
Karyawan kafe lantas bengong ketika sebuah mobil mewah terparkir di depan coffee shop mereka. Mereka terbelalak begitu melihat sosok yang keluar dari mobil tersebut adalah seorang pria bersetelan jas abu-abu yang begitu necis layaknya figur CEO dalam drama. Sebaliknya, Nadya hanya bisa menghela napas melihat kehadiran pria itu.
"Eh, eh, siapa tuh cowok? Kayaknya dia mau ke sini, deh!" ucap salah satu barista dengan wajah terkesima.
"Wuih, bau-bau sultan, nih!" sambung karyawan bagian kasir sambil sedikit membungkuk untuk bisa melihat jelas wajah pria tersebut.
"Kasih tahu sama dia kalau kita dah tutup," kata Nadya sambil berbalik.
"Eh, jangan dong! Gak papa, kan masih tiga puluh menit lagi. kita-kita belum mau pulang juga kok!" sahut barista wanita.
Para karyawan di tempat itu lantas kembali memasang apron dan buru-buru memperbaiki penampilan saat pria itu menuju ke coffee shop mereka. Ya, bisa ditebak, pria itu adalah Chalvin yang kembali singgah ke kafe shop tersebut sepulang dari kantor.
Chalvin membuka pintu dan masuk sambil membawa paper bag kecil. Matanya langsung tertuju pada Nadya yang tengah duduk di belakang kasir seolah tak memedulikan kehadirannya. Gadis itu malah asyik bercerita dengan barista pria.
"Selamat datang, mau pesan menu yang mana?" tanya karyawan bagian kasir.
Sambil memandang Nadya, pria itu menjawab, "Tanya aja sama dia. Dia yang tahu selera aku!"
Karyawan di tempat itu lantas menoleh ke Nadya dengan mimik terkejut. Tentu saja mereka tak tahu kalau pria ini mengenal manajer mereka.
Pria barista yang tengah mengobrol dengan Nadya, lantas memberi tahu gadis itu dengan mengedikkan dagunya ke samping. Nadya langsung menengok ke arah Chalvin. "Memangnya kopi jenis apa yang biasa dipesan sama tuh orang?"
Nadya lantas menoleh ke arah Chalvin. Meski begitu tak ada sepatah pun kata yang keluar dari mulutnya.
"Oh, iya, aku request kopinya dibikinin langsung sama dia, ya! Soalnya beda tangan, suka beda hasil," pinta Chalvin kembali, lalu meminta total pembayaran.
Nadya dan para barista saling bertatapan. Ia pun berdiri dan kemudian meracik kopi untuk pria itu. Terlihat, gadis itu semakin mahir menggunakan mesin penggiling kopi lalu menyeduhnya dengan cloth filter.
(cloth filter: saringan kain khusus kopi)
"Ini Kak!" Nadya meletakkan secangkir cairan pekat itu di atas meja.
Saat ia hendak beranjak, Chalvin langsung menyerahkan bag paper kecil yang dibawanya. Nadya tertegun sebentar. Dilihat dari toko yang tertulis dalam bag paper, ia sudah bisa menebak apa yang diberikan pria itu.
"Ada yang ngasih aku cokelat yang sama kayak kamu kasih ke aku waktu itu. Ya, kamu tahu sendiri, kan, aku gak suka cokelat. Jadi, aku pikir ... mending cokelat ini aku kasih ke kamu."
"Duh, sorry Kak, sejak Kakak bilang cokelat banyak mengandung kalori aku juga jadi gak suka makan cokelat." Nadya malah memulangkan kalimat Chalvin ketika menolak cokelat pemberiannya.
Mata Chalvin membesar dua kali lipat saat Nadya menolak mentah-mentah barang pemberiannya. Padahal, ia pikir gadis itu akan senang menerimanya. Sebenarnya, dia sengaja membeli cokelat itu khusus untuk Nadya. Hanya saja enggan mengakuinya. Sayangnya, tindakannya ini justru mengingatkan Nadya ke masa-masa saat dia gencar mengejar pria itu, tapi tak terlihat dan cenderung diabaikan.
__ADS_1
Bukan buaya namanya jika kalah taktik dengan seorang wanita.Begitu Nadya berbalik, pria itu justru berdiri sambil mengangkat bag paper tersebut, kemudian menawarkannya pada karyawan kafe.
"Kalian mau cokelat, gak? Ini dari toko Cokelat di kafe Kemang yang terkenal itu loh!"
"Mau ... mau, Kak!" Tak butuh sedetik untuk menunggu jawaban, ketiga karyawannya lantas senang menerimanya.
Chalvin melihat jam tangan yang terpasang di tangan kirinya lalu berkata, "Oh, iya, kalian udah boleh pulang!"
"Hah?" Mereka terkejut seraya menatap ke arah Nadya yang juga tak kalah kaget dengan perintah seenak jidat yang baru saja dikeluarkan Chalvin.
"Ya, pulang aja. Udah mendekati jam pulang juga, kan? Kebetulan, aku sama manajer kalian ada urusan dikit dan gak pengen ada yang ganggu." Chalvin merangkul Nadya dengan santai, seolah hendak menunjukkan kalau mereka sangat dekat.
Kalimat terakhir Chalvin membuat mata Nadya membulat. Bukan hanya itu saja, di saat ia hendak menepis tangan Chalvin yang melingkar di bahunya, pria itu justru semakin memperat rangkulannya.
