DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 114 : Bernego


__ADS_3

Sekelompok anak muda yang datang tiba-tiba dan menyerang Nadya, membuat Chalvin lantas bertanya, "Kamu kenal mereka?"


Mendengar celotehan Feril dan kawan-kawan yang menuduhnya bukan-bukan, Nadya pun segera pergi meninggalkan mereka semua termasuk Chalvin. Tampaknya, ucapan teman-teman Feril yang menuduhnya perempuan tidak beres di tempat umum dan juga di depan Chalvin, membuat percaya dirinya runtuh. Apalagi Chalvin cukup tahu dirinya pernah hamil dan keguguran.


"Nadya!" panggil Chalvin seraya berdiri dan hendak menyusulnya. Namun, ia langsung ditahan oleh teman-teman Feril.


"Ett, mau ke mana lu, Buaya karat?" cegat kawan-kawan Feril dengan sok jago. Mereka bahkan memaksa Chalvin duduk kembali, seolah-olah hendak memberi sidang.


"Kalian siapa? Ada urusan apa sama gua?" Chalvin melempar tatapan tajam pada mereka.


Feril lalu maju berhadapan dengannya. Secara spontan, wajah tengil itu langsung diingat oleh Chalvin. Ya, Karen pernah merasa terusik dengan pria itu hingga harus mengakuinya sebagai pacar.


Dengan dagu yang terangkat tinggi, Feril berkata, "Tentu kita punya urusan! Selama itu menyangkut Karen, lu harus berlawanan dengan—"


Ucapan Feril mengambang saat Chalvin mengeluarkan sebuah kartu nama yang membuat matanya melotot kaget. Ia bahkan sampai menelan ludah dan menurunkan wajah sombongnya.


"Sorry, gua gak punya waktu ladeni orang yang gak gua kenal. Tapi kalo kalian emang perlu banget sama gua, bisa hubungi kuasa hukum gua! Ini kartu namanya" Setelah berkata, Chalvin segera pergi.


"Orang-orang kaya serem-serem amat, yak! Gak bisa diajak ngobrol dikit, langsung ngajak kuasa hukumnya," celetuk si Jamet dengan wajah menahan ngeri.


Sementara, Feril malah menatap kosong tak berkedip sebelum salah satu temannya menepuk pundaknya.


"Kalo tuh cowok jalan sama Nadya, berarti gua masih punya kesempatan buat dapatin Karen!" gumam Feril seketika sambil tersenyum lebar.


"Hah? Lu masih mau kejar Karen? Gila, lu! Motor lu aja ada di tempat pegadaian gara-gara bayar uang taruhan, tapi lu masih pantang menyerah!" Teman-temannya malah tak habis pikir dengan Feril yang kini malah terobsesi untuk miliki Karen.


"Lagian lu sama tuh laki beda jauh dari segi kasta. Bagai pinang tercacah-cacah," timpal Jamet.


Chalvin mengejar Nadya yang baru saja keluar dari gedung mall. Dia menahan lengan gadis muda itu, memaksa berbalik ke arahnya.


"Kok main pergi gitu aja? Kalo apa yang mereka omongin itu gak bener, ya, lawan aja!"

__ADS_1


"Yang dikatakan mereka bener, kok. Aku emang perempuan gak beres. Makanya bisa hamil dan keguguran."


Chalvin berkacak pinggang, memalingkan wajahnya sambil tertawa ringkih. "Gimana, ya? Wanita emang lebih sulit mengakhiri hubungan yang toxic daripada yang healthy, karena saat toxic relationship itu berakhir ... mereka akan berasa takut dan kurang percaya diri. Yang ada di pikiran mereka tuh, enggak akan ada yang bisa menerima mereka selain pasangan mereka yang toxic itu. Makanya mereka tetap memilih bertahan. Dan jika hubungan toxic itu benar-benar berakhir, mereka lebih cenderung menyalahkan diri sendiri. Contohnya kayak kamu gini!"


Nadya bergeming tanpa berani menatap pria hadapannya. Namun, apa yang dikatakan Chalvin barusan sangat berkaitan dengan yang dia rasakan saat ini. Meski hubungannya dengan kakak Feril telah berakhir, tetap saja dia tak percaya diri karena merasa sudah tak utuh lagi.


"Kok Kakak kayak paham banget dengan perempuan. Padahal Kakak kan juga sama aja kan dengan cowok-cowok lain di luar sana."


Chalvin tersenyum miring. "Circle aku 80% wanita. Pekerjaan aku pun berhubungan erat dengan wanita. Sebrengsek-brengsek aku, aku gak pernah maksa apalagi manipulatif. Selalu ada consent dalam hubungan antara gua dan someone."


