DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 100 : Belajar memahamimu


__ADS_3

Benar jika ada yang mengatakan cinta dapat mendatangkan kekuatan dan keberanian. Sederet kata-kata yang Darren lontarkan laksana menemukan sebuah oase di Padang pasir, mengembalikan semangatnya yang pudar. Genggaman tangan pria itu, mampu menarik dirinya yang sempat tenggelam begitu jauh di lembah keterpurukan. Dan senyum tulus yang melengkung dari sudut bibir pria itu, seakan melihat matahari terbit di musim dingin. Membuat bola matanya yang redup, kembali bersinar cerah.


"Bisakah kamu tetap terus seperti ini? Aku pengen belajar menjadi tangguh agar kisah kita bisa utuh. Aku pengen cepat pulih seperti semula agar bisa bersama kamu sampai tua." Karen masih terisak di pelukan suaminya.


"Tentu. Makasih atas jerih payah yang kamu usahakan untuk tetap berada di sampingku. Ke depannya, aku enggak akan biarin kamu menderita sendiri. Maka dari itu, beri aku waktu untuk belajar memahamimu!" ucap Darren setelah sadar jika dirinya tak cukup peka selama ini.


Darren mengusap air mata yang berjejak di pipi mulus Karen, kemudian mengecup keningnya dengan lembut. Cukup lama. Begitu dalam dan penuh perasaan.


Untuk lelaki yang hampir sempurna seperti Darren, Karen menyadari akan ada ratusan wanita di luar sana yang siap merebut. Oleh karena itu, wajar jika ia sempat memiliki rasa ketakutan dan kekhawatiran yang berlebihan. Sebaliknya, kesibukan atas pekerjaannya membuat Darren menyepelekan perubahan-perubahan yang telah tampak pada Karen. Pria itu terlalu berlogika hingga tak bisa menafsir itu semua.


Yang pasti, momen ini membuat mereka sadar bahwa menikah memang butuh banyak persiapan. Tak hanya persiapan mental dan finansial. Menikah haruslah siap menerima segala kondisi, siap saling support, memahami dan mengevaluasi diri. Apalagi mereka adalah dua orang yang bersatu dengan banyak perbedaan. Mulai dari perbedaan usia, pola pikir, dan tentunya lahir dan dibesarkan dengan didikan dan kebiasaan yang berbeda.


Darren keluar dari ruangan, membiarkan Karen mengistirahatkan tubuh dan pikirannya. Ia lalu menemui mami Valen yang duduk sambil menelepon suaminya. Wanita yang selalu tampil fashionable di segala situasi itu pun buru-buru berdiri begitu melihat menantunya.


"Gimana, Darren?"


"Karen mau melakukan biopsi buat ngecek jenis tumornya. Kami juga akan cari second opinion dari dokter lain."


"Mami dan papi dapat informasi kalo di salah satu Rumah Sakit Malaysia ada prosedur penanganan tumor non operasi dengan mengandalkan metode HIFU¹. Bagaimana kalau kita mencoba prosedur ini?" Mami Valen menunjukkan sebuah informasi yang terdapat di gawainya. "Sedari kecil Karen sangat takut ke dokter. Dia juga sangat takut melihat jarum suntik. Mami gak bisa bayangin dia harus melalui prosedur operasi yang menakutkan," lanjutnya dengan wajah sendu.


Darren membaca sepintas prosedur tersebut. "Ini cocok untuk jenis tumor jinak. Kita berdoa saja semoga hasil biopsi nantinya hanya tumor jinak yang masih bisa diselamatkan tanpa harus mengambil langkah histerektomi. Aku yakin Karen kuat dan mampu melewati semua ini."


"Mami percayakan Karen sama kamu."


Ponsel Karen yang masih berada di tangan Darren tiba-tiba bergetar tanpa suara. Di layar ponsel itu, terlihat nama Oma Belle. Alih-alih segera menjawab, Darren memilih mengabaikannya. Selang beberapa saat kemudian, kini gantian ponselnya yang berdering. Ternyata panggilan tersebut berasal dari Chalvin.


"Ren, kamu lagi bareng Karen, enggak? Oma suruh aku nelepon kamu, soalnya dari tadi dia hubungi Karen gak dijawab." Suara Chalvin terdengar lewat sambungan telepon.


Daren menatap kamar rawat Karen sejenak. "Karen ... baru aja masuk Rumah Sakit."


"Apa?" Chalvin terperanjat seketika, "emang dia kenapa?"


Napas Darren berembus berat. "Aku ... belum bisa jelasin ma kamu sekarang. Yang pasti, keadaannya gak memungkinkan buat beraktivitas selama beberapa hari ke depan. Tapi tolong jangan kasih tahu Oma kalo dia lagi di rumah sakit, ya? Bilang aja dia lagi sibuk atau apa gitu. Saat ini aku cuma pengen fokus pada kesembuhan Karen." Darren tentu paham respon berlebihan Oma Belle jika mengetahui kondisi Karen selama ini. Untuk itu, ia harus membuat istrinya terhindar dari hal-hal yang memicu stres.