"Oh, iya, iya, kalo gitu kita pulang dulu!" Dua barista, dan satu kasir buru-buru melepas apron mereka kemudian berpamitan pulang.
Begitu semuanya pergi dan keadaan menjadi sepi, Chalvin pun melepaskan rangkulannya dengan perlahan.
"Kak Chalvin mau ngomong apa sama aku?"
"Gak ada, sih! Cuma gak suka aja nikmati kopi dalam keadaan ramai!" Chalvin tertawa hambar.
"Kalo gitu cepat diminum kopinya sebelum dingin!"
"Ngusir, nih?!"
"Itu Kak Chalvin sendiri yang menyimpulkan, bukan aku!" balas Nadya sambil berjalan ke meja bartender.
Sejak kejadian di apartemennya, gadis di hadapannya itu kini tampak berubah padanya. Inilah yang menjadi alasan Chalvin menemui gadis itu lagi. Pikirnya, hari ini mungkin Nadya sudah kembali seperti biasa, menjadi satu-satunya orang yang sering mendengar cerita, keluh-kesah, dan curahan hatinya.
Chalvin menyeruput kopi dengan pelan dan santai agar tak cepat habis. Matanya terus memantau Nadya yang sibuk menulis laporan. Gadis itu merentangkan tangan serta menghela napas berat yang menjadi penanda bahwa pekerjaannya telah selesai. Saat Nadya memalingkan wajah ke arahnya, Chalvin berlagak sibuk dengan gawainya. Namun, ekor matanya masih bisa menangkap Nadya yang tengah menoleh ke arah jam dinding. Rupanya, keberadaannya di kafe itu sudah sejam lamanya melewati batas operasional kafe.
"Gimana kuliah kamu? Gak keteteran, kan?" Chalvin membuka obrolan setelah sekian lama mereka terperangkap dalam keheningan.
"Ya, bisa atur waktu, sih! Tapi, resikonya udah gak bisa nongkrong ma teman-teman kalo selesai mata kuliah. Ini aja aku udah jarang ngobrol sama Karen."
"Wah, dah sibuk banget berarti, ya?"
Nadya tak lagi merespon, matanya malah kembali menoleh ke arah jam dinding. Melihat itu, Chalvin pun tampak mengerti untuk segera pergi. Ia juga mempertimbangkan tempat tinggal Nadya yang cukup jauh. Meski sebenarnya ia masih ingin berlama-lama di tempat itu. Ia lantas menghabiskan kopinya dalam satu tegukan kemudian berdiri dari tempat duduknya.
__ADS_1
"Ok, kalo gitu aku mau balik dulu. Thanks untuk segelas kopi yang enak!"
"Oh, iya, Kak!"
Chalvin memerhatikan perubahan raut wajah Nadya yang mendadak semringah ketika dirinya memutuskan pulang.
"Kamu juga dah mau pulang, ya?"
Nadya mengangguk.
"Kalo gitu aku ...."
"Aku bawa motor, kok!" potong Nadya.
"Oh," balasnya pendek.
Nadya mengunci pintu kafe. Ketika memutar badan, ternyata Chalvin masih berdiri di belakangnya. Untuk sejenak, mereka saling berpandangan.
"Aku ... pulang duluan, ya?"
Baru saja hendak melangkah menuju tempat motornya terparkir, tiba-tiba saja Chalvin menggenggam lengannya sambil menariknya masuk ke dalam mobil. Ini tentu membuatnya kelabakan dan sedikit marah.
"Kak Chalvin lihat sendiri, kan, aku bawa motor?" Nadya hendak keluar dari mobil itu, tapi tiba-tiba terdengar suara pintu yang terkunci otomatis, tanda semuanya berada dalam kendali Chalvin.
Nadya menoleh ke arah Chalvin dengan alis yang saling bertautan.
"Aku cuma pengen minta maaf sama kamu. Tulus ... dari hati aku," ungkap Chalvin membalas tatapan tegas Nadya.
Di sisi lain, Darren baru saja mengisi mata kuliah terakhir. Ia keluar dari gedung fakultas menuju tempat parkir dosen yang begitu sepi dan remang, di mana hanya mobilnya sebagai satu-satunya kendaraan yang terparkir di tempat itu. Sambil berjalan menuju mobilnya, ia mengambil ponsel bermaksud menanyakan sesuatu yang mungkin ingin dimakan oleh istrinya.
Tiba-tiba sebuah kendaraan motor yang memuat dua pria berhelm tertutup melaju dengan cepat dan menyambar Darren. Untung saja pria itu memiliki gerak refleks yang baik sehingga bisa menghindari pemotor yang hampir saja menabraknya. Rasanya sedikit aneh karena ada motor yang melintas di tempat parkir khusus mobil para dosen.
Tepat beberapa langkah dari mobilnya, Darren menekan remot kontrol kunci. Baru saja hendak membuka pintu mobil, sebuah cahaya kembali menyorotnya diikuti suara bising dari motor yang baru saja lewat. Pemotor itu berhenti tepat di belakangnya dan langsung menyerangnya. Darren yang sempat lengah karena hendak menelepon Karen, lantas jatuh tersungkur ketika sebuah balok kayu menghantam kepalanya dengan keras.
.
.
.
__ADS_1