"Terus, Kakak kenapa tiba-tiba ngajakin aku ketemuan sampai rela jemput ke sini?"


Chalvin terdiam seketika sembari menghela napas. Ia lalu menawarkan Nadya untuk mengobrol ke tempat lain. Ia mengajaknya ke kafe hits dengan suasana bertemakan alam yang instagenik di wilayah Kemang. Begitu sampai, Nadya tampak takjub karena pemandangan yang sangat menyejukkan mata, di mana mereka seperti berada di sebuah jungle fairy tail.


"Makan di sini tuh unik, karena bahan-bahannya diambil langsung dari kebun mereka dan semuanya dari bahan organik. Dan makanan yang disediakan pun tergantung bahan yang mereka panen. So, kita gak bisa pesan lewat buku menu," jelas Chalvin sambil mengajak Nadya berkeliling.


Chalvin membungkuk, memetik bunga telang yang menjadi bahan utama teh favorit di kafe itu. Sebaliknya, Nadya berjongkok dan ikut memetik sambil mendengarkan penjelasan pria itu mengenai khasiat dari bunga tersebut. Sesekali, ia mengintip wajah Chalvin yang terlihat rileks. Suasana kafe yang begitu sepi dan hanya ada mereka berdua sebagai pengunjung, membuat gadis itu terbawa suasana.


Nadya tertegun sembari mempertimbangkan tawaran Chalvin.


"Aku pikir, kamu cocok memenuhi kriteria Oma aku. Soalnya kamu seumuran sama Karen, terus penampilan kamu juga masih sederhana," sambung Chalvin penuh optimis.


Nadya mendadak menghentikan makannya lalu berdiri. "Maaf, Kak. Aku gak bisa!"


Chalvin melebarkan mata seketika. Bahkan gelagapan saat Nadya memutuskan berdiri dan pamit.


"Eh, eh, tunggu dulu! Kok kamu gak mau?"


"Aku udah banyak bohongi orangtuaku tentang apa yang aku alami selama kuliah di sini, dan aku gak mau makin kualat dengan bohongi orangtua orang lain."


"Bantu orang juga ada pahalanya, loh! Tolong gua, please ...." Chalvin berdiri dan mencoba menahan Nadya.

__ADS_1


Tak peduli, Nadya tetap kekeh menolak. Ia berbalik, mengembuskan napas beratnya sebelum pergi. Tampaknya, ia terlalu berekspektasi tinggi sebelumnya karena mengira Chalvin ingin mencoba akrab dengannya. Ternyata pria itu menghubunginya karena punya kepentingan pribadi.


"Jangan khawatir, lu bakal gua bayar sebagai imbalan." Chalvin berusaha memengaruhinya.


Mendengar kata bayaran, membuat Nadya terbelalak. Namun, masih tetap berjalan meninggalkannya.


"Gimana kalo gua kasih sepuluh juta. Itung-itung uang jajan lo! sahut Chalvin kembali.


Nadya menahan napas. Pikirannya mulai goyah. Dengan sepuluh juta, hampir bisa memenuhi uang kuliahnya untuk semester depan.


Melihat Nadya yang masih enggan menerima tawarannya, Chalvin pun kembali bernego, "kalo dua puluh juta gimana?"


Dua puluh juta?


Langkah Nadya mulai lambat. Dua puluh juta sudah bisa memenuhi uang semester kuliahnya, bahkan lebih. Yang artinya ia tidak perlu bersusah-susah mengambil kerja sambilan di mall.


Masih merasa penawarannya tidak membuat gadis itu tertarik, ia pun kembali berteriak, "Lima puluh juta plus beliin apa aja yang lu mau! Gimana?"


Nadya makin terbelalak. Mendapat uang hanya dengan menjadi pacar bohongan sehari, siapa yang tak tertarik?


.


.


.


catatan author ✍️✍️


Teman-teman, jadi kalo kita lihat bab 1-100 novel ini berpusat pada tokoh sentral ya, Karen sama Darren. Tapi memasuki bab 100 ke atas, kalo yang aku baca di brainstorming itu, cerita akan melebar ke tokoh-tokoh pendukung di novel ini. Seperti Feril, ntar ada kisah sendirinya juga. But, semua kisah tetap saling berhubungan erat dengan karakter utama di novel ini. Setelah aku pikir-pikir, monoton juga kalo novel tema slice of life dengan alur panjang itu kisahnya cuma berpusat di tokoh utama, bener gak?


btw, siapa tokoh favorit kalian di novel ini? komen ya!

__ADS_1


kalo aku, kalian pasti dah bisa tebak yang menjadi tokoh favoritku di novel ini 🤣


__ADS_2