
Karen seolah tak peduli apa pun meski dirinya sempat bertabrakan dengan Chalvin. Ia segera menyingkir dari hadapan pria itu. Saat hendak beranjak, Chalvin malah memegang pergelangan tangannya hingga membuat langkahnya tertahan.
"Kaki lu berdarah!" ucap Chalvin dengan mata yang tertuju ke kaki telanjang Karen.
Pandangan Karen turun ke bawah. Benar kata Chalvin! Ia baru menyadari kakinya terluka terkena pecahan gelas yang jatuh. Bahkan serpihan kacanya masih tertancap di kulit kakinya.
Di waktu yang sama, ia terkesiap ketika kedua kakinya tiba-tiba terangkat dan tubuhnya masuk dalam dekapan seseorang. Ternyata itu adalah Darren yang langsung menggendongnya dan mendudukkan Karen di atas meja kitchen set. Pria itu langsung berjongkok tepat di depan kakinya yang terus mengucurkan darah.
"Aku bisa sendiri!" ketus Karen sambil meminggirkan kakinya saat Darren hendak menyentuhnya.
"Jangan bergerak dulu!" larang Darren sambil memegang kaki istrinya yang terluka.
Darren meminta asisten pribadi mereka untuk mengambil kotak P3K. Tak perlu menunggu lama, kotak P3K langsung tersedia. ART itu kemudian bergegas membersikan pecahan gelas yang berhamburan di lantai.
"Gak usah, Bi. Biar Sheila aja yang beresin!" pinta Darren pada ART-nya.
Sheila terbelalak mendengar perintah kakaknya. Wajahnya yang menggerutu tercetak jelas. Apalagi, insiden terlukanya kaki Karen membuat semua perhatian mereka tertuju pada istri kakak tirinya itu. Ia mengambil sapu dan serokan sampah dari tangan ART.
"Ih, lebay banget!" Sheila membatin dengan mata yang tak lepas dari Karen dan Darren.
Karen menutup mata rapat-rapat menahan perih saat Darren berusaha menghentikan perdarahan di kakinya. Sebenarnya, ia sangat panik saat tahu kakinya terkena pecahan gelas. Ya, ini pertama kalinya kakinya terluka karena sayatan beling. Anehnya, ia sama sekali tak menyadarinya.
Chalvin tergelitik melihat ekspresi ketakutan perempuan itu. Sungguh menggemaskan baginya! Namun, tak cukup sedetik, ia langsung mengalihkan pandangannya saat menyadari tak boleh memiliki perasaan apa pun terhadap istri sepupunya.
"Tahan, ya, Sayang," ucap Darren pelan sambil mulai membersihkan area luka dengan kain kasa dan air hangat kemudian mengoleskan anti septik.
Karen membuka matanya, mencoba mengintip wajah suaminya. Ia yang sempat memaksakan diri untuk turun, kini memilih duduk diam sambil memandang Darren yang begitu serius menangani lukanya. Pria itu memperlakukannya dengan sangat lembut dan hati-hati. Bagaimana ia bisa tahan marahan berlama-lama, kalau suaminya selalu saja bisa meluluhkannya.
"Aw!" Mendadak terdengar jeritan Sheila yang membuat Darren memalingkan pandangannya.
"Kak Darren, tanganku ketusuk beling, nih!" ringis Sheila sambil menunjukkan jari telunjuknya yang berdarah.
Chalvin yang masih berada di sana lantas mengambil plester kecil dari kotak p3K lalu menyerahkan pada Sheila.
"Tuh, plester sendiri. Makanya hati-hati! Pakai sarung tangan kalo perlu," ucap Chalvin.
Lagi-lagi Sheila menggerutu kesal saat ia mendapat perlakuan yang berbeda dari Karen. Namun, itu tak berlangsung lama saat ia memerhatikan Chalvin dengan saksama. Wajah tampan Chalvin yang setara dengan kakak tirinya, seakan mengalihkan kekesalannya. Ya, dia memang tak mengenal Chalvin sebagai anggota keluarga di sini karena saat ibunya menikah dengan ayah Darren, usianya masih sangat kecil. Selain itu, Darren dan Chalvin memang lama menetap di luar negeri untuk menempuh pendidikan.
