DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 147 : Gara-gara Ramuan Oma


__ADS_3

...Warning! Adegan 🍍🍍🍍Gak suka skip!...


...----------------...


Tidak membicarakan permasalahan yang telah usai adalah salah satu bagian dari resep keharmonisan rumah tangga. Sebab, ada banyak pasangan yang memaafkan hanya dari mulut, tapi tidak dengan hati. Akibatnya, sering mengungkit permasalahan yang telah lewat.


Sepertinya Darren dan Karen memilih berdamai setelah sempat berselisih paham.


Sepasang pasutri itu pun kembali ke kamar mereka untuk beristirahat. Tepat di perbatasan antara pintu kamar mereka, keduanya malah bertemu dengan Chalvin yang juga baru pulang dari kantor setelah lembur.


"Baru pulang, Vin?" tanya Darren yang lebih dulu menyapa.


"Iya, nih!" Pandangan Chalvin terarah pada tautan tangan yang terjalin erat pada sepasang suami istri itu. "Lo masih sakit, ya?" tanyanya pada Karen.


"Udah mendingan, kok. Besok udah bisa balik ke kantor lagi," jawab Karen seraya menyandarkan kepalanya di bahu Darren. Ia dan Darren pun pamit masuk kamar lebih dulu.


Sepeninggalan mereka, Chalvin malah berdiri tertegun di depan pintu kamar Darren dan Karen. Bibirnya menyembulkan senyum tipis sambil menghela napas dengan perlahan.


"Jujur ... ini yang pertama kalinya aku ngerasain pedih dan sakit cuma karena lihat kalian bersama. Tapi, ini bukan salah kalian. Aku aja yang enggak berhati-hati menautkan perasaan," gumamnya dengan sorot mata hampa.


Begitu memasuki kamar, Darren dengan tak sabar membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Duduk di kursi kerja selama hampir seharian penuh membuat pinggangnya encok. Serangan kantuk pun mulai melanda matanya yang lelah akibat terus bertatapan dengan layar laptop. Sebaliknya, Karen malah tampak gusar seiring tubuhnya mendadak merasakan reaksi yang berbeda dari sebelumnya.


"Kok gerah banget, ya? Kek panas gitu, " keluh Karen sambil melepas kancing piyamanya.


Darren lantas duduk kembali hanya untuk meraba dahi Karen. "Suhu badan kamu normal, kok."


"Kamar kali yang panas." Karen mengambil remot AC, tapi kemudian mengernyit karena pengaturan suhu AC mereka sudah yang paling dingin.

__ADS_1


Tak hanya suhu tubuhnya yang meningkat, kini Karen juga merasakan jantungnya terpompa cepat, dadanya mengencang, dan beberapa bagian tubuhnya terutama area sensitif mendadak menegang. Keinginan di dalam dirinya yang muncul secara bertahap, kini mengalir deras dan memaksanya untuk segera menuntaskan. Ia seperti terjerembab ke jurang hasrat yang meluap-luap.


Berbanding terbalik dengannya, Darren malah mulai siap-siap untuk tidur. Ia menguap berkali-kali sambil menarik selimut. Karena matanya sudah sangat berat, ia pun berbalik membelakangi Karen sambil memeluk bantal. Baru saja menutup mata, tiba-tiba pria itu terkesiap ketika Karen menempel manja di tubuhnya sambil memeluk dengan erat.


"Sayang, tubuhku kok jadi sensitif banget," bisik Karen dengan napas yang berembus berat di telinga Darren.


"Hhmm ... jangan mancing-mancing, deh. Aku capek banget, nih! Ngantuk juga," kata pria itu tanpa menengok.


Karen malah menarik bahu Darren dengan kasar, sengaja memaksa tubuh pria itu supaya terlentang. Tak hanya itu, ia juga menduduki tubuh suaminya sambil menarik kerah piyamanya. Tarikan kuat di kerahnya itu, membuat kepala Darren ikut terangkat. Pada detik yang sama, Karen membenamkan bibirnya di bibir pria itu.


Mata Darren melotot tajam begitu merasakan keganasan bibir Karen yang mengintimidasi bibirnya. Meski begitu, ia membuka mulutnya dengan patuh, menerima lidah Karen yang datang menyapa. Bibir dan lidah mereka terjalin satu sama lain. Namun, Darren sulit mengimbangi karena sesapan yang Karen berikan untuknya terlalu buas hingga suara yang dihasilkan dari gesekan bibir itu terdengar begitu nyata.


