
"Gue jadi khawatir pak Darren bakalan dikeluarin dari kampus ini gara-gara masalah ini. Lo tahu kan, lagi marak pelecehan di lingkungan kampus yang dilakukan beberapa oknum dosen di Indonesia. Kalau sampai disorot sama SJW di Twitter, bakalan habis nih!" cetus Vera bernada cemas.
(SJW: Sosial Justice Warrior. Tentang mereka ini dah pernah gua singgung di novel sebelah)
"Kayaknya kamu sama pak Darren gak punya pilihan selain mengakui pernikahan kalian!" Perkataan Nadya terdengar lebih tenang.
Kabar yang dibawa Nadya dan Vera sontak membuat Karen terentak. Mengetahui suaminya mendapat masalah akibat ada seseorang mengambil fotonya di kolong meja kerja, ia pun bergegas lari menuju gedung rektorat. Tidak, ia tak bisa berdiam diri suaminya dituduh seperti itu. Apalagi menjadi bahan pergunjingan mahasiswa.
Ya, hanya dalam waktu singkat, kabar itu beredar luas di seluruh kampus bahkan di universitas lainnya. Sebab, info tersebut disebar melalui akun-akun gosip. Feril dan kawan-kawannya pun ikut terkejut membaca berita itu.
"Benaran dosen yang dimaksud tuh pak Darren?" tanya Feril yang tak yakin.
"Kata orang yang cepu-in nih foto sih gitu! Soalnya dia ngambil diam-diam nih foto pas lagi Konsul di ruang penelitian ekonomi. Tahu sendiri kan yang kuasai ruang penelitian cuma tuh profesor," sahut temannya.
(FYI, Cepu bahasa gaul yang artinya orang yang suka membocorkan rahasia alias mulut ember. Cepu kalau menurut KBBI sebenarnya artinya informan polisi).
"Wuih, ganteng-ganteng mesum juga tuh profesor. Mana gak ngajak-ngajak!" kata si gimbal sambil menyengir.
"Kalau good looking kek dia kagak bakalan dibilang mesum, Ngab. Ini aja masih banyak cewek-cewek yang pada belain tuh dosen. Kita hidup di jaman good looking selalu dibela."
"Jangan-jangan ini cewek yang dia gandeng pagi tadi!" duga salah satu dari mereka, "kira-kira tuh cewek ngapain, ya, di kolong?"
"Udah pasti ngisap lolipop gede! Udah jelas gini ceweknya jongkok pas dia lagi duduk."
"Foto gini doang lu pada dah ngeres. Terlalu banyak nonton filmnya kakek Sugi lu pada, lihat ginian doang langsung konek ke adegan karoke. Kan bisa jadi nih cewek lagi ngambil pulpen yang jatoh atau nyemir sepatunya tuh profesor!" ucap Feril sok bijak.
__ADS_1
"Tumben banget otak lu kek testpack garis dua!" sambar kawannya merasa heran.
...****************...
Di sisi lain, pak Budi Luhur berjalan mondar-mandir di ruang dosen. Selaku dekan fakultas ekonomi, tentu ia turut pusing dengan skandal yang melibatkan Darren.
"Padahal saya sudah pernah himbau ke Ibu dan Bapak sekalian supaya bisa jaga batasan saat sedang mengajar maupun membimbing mahasiswa. Khusus Profesor Darren pun pernah saya peringatkan untuk jaga wibawa sebagai seorang pengajar karena saya lihat banyak mahasiswi yang suka cari perhatian sama dia. Eh ... ternyata malah ada kejadian seperti ini. Sungguh memalukan!"
"Saya mengenal betul Darren, Pak. Saya satu sekolah sama dia dan kuliah pun pernah satu kampus. Darren pria berspesifikasi tinggi. Dia enggak mungkin berbuat kayak gitu!" Marsha membela mantan kekasihnya di depan pak Budi Luhur dan para dosen lainnya.
"Foto ini jelas menimbulkan persepsi negatif! Bagaimana bisa ... ada kaki perempuan di bawah kolong meja kerjanya, apalagi ada dia juga di situ! Pada ngapain mereka di situ," bantah salah satu dosen bernada ketus.