"Kak, bisa bantu pasangin perban, gak?" pinta Sheila pada Chalvin dengan gayanya
"Kamu gak tahu cara pakai plester?" tanya Chalvin dengan intonasi heran.
__ADS_1
Sheila mengangguk cepat mengiyakan.
"Sama. Aku juga gak tahu," balas Chalvin yang kemudian pergi.
Bibir Sheila refleks terangkat ke atas. Ia gagal menarik perhatian Darren dan orang-orang sekitar.
Setelah membalut perban luka di kaki Karen, Darren membantu istri turun dan memapahnya ke kamar mereka. Sementara, Sheila yang juga selesai membersihkan pecahan gelas, turut mengekor mereka.
"Mau ke mana kamu?" tanya oma Belle.
"Mau ke kamarlah, Oma. Tenang, piring udah selesai kucuci kok," jawab Sheila dengan jari yang membentuk simbol oke.
"Kamar kamu pindah. Bukan di atas lagi, tapi di bawah. Kamar paling belakang! Soalnya yang punya kamar udah balik ke sini. "
"Kok gitu, Oma? Kalo ada hantunya gimana? Kan serem!" protes Sheila.
Chalvin lantas menimpali dari belakang. "Aku pulang ke apartemen aja, Oma. Biar Sheila bisa tidur di kamar itu."
Mengetahui kamar sebelumnya ternyata ditempati oleh Chalvin, Sheila lantas berkata, "Gak papa. Aku di kamar belakang aja. Lagian kakek bilang aku harus nuruti peraturan di rumah ini."
Sheila masuk di kamar kecil yang aksesnya melewati dapur. Sejenak, ia melihat gawainya yang terus berderu karena panggilan dari ibunya. Meski kesal harus tidur di ruangan kecil, tapi ia tak berkeinginan untuk pulang ke kediaman orangtuanya. Apalagi harapannya bergabung di tim esports akan segera terwujud apabila ia memenuhi tantangan dari kakek Aswono.
Malam belum terlalu larut, tapi masing-masing orang telah ke kamar mereka termasuk oma Belle. Ternyata, kakek Aswono sudah lebih dulu berada di kamar. Kakek Aswono menatap istrinya yang beringsut ke ranjang.
"Gimana? Kamu senang sekarang, kan? Rumah jadi ramai karena cucu-cucu kita pada ngumpul. Sesuai keinginan kamu selama ini," singgung kakek Aswono.
Oma Belle yang masih kesal dengan suaminya, menolak untuk merespon. Ia langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Kakek melepas kacamata dan melepas blangkon yang setia menutupi kepala licinnya.
"Melihat anak cucu ngumpul dalam satu rumah memang hal yang sangat membahagiakan di masa tua, tapi ... kita harus ingat juga, apakah mereka nyaman seperti ini? Terutama untuk Darren yang sudah berkeluarga." Kakek berusaha membuka jalan pikiran oma Belle.
Di kamar yang berbeda, Darren dan Karen duduk saling berhadapan di atas ranjang.
"Coba cerita sama aku, kenapa kamu dan Sheila bertengkar sampai pecahin gelas?"
Karen melengos. Hanya terlihat ketidaksenangan bercampur emosi tertahan dari gestur tangannya.
"Gimana aku bisa ngomong ke Sheila kalo aku gak tahu masalah kalian."
Karen masih menutup rapat bibirnya. Namun, diamnya wanita tentu adalah seribu kalimat amarah yang tak terungkap. Bukan tak mau katakan apa yang terjadi. Ia hanya takut Darren mungkin merasa itu cuma hal sepele dan menganggapnya tak dewasa. Selain itu, ia juga tak ingin menempatkan suaminya dalam posisi dilema, antara harus memihaknya atau memihak adik tirinya.
Darren mengambil kedua tangan istrinya lalu menggenggam penuh.
__ADS_1
"Bentar lagi selesai liburan semester. Kalo dah masuk perkuliahan, kita balik ke rumah kita lagi, ya?"
