sekarang dipanggil Rektor ke ruangannya!"


__ADS_2