
Darren yang sempat menginjaki anak tangga, lantas berbalik menghadap Oma Belle. "Oma mau bicara apa?"
"Ini soal Karen!"
"Kenapa dengan Karen, Oma?"
Oma Belle terdiam sesaat, lalu berkata, "Apa kamu gak perhatiin dia akhir-akhir ini keseringan gak enak badan? Kenapa gak kontrol ke dokter aja!"
"Iya, Oma ... entar aku ajak dia kontrol ke dokter kalo kerjaanku dah kelar semua."
"Entar? Kamu ini ... kontrol kesehatan kok ditunda-tunda! Gak ambil pelajaran sama yang kemarin itu pas Karen mendadak sakit?"
Darren memilih diam dan menerima segala omelan omanya. Dia tak mungkin mengatakan kalau Karen sendiri yang menolak untuk ke dokter.
"Ya, sudah ... karena kesehatan Karen akhir-akhir ini kurang bagus, kalian sebaiknya gak usah buru-buru pulang dulu. Menetap di sini sampai istrimu sehat!" Kalimat perintah dengan nada yang terdengar keramat keluar dari mulut Oma Belle.
"Oma ...."
"Udah, gak usah komplain! Toh ini demi kalian juga. Kalo di sini, semua makanan terjamin. Kamu tahu sendiri, kan, ART kita selalu buatin makanan sehat khusus buat istri kamu. Kalo di sana, kalian pasti lebih keseringan gofood. Itu gak baik bagi kesehatan dan dompet!"
Oma Belle langsung berbalik, seolah tak menerima protes dari Darren. Namun, baru beberapa langkah, ia kembali menoleh dan berkata, "Oh, iya, kalo istri kamu dah mendingan, suruh dia temui Oma."
"Iya, Oma." Tampaknya, Darren menerima saran Oma yang meminta mereka untuk tinggal lebih lama di sini. Pasalnya, ia mempertimbangkan kesehatan Karen yang menurun akhir-akhir ini.
Sebenarnya, hal yang hendak dibicarakan Oma Belle pada Darren adalah tentang kedekatan antara Karen dan Chalvin yang dianggapnya mulai meresahkan, karena sudah berani terang-terangan di depan umum. Ia hanya ingin meminta Darren untuk lebih waspada. Ya, sang mata-mata ternyata telah melaporkan kejadian yang dilihatnya di lift siang tadi, di mana keduanya terlihat menyembunyikan hubungan gelap seperti yang diisukan orang-orang bagian periklanan.
Hanya saja, sebagai orangtua ia pun mempertimbangkan untuk melaporkan kejadian itu pada Darren. Sebab, ia belum mengetahui pasti apa yang sebenarnya terjadi antara Chalvin dan Karen. Ia percaya, meskipun Chalvin terkenal playboy kelas akut, tidak akan tega berselingkuh dengan istri sepupunya sendiri. Biar bagaimanapun ia juga tak ingin membuat hubungan cucu-cucunya itu menjadi renggang karena informasi yang belum pasti.
Baru saja masuk ke kamar, Darren melihat Karen yang tengah sibuk membuka paket. Pria itu datang menghampirinya, memeluknya dari belakang sambil menyandarkan dagu di sebelah bahunya.
"Kenapa gak istirahat?"
"Aku lupa ada barang yang harus aku promoin hari ini. Lagian aku dah fit lagi kok. Aneh, sih, badan aku gak nyaman cuma pas pagi sampai sore aja. Kalo malam kayak udah sehat gitu," jelas Karen sambil sibuk membuka paket endorsan lainnya untuk diunggah ke Instagram miliknya.
Karen membungkuk tiba-tiba untuk mengambil pose gambar produk, tanpa sadar bokongnya malah bersenggolan dengan milik Darren yang beristirahat tenang di dalam sangkar. Keduanya sama-sama terdiam saat menyadari posisi mereka yang sangat 'pas'.
"Kamu sehari ini mancing aku terus, ya?" ucap Darren sambil menahan napas.
"Aku yang mancing atau kamu yang terpancing sendiri?" Karen melirik suaminya, memandang dengan senyum provokasi.
"Kamu kira aku gak tahu trik-trik halus yang kamu pake dari tadi siang buat cuma mancing aku?" Darren kembali mengingatkan hal nakal yang Karen lakukan siang tadi di rumah mereka.