__ADS_1


"Oke. Aku gak bakal kasih tahu Oma."


Perkataan Darren barusan membuat Chalvin langsung teringat dengan obrolannya dengan Karen tempo hari. Apalagi suara Darren yang terdengar lemah dan tak bersemangat. Dalam hatinya terselip tanya, mungkinkah penyakit yang diderita Karen telah ditahap yang serius?


Lamunan Chalvin buyar ketika Oma Belle datang ke ruangannya.


"Gimana? Kamu udah nelepon Darren belom? Nih, dari tadi Oma nelepon Karen gak diangkat-angkat. Padahal janjinya mau ke sini siang ini," omel Oma Belle.


Chalvin menahan napas, seraya bergumam dalam hati, "Waduh, gawat, nih!"


Chalvin menggaruk-garuk kepala sembari memikirkan alasan supaya Oma tak mengganggu pasangan suami istri tersebut.


"A ... Darren juga gak jawab teleponku, Oma."


"Kenapa mereka pada kompakan gak jawab telepon."


"Lagi sibuk kali, Oma."


"Ini kan jam istirahat!"


"Kalo gitu coba hubungi lagi Darren! Soalnya Oma mau buatin Karen kebaya sama cucu teman Oma yang jadi desainer, jadi mesti ajak dia buat ukur badan," perintah Oma Belle sambil berkacak pinggang.


"Kan bisa besok-besok Oma."


"Gak bisa! Oma udah bikin janji sama tuh desainer siang ini. Ayo, buruan telepon Darren, Hp Oma lowbat, nih!"


Chalvin pun menempelkan ponselnya di telinga, seolah-olah sedang menelepon.


"Heh, Chalvin, gimana teleponnya mau masuk kalo kamu gak nekan tombol panggilan."


Chalvin terkesiap dan menyadari kalau layar ponselnya hanya menampilkan kontak telepon Darren.


"Buset nih orangtua enggak bisa ditipu!" batin Chalvin menggerutu sesaat.

__ADS_1


"Oh, iya, Oma udah dapat belom calon aku yang baru?" Chalvin lantas berusaha mengalihkan Oma Belle.


Oma Belle menatapnya lamat-lamat. Detik berikutnya, wanita tua itu melebarkan senyumnya. "Kamu masih pengen Oma carikan jodoh?"


"Iyalah. Tapi jangan kek modelan kemarin lagi, Oma!"


"Tenang saja! Masih banyak stok anak kawan Oma yang cocok buat kamu." Oma Belle menepuk-nepuk lengan Chalvin dengan girang.


Sebaliknya, Chalvin merasa usahanya untuk mengalihkan fokus Oma Belle telah berhasil.


"Pokoknya aku pengen yang cantik dan bodinya kek gitar spanyol! Pria berspesifikasi tinggi kayak aku mesti dapat perempuan yang sebanding dong, Oma!" lanjut Chalvin penuh semangat.


"Tenang aja! Gampang itu! Tapi sekarang kamu hubungi Darren dulu!" tandas Oma Belle.


.


.


.


jejak kaki 🦶🦶



HIFU (High Intensity focussed ultrasound): teknik dengan bantuan sinar ultrasound yang berfungsi membunuh sel dalam miom sehingga membuat miom tersebut perlahan menyusut.



catatan author ✍️✍️


Gak terasa dah memasuki 100 chapter gays. Kemarin aku udah sempat nanya editor ini mau tamat sampe berapa chapter? Soalnya novel yang aku tulis sih rata-rata tamatnya di chapter 100-160. Ternyata editor gak ngasih jawaban.


Udah sering aku bilang, ya. Ini novel santuy, segala konflik yang ada di sini bukan untuk mendramatisir (meskipun hal-hal dramatis masih dibutuhkan di novel ini), tapi lebih ke cara karakter mencari solusi atas konflik yang hadir di antara mereka. Komunikasi antar pasangan yang baru nikah, dan pasangan yang udah nikah selama bertahun-tahun tentu bedalah.

__ADS_1


Terima kasih atas support kalian di novel sederhana ini. Terima kasih juga atas rate dan ulasan positif kalian untuk novel ini. Maafkan untuk update yang tidak teratur, untuk pembaca setia pasti udah paham ya gimana cara aku nulis buat menghasilkan satu chapter. Buat pembaca yang baru gabung, say hello dulu dong sama aku jangan diam-diam bae. Btw, aku gak terlalu suka dipanggil author ya, itu terlalu pasaran. Panggil aku Yu, kak Yu. Panggil sayang juga boleh 🤣


__ADS_2