DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 91 : Disangka Hamil


__ADS_3

Saat ujian akhir semester, para mahasiswa menganut berbagai keyakinan akan kesuksesan mereka menghadapinya. Untuk mahasiswa aliran lurus, belajar yang tekun adalah kunci sukses menjawab soal ujian akhir semester. Sebaliknya, bagi mahasiswa aliran sesat, posisi tempat duduklah yang akan menjadi penentu nilai UAS. Oleh karena itu, banyak mahasiswa yang berbondong-bondong datang cepat hanya untuk memperebutkan bangku bagian belakang dan pojok.


Hal itu berlaku juga pada Nadya dan Vera yang mencari posisi aman seraya berdoa agar mendapat pengawas yang tak ketat. Tiga puluh menit sebelum ujian dimulai, Nadya malah sibuk memutar kepalanya.


"Eh, kok Karen belum datang?" tanya Nadya pada Vera yang duduk sejajar dengannya.


Vera ikut menengok ke sekeliling ruangan. "Iya, yah? Kok gak ada? Padahal kemarin-kemarin dia jor-joran belajar loh sampai gak mau gabung dulu sama kita."


Di sisi lain, serangan panik melanda Darren saat hawa panas terasa di telapak tangannya yang sedang memegang dahi Karen. Saking khawatir, ia berniat membawa istrinya ke Rumah Sakit.


Karen memegang tangan suaminya, lalu membuka mata secara perlahan. "Ambilin aku obat penurun panas aja! Aku gak papa kok."


"Gak! Kita mesti ke dokter buat periksa. Kali aja kamu hamil. Bukannya kamu belum datang bulan?" tanya Darren. Tampaknya, pria itu turut memerhatikan siklus mentruasi istrinya.


Dugaan Darren yang mengira dirinya hamil, membuat Karen langsung menepis tangan Darren dengan kasar. "Enggak. Aku gak mau ke dokter!"


Darren membungkuk seraya mengusap kepala istrinya. "Kamu istirahat, ya? Gak usah ke kampus! Ikut ujian susulan aja, entar aku yang minta ijin sama dosen kamu."


Karen menggeleng, kemudian memaksa dirinya duduk. Namun, langsung ditahan oleh Darren. "Sayang, aku lihat kamu terlalu maksain diri akhir-akhir ini."


Karen menatap lara suaminya. Karena aku takut kamu bakal berpaling dariku suatu saat nanti.


"Pokoknya hari ini kamu istirahat total! Gak boleh ke mana-mana dan gak usah ngapa-ngapain!" Ucapan dengan nada perintah keluar dari mulut pria itu.


"Asalkan kamu juga gak ke mana-mana," ucap Karen dengan wajah memelas seraya memegang lengan suaminya.


"Iya, aku gak bakal ke mana-mana," balas Darren.


Sekitar tiga puluh menit kemudian, Darren kembali ke kamar dengan celemek yang menempel di badannya. Ia membawa nampan yang berisi semangkok bubur hangat dan air. Duduk di sisi ranjang, ia mulai menyuapi istrinya.


"Buka mulut."

__ADS_1


Karen menggeleng.


"Makan dikit aja."


Karen kembali menggeleng. Kali ini disertai dengan telapak tangan yang menutup mulut.


"Kalau gak mau, entar aku suap pakai mulut loh," ancam Darren bernada genit.


Karen menunjukkan mimik merajuk pada pria itu. Ia semakin menutup rapat-rapat mulutnya dengan kedua tangan. Wajah pria itu semakin maju hingga membuat kepalanya refleks mundur ke belakang.


"Mau coba, enggak! Kusuap dari mulut ke mulut," bisik Darren dengan alis yang terangkat sebelah.


Merasa kesal, Karen lantas menggerutu, "Ih, jorok ta—"


Di waktu yang bersamaan, sesendok bubur hangat masuk ke dalam mulutnya yang terbuka. Mau tak mau, ia harus menelan bubur itu. Setelah beberapa kali suapan, Darren mengambil merk obat penurun panas sejuta umat lalu mengapit tablet putih bulat itu di sela mulut Karen yang kering dan mengelupas bagai retak-retak tanah di musim kemarau.


"Minum!" pintanya sembari menyodorkan segelas air.


"Maaf ya aku repotin kamu."


"Ngomong sama suami kok kayak ngomong sama orang lain! Sungkan gitu." Darren merasa aneh dengan kalimat yang baru saja meluncur di mulut Karen. "Hikmahnya kan kita jadi punya we time seharian di rumah."


"Kamu senang gak nikah sama aku?" tanya Karen tiba-tiba.


"Senanglah! Apalagi dapat istri yang gemesin kek gini!" Darren mencubit gemas hidung Karen yang minimalis.


"Kalau gitu ... kasih aku penilaian dong. Dari lima bintang, aku dapat berapa?"


Darren berpikir sejenak lalu menjawab. "Tiga."


"Hah? Kok tiga doang! Apa aku kurang hot di ranjang?" protes Karen dengan wajah cemberut.

__ADS_1


Darren terkekeh lalu mengacak-acak rambut Karen. "Makanya kamu harus cepat sembuh biar dapat bintang lima."


"Jadi ... karena aku sakit makanya kamu cuma ngasih bintang tiga?" Kali ini, nada suara Karen sedikit bergetar.


"Iya, karena kamu pasien aku saat ini dan aku perawat kamu. Pasien yang keras kepala gak akan dapat bintang lima.


"Kalau gitu kamu juga bakal aku nilai sebagai perawat. Lihat aja, berapa bintang yang bakal aku kasih ke kamu. Kalau gak ramah, langsung dapat bintang satu!"


Darren tertawa kecil seraya kembali mengacak-acak rambut Karen. Ia menepi sejenak ketika terdengar suara panggilan dari Oma Belle.


"Ren, istri kamu udah selesai ujian apa belum? Oma telepon-telepon gak diangkat. Kemarin katanya abis ujian mau temani oma ke gudang kosmetik kita." Suara oma Belle terdengar dari sambungan telepon.


"Karen lagi sakit Oma."


"Hah? Sakit apa?"


"Gak tahu, nih. Tiba-tiba demam."


"Jangan-jangan ... istri kamu ngidam," duga Oma Belle dengan sepasang mata yang berkilau seperti berlian. Ia langsung menutup telepon dan memanggil-manggil supirnya agar mempersiapkan mobil.


"Kamu mau ke mana?" tanya kakek Aswono yang heran melihat kehebohan istrinya.


"Mau ke rumah Darren. Kayaknya si Karen tuh lagi hamil. Soalnya dia gak ke kampus hari ini!" Oma Belle berkata dengan mata yang berbinar cerah, seperti baru saja mendapatkan hadiah undian dari sabun colek.


Ia lalu buru-buru ke kamar untuk berganti pakaian dan bersiap meluncur ke kediaman cucunya.


Sementara itu, kakek Aswono mengernyit dengan kepala yang bergeleng-geleng kecil. "Baru tahu aku, kalau gak ke kampus bisa jadi tanda-tanda kehamilan."


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2