Darren memegangi pundak istrinya bermaksud menyudahi ciuman panas itu. "Karen, kamu terlalu bergairah malam ini. Bukannya kamu lagi sakit! Udah, ya!" ucapnya sambil meletakkan jari telunjuknya di tengah bibir perempuan itu.


Jelas, Darren sedang tak ingin bercinta malam ini. Namun, penolakannya akan menjadi siksaan bagi Karen. Terlebih, perempuan itu merasakan panas yang kuat tengah mencengkram tubuh dan melumpuhkan otaknya.


"Aku lagi gak bertenaga, Sayang."


"Kalo gitu diam aja! Berbaring yang manis," ucap Karen sambil meraba-raba lembut dada pria itu.


"Karen, ka–kamu ...." Suara Darren tercekat begitu merasakan tangan lentik Karen yang bergerak sensuall di pangkal pahanya.


Darren mengangkat kepalanya dan mencoba bangun. Namun, Karen tiba-tiba menyudahi permainannya dan kembali mendorong tubuhnya. Tampaknya, perempuan itu tak mengizinkan ia memegang kendali malam ini.


"Sayang, aku gak bisa tahan lagi!" Karen berbisik di telinganya. Wajah penuh gairah, suara yang sensual, ditambah tatapan tak berdaya istrinya seolah ikut membakar pria itu.


"Tu–tunggu! Biar aku yang ..." Darren tak dapat melanjutkan kalimatnya karena Karen lebih dulu membungkam dengan bibirnya yang hangat.

__ADS_1


Bibir mereka kembali menempel erat, saling memagut, memberi dan menerima cinta dan nafsu yang tersalurkan. Napas Karen yang naik turun tak beraturan, rambut terurai berantakan, dan bibir yang setengah terbuka karena sibuk mengeluarkan desah menjadikan semua itu seperti sebuah lukisan erotis yang bergerak.


Jujur saja, aktivitas ranjang mereka memang selalu panas dan bergelora. Namun, ia tak pernah melihat Karen seliar ini. Selama ini, dialah yang memimpin kendali penyatuan mereka di atas ranjang, tidak seperti ini!


Tampaknya, ini efek dari ramuan yang diberikan Oma Belle. Saat di ruang baca tadi, Darren memang menyuruh Karen meminum jamu tersebut karena merasa istrinya lebih membutuhkan herbal penjaga stamina dibanding dirinya. Tak ada dari mereka yang tahu kalau ramuan tersebut ternyata berfungsi meningkatkan gairah seksuaal.


Sama seperti yang lainnya, Oma Belle pun masuk ke dalam kamar sambil senyum senyum tak jelas.


"Pasti telah terjadi gempa di atas sana! Besok, Darren pasti akan berterima kasih karena sudah bikin dia kelihatan perkasa di depan istrinya. Hihihi," gumam Oma Belle.


Pertempuran panas ini telah memakan waktu hampir satu jam lamanya. Karen layaknya seorang pendekar yang sibuk menunggangi kuda dengan lincah di medan perang. Darren sebagai tawanannya harus menerima kekalahan telak atas pergumulan liar ini.


Meski masing-masing memiliki skor seri untuk permainan yang telah memasuki ronde ketiga, tetapi semangat Karen masih tak berkurang. Sebaliknya, Darren mulai menunjukkan tanda-tanda KO karena kelelahan. Sialnya, tidak peduli Darren telah mengangkat bendera putih sebagai tanda menyerah, Karen akan terus berusaha membuat rudal pria itu menegang lalu kembali bertempur. Lagi dan lagi.


Sementara Chalvin harus terkena imbasnya karena berada di kawasan yang paling dekat dengan medan pertempuran tersebut. Ya, sedari tadi ia tersiksa karena harus mendengarkan suara peraduan yang menggairahkan itu.


"Apa mereka gak bisa sewa hotel atau balik ke rumah lama aja?" Chalvin malah berdecak kesal sembari menutup telinganya dengan bantal.


Tak tahan, pria itu memilih mengungsi tidur di sofa ruang tamu daripada terus-terusan mendengar suara yang membuat imajinasinya ikut berkobar.


.


.


.


Sudah direvisi, ya!!!

__ADS_1


__ADS_2