Karen mengangguk cepat sambil menatap nanar suaminya.
"Senyum dulu dong!" Darren menarik sudut bibir Karen.
"Gak mau!" Karen memegangi kedua tangan Darren.
"Kalo gak senyum aku cium, loh!" ucap Darren sambil bersiap mendaratkan bibirnya.
"Enggak!" Karen malah berusaha menghindar.
Akibatnya, pasangan suami istri itu sama-sama berguling dalam posisi miring tapi tetap saling berhadapan. Darren menarik selimut hingga menutupi kepala mereka.
"Darren, jangan! Geli tahu!" teriak Karen yang tak bisa menahan gelitikan suaminya.
Suara rengek manja Karen rupanya tembus hingga ke kamar yang bersebelahan dengan kamar mereka. Chalvin yang tengah duduk di depan laptop, lantas hilang fokus oleh suara tersebut.
"Sialan, telinga gua malah ternodai malam-malam gini!" omelnya dengan sudut bibir yang terangkat.
.
.
.
Gays, aku tuh sering banget berdiskusi di forum-forum curhatan rumah tangga. Aku bahkan dulu pernah gabung di forum curhatan para suami yang terbesar di salah satu sosmed. Tapi di tahun 2018 ada beberapa curhatan para suami yg bocor dan dibagikan org2, jadinya tempat itu lalu diserbu emak2 yang "Double standar" dan sejak itu aku langsung cabut dari sana. Tapi aku masih aktif di forum2 lainnya.
Tahu gak sih apa yang sering didiskusikan dicurhati para suami? Banyak. Seperti tentang perselingkuhan diam2, merasa bosan dengan pernikahan mereka, pengaturan gaji, muak dengan sifat pasangan dan yang paling banyak itu polemik antara pasangan dan orangtua mereka atau saudara mereka.
Ada juga diskusi untuk topik yang menanyakan hal-hal menggelitik, menurut gua. Seperti bagaimana cara ngomong ke pasangan supaya rajin mandi/rajin berdandan, gimana cara ngomong ke pasangan biar dia tau keteknya bau, dan pertanyaan-pertanyaan yang menurt gua vuulgar tapi sebenarny penting krena sering disepelekan... (yang ini ntar gua cerita di gc aja)
Bukan cuma para suami, gua juga sering nyimak dan ikut berpartisipasi di forum yang topiknya di tulis para istri. Ada keluhan2 serupa juga. Gua bahkan ikuti salah satu seksolog pernikahan, dan sering baca keluhan ibu2 hampir semua bilang mereka tidak terpuaskan saat brhubungan intim, tapi tidak bisa jujur ke pasangan karena takut menyinggung perasaan mereka.
Mereka-mereka yang curhat ini dari berbagai tingkatan ekonomi dan juga tingkatan usia pernikahan. Ada yg bahkan udah jalan puluhan tahun. Jangan bilang laki2 gak suka curhat, mereka cuma gak suka koar2 masalah RT di sosmed. Dan jangan bilang perempuan tidak pduli soal kehidupan sekksualitas mereka, buktinya banyak yang uring2an dan mengeluhkan aktivitas intim mereka.
Artinya apa gays? Komunikasi dalam pernikahan tidak segampang yang kita pikirkan selama ini. Realisasinya sulit. Kenapa? Ada hal-hal semacam perasaan pasangan yang hrus dijaga, takut kalo kejujurannya menyakiti/menyinggung pasangan, takut kalo keterbukaannya malah menjadi polemik baru dalam hubungan rumah tangga, menghindari perang argumen berkepanjangn dll.
Beberapa orang bisa mengutarakan isi hati/keinginannya pda psangan, tapi beberapa orang terasa sulit. Cuma untuk ngomong doang loh. Begitulah fun fact pernikahan. Ini hanya sekedar sharing aja ya. Dan semoga bisa menjadi bahan instropeksi diri kita semua. ke depannya bakal gua spill lagi. Soalnya gua lagi males kumur2 panjang lebar...
Terima ksih atas dukungan pembaca setia, jika kalian suka novel ini jangan lupa share ke teman2 kalian juga.
__ADS_1