Karen menahan senyum, lalu memutar badan dan berhadapan langsung dengan Darren.
__ADS_1
"Terus, berdasarkan hasil riset yang dilakukan secara eksperimen dengan memakai sampel tubuh, kira-kira trik aku ini bisa dikategorikan teruji secara hipotesis, gak, ya?" Jari tengah dan telunjuk Karen berjalan perlahan dari dada pria itu, menuju ke arah bawah.
Darren menangkap pergelangan tangan Karen lalu menyandarkan tubuh istrinya itu ke meja rias. Badan Karen undur ke belakang hingga kepalanya tersandar di cermin rias saat pria itu menggendongnya naik ke atas meja.
Darren memajukan wajahnya. Lebih dekat, hingga hidung mereka saling bersinggungan. Pandangan mereka bertemu dengan senyum lebar yang terpatri di bibir masing-masing.
"Kamu akhir-akhir ini makin berani, ya!" bisik Darren sambil menyelipkan tangannya di perpotongan leher Karen.
"Tapi kamu suka juga, kan?" balas Karen sambil mengangkat dagu sehingga bibir mereka saling bersentuhan. Tindakan cepat Karen ini, tentu membuat Darren terhenyak.
"Suka, sih ... tapi aku cuma khawatir, kamu kan ngeluh akhir-akhir ini perasaan kamu suka gak enakan, jangan-jangan karena terlalu nafsuan makanya minta dienakin?"
"Ih, gak, gitu!" tampik Karen dengan wajah memerah padam.
"Ngaku aja. Apa lupa waktu malam-malam itu kamu ganasnya kek—" Mulut Darren tersumpal dengan tangan mungil Karen.
"Jangan ingatin itu lagi!" Sepertinya perempuan itu juga malu jika mengingat gairahnya yang meledak-ledak beberapa malam yang lalu. Tanpa ia tahu kalau sebenarnya itu hanya pengaruh dari obat yang diberikan Oma Belle.
Darren menarik tangan Karen yang membekap mulutnya. Ia membawa tangan mungil itu ke bibirnya, lalu mengecup halus jari-jari lentik itu penuh cinta. Kecupan itu kemudian naik ke punggung tangan, lalu berpindah ke bahu dan terus merayap menuju leher jenjang perempuan itu.
Karen memejamkan mata merasakan sapuan hangat bibir suaminya yang terus menjelajahi setiap inci kulitnya. Tangannya hanya sibuk meremas punggung pria itu. Suara ketukan yang datang dari luar pintu kamar itu, mendadak membuat segalanya terhenti.
Pasangan itu kompak menoleh ke arah pintu dengan wajah setengah kesal.
"Ada apa, Bi?" tanya Darren begitu membuka pintu dan melihat ART mereka berdiri di sana.
Darren dan Karen saling melirik sambil saling melempar ekspresi masam.
"Ya, udah, temui dulu Oma!" perintah Darren.
"Oma kenapa manggil aku, ya?" tanya Karen heran.
"Iya dia juga udah bilang ke aku tadi buat suruh kamu temui dia."
"Ya, udah, aku temui Oma dulu!"
"Mau ditemani, enggak?"
"Enggak usah! Cukup tunggu di sini aja." Karen mengedipkan mata dengan gaya genit seolah menyiratkan secara halus aktivitas intim tersebut akan berlanjut lagi.
Darren mengembuskan napas kasar. Ini sudah kedua kalinya keintiman mereka terganggu setelah siang tadi Karen mendadak alami serangan pusing.
"Harap tenang, ini ujian!" ucapnya sambil menatap pangkal pahanya.
__ADS_1
Karen lalu menemui Oma Belle di ruangan favoritnya. Wanita lanjut usia itu memintanya duduk di hadapannya. Melihat wajah Oma yang mendingin, Karen pun mendadak sungkan.
"Kata Darren kamu lagi kurang sehat?"
"Iya, Oma ...."
"Makanya jangan terlalu mikirin pekerjaan. Kamu ini Oma perhatiin lebih peduli pekerjaan dibanding kesehatan dan suamimu sendiri. Mulai besok kamu gak usah sering-sering datang ke perusahaan!Banyak istirahat di rumah aja!"
