
Pagi hari yang cerah, Oma Belle duduk merenung di depan kanvas bersih berbentuk persegi. Kakek Aswono yang memerhatikan kegalauan istrinya sedari tadi, tak kuasa menahan diri untuk bertanya.
"Kamu kenapa?"
"Aku tuh sedang memikirkan masa depan generasi kita. Aku udah gak bisa maksa Karen buat cepat-cepat hamil, mau gak mau Chalvin harus segera nikah. Mumpung dia juga mau, loh!" Oma Belle tentu saja masih ingat saat Chalvin menanyakan wanita berikutnya yang akan diperkenalkan padanya. Padahal pertanyaan basa-basi itu dilontarkan untuk mengalihkan fokus dirinya.
Bertepatan dengan itu, Chalvin yang baru saja tiba lantas segera berbalik cepat begitu mendengar pembicaraan tentang pernikahannya. Sayangnya, bayangan dirinya terlanjur tertangkap mata Oma Belle yang tajam.
"Chalvin!" panggil Oma Belle.
Chalvin terkesiap. Mendengar panggilan tersebut ibarat mendengar bunyi token listrik tengah malam. Tentu saja membuatnya kelabakan!
"Iya, Oma ...."
"Sini, ada yang mau Oma omongin. Minggu depan Oma ada undangan pesta pernikahan cucu teman. Kamu temani oma, ya? Ada gadis yang bakal Oma kenalin sama kamu."
Chalvin menggaruk-garuk kepalanya dengan tampilan wajah yang masam. "Jangan kayak kemarin, Oma. Di foto kayak Barbie, pas datang malah kayak Suzanna."
"Makanya kali ini kita lihat langsung aja. No foto-foto karena foto bisa menipu!" balas Oma Belle.
Chalvin pun hanya bisa mengembuskan napas kasar sambil bergumam dalam hati, "Gini amat punya Oma kayak anggota dewan, nikah aja harus diatur sama dia."
Setelah dirawat selama beberapa hari di rumah sakit, Karen pun diizinkan pulang ke rumah. Beberapa hari ke depan, ia dan Darren akan terbang ke Malaysia untuk berobat dengan menggunakan metode HIFU. Begitu tiba di kediaman mereka, Karen tertegun melihat suasana rumah yang tetap rapi meski ditinggalnya selama beberapa hari. Tampak sebuah koper berukuran sedang telah Darren persiapkan untuk keberangkatan mereka.
Sebelum terbang ke Malaysia untuk menjalankan prosedur HIFU, sepasang suami istri itu berkonsultasi lebih dulu lewat online. Di depan laptop Karen berbicara langsung pada dokter yang akan menanganinya di rumah sakit sana.
(Ket. Percakapan dokter di bawah ini menggunakan bahasa Melayu)
"HIFU ini sangat boleh untuk membunuhkan sel-sel berbahaya di dalam tubuh seperti miom dan adenomiosis. Apabila telah menjadi sel kanker, kita akan membunuhkan juga penyebarannya. Untuk menjalankan HIFU, saya sarankan pesakit menjalankan MRI¹. Boleh dijalankan di Indonesia. Lepas nak buat MRI, kita suruh pesakit hantarkan kepada saya. Kita akan tengok apakah bisa menolong penyakit ini dengan HIFU," jelas dokter dengan aksen Melayu yang khas.
"Apa setelah melakukan treatment ini, saya bisa hamil, dok?" tanya Karen dengan penuh antusias.
"Iya, iya, teknik HIFU untuk adenomiosis adalah supaya penyakit itu akan berkurangan dan pesakit itu boleh hamil. Itulah tujuan kita. Dan sebelum ada HIFU, biasanya kita masih cuba menolong seorang wanita yang kena penyakit ini dengan membuatkan obat subur, inseminasi atau bayi tabung. Tetapi dengan HIFU, kita ada satu cara lagi untuk memperbaiki rahim untuk menolong wanita hamil."
"Berapa lama istri saya harus tinggal di rumah sakit ini setelah menjalankan prosedur HIFU, dok?" tanya Darren.
"Sebenarnya, tidak perlu duduk di hospital. Kalau kita buat HIFU di waktu pagi, sore sudah boleh keluar. Tapi, biasanya kita akan masukkan untuk satu malam. Paling banyak dua malam karena bukan pembedahan dan tak ada luka di perut sebab kita menggunakan gelombang ultrasound. Selepas menjalankan HIFU ini, seorang wanita boleh makan, minum dan berjalan. Tidak ada kesakitan."