Marsha terdiam dan tak melakukan pembelaan lagi. Kali ini, harus diakui Darren sangat ceroboh dan tindakannya salah. Ia lalu memilih keluar dari ruangan itu lalu menuju ke gedung rektorat.
"Bu Marsha ...."
"Karen, bisa kita bicara sebentar?"
Karen mengangguk, lalu mengikuti langkah Marsha. Kedua perempuan itu berdiri di pojok lantai dua gedung inspektorat.
"Kamu pasti tahu Darren dipanggil Rektor gara-gara foto kaki perempuan di meja kerjanya, kan?"
Karen mengangguk dengan mulut yang terkunci rapat.
Marsha membuang muka sejenak hanya untuk menghela napas, kemudian kembali menatap Karen. "Aku tahu kamu istrinya, tapi gak seharusnya kamu ngasih masalah Darren kayak gini. Kamu harus tetap bersikap sebagai mahasiswa saat sedang di kampus. Gak usah terlalu posesif sampai nempel terus dan gangguin dia pas lagi kerja! Kalau gini kamu bisa hancurin karir dia dan rusak reputasinya sebagai guru besar. Kampus ini pun ikut tercemar gara-gara tindakan ceroboh kamu," ucapnya dengan suara bergemuruh menahan emosi.
__ADS_1
Lontaran kata-kata Marsha membuat Karen tersudut. Perempuan itu mematung bodoh tanpa membela diri. Seperti kehilangan kata-kata.
"Apa kamu sadar, kenapa Darren gak mau speak up soal pernikahannya? Itu pasti karena dia takut kamu bawa masalah buat dia! Dan ternyata benar, kejadian kan saat ini! Stop jadi beban Darren!" Marsha malah terus menyalahkan Karen atas skandal yang dialami Darren saat ini.
Membawa masalah bagi Darren? Karen mengulang pernyataan Marsha dalam hati. Apakah benar menikah dengannya hanya membawa masalah pada karir Darren? Apakah selama ini ia membuat Darren terganggu atas pekerjaannya? Apakah dia hanya menjadi beban pria itu? Sekelumit pertanyaan mendadak muncul dalam benaknya. Ya, memang Darren sudah sering memperingati agar tak mendatangi ruang penelitian. Namun, dia terlalu keras kepala untuk tak melanggar.
"Aku masih gak habis pikir, kenapa Darren mau nikah sama cewek childish!" gumam Marsha seraya melempar tatapan sinis, sebelum beranjak meninggalkan Karen yang membatu dengan mata berkabut.
Hingga Marsha pergi dari hadapannya, Karen masih membisu. Kakinya pun urung untuk melangkah.
Koridor area ruangan rapat tiba-tiba dipenuhi mahasiswa yang ingin memastikan kebenaran berita trending itu dari Darren langsung. Di antara para kerumunan itu, ada mahasiswa bimbingan Darren yang menjadi biang kerok atas masalah ini. Ucapan tegas Darren tempo hari, menyulutnya melakukan semua ini. Apalagi pria itu menantangnya untuk membeberkan bukti yang ia miliki dan memintanya mengganti dosen pembimbing.
Feril dan kawan-kawannya juga tak mau ketinggalan dengan ikut berada di sana dan menerobos kerumunan mahasiswa. Mereka datang bagaikan gerombolan preman dan meminta mahasiswa untuk membuka jalan.
"Awas ... awas ... minggir ... minggir!"
Berhasil menerobos kerumunan hingga berada tepat di depan pintu ruang rapat, Feril dan kawan-kawannya menempelkan kuping mereka di pintu, berharap bisa mendengar apa yang dibicarakan di dalam sana.
Nadya dan Vera yang baru tiba lantas mencari-cari keberadaan Karen yang seharusnya sudah lebih dulu berada di sana. Anehnya, mereka tak menemukan Karen di antara kerumunan mahasiswa.
"Karen mana, ya?" tanya Nadya dengan mata yang berkeliling.
.
.
__ADS_1