
Mendengar Darren memanggilnya dengan sebutan "sayang", semburat merah langsung muncul di pipi perempuan itu.
"Coba ulang!" pinta Karen dengan napas yang berembus tepat di telinga Darren. Ia juga kembali menekan dadanya di punggung pria itu.
"Apanya yang ulang?" tanya Darren yang mulai merasa tersiksa dengan godaan istrinya.
"Ulang panggil sayang!"
"Sayang ...," panggil Darren menuruti pinta istrinya seraya menengok ke belakang.
Bibir Karen spontan tertarik lebar. Hanya mendengar kata itu, hatinya seakan dihampiri musim semi. Berbunga-bunga tentunya.
Ibarat dikasih hati minta dua, Karen malah berkata, "Coba ciptain nama panggilan kesayangan buat aku! Ya ... biar lebih mesra, gitu!"
"Kan barusan dah aku panggil sayang."
"Gak mau! Gak mau! Panggilan sayang itu sifatnya umum. Pedagang aja sering manggil kita sayang, makanan yang jatuh juga dibilang sayang," rengeknya.
Darren menghela napas sesaat. "Terus kamu mau dipanggil apa? Tadi minta-minta dipanggil sayang."
"Panggilan yang lebih spesial gitu. Masa kamu kalah sama mami aku yang punya panggilan khusus buat aku."
"Mulai lagi, deh, alay-nya. Kamu aja manggil Mas cuma pas lagi di depan Oma sama kakek," ketus Darren.
"Ya, kan kamu sendiri yang minta dipanggil nama doang. Kamu ingat enggak pas semingguan setelah kita nikah." Karen mencoba mengingatkan Darren di awal-awal pernikahan mereka.
"Ya, itu karena kamu terus-terusan manggil pak ... pak .... Bahkan pas lagi making love pun kamu tetap manggil-manggil kayak gitu. Itu ganggu banget karena feel-nya kayak lagi berhubungan sama mahasiswa aku, bukan istri."
Darren tentu belum lupa akan hal itu. Seperti pasangan perjodohan lainnya, mereka pun merasakan kecanggungan satu sama lain pasca mengucapkan ikrar suci pernikahan. Apalagi, mereka sebelumnya hanya berstatus sebagai dosen dan mahasiswa. Tidak lebih! Itulah kenapa selama beberapa hari, Karen kerap memanggilnya secara formal, layaknya sedang berada di kampus.
Masih berguling di atas punggung suaminya, Karen terus menggesek dadanya sambil mendesaknya memberi nama panggilan yang spesial. Tindakan menggemaskan ini justru membuat naluri kelaki-lakian Darren terus meronta untuk segera membebaskan diri. Sejujurnya, dia adalah pria yang bisa menekan keinginan biologis, terbukti ia sanggup melajang di usia matang. Namun, sejak menikah, semua berubah. Entah kenapa, selalu ada keinginan untuk menyentuhnya lebih dari sekadar sentuhan biasa.
Bukannya menuruti keinginan Karen, Darren malah berbalik terlentang, sehingga turut mengubah posisi tidur Karen yang tadinya berada di belakang punggung, kini di atas dada pria itu. Wajah keduanya pun saling berhadapan.
"Udah aku bilang jangan mancing!"
"Mancing apa?" Karen yang benar-benar tak paham.
__ADS_1
Detik berikutnya, perutnya merasa ditekan oleh sesuatu yang berdiri tegak tapi bukan tiang dan menegang tapi bukan listrik. Ia tersenyum tipis tatkala melihat wajah Darren yang telah memerah diikuti tatapan sayu. Selanjutnya, tangan perempuan itu malah merambat masuk ke dalam celana Darren, sengaja memainkan milik suaminya.
Tadinya, ia benar-benar tak sengaja menggesek-gesekkan dada di punggung suaminya. Namun, melihat wajah Darren saat ini, ia menjadi bersemangat untuk menggodanya. ia dapat merasakan jantung pria itu berdentang cepat saat tangannya terus bergerak naik turun di dalam sana. Matanya mendelik, mencoba mengintip ekspresi suaminya. Pria itu beberapa kali terlihat memejamkan mata.
Ketika mata mereka bertemu, Darren malah menahan tangan Karen yang tengah bersemangat memijat miliknya.
"Use your mouth, please!" bisik Darren dengan napas tertahan.
Karen tersenyum nakal mendengar permintaan suaminya. Ia mengeluarkan tangannya yang berada dalam celana, lalu turun dari atas tubuh suaminya. Bukannya memenuhi keinginan Darren untuk segera menyelesaikan gairah yang tertahan, perempuan itu malah menarik selimut serta merebahkan tubuhnya.
"Selanjutnya selesaikan sendiri, ya!" ucap Karen sambil menjulurkan lidah.