__ADS_1
"Apa pengobatan HIFU ini ada efek sampingnya, dok?" Darren masih lanjut bertanya.
"Kalau kita lakukan pembedahan pasti ada efek sampingannya. Efek sampingannya yang amat kita risaukan adalah luka kepada organ-organ lain. Untuk HIFU, efek sampingannya amat kecil. Kemungkinan ada kesakitan sedikit di dalam rahim, kadang-kadang ada pendarahan, ada keputihan, tetapi yang paling kita takuti adalah luka usus. Tapi kemungkinan itu berlaku sangat tipis, hanya dua dalam sepuluh ribu pesakit," jelas dokter kembali.
Karen dan Darren bertukar pandangan dengan tangan yang saling bertautan. Penjelasan dokter yang begitu optimis, membuat mereka semakin yakin dengan pilihan yang telah diambil.
Seperti yang telah dijelaskan dokter, proses penanganan tumor dengan teknik HIFU ini hanya memakan waktu satu sampai empat jam, tergantung berapa besar dan berapa banyak tumor itu dalam rahim. Dokter juga memberi tahu jenis-jenis makanan yang pantang untuk dikomsumsi selama empat hari sebelum melakukan prosedur itu.
Waktu yang ditentukan untuk berangkat ke Malaysia pun tiba. Mami Vallen dan suaminya mengantarkan Karen dan Darren di bandara.
"Jangan takut! Anggap aja kalian akan pergi berbulan madu," ucap mami Valen sambil meminggirkan rambut Karen ke belakang telinga.
Karen mengangguk dengan senyum yang terulas ringan. Berbicara soal bulan madu, ia dan Darren memang tak melakukannya hingga kini. Sehari setelah menikah, mereka langsung masuk ke kampus dan beraktivitas seperti biasa.
"Karen! Darren!"
Karen dan Darren kompak berbalik saat nama mereka dipanggil oleh suara yang tak asing. Mereka tersenyum lebar saat melihat Oma Belle dan Chalvin yang berjalan tergesa-gesa demi bisa ikut melihat kepergian mereka.
"Karen, Oma bawain kamu minyak gosok yang bagus untuk dipakai menghangatkan badan kalo kamu kedinginan di dalam pesawat. Terus ini juga ada permen gula asam, siapa tahu aja kamu mual." Oma Belle menyodorkan minyak gosok beraroma rempah yang menyengat serta setoples permen jadul yang dibungkus dengan kertas minyak warna-warni.
"Makasih, Oma!" Karen menerima pemberian Oma Belle dengan senyum semringah.
"Thanks, ya!"
Selama di pesawat, Karen terus menyandarkan kepalanya di pundak Darren. Tangan mereka masih bertautan erat. Meski perjalanan mereka bertujuan untuk berobat, entah kenapa ia sangat senang dan menikmatinya.
Perjalanan udara yang memakan waktu kurang lebih dua jam itu, mengantarkan mereka ke negeri Jiran. Setibanya di Kuala lumpur, mereka langsung beristirahat di hotel yang telah direservasi. Setiap sudut kota metropolitan itu, cukup dikuasai Darren karena pernah mengajar di salah satu universitas prestisius.
"Kita jalan-jalan, yuk," ajak Karen sambil melihat keindahan ibukota dari jendela kamar mereka.
"Kamu harus banyak istirahat sebelum menjalani pengobatan," tolak Darren sambil mengatur barang-barang bawaan mereka.
Wajah Karen sontak memberengut. Ia lantas meloncat ke punggung Darren. Untungnya, pria itu dengan sigap menahan tubuhnya.
"Bilang aja kamu males bawa orang sakit jalan-jalan. Iya, kan?"
Gerakan-gerakan yang dibuat Karen di atas punggungnya, membuat tubuh Darren kehilangan keseimbangan. Ia membanting tubuhnya ke atas ranjang dalam posisi menyamping sehingga membuat Karen ikut terbaring. Darren berbalik cepat agar bisa saling berhadapan, lalu mengecup singkat bibir ranum istrinya.
__ADS_1
"Kita fokus ke pengobatan kamu dulu, ya. Kalo udah selesai, pasti bakal aku ajak jalan-jalan," ucap pria itu.
Karen menempatkan telapak tangannya di rahang tegas suaminya. "Kamu tahu, kamu tuh obat mujarab aku."