"Iya, Oma!"
Di luar dugaan, Karen malah langsung mengiyakan instruksinya. Padahal tadinya ia hanya ingin melihat reaksi cucu mantunya itu untuk menyelidiki kebenaran informasi yang diberikan mata-mata kantor.
Tak terasa, sudah hampir satu jam Karen duduk bersimpuh sambil terus mendengar nasihat wanita tua itu. Rasanya cukup lama ia tidak berada di posisi seperti saat ini dengan mendapat ceramah dari Oma Belle.
"Dalam adat Jawa, seorang istri harus punya nilai-nilai yang melekat dalam diri, baik sebagai istri yang memilih menjadi ibu rumah tangga maupun wanita karir. Nilai yang pertama disebut setya. Kalo dalam ungkapan Jawa ada istilah swarga nunut neraka katut yang artinya ikut ke surga atau ke neraka. Ini maksudnya kamu harus setia sama Darren bagaimana pun kondisinya. Mau susah atau senang. Jangan pas senang aja setia sama suami, pas susah malah selingkuh. Itu gak bener!"
"Oke, Oma!" ucap Karen sambil memperbaiki posisi duduk. Ia mulai merasa kakinya kesemutan. Dengan keadaan tubuh yang kurang fit akhir-akhir ini, tentu membuatnya tak betah untuk duduk terlalu lama dengan posisi bersimpuh seperti ini.
"Kedua, ada yang disebut bekti. Kalo bahasa Indonesianya itu artinya berbakti. Itu maksudnya berbakti pada suami dengan menjaga kehormatan diri dan keluarga. Jangan merusak bekti-nya, dengan melakukan perbuatan tercela seperti selingkuh! Istri itu harus mengabdi bukan kebanyakan ngadi-ngadi!" Oma Belle meninggikan intonasi suara di akhir kalimat, seolah memberi penekanan atas maksud dari ucapannya.
"Oke, Oma," jawab Karen sambil menatap ke arah pintu. Ia mulai gelisah dan tak sabar untuk keluar dari ruangan ini.
"Yang ketiga. Ada yang dinamakan mituhu. Apa itu? Nurut sama suami. Mematuhi suami selama berada dalam kebenaran. Kalo seorang istri selalu mematuhi suami, maka akan tercipta keharmonisan dalam rumah tangga. Sebaliknya, kalo istri tukang membangkang, tidak nurut, tidak hormat, yang ada rumah tangga berubah jadi rumah duka karena tiap hari perang."
"Oke, Oma!" Karen bersiap-siap berdiri dari posisi duduknya.
"Keempat!"
Terkejut karena belum juga usai, Karen terpaksa kembali duduk.
Ya, ampun ... ini ceramah ada berapa alinea, sih! Kok dari tadi gak selesai-selesai. Darren pasti dah nungguin, nih!
Sebagai perempuan era generasi Z yang berpaham feminist, tentunya ada beberapa ucapan Oma Belle tak selaras dengan pemikirannya. Menurutnya, menjaga kesetiaan, kehormatan, dan keharmonisan rumah tangga bukan hanya dilakukan salah satu pasangan. Baik istri maupun suami seharusnya bersama-sama saling menjaga komitmen pernikahan. Namun, karena tak mau memperpanjang waktu, ia memilih menerima semua nasihat nenek dari suaminya itu.
"Yang keempat, wanita harus punya sikap mitayani yaitu dapat dipercaya. Sebagai seorang istri, kita harus bersih, jujur dan terbebas dari kesalahan fatal! Kalo suami kasih kepercayaan buat bekerja dan bebas-bebasan di luar sana, ya ... jangan dikhianati kepercayaannya. Apalagi kalau sampai selingkuh!" tegas Oma Belle berapi-api layaknya ketua demonstran.
"Iya, Oma!" sahut Karen dengan wajah masam.
"Jangan cuma oke ... oke ... mulu! Emangnya ini Chanel RCTI apa?!" sambar Oma kesal.
Semua celotehan Oma Belle tentu bermaksud untuk menyindir secara halus sekaligus memperingati Karen agar tidak melanggar batasan seorang istri. Meskipun berkali-kali menekankan kata "Selingkuh", Karen tetap saja santai tanpa tahu sedang disindir.
.
__ADS_1
.
.