Darren menggertakkan giginya sambil bergumam kesal. "Kok seneng banget gantungin orang!" ketusnya.
"Kamu lupa, ya, dengan hukuman yang aku kasih!"
"Ya, makanya aku minta selesaikan pakai cara lain!"
Karen malah berbalik membelakanginya, sambil tertawa cekikikan mendengar uring-uringan dari suaminya. Sejujurnya, ia hanya takut dengan adanya janin yang mungkin sedang berkembang di dalam rahimnya.
"Daren," panggil Karen pelan tanpa berbalik.
"Aku akan program kehamilan kalau selesai tamat kuliah dan punya karir yang bagus. Kamu bisa sabar menunggu, kan?"
Kalimat yang baru saja keluar dari mulut Karen, sukses mengejutkan Darren. Pria itu menatap punggung istrinya seraya mengulas senyum.
"Apa yang bikin kamu berubah pikiran? Bukannya mau childfree?"
"Tiba-tiba aja kepikiran kalau punya anak itu lumayan menyenangkan juga."
Sejujurnya, ia hanya takut jika Darren merasa bosan padanya lalu berpaling. Untuk mengantisipasi itu, ia mengikuti saran Oma Belle yang sempat mengatakan kalau anak bisa menjadi pengikat hubungan suami istri.
Darren langsung memeluk Karen dari belakang. "Makasih, ya. Kamu udah berusaha punya planning ke depan di pernikahan kita. Itu dah cukup bikin aku senang."
...----------------...
Di sisi lain, Feril tengah nongkrong bersama teman-temannya di kelab malam andalan mereka. Dua kawannya yang sempat mengganggu Karen waktu itu, bercerita kalau semalam mereka dipukuli seorang pria dan dibawa paksa ke sebuah rumah megah dan diperhadapkan langsung dengan Karen dan keluarganya. Mereka juga disuruh membuat surat pernyataan di atas materai untuk tidak mengganggu Karen lagi.
__ADS_1
"Kapok gua bantuin lu! Sumpah!" keluh temannya. Ia menunjukkan wajahnya yang terdapat jejak peninggalan kepalan tangan Chalvin.
"Kok bisa tuh cowok nyamperin kalian!" tanya Feril terheran-heran.
"Kagak tahu! Mana keluarganya tuh cewek galak banget!" ringis temannya.
"Tapi, Bray, tuh cewek emang anak orang kaya. Kayaknya lu mesti mundur," ucap salah satu pria yang terlibat malam itu.
"Kalau cuma tanding kekayaan, gua juga kaya, Bray. Dapat SMS menang undian 500 juta aja gua abaikan!"
"Ngaku kaya tapi Nge-gofood kembalian 500 perak doang lu tungguin!" timpal teman kampusnya yang juga ada di situ.
"Jangan bongkar aib dia, Ngab!" imbuh temannya yang lain.
"Tapi gua bingung, cowoknya yang mana, sih. Soalnya ada dua pria malam itu. Selain pria yang bawa paksa kita ke rumah itu, ada juga pria yang terus meluk dia," ingat salah satu cowok yang dipukul Chalvin malam itu.
Feril lalu mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi Instagram hanya untuk mencari akun Chalvin. "Nih cowok ada gak semalam?" tanya Feril menunjukkan salah satu foto Chalvin yang terdapat di akun Instagram.
Temannya langsung merebut ponsel Feril untuk melihat wajah Chalvin secara jelas. "Nah, ini yang mukul dan bawa kita semalam!"
Pria itu melihat koleksi foto-foto Chalvin lainnya, kemudian membuka salah satu postingan foto Chalvin bersama Darren. "Nah, ini, nih, cowok satunya lagi yang terus meluk doi!" ucap pria itu.
Mata Feril sontak terbelalak melihat foto tersebut. Bahkan teman kampusnya juga ikut terkejut.
"I–ini kan dosen kita!"
.
.
.
catatan author:
Mohon sorry banget, untuk beberapa hari ke depan aku bakal update dua hari sekali, soalnya aku mau nuntasin novel Never Not itu sekitar sembilan chapter lagi menuju final. butuh konsentrasi tinggi untuk membuat endingnya.
Terima kasih pembaca setia yang tak henti-hentinya mendukung tulisan aku. Dan terima kasih juga pada pembaca pendatang baru yang sudah ikut mendukung novel ini. Jangan lupa rekomendasikan novel ini, supaya bisa terus update hingga tamat.
__ADS_1
Jika berkenan, silakan juga mampir di novel aku lainnya, mungkin akan membuka sedikit wawasan dan pikiran kalian.
Terakhir, selamat Idul Adha buat pembacaku yang merayakan. Saya Aotian Yu, mencintai kalian semua ❤️