Keesokan harinya, mereka bertandang ke rumah sakit tujuan yang ada di kota Malaka. Mereka perlu menempuh perjalanan darat sekitar satu jam dari hotel tempat mereka menginap. Setelah tiba di rumah sakit itu, tubuh Karen dibaringkan di atas mesin HIFU, untuk menjalankan simulasi terlebih dahulu. Setelah itu, ia diberi obat khusus pembersih usus. Saat proses pengobatan akan segera dimulai, jemari Darren terulur menyentuh tangan istrinya yang dingin dan gemetar, kemudian menggenggamnya dengan erat.
"Semua akan baik-baik saja." Darren membisikkan kalimat andalannya di telinga Karen. Kalimat yang menjadi mantra sekaligus penguat bagi Karen.
Tangan mereka harus terlepas, ketika perawat mulai mendorong brankar masuk ke dalam ruang tempat prosedur HIFU yang sesungguhnya.
.
.
.
Jejak kaki 🦶🦶
MRI (Magnetic resonance imaging): pemeriksaan organ tubuh dengan menggunakan teknologi magnet dan gelombang tubuh.
Catatan author ✍️✍️
Penjelasan tentang HIFU, dikutip dari dokter mahkota medical center yang menangani prosedur ini. Aku nonton penjelasannya di YouTube selama satu jam, trus aku rangkum penjelasannya seperti di atas. Dan setelah nonton, aku juga baru tahu kalo HIFU ini bisa untuk mengobati kanker payu dara, kanker tulang dan pankreas juga gays.
Kenapa aku memilih menyelamatkan Karen dengan metode ini? Karena metode ini masih banyak yang belum tahu, gays. Termasuk nakes di sini. Wajar, ya, di Indonesia belum ada. Di Malaysia pun masih baru dan hanya ada di satu rumah sakit. Terus, aku tuh pengagum teknologi-teknologi yang hebat. Bisa dilihat novel-novel aku sebelumnya juga selalu memperkenalkan teknologi dan aplikasi meski ada yang hanya berupa fiktif. Walaupun, seandainya Karen menjalani prosedur angkat rahim, pasti ceritanya lebih dramatis, wkwk.
Aku cerita dikit ya, sebenarnya aku gak terlalu tahu tentang organ reproduksi wanita. Saat membaca brainstorming yang dikasih editor, aku sempat bingung nentuin penyakit apa yang cocok untuk Karen. Tentunya berhubungan dengan masalah rahim. Itulah kenapa, ada beberapa chapter awal konflik ini aku belum spill penyakitnya.
Terus, aku iseng-iseng nanya ke ipar aku tentang tumor rahim, karena ipar aku tuh nakes dan kebetulan tempatnya emang di bidang penyakit-penyakit tumor dan kanker. Pas aku nanya, dia langsung nelepon dengan nada khawatir, nanya balik siapa yang sakit? Terus pas aku jawab, tokoh karakter novelku, dia kek gubrak gitu 😂.
So, iparku ini banyak membantu aku. Dia ngirim hasil penelitiannya tentang kasus-kasus penyakit rahim wanita dalam bentuk pdf. Itu yang aku baca dan akhirnya sedikit ngerti.
Nah, dari sisi medis aku udah mulai paham. Tapi dari sisi pasien, aku penasaran. Lalu, aku temukan curhatan-curhatan wanita yang mengidap penyakit reproduksi di sebua forum. Ketakutan yang dirasakan Karen itu mewakili perasaan anggota forum tersebut. Takut gak bisa hamil lagi, takut menopause dini, hingga takut setelah operasi nanti gairah mereka berkurang. Ada juga yang takut pasangan mereka berubah, karena ada mitos yang bilang kalo udah ga punya rahim, berhubungan badan itu udah ga enak lagi. So, ketakutan yang dialami Karen itu sangat manusiawi.
__ADS_1
Btw, aku setuju sama komentator yang bilang saat kita sakit keras, sebenarnya itu ujian untuk pasangan kita. Good Komeng! Benar, ya, karena dari situ bisa dilihat ketulusan dan kesetiaan pasangan kita.
Oke, sekian kumur-kumur dariku. Btw, beberapa hari ini aku sibuk banget dan harus lembur kerja. Bisa dilihat dari jam rilis novel yang tengah malam dan aku gak ninggalin catatan kaki selama beberapa chapter. Jadi aku nulis tuh dicicil, misalkan hari ini 500an, besoknya sambung lagi sampai 1000an. Bisa update tiap hari dengan catatan cuma 500 kata/bab. Tapi rasanya aneh, novel aku selalu di atas seribu kata. Aku usahain tiap bab itu ada inti cerita dan value dari cerita itu sendiri. Gimana dengan kalian sendiri?